Abandoned Princess

Abandoned Princess
Xu Fang Yin (2)


__ADS_3

Qiao Rong amat sangat kesal. Ia merasa bisa meledak sekarang juga.


Setelah Shen Haofeng meraih tangannya dan menggandengnya keluar dari balai desa kemarin, pemuda itu hanya seenaknya mengantarkannya sampai ke depan rumah. Qiao Rong sudah berkali-kali mengatakan agar Shen Haofeng melepaskan tangannya, namun pria itu seperti tidak menggubrisnya sedikitpun. Yang lebih membuatnya ingin mencekik pemuda itu adalah fakta bahwa Shen Haofeng meninggalkannya sendirian dan pulang ke rumahnya tanpa sepatah kata pun setelah mengantarkannya sampai depan pagar.


Qiao Rong mengamuk dalam kamarnya. Dia sudah sangat bingung dengan maksud Shen Haofeng yang tidak menjawab pertanyaannya. Apakah pria itu benar-benar ingin membuatnya bingung sampai mati?


*****


"Lihat? Bahkan Master tidak bisa melepaskan tangannya walau sebagian qi-mu aku bakar dengan Api Jiwa." Feng Huang menghela napas. Jelas-jelas Shen Haofeng menyukai gadis itu. Seharusnya, ketika qi Shen Haofeng dibakar oleh Api Jiwa, setiap langkah akan terasa sangat menyakitkan. Namun pemuda itu tetap berjalan layaknya orang normal dan tidak melepaskan tangan gadis itu. Hanya Feng Huang yang bisa melihat bagaimana Masternya itu berjuang begitu keras hingga mengeluarkan keringat dingin.


Shen Haofeng tidak menanggapi Feng Huang, ia masih tenggelam dalam pikirannya sambil memandangi telapak tangannya yang ia gunakan untuk menggandeng Qiao Rong tadi. Mengapa ia tidak tega melepas genggaman itu? Apa yang salah dengannya?


"Kalau begitu, aku tanya Master, jika sekarang juga Jiang Junwei menyuruh anda kembali dan tidak akan pernah ke Desa Nanshan lagi, apa yang akan Master lakukan?" Tanya Feng Huang.


"Tidak mau. Tidak boleh." Shen Haofeng menjawab dengan tegas apa yang ada dipikirannya.


"Lalu sampai kapan Master mau menemani gadis itu disini?" Pertanyaan Feng Huang kali ini sukses membuat Shen Haofeng bertanya-tanya.


"Selamanya?" Ucap Shen Haofeng dengan ragu.


Feng Huang hanya mengangguk-angguk. "Maka Master bisa memberikan gadis itu jawaban sekarang, Master memang menyukainya."


*****


Keesokan harinya...


Qiao Rong lagi-lagi terbangun dengan kesal. Kemarin ia dibangunkan Chu Yue, hari ini ia terbangun karena suara keramaian dari depan rumahnya.

__ADS_1


Chu Yue masuk ke dalam kamarnya dengan ekspresi khawatir. "Yang Mulia!" Chu Yue lalu mempercepat langkah kecilnya.


Qiao Rong pun turun dari ranjang, "Biar kutebak.. Xu Fang Yin?" Qiao Rong hanya tersenyum saat melihat anggukan Chu Yue. Lalu Qiao Rong segera memakai baju luarnya dan merias dirinya sedikit sebelum keluar rumah.


Baru saja Qiao Rong keluar, ia sudah disambut oleh sebuah suara memelas yang datang dari tengah kerumunan itu.


"Kalian lihat? Bahkan ibuku yang malang.. hiks.. masih tidak bisa bangun dari tempat tidur karena gadis ini menjual dirinya pada Tuan Ji!" Xu Fang Yin yang langsung dapat Qiao Rong kenali, mulai terisak.


"Dasar! Bicara apa kau ini?!" Chu Yue berteriak dengan tidak terima, namun Qiao Rong mengangkat tangannya agar Chu Yue tenang dan membiarkannya mengatasi situasi ini.


Qiao Rong melihat ke pemandangan di depannya, warga yang ikut bersama Xu Fang Yin kebanyakan adalah pria yang sudah menikah, maupun yang lajang. Hanya ada sedikit wanita lanjut usia yang ikut melihat dari samping untuk melihat keramaian itu.


"Nona ini, kau sangat hebat. Bahkan aku saja tidak tahu sejak kapan aku menjual diriku pada Tuan Ji?" Qiao Rong membalas dengan senyumannya yang paling lebar. Ia mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas yang ia bawa dari dalam rumah.


"Tentu saja aku tahu! Begitu kau menunjukkan sesuatu pada Tuan Ji, ia langsung menjatuhkan hukuman pada Ibuku.. hiks.. apalagi itu kalau bukan kesepakatan kalian berdua?" Xu Fang Yin yang sudah mendengar cerita lengkap dari Ibunya menggunakan siasat licik untuk menjebak Qiao Rong. Dengan warga sebanyak itu, bukankah reputasi gadis itu akan hancur setelah ini?


"Xu Fang Yin, kalau begitu berarti kau mengatakan bahwa Tuan Ji adalah hakim yang bisa menerima suapan dan tidak adil dalam pengadilan?" Mendengar perkataan Qiao Rong, wajah Xu Fang Yin memucat seketika.


Qiao Rong baru saja ingin menyeret gadis itu ke pengadilan seperti ibunya, namun tiba-tiba seorang pemuda yang berada di ujung kerumunan berjalan perlahan ke arah mereka. Shen Haofeng menampilkan muka datarnya dan memandang Qiao Rong.


Melihat Shen Haofeng, mata Xu Fang Yin berbinar. Akankah pemuda itu membantunya kali ini?


"Tuan! Tolong beri keluargaku keadilan! Gadis ini.. dia menggoda Tuan Ji sehingga memberikan keputusan tidak adil di pengadilan kemarin." Xu Fang Yin, yang mendapatkan kemampuan berakting dari Ibunya segera mengeluarkan beberapa butir air mata. Xu Fang Yin lalu meraih lengan Shen Haofeng dan memeluknya.


"Sejak kapan tunanganku menjual dirinya pada orang lain?" Ucap Shen Haofeng dengan mempertahankan ekspresi datarnya. Lalu ia menepis Xu Fang Yin dengan kasar hingga gadis itu tersungkur ke tanah. Shen Haofeng lalu berjalan mendekati Qiao Rong.


Mendengar kata 'tunangan' rasanya dunia Xu Fang Yin berhenti sesaat. Ia sudah memutuskan bahwa hanya pria seperti Shen Haofeng-lah yang pantas menikahinya. Wajah tampannya, pembawaan yang tenang. Namun rasanya ia seperti disambar petir ketika mengetahui pria itu adalah tunangan Qiao Rong.

__ADS_1


Para warga yang ada di sekitar tidak terima atas perlakuan Shen Haofeng pada Xu Fang Yin. Xu Fang Yin, bagaimanapun juga merupakan wanita idaman para pria lajang di desa. Walaupun Qiao Rong memang lebih cantik daripada Xu Fang Yin, namun ia sudah bertunangan.


Salah satu pria di kerumunan merasa kesal, "Shen Haofeng, kami tahu mungkin kau kesal, namun apakah perlu sekasar itu terhadap gadis rapuh seperti Xu Fang Yin? Kalau terjadi sesuatu pada wajahnya, apakah kau mau bertanggung jawab?"


Qiao Rong lalu tersenyum mendengar respon pria itu. "Hebat! Sangat hebat! Kalau aku yang di pengadilan saja bisa membuat Tuan Ji berpihak padaku dikatakan menjual diri, kalau begitu, apakah Xu Fang Yin menjual dirinya pada kalian semua? Hahaha!" Qiao Rong tertawa dengan puas.


Para warga menjadi geram, namun malu. Perkataan Qiao Rong itu ada benarnya juga. Satu-per-satu warga yang malu akhirnya pergi dari kerumunan. Meninggalkan Xu Fang Yin yang masih dalam posisi tersungkur itu ingin menangis karena malu.


Xu Fang Yin lalu berusaha berdiri, dan meratapi pakainnya yang sudah ternoda oleh tanah. Xu Fang Yin memelototi Qiao Rong dengan marah dan langsung membalikkan badan untuk pergi.


"Siapa yang bilang kau boleh pergi?" Qiao Rong berkata dengan keras.


Langkah kaki Xu Fang Yin terhenti sejenak. "Mau apa kau?" Xu Fang Yin berkata dengan kesal.


"Keluarga Xu milikmu itu, beritahu mereka, satu kali lagi mengangguku akan sama seperti satu kesialan yang akan menimpa kalian!" Mendengar hal itu, Xu Fang Yin menggeram dan segera pergi dari depan rumah Qiao Rong dengan kesal.


Kini hanya tersisa Qiao Rong, Chu Yue, dan Shen Haofeng. Namun, Chu Yue segera berdeham dan meminta ijin pada Qiao Rong untuk melanjutkan memasak sarapan mereka.


Suasana hati Qiao Rong saat ini sedang tidak bagus. Tidurnya kurang, pagi-pagi juga sudah diganggu hal sepele seperti ini.


Melihat Shen Haofeng yang masih belum bergerak di hadapannya, membuat Qiao Ring mengingat rasa kesalnya beberapa hari ini terhadap pemuda itu. Namun, baru saja ia mau mengomeli pemuda itu, Shen Haofeng malah melangkah ke arahnya perlahan.


"Mau apa kau?" Setiap kali Shen Haofeng melangkah, begitu pula Qiao Rong melangkah ke belakang. Hingga akhirnya, punggung Qiao Rong menabrak tembok rumahnya.


Wajah Qiao Rong memerah, apa yang akan dilakukan Shen Haofeng? Sudah beberapa saat berlalu sejak pemuda itu memojokkannya, namun masih saja belum ada gerakan apapun kecuali mata Shen Haofeng yang selalu memandang ke dalam mata Qiao Rong.


Qiao Rong segera menjulurkan tangannya untuk mendorong Shen Haofeng, namun aksinya itu segera terhenti oleh tangan Shen Haofeng yang menggenggam erat pergelangan tangannya. Pemuda itu yang tingkat kultivasinya lebih tinggi dari Qiao Rong, pastilah bisa menang dari gadis itu dengan mudah dalam hal tenaga.

__ADS_1


"Aku.. sepertinya menyukaimu.." Ucap Shen Haofeng dengan lirih. Ia sudah meyakinkan dirinya untuk memberi jawaban pada Qiao Rong hari ini setelah pertanyaan Feng Huang kemarin. Sejujurnya, kalau ia bisa, ia ingin mengikat Qiao Rong agar bisa dibawanya kemanapun ia pergi. Namun ia masih tidak tahu perasaan apa itu, tidak pernah merasakannya juga, sekarang karena sudah tahu untuk apa menyia-nyiakan waktu lagi?


Qiao Rong menjatuhkan kipas di tangannya. Mata Qiao Rong terbelalak. Ia mematung di tempat.


__ADS_2