
Chu Yue sangat terkejut ketika melihat Qiao Rong yang tidak sadarkan diri. Terlebih lagi baju Qiao Rong dan Shen Haofeng yang sedang menggendong gadis itu bersimbah darah. Apalagi ketika melihat luka-luka ringan lainnya yang mereka dapat saat bertarung dengan Ular Nirwana.
"Astaga! Kenapa bisa sampai begini?!" Chu Yue berteriak saking terkejutnya. Wajahnya memucat. Ia sangat khawatir pada Qiao Rong, entah apa yang mereka lakukan sebelumnya hingga pulang penuh luka seperti itu.
Chu Yue membantu Shen Haofeng untuk menaruh tubuh Qiao Rong di ranjang. Chu Yue segera menyuruh Shen Haofeng keluar dan mempersiapkan kain dan air hangat untuk mengganti baju Qiao Rong dan melap bekas darah di tubuhnya. Chu Yue juga segera membalut luka-luka ringan yang ada di tangan Qiao Rong dengan perban.
Shen Haofeng yang menunggu di luar pintu hanya bisa menunggu Jiang Junwei dan berharap bahwa pria itu akan segera datang. Sebelumnya, Shen Haofeng sudah menyuruh Jiang Junwei untuk memanggil Tabib Luo. Tabib Luo adalah seorang tabib yang tabib yang sangat hebat, andalan Shen Haofeng.
Chu Yue keluar dari kamar, dan menatap ke arah Shen Haofeng dengan marah. "Sebenarnya apa yang kalian lakukan?! Kenapa dia bisa jadi seperti itu?!" Namun Shen Haofeng sama sekali tidak bisa merespon. Ia bingung harus berkata apa pada Chu Yue. Akhirnya Chu Yue yang kesal kembali masuk ke dalam kamar Qiao Rong.
Detik demi detik, menit demi menit. Penantian Shen Haofeng terasa seperti bertahun-tahun.
Tiba-tiba dari arah pintu, masuklah seorang pria lanjut usia yang kelihatan terburu-buru. Shen Haofeng yang melihatnya segera menghela napas dengan lega.
"Tabib Luo." Shen Haofeng mengepalkan kedua tangannya di dada untuk memberi salam.
"Yang Mulia.. Jiang Junwei sudah menceritakan semuanya padaku tadi. Dimana gadis itu?" Tabib Luo segera bertanya setelah membungkukkan badan sedikit untuk membalas salam Shen Haofeng.
Shen Haofeng langsung menunjuk ke arah kamar Qiao Rong. Tabib Luo hanya mengangguk dan masuk.
Jiang Junwei tiba beberapa saat kemudian dan ikut menunggu bersama Shen Haofeng di luar. Chu Yue yang disuruh keluar oleh Tabib Luo pun membuka pintu dan bingung saat melihat pria di luar kamar sudah bertambah satu orang.
__ADS_1
"Kau siapa lagi?" Tanya Chu Yue dengan dingin.
Jiang Junwei yang segera berdeham setelah terpana beberapa detik karena munculnya Chu Yue pun segera menjawab, "Ah.. Saudara Shen Haofeng." Jiang Junwei lalu menampilkan senyumnya yang paling lebar.
Chu Yue hanya melemparkan pandangan tidak peduli dan kembali ke dapur untuk kembali memasak makan siang. Ia hanya bisa berharap Qiao Rong tidak terluka parah dan akan sadar secepat mungkin.
"Tabib Luo, bagaimana keadaannya?" Tamya Shen Haofeng dengan nada khawatir.
"Yang Mulia, bahkan saya yang dari dulu bersama anda tidak pernah mendengar anda sekhawatir ini." Tabib Luo tertawa kecil. Mungkin memang benar perkataan Jiang Junwei padanya selama di perjalanan tadi. Gadis itu satu-satunya wanita yang begitu spesial untuk Shen Haofeng. "Ia butuh istirahat. Hampir empat puluh persen organnya rusak karena ia hampir menghabiskan qi nya yang berdampak pada parahnya konsekuensi Pil Kultivasi Instan. Lagipula, mengapa ia bisa berani menggunakan pil seperti itu?" Lanjut Tabib Luo.
Shen Haofeng merenung sebentar dan merasa sangat bersalah. Kalau ia tahu Qiao Rong akan nekat seperti itu demi dirinya, ia tidak akan pernah muncul di hadapan gadis itu lagi dan tidak akan membawanya ikut serta untuk mengambil Buah Kunlun.
"Ini.." Shen Haofeng kebingungan saat Tabib Luo menyerahkan kertas dan token giok itu. Diatas token giok itu, terukir namanya.
"Ini, pesan dari gurumu. Ia meminta saya untuk memberikannya pada anda saat waktunya tepat. Saya kira sekaranglah waktu yang tepat." Jawab Tabib Luo dengan senyum sumringah. Lalu, ia pergi kembali bersama Jiang Junwei.
Masih berdiri di depan kamar Qiao Rong, Shen Haofeng membuka kertas itu dan membacanya pelan-pelan. Isi kertas itu memang penuh dengan tulisan tangan orang yang sangat ia rindukan.
"Shen Haofeng. Kakek tahu, umurku tidak akan lama lagi. Namun kakek khawatir, kau bahkan tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain selain kakek. Apalagi lawan jenis. Kakek tahu, kau sudah meragukan kata cinta dari awal kehidupanmu. Namun, ada satu hal yang tidak pernah kakek beritahu padamu. Disaat kakek menemukan seorang bayi di tengah hutan belantara belasan tahun lalu, disamping bayi itu tergeletak tubuh seorang wanita yang meminta padaku untuk menyelamatkan anaknya saat ia sedang sekarat. Kalau kau ingin mencari tahu mengenai keluargamu, token giok pemberian ibumu itulah petunjuk awalnya." Mata Shen Haofeng mulai berkaca-kaca setelah membaca kalimat itu. Ia selalu menyangka bahwa seumur hidupnya, tidak ada orang lain yang peduli padanya seperti gurunya. Bahkan keluarganya sendiri membuangnya sejak bayi. Namun melihat kebenaran yang tersampai dari surat itu membuat dirinya goyah. Namun ia tetap melanjutkan untuk membaca surat itu.
"Kau tak pernah kekurangan cinta. Saat ada seorang wanita yang nanti akan siap mengorbankan dirinya untukmu.. kakek harap kau bisa mengingat ibumu. Karena kau akan tahu, seseorang sangat mencintaimu hingga ia rela memberikan nyawanya untukmu. Belajarlah mencintainya." Tanpa ia sadari, airmatanya kini sudah berjatuhan dengan deras ke pipinya.
__ADS_1
Shen Haofeng diam-diam bersumpah hari itu dalam hatinya, ia akan melaksanakan kalimat terakhir itu dengan sungguh-sungguh.
*****
Setelah Shen Haofeng menyerap energi dari Buah Kunlun selama empat hari lamanya, ia bisa merasakan bahwa racun itu sudah hilang sepenuhnya dari tubuhnya. Yang membuatnya takjub adalah tingkat kultivasinya bahkan meningkat. Sekarang ini, Shen Haofeng sudah berada dalam tingkat Surgawi Akhir.
Jika dihitung dari hari sejak mereka bertarung melawan Ular Nirwana, Qiao Rong sudah tidak sadarkan diri selama sepuluh hari. Selama enam hari setelah menyerap Buah Kunlun, Shen Haofeng akan menjenguk Qiao Rong pagi, siang, dan malam. Hal itu membuat Chu Yue kebingungan. Walaupun ia kesal karena Shen Haofeng yang membawa pulang Qiao Rong dalam keadaan terluka, namun apakah artinya hubungan mereka ada kemajuan?
Chu Yue tahu, kalau Qiao Rong mengetahui bahwa Shen Haofeng selalu telaten menjenguknya, pasti gadis itu akan sangat senang. Mungkin juga jantungnya bisa melompat keluar dari dada. Chu Yue hanya terkekeh kecil jika mengingat-ingat hal itu nanti. Ia pasti akan memberitahu Qiao Rong.
"Qiao Rong..." Shen Haofeng akan selalu memanggil namanya ketika ia datang untuk menjenguk gadis yang kini terus tertidur itu. Shen Haofeng berharap, dengan memanggil namanya, Qiao Rong akan terbangun. Karena Shen Haofeng selalu datang, maka tugas memberi obat kini sudah beralih menjadi tanggung jawabnya.
Salah satu hal yang pandai ia lakukan memang menunggu. Shen Haofeng sanggup menunggu begitu lama agar ia mempunyai kekuatan yang cukup untuk melawan Ular Nirwana. Namun entah kenapa, melihat rambut Qiao Rong, kelopak matanya, bahkan jari-jari dan wajah pucat gadis itu, waktu terasa berjalan begitu lama.
Jiang Junwei yang melihat kelakuan tuannya itu setiap hari merasa sangat yakin bahwa Shen Haofeng sedang sakit cinta.
Sembuh dari Racun Titik Beku adalah hal yang bagus. Namun penyakit yang sekarang dideritanya ini menimbulkan rasa sakit yang sangat aneh. Shen Haofeng selalu merasa dadanya seperti ditusuk pedang-pedang kecil, namun tidak ada bekas luka yang dapat terlihat dari tubuhnya.
Di hari ke sebelas, Shen Haofeng datang pagi itu seperti biasa untuk menyuapi obat untuk Qiao Rong. Setelah dua suapan obat, mata Qiao Rong perlahan-lahan terbuka.
Hal yang pertama Qiao Rong lihat selain pemadangan kamarnya adalah senyuman Shen Haofeng.
__ADS_1