
Liu Liwei.
Qiao Rong tidak menyangka akan bertemu dengan wajah yang begitu familiar di hari pertamanya di Akademi Bulan Sabit.
Dan pria itu benar-benar menyapanya dengan senyuman lebar.
Qiao Rong membalas sapaan Liu Liwei dengan terpaksa. Namun begitu Liu Liwei berjalan ke arah Qiao Rong, seorang pria yang kelihatannya lebih muda dari Liu Liwei mengikutinya dari belakang.
Pria yang sangat berisi itu mendekati Qiao Rong dengan penasaran di belakang Liu Liwei.
"Murid baru? Kau kenal?" Pria itu mendengus dan menatap Qiao Rong seolah-olah menyelidikinya dari kepala hingga ujung kaki.
"Ah ... ini—" Sebelum Liu Liwei membongkar identitas aslinya, Qiao Rong buru-buru memotong ucapan pria itu.
"Hua Rong. Tidak sengaja bertemu Tuan Muda Liu di jalan, dan akhirnya saling mengenal." Qiao Rong tersenyum dengan merendah.
Pria itu mendengus, lalu berbalik ke arah kursinya lagi.
"Jadi ... Nona Rong?" Liu Liwei tersenyum nakal. Qiao Rong hanya membalasnya dengan tawa.
Mereka berbincang sebebtar di ujung kelas sebelum akhirnya Qiao Rong undur diri untuk mencari kursi yang posisinya nyaman.
Ia memilih kursi yang tidak terlalu berada di ujung kelas.
Ketika Qiao Rong duduk, barulah sepertinya teman-teman sekelasnya menyadari kehadiran si murid baru itu. Ia langsung menjadi target sorotan mata yang mengarah dari segala penjuru kelas.
"Cantiknya! Dewi Es Mingran sepertinya mempunyai rival baru!"
"Lihat bajunya, apakah dia rakyat jelata?"
"Sepertinya begitu."
Bisikan-bisikan yang dengan jelas bisa Qiao Rong dengar itu terus berlanjut hingga akhirnya jam pelajaran pertama dimulai.
Dan profesor yang pertama kali masuk ke dalam kelas mereka adalah Profesor Luo, yang kebetulan jadwal mengajarnya kali ini hanyalah teori kultivasi saja.
__ADS_1
Kelas itu sangat membosankan.
Itulah perasaan yang Qiao Rong rasakan dengan jujur. Ia dibuat mengantuk dengan penjelasan panjang lebar yang sudah diketahui dirinya dari seribu tahun yang lalu.
Bahkan Qiao Rong malah menahan senyumannya ketika Profesor Luo menyatakan beberapa fakta yang salah. Namun Qiao Rong juga tidak bisa menyalahkan Profesor Luo sepenuhnya mengingat dunia ini memang mengalami penurunan drastis dalam segi kultivasi dalam seribu tahun ini.
Liu Liwei menyadari sikap Qiao Rong yang terlihat bosan dan terus-terusan menahan kantuknya.
Pria itu tersenyum dengan lembut.
Namun senyumnya itu tidak berlangsung begitu lama.
*****
Seusai pelajaran Profesor Luo selesai, Qiao Rong segera menarik tangan Liu Liwei dengan terburu-buru.
Yang menyebabkan wajah pria itu sedikit merona, dan juga kebingungan.
Mereka sampai ke sebuah sudut tempat di Akademi Bulan Sabit yang sepi. Setelah merasakan bahwa tidak ada orang disekitar mereka dengan qi, Qiao Rong segera mengeluarkan sesuatu dari dalam lengan bajunya.
Rona dari wajah Liu Liwei dan senyumannya yang terpampang jelas di wajahnya sebelumnya hilang seketika.
"Maafkan saya, Tuan Liu. Saya memiliki kesempatan untuk mengembalikan ini ketika anda berkunjung sebelumnya, tapi karena masalah Raja Bulan saya akhirnya melupakan hal ini. Namun sekarang saya memang tidak bisa memiliki ini lebih lama lagi." Qiao Rong mengulurkan tangannya yang sedang memegang token itu ke arah Liu Liwei.
Angin berdesir kencang, dan pepohonan di sekitar mereka bergoyang pelan.
Liu Liwei menyadari rasa sakit dan sesak yang memenuhi dadanya saat ini. Wanita yang ada di depannya ini, walaupun bertubuh kecil dan sudah biasa diremehkan, ia yakin pasti ada yang lebih dari apa yang dirumorkan tentang Qiao Rong.
Rasa penasaran itu menjadi sebuah candu.
Dan kekaguman Liu Liwei kepada Qiao Rong bertambah setiap kali ia melihatnya. Mulai dari saat Qiao Rong mengalahkannya di Kompetisi Empat Musim, hingga sekarang, saat ia mengetahui bahwa wanita itu menempati kelas yang sama dengannya.
Atau bahkan detik ini juga, saat ujung rambut Qiao Rong yang tergerai lurus bergerak-gerak diterpa angin pelan. Bagaimana wanita itu sangat cantik saat dilihat dari dekat, dan bagaimana wanita itu mengembalikan token keluarganya.
Liu Liwei tidak bisa berkata-kata selama beberapa detik.
__ADS_1
"Kau memberikan token keluargamu kepada seorang wanita jelata?" Dan suara dari belakangnya itu memecah keheningan.
*****
"Ding Fanfan! Kau menguping?!" Liu Liwei tidak bisa menyembunyikan amarahnya kepada pria gendut yang tadi pagi berlaku agak tidak sopan pada Qiao Rong. Tapi ia juga lega karena interupsi dari pria itulah, ia tidak harus langsung memilih untuk menerima pengembalian token itu atau tidak.
"Siapa juga yang menyuruh wanita itu mengenggam tanganmu dan menyeretmu dengan cepat keluar ruangan kelas? Aku hanya penasaran jadi mengikutimu. Mana kutahu kalau kalian sedang berbicara saat aku datang." Ding Fanfan mengedikkan bahunya.
Mendengar perkataan Ding Fanfan, Qiao Rong segera menaruh kembali token Keluarga Liu ke dalam lengan bajunya. Hal itu membuat dada Liu Liwei terasa sangat lega.
"Saya permisi." Qiao Rong segera terburu-buru pergi untuk meninggalkan kedua teman sekelas itu berdua.
"Qi-Hua Rong!" Liu Liwei memanggil Qiao Rong, berharap agar wanita itu berhenti berjalan.
Qiao Rong memang berhenti melangkah. Tapi hanya untuk sebatas memutar badan sebentar dan menampilkan senyum hormat untuk Liu Liwei dan Ding Fanfan.
"Kau benar-benar bodoh? Apa kesadaran otakmu menurun? Atau aku harus mengecek keadaanmu ke seorang tabib? Bisa saja kau diracuni." Ding Fanfan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya sebenarnya hubungan apa yang dimiliki kedua orang itu.
Apa yang sangat spesial dari wanita itu sehingga membuat anak perdana menteri memberikannya sebuah token keluarga?
"Kau yang bodoh." Liu Liwei menjitak kepala Ding Fanfan dengan kesal.
Awalnya ia merasa tidak akan ada masalah apapun kalau anak dari menteri pertahanan Kerajaan Yuan ikut bersamanya ke Akademi Bulan Sabit karena ayah dari anak itu ingin mengirim anaknya bersama anak perdana menteri.
Setidaknya ia kira Ding Fanfan yang terkenal akan kesombongannya, menerima dan bersedia berubah sesuai dengan aturan akademi dimana muridnya tidak boleh memandang murid lain dengan derajat atau status sosial.
Tapi hanya dengan pakaian Qiao Rong yang sederhana, dan identitasnya yang ditutupi, Ding Fanfan malah dengan mudah menganggap rendah wanita itu.
Bagaimana kalau Ding Fanfan mengetahui bahwa Hua Rong yang ia anggap wanita jelata itu ternyata adalah seorang putri? Liu Liwei bahkan mendengus kesal saat membayangkan bahwa Ding Fanfan tetap akan memandang rendah Qiao Rong karena rumor buruk yang diketahui masyarakat.
Liu Liwei sekali lagi melemparkan pandangan penuh amarah dan kekecewaan kepada Ding Fanfan dan akhirnya pergi dengan wajah kesal.
Sementara itu, Ding Fanfan hanya mematung dengan wajah kebingungan.
"Apa salahku? Dasar orang gila. Anak perdana menteri mana yang memberikan token keluarga ke wanita kecuali wanita itu adalah calon istrinya? Yang ternyata rakyat jelata, ckckck." Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Ding Fanfan terus berjalan kembali ke arah ruangan kelas dengan kedua tangan ia silangkan di dada.
__ADS_1