Abandoned Princess

Abandoned Princess
Pertemuan yang Berkesan


__ADS_3

Shen Haofeng mengelap darah yang ada di tangannya dengan sebuah kain putih. Menyadari bahwa bajunya sangat kotor, ia berdiri dari tempat duduknya dan menuju ke tempat baju baru di gantung.


Bajunya yang berwarna hitam sudah ternodai oleh noda darah. Perlahan, ia melepas ikatan bajunya dan memperlihatkan tubuhnya yang kekar.


Tepat setelah ia memakai kembali sebuah baju bersih, terdengar ketukan pelan dari pintu lantai teratas Menara Bulan.


"Masuk." Shen Haofeng berkata dengan dingin.


Seorang wanita.


Ia sudah tahu dari deteksi qi nya kalau tamu itu adalah seorang wanita. Siapa yang mencari mati dengan mengundang seorang wanita ke dalam kamarnya?


Wanita itu sangat cantik, mungkin terbaik yang ada di Kota Purnama. Pakaiannya terbuka, dengan kain yang lumayan transparan. Shen Haofeng hanya berdecak melihatnya.


Kedatangan wanita itu diikuti oleh seorang pria paruh baya yang langsung memberi hormat walaupun masuk ke dalam ruangan itu dengan tergopoh-gopoh. Melihat mata Shen Haofeng yang memandangnya dengan tajam, ia merasakan bulu kuduknya yang berdiri dengan ngeri.


"Ya-Yang Mulia, anda baru saja kembali. Maka dari itu saya membawa sebuah hadiah untuk anda." Pria itu mencoba untuk tersenyum.


Wanita itu tersenyum manis dan perlahan mendekat. Dengan percaya diri ia mengambil langkah demi langkah. Mengetahui bahwa pria di depannya itu adalah Raja Bulan, ia hanya bisa membayangkan kekayaan dan kemakmuran yang akan ia terima kalau berhasil merebut hati pria itu.


Namun tiba-tiba, sebuah bayangan hitam akhirnya tiba di depan meja kerja Shen Haofeng.


"Kyaaaaaaaa!" Wanita itu hanya bisa berteriak panik ketika ujung pedang yang dingin menempel di lehernya.


"Maafkan hamba karena terlambat, Yang Mulia. Hamba akan mengurus hal ini." Jiang Junwei membungkuk sebagai tanda permintaan maaf.


Shen Haofeng hanya melambaikan tangan ke arah Jiang Junwei. "Namamu?" Shen Haofeng bertanya dengan dingin kepada pria paruh baya yang masih ada di belakang.


Pria itu tersenyum dan matanya berbinar terang, mengira bahwa Raja Bulan menerima hadiahnya dengan gestur itu. "Nama saya tidak terlalu berarti, Yang Mulia. Saya hanya tetua baru yang bergabung." Pria itu mencoba merendah sambil menahan senyumannya.


"Sayang sekali." Shen Haofeng mengalihkan pandangannya dan lanjut membaca laporan di atas mejanya yang sebelumnya sudah diambilkan oleh Jiang Junwei.


Jiang Junwei menatap pria paruh baya itu dengan tajam. "Hah, Yang Mulia memang suka berbicara beberapa patah kata saja. Jadi mari saya bantu. Tetua yang terhormat, mungkin anda baru disini, tapi bahkan tetua yang paling bodoh juga tahu bahwa Raja Bulan tidak bisa disogok dengan wanita, dia sudah punya tunangan. Maksudnya adalah, sayang sekali namamu tidak akan diingat kalau begitu."

__ADS_1


Begitu Jiang Junwei menyelesaikan kalimatnya, kepala pria itu sudah menggelinding di lantai.


"Maaf Yang Mulia, sebentar lagi saya akan memanggil pelayan untuk membersihkan kekacauan ini." Jiang Junwei kembali merasa bersalah. Ia takut pemandangan berdarah ini menganggu tuannya yang sedang membaca buku.


Shen Haofeng hanya diam, dan menatap ke arah tusuk rambut perak yang pernah dibelinya untuk Qiao Rong. Rencananya, akan ia berikan ketika mereka bertemu lagi nanti.


Jiang Junwei kembali menatap ke arah wanita yang sekarang ini sangat ketakutan. Wanita itu gemetaran dan menangis, meminta ampun agar Jiang Junwei mengasihani dirinya.


"Bagaimana dengan wanita ini, Yang Mulia?" Jiang Junwei bertanya dengan ragu.


"Untukmu." Jawaban singkat Shen Haofeng membuat pria itu tercengang.


"A-ah?" Wajah pria itu memerah.


*****


Jiang Junwei mendesah pelan.


Ia sangat malu saat Shen Haofeng memberikan wanita itu untuknya. Memangnya dia pria macam apa?


Apalagi masalah percintaan. Jiang Junwei sangat menghormati wanita. Apalagi kalau teringat dengan Ibu dan Adik perempuan tirinya di rumah.


Jiang Junwei yang sedang bebas tugas kini dapat dengan santai berjalan-jalan di Kota Purnama untuk menenangkan pikirannya.


Melihat sebuah kios yang menjual bakpao, Jiang Junwei segera bergegas untuk mengisi perutnya.


Bakpao hangat itu berada tepat di depan matanya. Jiang Junwei menjulurkan tangannya untuk mengambil bakpao itu.


Hanya untuk menemukan bahwa yang berhasil ia pegang hanyalah separuh dari permukaan bakpao. Ada tangan lain yang kini memegang separuh bakpao lainnya dengan erat.


Mereka saling bertatapan.


"Nona dan tuan ini, jadi siapa yang mau membelinya?" Si pemilik kios kebingungan melihat tingkah mereka berdua.

__ADS_1


*****


Chu Yue yang sudah lama berjalan mengelilingi Kota Purnama hanya bisa menahan rasa lapar di perutnya.


Ia terpaksa harus berkeliling mencari makanan sendiri karena hari itu makanan tidak diantarkan ke asrama. Alasannya karena Qiao Rong sedang mengikuti rapat dengan para profesor.


Chu Yue terpaksa setuju ketika Qiao Rong menyarankannya untuk berkeliling Kota Purnama. Sekaligus, pergi membeli makanan untuk dirinya sendiri.


Namun, dirinya yang baru sampai beberapa hari yang lalu di Kota Purnama menjadi halangan bagi Chu Yue untuk menemukan kios yang menjual makanan. Dagangan kebanyakan kios makanan sudah ludes karena terbatasnya jumlah orang yang menjual makanan di Kota Purnama.


Coba saja seperti di Desa Nanshan dulu dimana ia mempunyai dapur pribadi, Chu Yue pasti sudah siap menyantap makanan enak yang ia masak sendiri.


Namun begitu melihat kios bakpao dengan bakpao yang tersisa satu di seberang jalan, Chu Yue akhirnya mendengarkan permintaan perutnya dan berlari dengan kecepatan penuh.


Hanya untuk mendapatkan bahwa orang lain juga mengincar bakpao itu.


Pemilik jari-jari yang mencengkram separuh bakpao di tangannya itu adalah seorang pria bertubuh kekar dengan sebuah jubah yang menutupinya dari kaki hingga ujung kepala.


Chu Yue meneguk salivanya.


Kalau ia harus berebut bakpao dengan pria ini dengan melayangkan tinju, tentunya ia akan kalah telak.


Chu Yue hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya lagi ketika si penjual bertanya kepadanya.


Namun, tanpa disangka, pegangan separuh tangan yang tadi ia rasakan kini tidak ada sama sekali.


Chu Yue hanya bisa melihat pria yang ada di dalam jubah itu dengan tatapan tersentuh.


"Saya teringat Ibu dan Adik di rumah. Akan lebih baik jika nona saja yang mendapatkannya. Saya akan pergi ke restoran yang lebih besar." Pria itu tersenyum lalu pergi.


Chu Yue ingin mengejar pria itu untuk berterimakasih, namun perutnya tidak bisa diajak bekerjasama dan mengeluarkan bunyi yang keras.


Pada akhirnya bakpao itu ia makan dengan lahap, namun dibenaknya ia masih tidak bisa berhenti memikirkan pria yang tadi ia temui.

__ADS_1


Jarang sekali ada pria yang mau mengalah dengan seorang wanita yang jelas-jelas lebih lemah darinya.


Chu Yue kembali mengingatkan dirinya untuk berterimakasih kepada pria itu kalau mereka bertemu lagi.


__ADS_2