Abandoned Princess

Abandoned Princess
Dia Bisa Melihat Mereka?


__ADS_3

Qiao Rong mengelus bulu bayi serigala hadiah Shen Haofeng dengan lembut. Ia sudah dua hari ini masih belum menemukan nama untuk hewan peliharaan barunya itu.


Qiao Rong terus memutar otak. Namun, tiba-tiba ia dikagetkan oleh sosok Jiang Junwei yang muncul entah darimana.


"Ternyata anda ada disini, Raja Bulan mencari anda dari tadi." Ujar pria yang baru datang itu.


"Ah, ada apa?" Tanya Qiao Rong.


"Itu.. hamba juga tidak tahu, Putri. Sepertinya agak mendesak. Karena anda juga sudah terbiasa menyembunyikan aura anda, Yang Mulia jadi tidak bisa mendeteksi keberadaan anda."


Jiang Junwei baru saja ingin permisi dan memberitahukan Shen Haofeng bahwa Qiao Rong berada di kamarnya, namun sebelum ia bahkan bisa mengatakan hal itu, Qiao Rong menghentikannya.


"Tunggu! Anak serigala ini.. Apakah hanya serigala biasa? Sepertinya ia terlalu.. Unik?" Tanya Qiao Rong dengan ragu.


"Ah, itu memang bukan serigala biasa, itu adalah Serigala Es Tanduk Api." Ucapan Jiang Junwei sontak membuat Qiao Rong tercengang.


"Ah?? Bukankah itu.. Hewan penguasa Hutan Selatan?" Qiao Rong memandang pria itu tidak percaya. Ia lebih tidak bisa berkata-kata lagi pada Shen Haofeng.


"Ya. Sekarang, hamba permisi." Jiang Junwei membungkukkan badan dan menghilang kembali secepat ia datang.


Qiao Rong masih terdiam dan melihat bayi serigala yang kini sedang tertidur di pangkuannya dengan tatapan tidak percaya.


"Lihat bagaimana pria itu menunjukkan betapa ia mencintaimu, Kakak. Bahkan hewan peliharaan saja spesies terbaik. Hihihi." Perkataan Li Wenrou yang tiba-tiba muncul membuat wajah Qiao Rong memerah.


"Se-sejak kapan kau tah—"


"Aku menceritakannya tentang kalian." Ujar Li Junyan.


Qiao Rong sangat ingin menjitak bocah itu. Tapi sekarang kedua tangannya disibukkan oleh si bayi serigala.


"Lebih baik kalian membantuku menamainya." Ujar Qiao Rong dengan ketus. Ia merasa urat malunya hampir ditarik sampai putus oleh kedua anak itu.


"Bagaimana kalau Huo Bing saja? Huo untuk api dan Bing untuk es." Ujar Li Junyan.


Qiao Rong berpikir sebentar dan akhirnya menyetujuinya. "Ide bagus!" Senyumnya dengan setuju.


"Apakah kau suka? Mulai sekarang namamu Huo Bing!" Ucap Qiao Rong sembari terus mengelus-elus Huo Bing.


"Siapa kalian?" Sebuah suara dingin menusuk tiba-tiba terdengar dalam ruangan.

__ADS_1


Tangan Qiao Rong yang sedang mengelus Huo Bing segera terhenti. Ia menatap pria di depannya itu dengan pandangan horor.


*****


Shen Haofeng menatap kedua anak di samping Qiao Rong dengan aneh. Ia tidak pernah melihat mereka, namun jelas energi yang ada di sulaman itu adalah milik bocah yang lelaki.


Dan dia justru tambah kebingungan melihat ekspresi Qiao Rong yang kini membeku.


"K-kau... Bisa melihat mereka?" Tanya Qiao Rong dengan terbata-bata.


"Ya, siapa mereka?" Shen Haofeng mencoba berbicara sesantai mungkin. Ia sangat tidak nyaman melihat raut wajah Qiao Rong sekarang, dan ia yakin gadis itu juga pasti begitu.


"M-mereka.." Bocah lelaki itu tiba-tiba berjinjit dan membisikkan sesuatu pada Qiao Rong. "Mereka adalah anak Hu Fei dan Duan Yi yang sedang berkunjung. Kebetulan aku bertemu—"


"Dan kau menyuruh bocah lelaki itu menyulam?" Shen Haofeng mengeluarkan hasil sulaman yang daritadi dibawa olehnya.


Qiao Rong lagi-lagi membeku.


"Kau tidak perlu bohong padaku. Ini.. Bukan energi manusia, Qiao Rong." Nada Shen Haofeng terdengar tercekat. Ia seperti kecewa berat karena telah dibohongi. Bahkan Qiao Rong merasa hatinya teriris saat melihat senyuman pahit pria itu.


Bukan, itu bukan senyuman pahit. Lebih seperti senyuman sedih yang dipaksakan.


"A-aku minta maaf.. Maaf.. Maaf.." Qiao Rong bahkan tidak bisa berpikir lagi. Ia hanya bisa mengucapkan kata maaf itu berkali-kali.


"Siapa mereka? Apakah mereka berbahaya? Apakah mereka mengancammu?" Nada Shen Haofeng kembali seperti nada khawatir.


Qiao Rong kebingungan harus menjelaskan seperti apa.


Bilang bahwa ia sebenarnya adalah gadis dari seribu tahun yang lalu? Bilang bahwa ia memasuki tubuh ini karena keberuntungan? Bahwa ia mencuri Kitab Yin Yang untuk balas dendam?


Tidak ada satu patah kata pun yang sepertinya layak untuk ia beritahu pada pria yang akan segera menjadi tunangannya itu. Qiao Rong tidak sanggup.


"Mereka tidak berbahaya. Tidak sama sekali. Mereka adalah temanku. Setidaknya.. Hanya itu yang bisa kujelaskan padamu sekarang." Sekarang giliran Qiao Rong tersenyum pahit. Ia merasa tidak sanggup melihat ekspresi yang akan ditunjukkan Shen Haofeng.


Apakah akan kecewa? sedih? marah?


"Baiklah. Selama mereka temanmu." Namun pemuda itu hanya tersenyum kecil, dan menghilang.


*****

__ADS_1


"Maaf, Master, aku tidak berpikir cukup panjang dan membuat hubunganmu dalam masalah." Li Junyan yang bermuka muram sudah daritadi meminta maaf pada Qiao Rong.


Namun daripada mendengarkan bocah itu dan permintaan maafnya, pikiran Qiao Rong seolah-olah terhenti dari tadi. Sembari ia memandang ke depan dengan tatapan kosong, ia sama sekali tidak bisa melupakan senyuman pria itu. Ia merasa sangat bersalah.


Li Wenrou juga hanya bisa menundukkan kepalanya sedaritadi.


Dimana letak kesalahan Qiao Rong? Apakah karena ia menyuruh Li Junyan menyulam? Apakah dirinya yang menempati tubuh Qiao Rong ini adalah sebuah kesalahan? Apakah seharusnya ia meninggal saja di dalam jurang sebagai Li Wenhua?


Pikiran-pikiran itu terus menghantui Qiao Rong, memaksanya untuk terus larut dalam pikirannya. Membuat pandangannya menjadi kosong dan indra-indra tubuhnya tidak berfungsi.


Hingga sebuah ketukan dari pintu datang.


"Masuk." Bahkan suaranya yang biasa percaya diri dan bersemangat, kini digantikan oleh suara lemah dan sedih.


Li Junyan sudah putus asa pada Qiao Rong. Ia dan Li Wenrou hanya bisa kembali ke dengan sedih.


"Yang Mulia—.. apakah ada masalah?" Chu Yue yang tadinya ingin menyampaikan sesuatu akhirnya menjadi ragu setelah melihat raut wajah Qiao Rong. Sudah sangat lama sejak ia melihat raut wajah itu lagi. Bukankah biasanya gadis itu sangat percaya diri?


"Tidak." Lagi-lagi nada lemah itu masih diulang olehnya.


"Putra Perdana Menteri Liu, Liu Liwei telah berkunjung ke Paviliun Yun." Ucap Chu Yue.


Qiao Rong segera beralih sejenak dari pikiran-pikirannya tadi. Ia punya tamu untuk disambut. Setidaknya, sekarang.


"Bawa ia ke halaman." Titah Qiao Rong dengan singkat pada Chu Yue. Walaupun Chu Yue masih khawatir, namun ia juga tidak bisa bilang apa-apa lagi pada gadis itu.


Qiao Rong berjalan pelan ke arah halaman. Langkahnya masih lunglai dan terlihat lemas, namun ia berusaha menunjukkan senyuman cerah dan dirinya yang masih percaya diri seperti sebelum kunjungan terakhir Shen Haofeng.


Di halaman, Liu Liwei menyambutnya dengan senyuman seperti kemarin saat mereka bertemu. Dan Qiao Rong mencoba sebisanya.


"Ada apa Tuan Liu datang kemari?" Qiao Rong mencoba tersenyum.


"Ah, masalah beras sudah selesai, saya harus segera kembali. Sengaja kemari untuk berpamitan." Liu Liwei menyesap tehnya.


"Ah begitu.." Balas Qiao Rong.


"Sepertinya Putri punya banyak pikiran saat ini. Saya sudah menebak penyebabnya, tapi tidak berani mengungkapkannya. Namun, saya kesini hanya ingin menyampaikan bahwa saya sama sekali tidak berniat bermain-main dengan Putri sama sekali kemarin." Kalimat terakhir itu membuat Qiao Rong agak terkejut.


"Ah, anda membuat saya tersanjung, Tuan. Lagipula, saya juga akan segera bertunangan, tidak akan ada waktu untuk bermain-main lagi." Ujar Qiao Rong untuk menolak halus perkataan Liu Liwei.

__ADS_1


"Bukankah hanya pertunangan?" Sekilas Qiao Rong melihat senyuman aneh yang ditunjukkan pria di depannya itu. "Saya pamit, Putri Rong, jangan lupa akan apa yang saya sampaikan hari ini. Sangat menyakitkan kalau hanya dianggap sebagai teman baik saja." Liu Liwei mengedipkan sebelah matanya pada Qiao Rong, dan pergi meninggalkan Qiao Rong yang mematung.


Apa itu barusan?


__ADS_2