
Di Istana...
"Mengapa para pembunuh bayaran yang kukirim belum ada yang kembali juga?!" Qiao Lan berteriak dan mulai menggigit ibu jarinya.
Semenjak ia mendorong Qiao Rong hingga hampir mati, ia merasa rencananya tidak ada yang berjalan mulus satu pun. Seharusnya dengan perginya Qiao Rong ke Desa Nanshan yang hanya ditemani tiga orang prajurit dan satu dayang, ia bisa menghabisi Qiao Rong dengan mudah. Itu adalah satu-satunya cara agar Kaisar dapat menerima alasan kematian Qiao Rong yang terjadi di luar istana.
Namun, ia bahkan sudah menunggu seminggu. Tidak ada satu pun surat atau kode yang dikirimkan oleh pemimpin pembunuh bayaran itu.
Qiao Lan merasa curiga. Apakah ada orang yang diam-diam membantu Qiao Rong? Tapi Qiao Rong bahkan sangat jarang meninggalkan Paviliun Yun. Bahkan kalau gadis itu membuat kontak dengan pihak lain, pasti dia akan segera mengetahuinya.
Qiao Lan segera memutar otak kembali untuk segera membereskan Qiao Rong.
*****
"Yang Mulia.. Ular itu.." Jiang Junwei yang baru saja datang berlutut di belakang sosok Shen Haofeng yang sedang menguliti rubah buruannya.
"Tidak. Belum." Mendengar kata-kata Shen Haofeng, Jiang Junwei hanya bisa mengangguk. Shen Haofeng tidak akan memulai sebuah pertarungan dimana ada kemungkinan bagi kekalahan.
"Tapi.. Yang Mulia sudah berkultivasi begitu tinggi. Apakah sama sekali tidak bisa mempercepat..." Jiang Junwei kembali merasa ragu.
"Ular itu berusia lebih dari seribu tahun. Apakah aku perlu mengingatkanmu?" Nada dingin Shen Haofeng keluar. Ia paling tidak suka bawahannya mempertanyakan keputusan yang sudah ia buat
Jiang Junwei segera terkesiap dan membanting kepalanya ke tanah. "Hamba tidak bermaksud meragukan Yang Mulia!"
Shen Haofeng hanya kembali fokus dengan kulit yang ada di depannya. Tiba-tiba, ia segera memberi tanda bagi Jiang Junwei untuk pergi. Sesaat kemudian, Qiao Rong keluar dari rumahnya dan berjalan riang ke arah Shen Haofeng.
Hubungan mereka bisa dikatakan sudah membaik sejak pergi ke kota seminggu yang lalu. Qiao Rong tidak lagi kesal terhadap Shen Haofeng, begitu pula sebaliknya, kosakata yang Shen Haofeng gunakan saat berbicara pada Qiao Rong kini semakin meningkat.
"Kulit rubah yang indah." Ucap Qiao Rong dengan mata yang berbinar-binar melihat kulit rubah itu. Ia bisa membayangkan membuat sebuah jubah dari kulit rubah itu.
"Ya." Jawab Shen Haofeng singkat dengan senyum di mulutnya.
Jiang Junwei yang melihat senyuman Shen Haofeng pun terkejut. Bahkan selama sepuluh tahun ia menjadi bawahan terdekat Shen Haofeng, tuannya itu tidak pernah tersenyum seperti itu padanya.
Namun, Jiang Junwei merasa bahwa hal itu tidak terlalu buruk. Setidaknya ada jaminan kalau tuannya akan mempunyai keturunan untuk melanjutkan warisannya di masa depan. Yang ia khawatirkan hanyalah Qiao Rong. Gadis itu tidak memiliki roh pelindung, bahkan berkultivasi pun tidak bisa. Bagaimana ia akan bisa berdiri dengan kokoh di samping tuan mudanya nanti?
__ADS_1
Segera setelah Shen Haofeng selesai menggantung kulit-kulit itu di halaman rumahnya, Qiao Rong segera menarik lengan bajunya.
Qiao Rong membawanya ke samping danau. Ia sudah menyiapkan sebuah perahu kayu kecil yang ia minta pada Gao Ping kemarin. Qiao Rong segera menarik-narik lengan Shen Haofeng, tapi sepertinya pemuda itu tidak beranjak sedikit pun.
"Bahkan kau menemaniku naik perahu saja tidak mau?" Qiao Rong memasang wajah memelasnya. Shen Haofeng merasa hatinya sudah melembut sekarang, karena ia merasa tidak tega melihat ekspresi Qiao Rong. Akhirnya ia pun setuju.
Jiang Junwei yang dari kejauhan melihat mereka menaiki perahu itu berdua merasa tambah yakin bahwa hati tuan mudanya itu telah luluh pada Qiao Rong.
Qiao Rong mengambil salah satu dayung dan memegangnya di sisi sebelah kanan perahu. Ia juga menyuruh Shen Haofeng untuk mendayung perahu di sebelah kiri.
Shen Haofeng hanya menurut. Lalu mereka mendayung perahu itu hingga sampai di tengah danau. Di tengah danau, Qiao Rong mulai berhenti mendayung dan berdiri menghadap pemuda itu.
"Shen Haofeng." Qiao Rong memanggil Shen Haofeng, yang segera menoleh ke arahnya.
"Ng?" Jawab Shen Haofeng.
"Kau.. sudah mempunyai t-tunangan atau kekasih?" Qiao Rong bertanya dengan gugup.
"Tidak." Jawab Shen Haofeng dengan santai.
Mau tidak mau, kini ia harus mengakui perasaannya. Seminggu ini, ia seharusnya sudah bisa melihat perasaannya sendiri dengan jelas. Namun, kepercayaan dirinya yang biasa ia miliki tidak ada dimanapun ketika ia mulai memandang pemuda itu.
Shen Haofeng hanya bisa menatapnya kebingungan. Ia merasa aneh saat ditatap begitu lama, namun juga tidak bisa berkata apa-apa.
Alasan Shen Haofeng menjawab begitu mudah, tentu karena seumur hidupnya, ia tidak pernah berkontak dengan perempuan manapun. Namun, hal ini menjadikannya sama sekali tidak mengenal perasaan romantis yang bisa timbul dari kedekatan wanita dan pria.
"Kalau begitu—" Qiao Rong belum selesai mengucapkan kata-katanya ketika sebuah pusaran air di danau muncul dan menggoyangkan kapal itu begitu hebatnya.
Qiao Rong yang sedang berdiri tentu segera oleng dan tidak memiliki kesempatan untuk berpegangan pada apapun, ia langsung menutup mata dan mempersiapkan dirinya untuk menerima rasa sakit. Shen Haofeng yang melihatnya segera maju sedikit untuk menangkapnya.
Namun, ketika Qiao Rong membuka mata, bibirnya sudah tertempel di kening Shen Haofeng. Shen Haofeng membeku sesaat.
Qiao Rong segera menjauhkan diri dan memalingkan wajah untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Shen Haofeng bahkan belum bergerak lagi saking terkejutnya. Ia belum pernah melakukan kontak sedekat itu dengan lawan jenis.
Jiang Junwei yang melihat kejadian itu sambil minum teh pun langsung tersedak.
__ADS_1
Melihat Shen Haofeng yang masih belum bergerak, Qiao Rong ingin memecah keheningan sekaligus cepat-cepat menyingkir dari kecanggungan itu.
"Pusaran air apa itu tadi? Sangat mengagetkan." Qiao Rong mencoba membuka percakapan.
"Ikan Pusar." Mendengar Shen Haofeng mengatakan itu, Qiao Rong terbatuk.
Ikan Pusar?! Ikan yang bahkan bisa mengaduk laut sebulan sekali ada di danau ini?! Batin Qiao Rong. Ia sudah sangat takjub pada makhluk-makhluk yang ada di Desa Nanshan. Belum cukup ular yang ia temui di gunung, dan ikan pusar yang berada di danau ini. Ia juga bertemu dengan makhluk paling pendiam yang baru pernah ia temui, Shen Haofeng.
Qiao Rong segera mendayung kembali dan tidak menghiraukan tatapan Shen Haofeng.
Sore itu, mereka hanya langsung pulang kembali ke rumah masing tanpa berkata-kata lagi.
*****
"Apa Yang Mulia menyukainya?" Tanya Jiang Junwei.
"Mungkin tidak. Kecupan tidak sengaja itu membuatku tidak nyaman." Jawab Shen Haofeng yang sedang duduk menikmati cahaya bulan.
"Lalu.. Apakah anda ingin hal itu tidak pernah terjadi?" Jiang Junwei bertanya lagi sambil menuangkan secangkir teh untuk Shen Haofeng.
"Tidak juga.." Shen Haofeng tidak menyadari bahwa kini dirinya sedang tersenyum.
"Lalu.. akankah lebih baik kalian tidak pernah bertemu?" Tanya Jiang Junwei sambil tersenyum kali ini.
"Tidak."
*****
Chu Yue seperti biasa sedang kebingungan lagi karena tingkah Qiao Rong semenjak pulang dari rumah Shen Haofeng. Qiao Rong memang memberitahu Chu Yue bahwa ia akan mengajak Shen Haofeng untuk menaiki perahu bersama. Namun, semenjak pulang, Qiao Rong hanya masuk ke dalam kamarnya dan tidak keluar sampai makan malam. Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping juga ikut khawatir.
Walaupun memang sudah menjadi salah satu pekerjaan sehari-hari Chu Yue untuk mengkhawatirkan Qiao Rong, namun kali ini berbeda. Chu Yue merasa bahwa ia sangat khawatir, namun di satu sisi juga merasa bahwa ia tidak perlu begitu khawatir.
Duan Yi, Hu Fei, dan Gao Ping malah tidak berani untuk memberi komentar pada keadaan Qiao Rong. Chu Yue hanya bisa menghela napas.
Entah masalah apa lagi yang akan ia hadapi kali ini.
__ADS_1