
Di sisi seberang, Qiao Lan sudah siap memegang pedangnya yang biasa ia gunakan dalam kompetisi-kompetisi. Ia tersenyum percaya diri dan mengangkat tangannya. Seketika, seluruh tempat itu dipenuhi sorakan para penonton. Sangat berbeda dengan saat Qiao Rong naik ke atas panggung.
Wasit sudah meneriakkan aba-aba mulai. Namun keduanya sama sekali belum bergerak.
"Sudah siap adik?"
"Tentu." Qiao Rong menjawab dengan senyumannya paling lebar.
"Kakak akan berbaik hati, silahkan adik maju." Melihat Putri Lan bersiap-siap menggunakan teknik bertahan, seruan mengejek dari seluruh penonton segera ditujukkan untuk Qiao Rong.
Qiao Rong tersenyum lagi. Ia tentu tidak begitu murah hati untuk membiarkan kesempatan emas seperti ini terlewatkan. Dan Qiao Rong mulai mengayunkan cambuknya.
*****
Hanya ada satu kata yang tepat untuk pertandingan barusan. Memalukan. Terlalu memalukan.
Qiao Rong sudah memperingatkan Putri Lan pada kunjungannya ke Paviliun Yun, namun kelihatannya gadis itu tidak menghiraukannya sama sekali. Bodohnya, ia hanya menggunakan teknik bertahan Tingkat Perunggu saat menghadapi cambukan Qiao Rong.
Dalam satu cambukan, Qiao Lan sudah dibuat melayang sekitar satu meter dari tempatnya semula. Sisi kiri bajunya yang terkena cambukan bahkan robek dan memperlihatkan pinggangnya yang kini mengeluarkan darah karena sayatan akibat cambukan itu.
Para penonton terkejut hingga menahan napas. Apalagi ekspresi Kaisar yang sudah tidak bisa dikendalikan, mulutnya terbuka lebar melihat hal itu.
Putri Lan kelihatannya sangat syok, sulit untuk menerima apa yang baru saja terjadi padanya. Namun rasa sakit yang menjalari tubuhnya akhirnya menyadarkannya. Putri Lan seketika tidak bisa mengendalikan emosinya, dipermalukan di depan seluruh penonton seperti itu, siapa yang bisa menerimanya?
Ekspresi senyuman mengejek yang terlukis di wajah Putri Lan semula itu terhapus semuanya. Kini, yang ada hanyalah ekspresi marah, seperti seluruh tubuhnya dikendalikan oleh amarah yang menggebu-gebu. Dan ia melesat maju mengayunkan pedangnya pada Qiao Rong.
Namun, siapa yang bisa mengira? Bahkan sebelum ayunan pedang Putri Lan mendekati helaian rambut Qiao Rong, gadis itu sudah menghilang dari pandangan. Apakah ayunan pedang itu sulit dihindari oleh Qiao Rong yang menguasai Teknik Seribu Kaki dengan Tingkat Legendaris? Tentu tidak.
Qiao Rong yang tiba-tiba sudah ada di belakang tubuh Putri Lan langsung memecut kaki kanan gadis itu. Putri Lan langsung mengeluarkan pekikan, saat darah segar mulai mengalir di kaki kanannya.
Penonton sontak tercengang, Putri yang selalu mereka bangga-banggakan itu malah kalah dengan Putri yang dari dulu mereka ejek karena tidak memiliki roh pelindung. Bila mengingat sorakan mengejek yang mereka lontarkan beberapa saat lalu, rasanya sangat memalukan. Namun Qiao Lan tetap mempertahankan harga dirinya dah tetap melesat ke arah Qiao Rong walau dengan satu kaki yang pincang.
__ADS_1
Intensitas pertandingan itu kini meningkat. Sebelumnya, jika pertandingan antara Liu Liwei dan Huang Zhong seperti pertandingan dalam tingkat yang sama, maka pertandingan kali ini jauh berbeda. Seperti pembulian terhadap satu pihak.
Belum saja Qiao Lan mendekat, lagi-lagi pecutan cambuk Qiao Rong sudah mengenai lengan kiri Putri Lan.
Dan lagi, dan lagi.
Penonton maupun Kaisar sudah tidak kuat mendengar pekikan yang menyayat hati itu tiap kali bunyi pecutan terdengar. Apalagi baju Putri Lan yang saat ini sudah tak layak pakai dan bersimbah darah.
"Hati-hati, jangan mengenai wajahnya." Ucap Li Junyan.
"Tentu saja." Qiao Rong tersenyum. Bagaimana mumgkin ia membiarkan kakak tercintanya itu kelilangan aset paling berharganya?
Namun Putri Lan tidak mau menyerah, ia langsung mengeluarkan roh pelindungnya. Seketika, dari telapak tangannya yang penuh darah itu muncullah sebuah bunga lotus yang terbuat dari es.
Bunga lotus itu segera mengeluarkan es-es runcing yang melesat ke segala arah. Tentu Qiao Rong sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi jurus andalan bunga lotus es itu. Qiao Rong segera mempersiapkan teknik andalannya juga. Teknik Tubuh Baja.
Qiao Rong tahu kebenaran tentang lotus es itu dari Lan Long. Sebenarnya lotus itu hanyalah roh pelindung tingkatan menengah di dunia roh. Namun di dunia manusia, bunga lotus es di perlakukan sebagai roh pelindung tingkat tinggi karena penampilannya yang misterius dan elegan.
Menghadapi roh pelindung seperti itu, Qiao Rong tidak perlu bersusah payah mengandalkan roh pelindungnya. Apalagi serangan roh pelindung Putri Lan dapat ia hadapi dengan teknik Tingkat Emas saja.
Semuanya sibuk terpana, dan akhirnya sadar saat Putri Lan dicambuk untuk yang terakhir kalinya, sebelum ia terkapar di lantai panggung sama seperti jaguar miliki Huang Zhong.
*****
Pertandingan itu membuat pola pikir rakyat dan Kaisar berubah terhadap Qiao Rong. Karena mereka tidak mengetahui kebenaran mengenai bunga lotus es, tentu Qiao Rong dianggap sebagai seorang jenius yang tekniknya bahkan tidak dapat ditembus oleh bunga lotus es. Hal itu dikarenakan roh pelindung yang tidak berada di tingkat paling tinggi, tidak bisa berbicara di manisfetasi dunia manusia. Hanya roh pelindung yang memiliki kekuatan tinggi dan berada di tingkat paling tinggi seperti Lan Long dan Bai Lao yang dapat dengan leluasa berbicara di dunia manusia.
Hal terakhir yang membuat Kaisar tercengang adalah pemandangan Putri Lan yang diangkut oleh tandu. Hari ini dia menginginkan putrinya yang merupakan aib keluarga yang mati, mengapa yang terjadi malah sebaliknya?
Namun Kaisar adalah orang yang cerdas, ia langsung memberi selamat pada Qiao Rong dan bertepuk tangan untuk memperlihatkan kebanggannya. Hal itu tentu untuk mendapatkan sisi baik Qiao Rong. Untuk menggantikan hal buruk yang selama ini telah dilakukannya pada gadis itu. Kalau saja ia tahu Qiao Rong merupakan seorang jenius dari dulu, akankah dia memperlakukannya seperti itu?
Namun Qiao Rong yang saat ini bukanlah Qiao Rong yang sama yang akan tersenyum bahagia saat dipuji Ayahnya karena sebuah sulaman. Saat ini, ditubuh itu hanya ada sifat Li Wenhua yang haus akan balas dendam.
__ADS_1
Namun, pertandingan melawan Putri Lan bukanlah pertandingan terakhir yang akan Qiao Rong hadapi. Masih ada pertandingan final yang harus ia tunggu. Sesungguhnya Qiao Rong sangat penasaran akan berhadapan dengan siapa.
Babak kesatu yang diadakan dari pagi sampai siang telah selesai, dan babak kedua akan dimulai. Nomor undian kembali dibagikan kepada tiap peserta yang kini hanya berjumlah setengah dari total peserta pada babak pertama.
Setelah babak kedua dimulai, Qiao Rong kembali menganalisa kembali pertandingan-pertandingan berikutnya dengan berbagai komentar Li Junyan.
"Menurutmu siapa lawanmu selanjutnya?" Tanya Li Junyan.
"Seharusnya Liu Liwei. Pria itu cukup cerdik." Jawab Qiao Rong dengan singkat.
Li Junyan mengangguk-angguk. Ia juga tidak menyangka bahwa pria itu akan membubuhkan racun di kedua tanduk roh pelindungnya. Metodenya cukup unik. Li Junyan harus memberikan pujian untuk idenya itu.
Qiao Rong pun berpikir demikian. Ia sudah tidak sabar maju lagi ke atas panggung untuk yang kedua kalinya.
Apalagi dengan pandangan orang-orang disekitarnya sekarang ini. Semuanya adalah pandangan penjilat yang melihat sebuah harta berharga. Qiao Rong sudah cukup sering melihat pemandangan seperti ini di kehidupan lamanya dengan statusnya sebagai Nona Besar Sekte Wuling.
Apalagi bibi itu yang tadi mengajaknya berbicara, kini memandanginya daritadi dengan pandangan tidak mengenakan.
Akhirnya keinginan Qiao Rong terkabul, sekitar dua jam kemudian, Kompetisi Empat Musim sudah berada pada penghujung acara.
"Qiao Rong! Melawan, Liu Liwei!"
Begitu nama diteriakkan, sekali lagi seluruh penjuru tempat itu diisi oleh sorakan dan tepuk tangan meriah dari para penonton.
Qiao Rong tahu, untuk pertandingan kali ini lah dia mempersiapkan ayunan cambuknya di ruang tunggu tadi. Seorang lawan yang patut dikhawatirkan. Qiao Rong hanya bisa berharap ia tidak perlu mengeluarkan Lan Long ataupun Bai Lao pada ronde kali ini.
Qiao Rong menggenggam cambuknya lagi dan naik ke atas panggung.
Di sisi berlawanan, Liu Liwei melipat kedua tangannya di dada dan membungkukkan tubuh. Qiao Rong juga melakukan hal yang sama.
Aba-aba mulai diteriakkan, dan mereka berdua mulai melesat untuk menyerang.
__ADS_1