Abandoned Princess

Abandoned Princess
Roh Pelindung Kedua


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan disini?" Ucap Qiao Rong saat melihat Shen Haofeng yang sedang duduk di sanping ranjangnya memegang sebuah mangkok kecil.


"Enn.. Menyuapimu obat?" Jawab Shen Haofeng dengan kebingungan. Awalnya ia agak bingung untuk merespon, namun lama-kelamaan senyumnya mulai merekah karena senang.


"Kenapa kau tersenyum?" Qiao Rong tambah bingung. Ia tidak pernah melihat pemuda itu se-ekspresif itu.


"Karena kau sudah bangun." Shen Haofeng lalu berdiri, meletakkan mangkok obat itu di atas nakas, dan membantu Qiao Rong untuk duduk.


Qiao Rong hanya bisa mengangguk-angguk dan melayangkan pandangan ke sekelilingnya. Ia merasa sudah tidur begitu lama.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Qiao Rong memberanikan diri untuk menanyakan hal itu pada Shen Haofeng.


"Sebelas hari." Qiao Rong sejujurnya sangat terkejut. Ia merasa hanya tertidur lima atau enam hari, ternyata malah lebih lama dari yang ia perkirakan.


Chu Yue yang mendengar suara Shen Haofeng yang sepertinya sedang berbincang pun segera masuk ke dalam kamar Qiao Rong. Melihat Qiao Rong yang sedang duduk di atas ranjang membuatnya sontak langsung memeluk Qiao Rong. Namun, baru saja ia menyadari kelancangannya terhadap Qiao Rong dan ingin meminta maaf, ia teringat bahwa ia tidak boleh membuat Shen Haofeng curiga akan identitas Qiao Rong. Akhirnya Chu Yue yang serba salah hanya bisa keluar dari kamar dengan malu. Qiao Rong tertawa sedikit karena perbuatan gadis itu. Kalau hal yang sama terjadi pada Chu Yue, pasti dia akan melakukan hal yang sama.


*****


Shen Haofeng pulang dengan wajah yang berseri-seri. Bahkan Jiang Junwei bergidik saat melihatnya di rumah. Ia merasa ngeri ketika mengingat terakhir kali wajah Shen Haofeng berseri-seri seperti itu.


Sebelum menemui Shen Haofeng di Desa Nanshan, Jiang Junwei hanya pernah melihat Shen Haofeng tersenyum sekali. Itu terjadi ketika mereka sedang minum bersama. Shen Haofeng yang seumur hidupnya tidak pernah mencoba alkohol, ternyata sangat payah mengatasinya. Hanya beberapa cangkir, dan ia sudah mabuk.


Jiang Junwei awalnya hanya ingin tertawa melihat tuannya melakukan beberapa hal bodoh. Namun hal itu kandas ketika beberapa pembunuh bayaran profesional datang menyerang mereka. Hal yang ia ingat adalah wajah berseri-seri Shen Haofeng saat membunuh semua pembunuh bayaran itu. Bahkan mayat mereka saja sudah tidak utuh ketika Jiang Junwei melihat banyak anggota tubuh yang berceceran di bawahnya. Setelah itu, ia bersumpah tidak akan pernah membiarkan Shen Haofeng menyentuh alkohol lagi.


*****


Qiao Rong kini sedang menikmati mandi air panasnya. Namun ia tiba-tiba teringat akan suatu hal.

__ADS_1


"Li Junyan! Keluar kau!" Qiao Rong mencoba berteriak dengan sedikit berbisik agar Chu Yue yang berada di kamar depan tidak mendengar suaranya.


Li Junyan akhirnya keluar dari ruangan Kitab Yin Yang setelah beberapa kali Qiao Rong berteriak dengan emosi. Li Junyan mengeluarkan ekspresi memelasnya. Ia merasa riwayatnya sudah tamat.


"Kemana saja kau saat aku melawan Ular Nirwana, bocah?!" Qiao Rong mulai mengeluarkan emosinya yang tertanam sejak sebelas hari yang lalu.


"Hei, ayolah. Ular itu juga membuatku tidak bisa bicara atau keluar." Li Junyan memohon pada Qiao Rong agar jangan marah. Qiao Rong masih kesal karena Li Junyan tidak ada saat ia membutuhkannya. Namun mendengar asalan bocah itu, Qiao Rong juga tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ia hanya menjitak Li Junyan beberapa kali saja. Li Junyan hanya bisa meringis.


Tiba-tiba saat Qiao Rong masih berbicara panjang lebar mengenai kejadian itu.. Lan Long muncul di telapak tangan kanan Qiao Rong. Sudah beberapa bulan sejak terakhir kali Lan Long muncul, hal itu membuat Qiao Rong lumayan senang melihat naga kecil itu yang berputar-putar melilit tangannya.


Namun, kali ini Lan Long muncul dengan wajah agak khawatir dan terbebani. Qiao Rong penasaran, hal apa yang menimpa Raja Naga Air itu?


"Master.. maafkan aku. Aku sudah berusaha begitu lama mengabaikannya tapi.." Lan Long terlihat putus asa. Qiao Rong makin bingung karena mengetahui bahwa masalah yang menimpa Lan Long berkaitan dengan dirinya.


Namun, belum selesai ia berpikir, tiba-tiba telapak tangan kirinya menjadi hangat.


Dari telapak tangan kiri Qiao Rong, muncul seekor harimau putih. Qiao Rong tentu terkejut. Seribu tahun ia telah melewati waktu, namun bahkan di masa lalu, Qiao Rong tidak pernah mendengar seseorang yang memiliki dua roh pelindung.


"Master, kau tak bisa menyalahkan aku, si tua licik itu menangis di depan pintu istanaku setiap harinya sejak aku memilihmu. Bahkan tidur pun aku tidak bisa." Lan Long menjadi depresi saat memikirkan hal itu kembali. Sudah beberapa bulan ini di dunia roh ia tidak bisa makan atau tidur dengan benar. Kalau muncul di hadapan Qiao Rong, bisa-bisa harimau putih itu ikut dan kontrak mereka akan terwujud. Namun, hari ini dia tidak kuat lagi menahan rengekan si harimau putih.


Qiao Rong mengangguk mengerti. Melihat anggukan Qiao Rong, akhirnya Lan Long bisa menghela napas dengan lega.


Namun pertama-tama, Qiao Rong ingin mendengar dahulu penjelasan dari Bai Lao. "Mengapa kau memilihku?"


"Karena kami, Raja Empat Mata Angin, sejak terbentuk tidak pernah memilih tuan. Saat naga tua itu memilihmu, aku sudah tahu pasti orang itu bukan orang biasa." Jawab Bai Lao dengan tulus.


Qiao Rong bisa melihat ketulusan Bai Lao saat menjawabnya. Oleh karena itu, Qiao Rong hanya tersenyum ramah dan menyambut kedatangan Bai Lao. Ia juga tidak masalah akan mendapat tenaga bantuan nantinya. Lan Long sebenarnya tidak terlalu senang dengan adanya Bai Lao yang akan membagi kasih sayang tuannya, namun ia hanya bisa mendesah pendek.

__ADS_1


Li Junyan yang melihat ekspresi tidak berdaya Lan Long hanya terkekeh kecil.


*****


Chu Yue hanya bisa mondar-mandir kebingungan dari depan pintu kamar mandi. Ia sedang menunggu Qiao Rong untuk meminta maaf atas kelancangannya tadi. Sebenarnya, ia memiliki banyak kesempatan, namun karena merasa canggung akhirnya kata maaf itu tetap tidak keluar dari mulutnya.


Begitu Qiao Rong keluar dari kamar mandi, Chu Yue yang berada di depan pintu mundur beberapa langkah dan membungkukkan badan untuk meminta maaf.


"Mohon maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia!" Qiao Rong hanya tertawa setelah tercengang sebentar. Ia tidak menyangka, baru saja selesai mandi, akan disambut oleh hal seperti itu di depan pintu.


Mendengar suara tawa Qiao Rong, Chu Yue memberanikan diri untuk menatap ke atas sebentar dan menemukan wajah Qiao Rong yang sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Tidak usah begitu. Kita sudah bersama selama tujuh tahun, kau bahkan lebih baik daripada saudariku sendiri yang malah ingin membunuhku." Jawab Qiao Rong dengan senyuman hangat.


Itulah dua sisi Qiao Rong yang dirasakan oleh orang-orang terdekatnya. Kalau tidak kenal dan firasatnya buruk terhadap seseorang itu, ditambah lagi sifatnya yang buruk, Qiao Rong akan meningkatkan seluruh kewaspadaan dan menjauhi orang itu secepat mungkin. Kalau ada seseorang yang tidak memiliki tujuan apapun terhadapnya dan memang bisa menemaninya dengan tulus, Qiao Rong akan berubah seratus delapan puluh derajat dan tersenyum sepanjang waktu.


Chu Yue merasa begitu terharu. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia menahannya agar tidak mempermalukan diri di depan Qiao Rong. Lalu akhirnya mereka lanjut memilih baju dan merias diri sedikit.


Begitu Qiao Rong keluar, ia kaget karena di depan pintu rumahnya sudah berdiri seorang pemuda yang wajahnya sangat familier. Shen Haofeng.


"Shen Haofeng? Kau tidak berburu hari ini? Bagaimana tubuhmu? Apakah Buah Kunlun berfungsi dengan baik?" Qiao Rong menyerang Shen Haofeng dengan begitu banyak pertanyaan. Namun Shen Haofeng menjawabnya dengan begitu sabar.


"Ya. Tidak, aku menunggumu. Tubuhku baik, Buah Kunlun juga berfungsi dengan sangat baik. Bagaimana denganmu? Sudah bisa berjalan dengan baik?" Mendengar perkataan Shen Haofeng, Qiao Rong mematung sesaat.


Akan sangat normal jika pemuda itu menjawab hanya dengan anggukan atau dehaman. Ia tidak siap untuk Shen Haofeng yang baru kali itu berbicara begitu panjang, apalagi menanyakan tentang keadaannya. Perlahan-lahan, wajah Qiao Rong mulai merona. Ia hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Shen Haofeng.


"Baguslah. Apakah kau mau jalan-jalan ke kota?" Tanya Shen Haofeng.

__ADS_1


"Ah?" Qiao Rong kembali mematung sesaat.


Belum cukup kemajuan dalam berbicara, sekarang bahkan ingin mengajak kencan?


__ADS_2