Abandoned Princess

Abandoned Princess
Xu Fang Yin (1)


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Qiao Rong berharap Shen Haofeng dapat menjawab pertanyaannya sewaktu di gang kecil itu. Namun yang ia dapatkan hanyalah rasa kecewa, karena pemuda itu bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun setelah kejadian itu. Qiao Rong merasa sudah mengambil pilihan yang salah.


Mereka turun dari kereta di depan rumah Qiao Rong saat hari sudah sore. Namun, sekelompok wanita paruh baya yang lewat kelihatannya sedang sibuk membicarakan sesuatu. Melihat Qiao Rong dan Shen Haofeng yang statusnya sudah bertunangan di mata mereka karena perihal pengadilan kemarin, salah satu wanita itu segera menarik Qiao Rong menjauh dari Shen Haofeng.


"Nona Qiao, beberapa hari ini, kau harus lebih aktif memperhatikan tunanganmu itu! Xu Fang Yin sudah pulang ke desa!" Wanita itu segera berbisik kepada Qiao Rong sembari menoleh beberapa kali ke arah Shen Haofeng untuk memastikan dia tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Siapa?" Begitu Qiao Rong mendengar nama Xu, ia langsung teringat Keluarga Xu yang tidak tahu malu itu.


"Xu Fang Yin! Gadis paling cantik dan terpelajar di Desa Nanshan! Dia bekerja sebagai perajut di kota sebelah dengan gaji yang lumayan besar. Namun karena mendengar Nyonya Xu dihukum dan Xu Pingluo sakit, ia langsung terburu-buru pulang." Mendengar apa yang dikatakan wanita itu, Qiao Rong mengangguk mengerti. Karena benihnya buruk, ia harus berhati-hati kalau buahnya buruk juga.


Qiao Rong lalu tersenyum dan berterimakasih pada wanita itu, lalu para wanita itu kembali berjalan. Qiao Rong hanya memandang Shen Haofeng sebentar dan kembali ke rumahnya begitu saja.


*****


"Bai Lao, Lan Long, Li Junyan.. mengapa dia tidak menjawabku???" Qiao Rong mencurahkan hatinya dengan kesal pada kedua roh pelindungnya dan Li Junyan.


"Yah.. kau tahu sendiri, laki-laki itu memang sulit dimengerti, tapi kau malah memilih yang tingkat kesulitannya paling tinggi." Li Junyan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


"Mungkin saja dia malu." Tambah Lan Long.


"Atau tidak tahu harus menjawab apa?" Bai Lao menyahut.


Qiao Rong hanya bisa melamun memikirkan itu semalaman semenjak ia pulang.


Apakah dia tidak cukup menarik?


Apakah Shen Haofeng tidak menyukainya tapi tidak berani mengatakannya?


Apakah pria itu benar hanya malu?


Atau tidak tahu harus menjawab apa?


*****

__ADS_1


"Feng Huang, bagaimana menurutmu?" Shen Haofeng kini sedang berbincang dengan roh pelindungnya, Burung Phoenix yang sedang mengibas-ngibaskan sayapnya di tangan kanannya.


Shen Haofeng memang hanya selalu mencurahkan hatinya pada temannya itu setelah guru sekaligus satu-satunya orangtua baginya meninggal dunia.


Feng Huang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sungguh sudah memilih Master yang sangat hebat, namun sayangnya sangat lambat dalam hal percintaan.


"Mengapa Master tidak menjawab pertanyaannya?" Tanya Feng Huang dengan penasaran.


"Aku harus menjawab apa? Aku sudah memikirkan sepanjang jalan sampai pulang, tidak tahu apa arti menyukai seseorang." Shen Haofeng menghela napas. Sudah belasan tahun ia berkultivasi, rasanya tidak pernah bertemu masalah seberat ini. Memang perasaan antar manusia adalah akar dari masalah berat.


"Kalau begitu Master bisa pikirkan baik-baik.." Feng Huang balas berbicara dengan pelan..


*****


Keesokan harinya, Qiao Rong terbangun oleh suara ribut Chu Yue dari dapur.


"Yang Mulia! Yang Mulia!" Chu Yue bergegas menuju ke kamar Qiao Rong.


"Nyonya Liu tadi bilang, ada pertunjukkan di balai desa! Ayo kita lihat!" Qiao Rong sebenarnya merasa sangat malas. Ia benci jika memikirkan kalau keluar akan bertemu dengan Shen Haofeng. Hatinya masih tidak stabil karena kejadian kemarin.


Namun melihat Chu Yue yang begitu bersemangat karena adanya hiburan, Qiao Rong tidak kuasa menolak.


Mereka pun segera berangkat.


Sesampainya di balai desa, sudah banyak pria dan wanita yang mengerubungi bangunan itu, dari dalam terdengar suara musik yang halus. Qiao Rong yang penasaran segera masuk ke dalam bersama Chu Yue.


Di tengah-tengah balai desa, sudah ada sebuah panggung kecil berbentuk lingkaran. Di tengah panggung itu rupanya ada seorang gadis cantik yang sedang memaikan guqin.


"Lihat itu! Xu Fang Yin kembali! Oh dewa! Dia memang pantas disebut gadis paling cantik se-Desa Nanshan." Teriak salah satu pria yang langsung disambut oleh jeweran dan omelan istrinya di sebelahnya. Qiao Rong terkekeh melihat hal itu. Tapi, ia tidak sepenuhnya setuju, karena permainan guqin itu hanya bisa dilabeli dengan 'tidak buruk'. Qiao Rong tidak merasa ada yang spesial dari pertunjukkan gadis itu.


Ternyata, Xu Fang Yin yang dirumorkan hanya segini saja. Batin Qiao Rong. Ia kira, gadis yang mendapat julukan kecantikan nomor satu itu akan lebih istimewa dan lebih pantas dari ibunya. Namun mengadakan pertunjukkan terang-terangan tanpa tujuan tertentu apapun seperti ini, bukankah hanya pamer dan membuat hati para istri marah?


Baru saja Qiao Rong mau meninggalkan balai desa, ia melihat sebuah wajah familier. Shen Haofeng yang juga sedang berdiri di antara para warga. Saat melihat Shen Haofeng berwajah kecewa dan berbalik untuk pulang juga, entah kenapa Qiao Rong tersenyum karena senang. Namun, dari kejauhan, ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik Shen Haofeng.

__ADS_1


Tiba-tiba, musik guqin itu terputus dan gadis itu berdiri. "Tuan yang disana, apakah permainan saya begitu buruk sehingga tuan ingin cepat-cepat pergi?" Seluruh warga tanpa terkecuali langsung memandang Shen Haofeng. Gadis itu berbicara dengan begitu elegan dan manis, namun Shen Haofeng tidak menoleh sedikitpun dan terus berjalan.


Dalam hatinya, Xu Fang Yin merutuki Shen Haofeng. Bagaimana ada pemuda yang begitu kasar dan tidak sopan hingga mengabaikan pertanyaannya begitu saja di tengah orang banyak?


Namun, persis saat berbalik, Shen Haofeng melihat Qiao Rong yang sedang tersenyum ke arahnya. Ia langsung menghentikan langkahnya sejenak dan berjalan ke arah panggung.


Para warga hanya diam karena mereka hanya tahu bahwa Shen Haofeng sudah bertunangan karena masalah pengadilan kemarin. Walaupun mereka tidak tega Xu Fang Yin diabaikan seperti itu, namun tidak ada yang ingin berakhir seperti Nyonya Xu, oleh karena itu mereka semua memilih diam.


Xu Fang Yin merasa jantungnya berhenti seketika ketika melihat wajah Shen Haofeng. Bagaimana bisa ada pemuda setampan itu di Desa Nanshan? Bahkan di kota pun, Xu Fang Yin tidak bisa menemukan wajah yang seperti itu.


Melihat Shen Haofeng yang makin lama makin mendekat ke arah panggung, hati Xu Fang Yin berdetak makin kencang. Xu Fang Yin yakin pasti pemuda itu sudah jatuh hati padanya dan mau menjawab pertanyaannya.


Namun harapannya itu pupus ketika Shen Haofeng berhenti tepat di depan Qiao Rong. Shen Haofeng lalu meraih tangan Qiao Rong dan berjalan keluar bersama gadis itu.


Xu Fang Yin yang sudah mengharapkan Shen Haofeng tadi merasa sangat malu. Ia kesal dan marah. Memangnya gadis itu lebih cantik dan lebih berbakat daripadanya? Mana ada di Desa Nanshan ini yang lebih daripada ia, Xu Fang Yin? Xu Fang Yin terus memikirkan hal itu.


*****


"Apa?! Menolak Kakak Kedua sampai dua kali?!" Xu Fang Yin tidak percaya pada perkataan ibunya begitu tiba di rumah setelah pertunjukkan. Siapa yang mengira akan ada gadis yang begitu tidak tahu terimakasih?


"Ya! Dan kau tahu, bahkan saat aku menyeretnya ke pengadilan, Tuan Ji malah berpihak padanya dan tunangannya itu datang, padahal sebelumnya rumah yang kami cek itu kosong!" Imbuh Xu Yao.


"Dasar wanita jalang! Entah apa yang dia miliki sampai membuat Tuan Ji memutuskan untuk berpihak padanya. Kalau tidak ada dia, Ibumu ini tidak akan dipukuli sampai dua puluh kali!" Ucap Nyonya Xu sambil meringis. Nyonya Xu sekarang ini hanya bisa terbaring di kasur sambil meratapi punggungnya yang bengkak. Walaupun sebenarnya semua itu adalah salahnya yang masih mencari gara-gara dengan Qiao Rong, namun ia masih tetap menyalahkan gadis itu.


Xu Fang Yin menatap ibu dan kakaknya tidak percaya. Benarkan ada gadis yang seperti itu?


"Eh.. Ibu, apa Ibu kenal dengan pemuda di desa ini yang begitu tampan?" Xu Fang Yin bertanya pada Nyonya Xu.


"Tentu. Anak Nyonya Zhou, keponakan Nyonya Liang.." Nyonya Xu lalu menghitung satu demi satu pemuda yang ia rasa pantas menjadi menantunya.


"Aish.. Bukan yang seperti itu, maksudku, yang benar-benar sangat tampan!" Mendengar perkataan Xu Fang Yin, Nyonya Xu menjadi bingung. Namun, Nyonya Xu memang tidak melihat dengan jelas wajah Shen Haofeng pada saat di pengadilan karena ia sibuk berakting menangis hingga terisak dan berteriak. Ia tidak punya waktu melihat wajah tunangan gadis menyebalkan itu.


"Xiao Yin, Ah! Jangan membuat Ibumu ini tambah pusing, besok kau keliling desa kecil ini saja, siapatahu akan menemukan pemuda yang kau maksud." Mendengar perkataan Nyonya Xu, Xu Fang Yin hanya mengangguk. Namun untuk tujuan pertama besok, ia sudah menetapkannya. Besok, tujuan pertamanya adalah rumah Qiao Rong.

__ADS_1


__ADS_2