Abandoned Princess

Abandoned Princess
Masa Lalu (2)


__ADS_3

Jiang Junwei butuh lima tahun untuk benar-benar menjadi teman anak itu.


Tidak, bahkan kata teman tidak tepat. Mereka sama sekali tidak akrab dalam hal seperti itu. Tidak ada rahasia yang dibagi, tidak ada pengalaman yang diceritakan. Berbagi isi hati pun tidak.


Akan lebih tepat kalau bilang 'anak itu percaya sepenuhnya kepadanya'. Bahkan melebihi Ayahnya yang sudah membesarkan anak itu bertahun-tahun bersama Raja Bulan.


Sangat mengerikan. Alasan itulah kenapa Jiang Junwei tidak pernah bisa melihat Shen Haofeng sebagai teman. Menyaksikan pertumbuhan anak itu hari demi hari sama sekali berbeda dengan mendengar cerita Ayahnya dulu.


"Anak itu adalah monster. Juga jenius yang mungkin hanya datang lima ratus tahun sekali."


Jiang Junwei ingat Ayahnya pernah berkata begitu.


Dan ia mengakuinya.


Tingkat Bumi Menengah, Tingkat Bulan Akhir, bahkan pada usia dua belas tahun.. Ia sudah mencapai Tingkat Matahari Awal.


Tanpa ia sadari, Jiang Junwei takut. Ia takut pada anak itu lebih dari apapun. Karena kejeniusan sekaligus sifat monsternya. Ayahnya menyadarinya. Dan Ayahnya tidak tinggal diam melihat hal itu.


Plakkk!


"Kendalikan dirimu. Shen Haofeng adalah calon Raja Bulan selanjutnya. Pemimpin dan majikan kita. Sebagai bagian keluarga Jiang, bukankah kau sudah mempersiapkan hal ini seumur hidupmu? Makna hidupmu adalah berkorban untuknya." Mata Jiang Yunli berkobar tidak main.


Jiang Junwei mengerjapkan matanya sembari memegangi pipi kanannya yang kemerahan.


Selama enam belas tahun ia hidup, Ayahnya sama sekali tidak pernah menampar atau memukulnya.


*****


"Kakek." Shen Haofeng berjalan pelan ke arah Yu Rong.


"Haha! Jarang sekali kau memanggilku begitu. Apa yang kau inginkan?" Yu Rong mengelus-elus janggut panjangnya sembari tersenyum.


"Aku sudah kuat sekarang. Kapan kita keluar?"


Pertanyaan anak itu membuat si Kakek rasanya ingin muntah darah.


Barulah ia ingat mengatakan pada anak itu bahwa mereka akan keluar dari gua suatu saat nanti. Kapan? Ia juga tidak tahu pasti.


"Shen Haofeng."


"Ya, Guru?" Shen Haofeng kembali bertanya dengan polos.

__ADS_1


"Hari kita keluar dari gua dan hutan ini.. Mungkin akan jadi hari terakhir aku menjadi Kakek dan gurumu." Entah kenapa, Yu Rong mengatakan kata-kata sedih itu dengan senyuman lebar.


"Kenapa begitu?" Ekspresi Shen Haofeng menjadi kaku. Mengapa begitu? Kenapa harus begitu? Ia hanya ingin menikmati dunia luar bersama Kakeknya.


"Kau tidak bisa mengubah takdir." Senyuman Yu Rong kali ini terlihat sangat sedih hingga ia terlihat seperti akan menangis.


*****


"Sejak saat itu aku berlatih dan berlatih lebih keras lagi. Aku pikir dengan menjadi kuat, ia akan bangga dan tetap mengakuiku menjadi muridnya." Entah kenapa hati Qiao Rong terasa seperti ditusuk pisau ketika melihat pria yang sedang menyisir rambutnya itu tersenyum di tampilan kaca.


Senyumannya bukan senyuman biasa.


Senyuman sedih itu membuat dada Qiao Rong sesak.


"L-alu?" Suara Qiao Rong akhirnya keluar walaupun tercekat.


"Lucunya, ternyata maksudnya pada hari itu sama sekali bukan seperti yang aku pikirkan." Untuk pertama kalinya, Qiao Rong melihat ekspresi wajah Shen Haofeng yang begitu rapuh.


*****


"Bagaimana perasaan anda? Bagaimanapun juga akhirnya hari ini anda akan meninggalkan gua." Jiang Junwei tersenyum pada Shen Haofeng sembari mempersiapkan sarapan di atas meja.


Seperti biasa, Shen Haofeng tidak merespon kalimat miliknya sama sekali. Dan Jiang Junwei sudah sangat terbiasa dengan hal itu.


Shen Haofeng hanya mengangguk dan mulai menyantap makanan itu. Setidaknya Jiang Junwei adalah koki yang lebih baik daripada Ayahnya, Jiang Yunli.


Yu Rong mengerutkan kedua alisnya ketika melihat Shen Haofeng makan lahap dengan bubur dan sup.


"Kau ini! Sudah enam belas tahun! Apakah cukup hanya memakan bubur dan sup? Hari ini kita akan makan besar! Hahahaa!" Yu Rong tertawa dengan kencang dan merangkul anak yang ia besarkan seperti cucunya sendiri itu.


Jiang Junwei dan Ayahnya yang ada dibelakang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


Setelah sarapan selesai, mereka pun berangkat.


*****


Shen Haofeng hanya tahu bahwa mereka akan pergi ke Kota Ming di Kerajaan Yuan. Itu semua karena Hutan Kegelapan paling dekat dengan perbatasan daerah Kerajaan Yuan.


Kebetulan disana sedang diadakan Festival Bulan Jatuh. Shen Haofeng sama sekali tidak bereaksi saat Jiang Junwei menceritakan kisah cinta tragis dibalik adanya festival itu.


Ia malah penasaran. Orang macam apa yang dengan bodohnya menembak Bulan dan menjadikan malam hari sangat gelap untuk seorang wanita? Ditambah lagi aksinya itu malah membuat wanita yang ia cintai tewas.

__ADS_1


Apakah wanita itu sangat berharga? Lebih dari cahaya Bulan? Shen Haofeng merasa semua itu sangatlah konyol.


Ketika sampai di Kota Ming, emosi yang pertama kali Shen Haofeng rasakan adalah ketidaknyamanan yang amat besar.


Ia tidak suka kerumunan orang-orang. Apalagi dengan mudahnya ia bisa mendengar berbagai macam gosip yang menjelek-jelekkan banyak orang.


Jiang Junwei dan Jiang Yunli sudah berpencar sendiri untuk membeli hadiah bagi Nyonya Fu dan putrinya. Sementara Yu Rong malah meninggalkannya sendirian entah kemana.


Shen Haofeng berjalan dengan penasaran ke arah sebuah arena. Ia hanya melihat orang-orang yang berjatuhan satu demi satu karena kalah bertarung.


Namun ketika melihat hadiah yang berada di rak yang ditunjukkan orang yang berada di tengah arena, barulah ia mengerti apa yang orang-orang itu perebutkan.


"Kau tahu caranya bukan? Ambilkan aku Pil Naga Emas itu." Ujar Yu Rong yang tiba-tiba muncul entah darimana. Namun situasi seperti itu sudah sangat sering sehingga Shen Haofeng tidak akan lagi terkejut karenanya.


Dan Shen Haofeng kebetulan ingin mengukur kekuatannya.


Ia dengan asal masuk ke dalam arena dan tiba-tiba saja dihadapannya muncul seorang gadis kecil.


Shen Haofeng menatapnya dengan dingin. Tatapan gadis itu kelihatan sangat berbahaya. Seperti sangat bertekad untuk melakukan sesuatu. Shen Haofeng tahu ia harus berusaha semaksimal mungkin.


Seorang pria yang seumuran dengannya mulai meneriakkan sesuatu kepada lawannya sesaat sebelum batu qi diaktifkan. Shen Haofeng tidak tahu apa itu. Yang pasti lawannya sama sekali tidak mendengarkan pria itu dan mulai menerjang.


Namun ia tidak pernah menyangka bahwa gadis itu akan tumbang dalam satu pukulan.


Yu Rong yang datang dan melihat gadis yang terkapar itu hanya bisa menggelengkan kepala dan memberikan kompensasi kepada pria yang menggendong gadis itu pergi.


Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya pergi. Namun Shen Haofeng tidak bisa mengingat detil kejadian di hari itu.


"Kau ini!" Yu Rong menjitak kepala Shen Haofeng untuk pertama kalinya.


"Aku tidak tahu. Ia lemah." Yu Rong bahkan sudah terbiasa mendengar cara bicara Shen Haofeng yang terbentuk sejak ia kecil.


"Tetap saja! Hampir membunuh seseorang di hari pertamamu melihat dunia luar agak keterlaluan bukan? Kendalikan dirimu." Yu Rong mendengus kesal. Lalu tiba-tiba ia membalikkan badannya menghadap Shen Haofeng dengan serius.


Shen Haofeng hanya bisa menampilkan ekspresi kebingungan.


"Shen Haofeng apakah kau ingat yang aku katak—"


Belum sempat Yu Rong menyelesaikan kalimatnya, ia sudah terkapar tak berdaya di tanah begitu saja.


Matanya tertutup dengan tenang seperti orang tertidur. Begitu tenang, badannya sama sekali tidak bergerak.

__ADS_1


"Ka-kek?"


Tubuh Shen Haofeng terasa kaku. Untuk yang pertama kalinya, Shen Haofeng merasa dunianya terhenti sejenak.


__ADS_2