
Qiao Rong menghela napas.
Sungguh memalukan mengingat kembali kejadian tadi pagi saat ia kebingungan berada di kamarnya sendiri.
Menurut Chu Yue, Raja Bulan menggendongnya sampai ke kasur semalam dalam kondisi tertidur. Dan para dayang lainnya hanya bisa menatap Qiao Rong dengan tatapan iri.
Mendengarkan cerita Chu Yue, tentu saja wajah Qiao Rong langsung merah merona.
Qiao Rong bergegas bersiap untuk meminta maaf kepada Shen Haofeng karena telah merepotkan lelaki itu. Namun, banyaknya teriakan yang datang tiba-tiba dari arah kediaman Kaisar membuatnya penasaran.
*****
"Y-Yang Mulia Kaisar!!! U-Uwahhhh!!" Para dayang menjerit histeris. Banyak dari mereka yang langsung kehilangan tenaga untuk berdiri dan terduduk di lantai karena terkejut saat melihat pemandangan mengenaskan itu untuk pertama kalinya.
Dua tubuh tidak bernyawa ditemukan di kamar Kaisar.
Tubuh pertama, tentu Kaisar sendiri. Sementara tubuh kedua yang ditemukan adalah tubuh Selir Wu.
Qiao Rong yang penasaran sedaritadi sudah berada di tempat kejadian. Matanya menelusuri setiap detail dengan tatapan tajam.
"Yang Mulia Kaisar telah wafat!!!" Terdengar suara serak Kepala Kasim Qi dengan airmata yang menetes dari matanya.
Seluruh dayang dan kasim di Istana membungkuk, tidak terkecuali Permaisuri yang mendengarnya dari paviliun miliknya. Namun bagi Permaisuri, berita ini tentu bukanlah berita duka. Melainkan berita sukacita baginya dan putranya.
Permaisuri langsung menyuruh para dayang untuk menyiapkan pakaian berkabung. Lalu ia menyampaikan dengan jelas untuk meminta seluruh selir berkumpul di aula istana. Ini adalah era Putra Mahkota.
*****
"Itu bukanlah bunuh diri," ujar Qiao Rong dengan tegas pada Shen Haofeng.
Kini Istana sedang dalam keadaan berduka. Selama lima hari selanjutnya, seluruh Istana diwajibkan memakai pakaian berkabung. Pada hari keenam, barulah akan dibicarakan mengenai penobatan Putra Mahkota.
Qiao Rong menggertakkan giginya.
"Ada kesalahan yang dibuat si pembunuh. Kesalahan yang sangat fatal," lanjut Qiao Rong.
__ADS_1
Shen Haofeng hanya bisa menghela napas.
Siapa sangka hal seperti ini akan terjadi hanya seminggu menjelang acara pertunangannya? Sekarang mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti aturan yang berlaku di istana.
"Apa yang membuatmu begitu yakin?" tanya Shen Haofeng sambil menyesap cangkir tehnya.
"Bercak darah. Gagang belati itu terlalu bersih. Jika kita membayangkan Selir Wu menusuk Kaisar terlebih dahulu, maka itu menjelaskan bercak darah yang ada di pinggir telapak tangannya. Apabila seseorang menggengam belati, maka bagian genggaman itu akan terlindungi dari cipratan darah korban." Qiao Rong menjelaskan dengan panjang lebar.
"Namun gagang belati yang tertancap itu bersih, namun kedua telapak tangan Selir Wu dipenuhi darah. Itu berarti, seseorang lain menusuknya dengan menggenggam belati itu, lalu menempatkan tangannya memegang gagang belati seolah ia membunuh dirinya sendiri. Maka darah yang ada di kedua telapak tangan Selir Wu adalah darah Kaisar yang mengering karena terlebih dahulu dibunuh, sehingga tidak menempel pada gagang belati." lanjut Qiao Rong.
"Apabila pemikiranmu itu benar, maka hal ini sangat berbahaya. Artinya ada pemberontakan, atau musuh lain yang sama sekali tidak kita ketahui." Shen Haofeng menopang dagunya dengan tangan kanannya.
"Ada yang lebih penting dari itu sekarang." Qiao Rong mengepalkan kedua tangannya dengan erat, sementara Shen Haofeng menatapnya dengan kebingungan dan khawatir.
"Ibuku."
*****
"Selir yang tidak melahirkan anak bagi Kaisar akan diutus untuk menemani Kaisar dalam dunia akhirat dan menerima berkat untuk dimakamkan bersama Kaisar!" Kepala Kasim Qi membacakan aturan tradisional Istana yang sudah ia bacakan untuk kedua kalinya dalam masa hidupnya.
Kali ini juga sama, para prajurit istana sudah bersiap mengelilingi para selir di aula istana. Sementara Permaisuri, seperti biasa hanya duduk di kursi yang terletak di sebelah kiri kursi takhta Kaisar. Hadir juga Putra Mahkota yang kini berdiri diam di sebelah Permaisuri.
Inilah yang ia inginkan, inilah yang selama ini Permaisuri impikan. Menampilkan langsung perbedaan antara dirinya dan wanita-wanita rendahan yang hanya bisa menggoda Kaisar di tempat tidur.
Mereka akan di eksekusi, sementara dirinya akan dihormati sebagai Ibu Suri, Ibu dari Kaisar yang akan naik takhta.
Permaisuri bersusah payah menahan tawanya sambil melihat dan mendengar jeritan selir-selir yang satu persatu di seret oleh prajurit istana.
"Yang Mulia ... mengenai Selir Shu ..." Kepala Kasim Qi bertanya dengan nada khawatir pada Permaisuri sambil mencuri-curi pandangan ke arah Selir Shu yang sedang berlutut sama dengan selir-selir lainnya.
Sementara itu Qiao Rong yang baru tiba menatap tajam ke arah Putra Mahkota. Namun, Permaisuri yang masih membanggakan statusnya tidak menyadari kehadiran gadis itu dan segera memberi putusan bagi Selir Shu.
"Selir Shu melahirkan seorang putri. Namun karena tidak bisa dibuktikan bahwa Qiao Rong adalah putri sah Kaisar, maka untuk sekarang status Qiao Rong adalah ... Putri haram Kaisar. Oleh karena itu Selir Shu juga harus menerima berkat ini." Begitu Permaisuri selesai berbicara, ia justru terkejut dengan kedatangan Qiao Rong.
Namun Kepala Kasim Qi juga tidak bisa mempungkiri bahwa memang beredar rumor di Istana bahwa Putri Qiao Rong bukanlah Putri Kaisar. Melainkan hasil hubungan gelap Selir Shu dengan pria lain. Dan bahwa ia sudah mengandung sebelum menjadi selir di Istana. Hal ini dikarenakan bayinya yang seharusnya lahir prematur dan bertubuh kecil, sama sekali tidak mirip dengan faktanya. Karena Qiao Rong kecil waktu itu terlihat seperti bayi berusia satu bulan.
__ADS_1
Namun, Permaisuri juga merasa ketakutan, mengingat Qiao Rong adalah calon tunangan Raja Bulan. Namun di satu sisi, Permaisuri juga tahu bahwa Raja Bulan tidak bisa ikut campur dalam masalah kerajaan.
"Apa yang kau lakukan disini? Prajurit! Usir dia! Ini adalah area terlarang dan pertemuan ini hanya boleh dihadiri para selir!" Permaisuri berbicara dengan lantang.
Sementara Qiao Rong hanya tersenyum.
"Kau? Kau ingin mengeksekusi Ibuku?" Senyum Qiao Rong melebar. Matanya sangat tenang walaupun raut wajahnya sangat tenang.
"Kalau begitu bukankah harusnya hamba berterima kasih pada Yang Mulia Permaisuri?" Qiao Rong mulai membungkuk, sementara nada suaranya membuat Permaisuri bergidik.
"Terimakasih Yang Mulia telah memberi saya alasan untuk menghadapi anda secara terang-terangan." Itulah senyuman terakhir Qiao Rong.
Senyuman itu tidak hanya membuat Permaisuri bergidik. Namun Selir Shu yang menatap anaknya seolah-olah anaknya itu adalah orang yang tidak dikenalnya juga bergidik. Ia tidak pernah melihat Qiao Rong marah sebelumnya.
Slashhhhh!
Dalam sekejap, teriakan dari para selir menyadarkan Permaisuri akan apa yang terjadi. Dan akan air mancur darah yang ada di sampingnya. Air mancur itu adalalah leher anaknya. Leher Putra Mahkota yang kepalanya sudah menggelinding sejak tadi.
Itu artinya Qiao Rong membunuh Putra Mahkota dalam sekejap, mengambil pedang seorang prajurit dan menebas leher putranya dengan sangat mudah tanpa perlawanan sedikitpun.
"KYAAAAAAAAAAA!!!!!" Permaisuri berteriak paling histeris. Kepala Putra Mahkota kini menggelinding di samping kakinya. Permaisuri seketika pingsan, sementara Kepala Kasim Qi langsung terjatuh seketika karena kaki lemasnya.
Selir Shu menatap Qiao Rong dengan ngeri.
Qiao Rong, sudah lama sekali ia tidak merasakan adrenalin seperti tadi. Perasaan menegangkan menebas leher seseorang. Ia cukup merindukan kehidupan Li Wenhua.
*****
Tidak ada yang tahu, dalam sepersekian detik amarah Qiao Rong disulut oleh Permaisuri, ia sudah memasuki dimensi Cincin Tapak Naga.
Qiao Rong terpaksa berkultivasi entah berapa hari lamanya di dalam sana untuk mendapatkan kekuatan yang ia butuhkan untuk menyelesaikan semuanya bagi balas dendam Qiao Rong yang sesungguhnya.
Namun saat ia selesai dan mencapai Tingkat Bulan Akhir, Qiao Rong kembali membuka mata, dan kembali menghadap Permaisuri yang ketakutan melihatnya.
Inilah rahasianya, bagaimana Qiao Rong dapat menghadapi masalah itu dengan begitu mudah. Ia hanya berharap Ibunya tidak terlalu ketakutan melihat aksinya selanjutnya.
__ADS_1
Dan ia menebas kepala Putra Mahkota.