Abandoned Princess

Abandoned Princess
Perlombaan Dimulai! (2)


__ADS_3

Ding Fanfan menoleh ke arah kanan dan kiri secara bergantian, dengan waspada.


Perlu diketahui, setelah Qiao Rong menyuruhnya untuk pergi ke arah tenggara, ia merasa sangat beruntung karena menemukan sebuah bendera merah. Namun baru saja lima detik merasakan rasa bangga, ia pun menyadari kalau Qiao Rong sudah tahu bahwa ada bendera merah di lokasi itu.


Mendesah kecewa, Ding Fanfan hanya bisa berjalan lunglai untuk mencoba kembali menyusul timnya. Namun baru saja berjalan beberapa menit, ia menjumpai lagi sebuah bendera merah yang terikat di atas pohon.


Aku benar-benar beruntung!


Mata Ding Fanfan berbinar-binar sambil mengambil bendera itu. Namun, sama seperti sebelumnya, ia menyadari bahwa keberuntungan pun tidak akan muncul dengan begitu kebetulan. Ding Fanfan merasa aneh. Ia merasa ada yang mencurigakan.


Perasaannya mengatakan bahwa ini bukan sekadar kebetulan.


Tapi, ia tidak akan pernah tahu kalau ada bayangan wanita yang menguntitnya sedari tadi di belakang pohon.


*****


Hal pertama yang Liu Liwei rasakan setelah sadar dan membuka matanya dengan perlahan adalah rasa sakit hebat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merasa mual dan sakit perut akibat tinju Lu Mingzhi yang berhasil mengenai perutnya. Namun tepat disaat ia ingin mengubah posisi tubuhnya untuk duduk, sebuah tangan dingin mencegatnya. Liu Liwei langsung menolehkan pandangannya ke arah kiri.


Zhen Mingran adalah pemilik tangan dingin itu, namun suhu dingin itu berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang penuh dengan kekhawatiran dan kehangatan. Wanita itu duduk disamping tempat tidur tempat Liu Liwei terbaring.


Saat ini, mereka berada di asrama pria, tepatnya di kamar Liu Liwei dan Ding Fanfan.


"Jangan. Tubuhmu belum pulih. Tentang kamarmu ... aku sudah mendapatkan izin dari profesor untuk masuk ke asrama pria." Zhen Mingran menjelaskan.


"Dingin ..." Begitu mendengar ucapan Liu Liwei yang terdengar kesakitan, Zhen Mingran langsung menarik kembali tangannya.


"M-Maaf ..." Ucapan Zhen Mingran terdengar terbata-bata, namun aura keanggunannya tidak pernah hilang walaupun ia sedang meminta maaf.

__ADS_1


Rambut panjang Zhen Mingran yang berwarna biru muda sebenarnya masih menyentuh lengan Liu Liwei dan membuatnya merasakan hawa dingin yang sama seperti tangan Zhen Mingran. Tapi laki-laki itu kini sibuk memikirkan hal lain sehingga rasa dinginnya tidak begitu terasa.


"Bagaimana dengan pertandingannya?!" Kini karena tidak adanya lagi tangan Zhen Mingran yang mencegatnya, ia berhasil berubah ke posisi duduk dengan cepat. Namun beberapa detik kemudian, ia harus mengerang kesakitan karena tubuhnya yang masih belum pulih dari tinju Lu Mingzhi.


Sudut-sudut mulut Zhen Mingran terangkat sedikit mendengar erangan Liu Liwei, namun orang yang melihatnya tidak akan mengira bahwa ia sedang tersenyum.


Zhen Mingran hanya bisa menatap ke arah pintu kamar yang terbuka itu.


Terdengar dua suara familier di luar.


"Aku beri tahu padamu, mungkin aku gendut, tapi aku bukan orang bodoh!" Suara Ding Fanfan merajai koridor asrama di depan kamar.


Qiao Rong tertegun sebentar sembari menopang dagu dengan tangan kanannya. Ia terlihat seperti sedang berpikir.


"Masalah ini ... masih harus kupikirkan," ujarnya dengan tenang.


Tidak mungkin begitu kebetulan, dan tidak mungkin lokasi bendera pindah dengan sendirinya.


Pasti ada seseorang dibalik ini. Pikir Qiao Rong.


Tapi kenapa? Kenapa orang itu membantu mereka? Satu-satunya alasan yang bisa Qiao Rong pikirkan hanyalah untuk menghalangi Lu Mingzhi menang. Tapi kenapa? Dan yang lebih pentingnya lagi, siapa? Siapa orang yang tidak ingin Lu Mingzhi menang dalam perlombaan ini?


Jika dipikir-pikir, orang yang bisa memindahkan bendera pasti bukan orang sembarangan. Ia harus memiliki cara khusus untuk memindahkan bendera yang bisa mengenali kepemilikan begitu disentuh, dan tentunya sudah mencapai tingkat kultivasi Matahari untuk bisa mengetahui lokasi bendera-bendera tersebut.


Bendera-bendera tersebut diletakkan secara acak menggunakan mantra pemindahan. Qiao Rong sudah mengetahuinya karena mendapatkan informasi dari para profesor satu minggu yang lalu sebagai persiapan lomba. Tidak mungkin kalau kultivasi orang yang membantu mereka belum mencapai tingkat Matahari.


"Dia sudah sadar." Ucapan Zhen Mingran memecahkan lamunan Qiao Rong.

__ADS_1


Ding Fanfan, yang bisa dibilang teman baik Liu Liwei langsung buru-buru masuk ke kamar, diikuti oleh Qiao Rong yang masih dirundung rasa penasaran.


"Perlombaannya?! Bagaimana dengan perlombaannya?!" Liu Liwei tidak dapat menahan rasa penasarannya dan langsung bertanya dengan nada yang tinggi ke arah anggota timnya. Tentu saja ia harus mengetahui hasil perlombaan itu, kalau tidak, bukankah pengorbanannya sia-sia?


"Menurutmu? Tentu saja menang, dasar bodoh!" Ding Fanfan memberitahu Liu Liwei sambil tertawa, memegangi perut buncitnya dengan senang. "Jangan lupa mentraktirku di kios mi yang ada di perempatan, hahaha!" Setelah tertawa, dalam sekejap raut wajahnya yang senang pun hilang dan menjadi ekspresi serius. Ding Fanfan sangat serius begitu membicarakan hal yang berhubungan dengan makanan.


Liu Liwei hanya membalas dengan berdecak, namun ekspresi wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa senang dan bangga yang ia rasakan.


Liu Liwei terus menerus tersenyum, hingga akhirnya beberapa detik kemudian ia tidak bisa menyembunyikan ledakan rasa senangnya.


"Wohooo! Kita harus merayakan kemenangan ini, bukan begitu?" Saking senangnya, ia langsung berdiri dan memeluk Zhen Mingran dan Ding Fanfan yang berdiri tepat di samping ranjangnya.


Ding Fanfan hanya balas tertawa, sementara Zhen Mingran tersipu malu.


Begitu pelukan itu selesai, Liu Liwei langsung mengaduh dan kembali berbaring sambil mengerang kesakitan.


Ding Fanfan menertawai Liu Liwei hingga perutnya sakit.


Namun, Qiao Rong hanya terdiam dibelakang mereka sambil memikirkan masalah bendera itu. Ini adalah rahasianya dengan Ding Fanfan, ia tidak merasa perlu memberitahu Zhen Mingran dan Liu Liwei mengenai kebenaran dibalik kemenangan mereka. Lagipula, ia dan Ding Fanfan sudah setuju untuk merahasiakan hal itu.


"Omong-omong, bagaimana kita bisa menang? Ah! Bukankah aku melewatkan pengunguman perlombaan?! Bagaimana dengan hadiahnya?!" Liu Liwei menyerang mereka dengan pertanyaan bertubi-tubi.


Qiao Rong menarik napas untuk menyingkirkan pikiran itu sementara dari dirinya. Ia melangkahkan kaki beberapa langkah ke depan hingga tiba di samping ranjang Liu Liwei.


"Kau harus tanya Ding Fanfan, ia memenangkan 6 poin sendirian dengan dua bendera merah. Kita hanya memenangkan bendera ungu itu, bukan?" Qiao Rong melirik ke arah Zhen Mingran dan Ding Fanfan. "Tenang saja, penyerahan hadiah akan menunggu kau pulih sepenuhnya, kami sudah memohon kepada Profesor Tang," lanjut Qiao Rong.


Liu Liwei tersenyum mendengar kata 'hadiah'. Namun dengan cepat ia menolehkan pandangannya ke arah Ding Fanfan. "Benarkah?" Liu Liwei menatap Ding Fanfan dengan tidak percaya, alisnya naik sebelah karena ragu.

__ADS_1


"Tentu saja, sudah kubilang aku ini orang yang beruntung." Ding Fanfan hanya bisa berpura-pura tersenyum sombong.


__ADS_2