Abandoned Princess

Abandoned Princess
Bunga Api Keabadian


__ADS_3

"Hamba, Yun Tao Fan memberi salam kepada Tuan Muda Lu." Seorang wanita berlutut beberapa langkah di depan Lu Mingzhi.


"Berdirilah." Lu Mingzhi menatap wanita itu dengan ragu. "Bagaimana?" Raut wajahnya terlihat khawatir, namun juga memancarkan ketidakpercayaan terhadap wanita di depannya itu.


"Hamba takut, Nona Ye, mungkin seumur hidupnya tidak akan pernah bangun lagi." Perkataan wanita itu sontak membuat Lu Mingzhi langsung bangun dari kursinya. Matanya membelalak tidak percaya. Namun detik berikutnya, ia sudah menenangkan dirinya begitu memikirkan bahwa ia tidak bisa sepenuhnya mempercayai wanita itu.


"Tuan Lu boleh saja tidak percaya pada hamba, tapi hamba berani bersumpah atas nama Akademi Bulan Sabit bahwa yang hamba katakan itu benar." Lu Mingzhi tertegun. Wanita di depannya itu sangat cerdas, ia bisa membaca situasi dengan baik, lalu juga berani menggunakan latar belakangnya sebagai jaminan.


"Katakan, cara apapun akan aku lakukan supaya ia bangun." Lu Mingzhi kembali duduk dan menatap wanita itu dengan tajam.


"Tuan Muda Lu hanya perlu menemukan bunga api keabadian. Hanya bunga itu yang bisa mengembalikan efek dari kasur es yang selama ini dipakai oleh Nona Ye, juga ... menjaminnya bangun." Selagi wanita itu berbicara, bunyi langkah kaki terdengar dari kejauhan. Seorang pria tua memasuki ruangan itu.


"Tetua Ye." Lu Mingzhi segera berdiri untuk memberikan penghormatan, namun Tetua Ye mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Lu Mingzhi tetap duduk.


"Xiao Lu, aku mengerti kalau kau mengkhawatirkan Xiaoran, namun apakah kau yakin bahwa wanita ini bisa dipercaya?" Tetua Ye mengelus janggutnya sambil memicingkan matanya ke arah Yun Tao Fan.


"Wanita ini adalah seorang profesor di Akademi Bulan Sabit, menurutku ia bisa diandalkan. Untuk kebenarannya, bukankah tidak ada salahnya kalau kita mencoba? Takutnya ..." Lu Mingzhi menghentikan ucapannya sebentar, "Xiaoran mungkin sudah tidak bisa menunggu lagi." Lu Mingzhi mengalihkan pandangannya dari Tetua Ye sambil mengepalkan tangannya erat-erat.


"Xiao Lu, aku mengerti. Sebagai seorang ayah, mana mungkin aku tidak bisa mengerti? Kau menyayangi Xiaoran bahkan lebih dari gurumu sendiri. Namun, apakah bunga api keabadian ini benar-benar layak di dapatkan? Kalau kau gagal dan harus membayarnya dengan nyawa, untuk apa?" Tetua Ye tersenyum miris. "Pria tua ini lebih baik melihat putrinya berbaring saja dari pada harus kehilangan seorang calon pemimpin sekte," lanjut Tetua Ye.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Lu Mingzhi mengepalkan tangannya lebih erat lagi. Ia kesal karena dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sama sekali tidak berdaya kalau sudah menyangkut identitasnya yang akan datang.


"Ada satu tangkai bunga api keabadian yang ada di Akademi Bulan Sabit." Yun Tao Fan menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu!" Lu Mingzhi langsung menolehkan pandangannya pada wanita itu dengan terkejut.


"Namun, hamba takut, Tuan Muda Lu harus datang sendiri ke Akademi Bulan Sabit. Bunga api keabadian itu hanya bisa didapatkan dengan memenangkan sebuah perlombaan. Dengan kemampuan Tuan Muda Lu, hamba percaya akan dengan mudah masuk ke dalam kelas dua." Yun Tao Fan tetap menundukkan kepalanya.


"Xiao Lu, pikirkan dengan baik-baik. Untuk mendapatkan bunga api keabadian pasti tidak mungkin semudah pergi ke Akademi Bulan Sabit saja," Tetua Ye menepuk bahu Lu Mingzhi dengan pelan.


"Tetua Ye, aku akan pergi secepat mungkin." Mendengar hal itu, Tetua Ye hanya bisa menghela napas. Tekad Lu Mingzhi sudah bulat, tak akan ada yang bisa menghalanginya.


Selagi Lu Mingzhi menunggu anggukan dari Tetua Ye, sebuah senyum merekah di wajah Yun Tao Fan.


*****


"Bagus. Kau memang tidak pernah mengecewakanku." Yun Tao Fan, wanita yang sama itu kini berhadap-hadapan dengan Zhou Qingshan. Yun Tao Fan tersenyum lebar, berbeda dengan senyumannya saat di wilayah Sekte Matahari tadi, senyumannya kini penuh dengan rasa bangga.


"Yang Mulia melebih-lebihkan A Fan." Yun Tao Fan menunduk dengan sopan sambil mempertahankan senyumnya. Saat ini, ia sedang berhadapan dengan satu-satunya orang yang bisa memanggilnya dengan nama panggilannya sewaktu kecil selain Kakeknya yang sudah wafat.

__ADS_1


"Kau sudah menyelesaikan misi-misi yang ku berikan dengan bagus. Katakan apa yang kau inginkan untuk hadiahmu kali ini?" Zhou Qingshan tersenyum.


"A Fan tidak berani meminta hal-hal yang begitu besar. Hanya menerima rasa suka dari Yang Mulia saja sudah cukup." Yun Tao Fan menatap Zhou Qingshan dengan malu.


Wajah Zhou Qingshan mendadak menjadi muram. "A Fan, yang kau selesaikan begitu banyak dan semuanya kau kerjakan dengan brilian. Bukankah seharusnya kau mendapatkan hadiah yang lebih dari itu?" Zhou Qingshan menghela napas sambil menatap wanita itu.


"A Fan, sejak kecil hanya mengikuti Yang Mulia, tidak menginginkan yang lain lagi." Yun Tao Fan menatap Zhou Qingshan dengan wajah memelas.


"A Fan ... Kau sudah begitu bagus dalam menyelesaikan misi untuk mendekati Selir Wu, membunuh Kaisar Qiao, kini menyusup ke dalam Akademi Bulan Sabit dan menghasut Lu Mingzhi juga berhasil kau lakukan, pikirkan baik-baik lagi. Sebagai seorang siluman Gu, bukankah kau harus memperhatikan kebutuhan klanmu juga? Bahkan kalau kau mau meminta untuk menjadikan klan siluman Gu sebagai salah satu klan utama, aku akan setuju." Zhou Qingshan kini tidak berani menatap wanita itu.


"Bukankah kalau begitu cara terbaik adalah menjadikan A Fan sebagai seorang selir?" Yun Tao Fan berkata dengan lirih. Hanya itu keinginannya yang sebenarnya, keinginan kecil di hatinya yang sejak lama ia pendam. Bahkan walaupun hanya sebagai seorang selir, Yun Tao Fan rela asalkan bisa mendampingi Rajanya.


"Kau tahu sendiri tidak pernah ada selir satu pun di dalam istanaku." Zhou Qingshan menatap Yun Tao Fan dengan heran.


"Yang Mulia ... masih menunggu Yang Mulia Permaisuri?" Yun Tao Fan menundukkan kepalanya, tidak berani melihat ekspresi wajah Zhou Qingshan.


Mendengar pertanyaan itu, Zhou Qingshan mengepalkan kedua tangannya. "A Fan, kau sudah melewati batas ..." Wajah Zhou Qingshan berubah menjadi masam.


"Tapi bukankah itu benar?! Yang Mulia mengusir seluruh selir yang ada di istana semenjak kematian Yang Mulia Permaisuri, sampai sekarang pun Yang Mulia ..." masih mencari dan menunggunya, namun Yun Tao Fan tidak bisa memberanikan dirinya untuk mengatakan kata-kata itu. Namun perkataanya itu hanya dibalas oleh tatapan dingin dan tajam Zhou Qingshan.

__ADS_1


"Cukup!!! Sudah cukup ... " Zhou Qingshan memijat pelipisnya sambil menatap Yun Tao Fan dengan sedikit rasa kecewa. "Laporan hari ini sampai disini saja. Mengenai hadiahmu, aku akan memberikanmu waktu untuk memikirkannya lagi." Zhou Qingshan memutar tubuhnya membelakangi wanita itu. Menyembunyikan raut wajahnya yang muram.


Pada akhirnya, yang hanya bisa dilihat Yun Tao Fan hanyalah punggung Zhou Qingshan yang kini menghadap ke arahnya.


__ADS_2