Abandoned Princess

Abandoned Princess
Badai yang Datang


__ADS_3

"Lu Mingzhi?" Qiao Rong tidak bisa menahan untuk mengernyitkan alisnya begitu mendengar nama itu keluar dari Liu Liwei. "Siapa?" Lalu wajahnya berganti menjadi wajah kebingungan.


"Ah? Kau tidak tahu dia siapa? Benar-benar ... rakyat jelata saja tahu Lu Mingzhi itu siapa." Ding Fanfan menepuk dahinya tidak berdaya.


Di sisi lain, Qiao Rong kini menahan kesal karena mendengar suara tawa terbahak-bahak miliki Li Junyan. "Hahaha! Murid kesayangan ayah kandung sendiri tidak tahu! Kasihan sekali Ayahmu, ahahah!" Qiao Rong sangat ingin menjitak kepala bocah itu.


"Penerus Raja Matahari. Kultivasi tinggi. Wajah tampan." Zhen Mingran meletakkan sebuah buku di mejanya sembari berbicara. "Semua orang tahu siapa dia."


"Ekhem! Aku ... datang dari daerah terpencil jadi ... " Qiao Rong berusaha menjelaskan dengan terbata-bata walaupun ia sebenarnya merasa sangat malu. Yang benar saja? Apa yang diketahui seseorang yang datang dari seribu tahun yang lalu hanya dengan memori seorang putri yang sehari-harinya terkurung di paviliunnya sendiri?


"Pfffttt ... " Saat itu juga, giliran Liu Liwei yang tidak bisa menahan tawanya.


Wajah Qiao Rong sudah semerah kepiting karena terlanjur malu.


"Pokoknya, betul dia akan masuk ke kelas ini?" Qiao Rong bertanya dengan tegas, mengesampingkan rasa malunya yang dari tadi memenuhi wajahnya.


"Kudengar begitu ... entah apa yang membuat dia memasuki Akademi Bulan Sabit, padahal sudah memiliki guru sehebat Raja Matahari," balas Liu Liwei.


"Profesor datang! Profesor datang!" Seorang murid masuk kelas dengan terburu-buru sambil berteriak. Alhasil seluruh murid kini dengan cepat duduk di tempat duduknya masing-masing dan menghentikan obrolan mereka.


Seorang pria tua berjanggut putih yang elegan masuk dengan seorang pria tampan yang berada di sampingnya. Pria tua itu adalah Profesor Luo, kalau pria yang di sampingnya, sepertinya tidak perlu ditebak lagi.


"Lu Mingzhi memberi salam untuk teman-teman sekalian." Pria itu tampan. Qiao Rong tidak bisa mengelakkan fakta itu, namun tentu saja dibandingkan dengan tunangannya, Lu Mingzhi masih kalah telak.

__ADS_1


"Hari ini saya datang untuk belajar lebih lagi, terutama dari pesaing Sekte Matahari. Mohon bimbingan profesor dan kalian semua." Lu Mingzhi mengepalkan kedua tangannya dan membungkuk untuk memberi hormat.


"Belajar apanya? Seluruh dunia sudah tahu kalau dia paling tidak akur dengan Raja Bulan." Celetukan Ding Fanfan yang ceroboh itu dapat terdengar ke seluruh ruangan. Sepertinya ia tidak sengaja mengeluarkan isi pikirannya.


"Ekhem! Mengenai tugas yang disampaikan beberapa minggu yang lalu, para profesor yang lainnya sudah setuju untuk mengubahnya menjadi acara resmi. Kalian diharapkan untuk benar-benar bekerja sama dan menganggap acara ini serius. Tentu saja akan ada hadiah yang menanti bagi pemenangnya." Profesor Luo segera mengganti topik, mungkin takut Lu Mingzhi akan menjadi tidak nyaman setelah celetukan barusan.


Seluruh kelas menjadi bersemangat. Hadiah dari acara resmi yang diberikan oleh Akademi Bulan Sabit tidak pernah main-main. Mereka sama berharganya seperti mendapatkan lotre berharga, apalagi bagi para murid yang berasal dari kalangan rakyat biasa.


"Hari ini Lu Mingzhi berbicara di depan kelas, untuk meminta ijin profesor untuk menghadiri acara ini sendirian." Seluruh kelas menjadi sunyi karena ucapan Lu Mingzhi.


"S-sendirian?" Profesor Luo dibuat kebingungan oleh Lu Mingzhi. Sementara itu, suara kelas menjadi ricuh kembali dengan beberapa murid yang berbisik-bisik.


"Kita semua tahu penerus Raja Matahari bukanlah orang yang lemah. Namun apakah perlu disombongkan sampai seperti itu?" Beberapa murid tidak bisa menahan kata-kata itu keluar.


Seluruh kelas menjadi ribut. Seorang murid tidak biasa yang bahkan baru saja memperkenalkan diri dan belum duduk di kursinya sudah meminta hal yang begitu tidak biasa kepada profesor.


"Ini ... " Profesor Luo memijat-mijat dahinya, sepertinya setelah Qiao Rong datang ke akademi, hari-hari Profesor Luo hanya dipenuhi dengan sakit kepala yang hebat. "Aku harus mendiskusikannya dengan profesor yang lain." Lu Mingzhi hanya mengangguk dan akhirnya duduk di kursi yang kosong.


Kursi di sebelah Qiao Rong.


*****


"Apa kau bilang?!" Amarah Lu Guang terusik begitu Tetua Ye memberitahu kepergian Lu Mingzhi.

__ADS_1


"Mohon Yang Mulia menahan amarah. Anak itu, hanya ingin yang terbaik untuk Xiaoran." Wajah Tetua Ye memelas. Ia juga ingin yang terbaik bagi putrinya sebagai seorang ayah. Namun belenggu status ini tidak akan pernah lepas dari hidupnya.


"Dan dia mendahulukan putrimu yang terbaring itu dari pada masa depannya! Masa depan Sekte Matahari!" Lu Guang merasa kecewa, juga berpikir kalau Lu Mingzhi sangatlah lucu.


"Yang Mulia ... " Tetua Ye berusaha untuk beralasan di hadapan Lu Guang untuk membela Lu Mingzhi. Namun sebelum ia sempat bertindak, Lu Guang sudah mengangkat tangan kanannya. Meminta Tetua Ye untuk berhenti berbicara.


"Anak itu, harus melupakan putrimu. Dia harus melepaskan semuanya sebelum menjadi Raja Matahari." Lu Guang berkata dengan tegas. Tangannya menutupi matanya, namun Tetua Ye bisa tahu dengan sekalu melihat bahwa pria tua di depannya itu sedang menyembunyikan kesedihannya.


"Aku masih belum melepaskan cinta sebelum mengambil gelar ini. Dan yang kudapatkan hanyalah rasa sakit dari kematian." Lu Guang melanjutkan.


Wajah Tetua Ye menjadi prihatin. Ia sudah lama tahu mengenai masa lalu Lu Guang karena mereka adalah teman seperguruan dahulu kala.


"Katakan, Ye Qingping, kalau saat itu aku tidak mencintai siapa pun apakah aku akan berakhir menyesal seperti ini seumur hidupku?" Lu Guang menurunkan tangannya, dan menatap Tetua Ye dengan kesedihan.


"Yang Mulia mencintai Nona Song. Tidak akan ada yang berubah walaupun sudah satu dekade semenjak kematiannya. Tidak akan ada yang berubah." Tetua Ye mengeluarkan kalimat demi kalimat dari mulutnya dengan rasa menyesal. Tapi itulah kebenarannya.


"Aku tidak mau anak itu sama sepertiku. Kalau begini terus, suatu hari ia akan menyesal menjadi Raja Matahari. Putrimu, Ye Qingping, adalah pedang bermata dua. Ye Xiaoran bisa saja menjadi tenaga Lu Mingzhi untuk mengalahkan dunia dan memikul beban berat yang dimiliki gelar ini, namun ...


Bisa jadi sebaliknya. Begitu putrimu tidak bisa diselamatkan, ia akan menjadi putus asa. Kehilangan arah hidupnya, melupakan tanggung jawabnya. Sama seperti aku yang hampir menghancurkan Sekte Matahari dulu." Lu Guang tersenyum miris begitu mengingat masa-masa setelah kematian Song Fang.


"Tapi Yang Mulia, orang yang kuat adalah orang yang tetap berdiri setelah pukulan hebat yang membuat mereka tidak berdaya. Sama seperti anda sekarang." Tetua Ye tersenyum, berusaha untuk mengambil makna positif yang ia bisa simpulkan.


"Kau tidak akan pernah mengerti ... " Lu Guang menatap Tetua Ye dengan pedih. "Aku bisa kembali berdiri, karena ada seseorang yang perlu aku lindungi. Walaupun begitu, setiap malam terasa sangat pilu. Berkali-kali aku memimpikan wanita itu, namun hatiku tetap saja seperti memiliki lubang hampa yang tidak akan pernah terisi."

__ADS_1


"Karena itu, Yang Mulia mencintainya. Dan hal itu tidak akan pernah berubah. Sama dengan putriku, Xiaoran." Tetua Ye balas menatap Lu Guang dengan sedih.


__ADS_2