
Jiang Junwei kini sedang mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamar Raja Bulan, sambil terkadang memandangi Shen Haofeng yang terbaring tak berdaya di atas kasur. Jiang Junwei sangat berharap bahwa sedetik berikutnya, kedua mata yang dimiliki wajah tampan itu akan terbuka. Tapi ia tahu bahwa harapannya itu sia-sia. Kini pria berwajah tampan itu didiagnosis oleh tabib Sekte Bulan bahwa ia hanya akan terbangun setelah mengonsumsi bunga api keabadian.
Jiang Junwei menggeram frustasi. Ia sudah membuat keputusan yang salah besar. Seharusnya ia tidak memberikan satu-satunya bunga api keabadian yang dimiliki Sekte Bulan kepada akademi. Kalau saja ia tahu, pasti masalah tuannya itu dapat dengan mudah teratasi, dan mungkin tuannya sudah akan sehat sekarang.
Jiang Junwei kembali memutar otaknya dengan keras.
Benar. Qiao Rong. Masih ada Qiao Rong di akademi.
*****
"Kabarnya Raja Bulan itu sangat jelek!"
"Ya! Bukankah dia selalu memakai topeng yang mengerikan itu?"
"Katanya wajahnya rusak, sehingga ia malu dan harus selalu memakai topeng!"
Terlalu banyak bisikan mengenai Shen Haofeng yang membuat telinga Qiao Rong sakit. Qiao Rong menggeleng-gelengkan kepalanya. Betapa terkejutnya mereka nanti kalau tahu bahwa orang yang saat ini mereka jelek-jelekkan sebenarnya memiliki wajah yang bahkan lebih tampan daripada Lu Mingzhi? Memikirkan hal itu, Qiao Rong hanya bisa tersenyum.
Tentu saja Qiao Rong bisa menebak sumber gosip itu. Matanya menilik Song Linmei yang kini sedang berbisik-bisik di lorong akademi bersama murid-murid wanita lainnya yang kebanyakan berasal dari kelas bawah. Murid-murid itu sengaja menjilat Song Linmei, putri dari Kerajaan Han, dan disaat yang sama mendapat keuntungan dari gosip yang disebarkannya.
__ADS_1
"Sepupumu itu ... sayang sekali kepribadiannya sangat jelek padahal ia sama cantiknya dengan Qiao Lan. Aku bingung ada masalah apa dengan orang-orang yang memiliki ikatan saudara ataupun ikatan darah denganmu. Semuanya sama-sama cantik tapi kepicikan hatinya tidak bisa disembunyikan." Li Junyan mendesah kecewa.
Qiao Rong hanya tertawa kecil mendengar perkataan bocah itu.
Sebuah tangan entah darimana menepuk-nepuk bahunya. Qiao Rong yang terkejut segera membalikkan tubuhnya ke belakang. Ia sama sekali tidak mendeteksi seseorang pun berada di belakangnya. Namun setelah melihat Jiang Junwei yang kini berhadapan dengannya, ia pun mengerti.
Jiang Junwei mengisyaratkan Qiao Rong untuk mengikutinya. Dalam hatinya Qiao Rong bertanya-tanya, apakah Shen Haofeng ingin menemuinya? Namun pria itu tentunya tidak akan mengutus Jiang Junwei untuk menemuinya. Shen Haofeng cenderung akan menemuinya secara pribadi entah dimana dengan kejutan.
Apakah sesuatu terjadi pada Shen Haofeng? Qiao Rong bergidik saat memikirkan hal itu. Pria itu adalah pria terkuat yang pernah ia lihat sejak bertransmigrasi dalam tubuh ini, monster macam apa yang bisa membuat pria itu terluka?
Qiao Rong merasa sangat khawatir, tapi ia hanya bisa menepis perasaan buruk itu dan megikuti langkah Jiang Junwei yang memimpin di depan.
"Junwei menyambut Nona Qiao ke dalam Menara Bulan." Jiang Junwei berhenti sejenak dan menjulurkan tangan kirinya ke depan tepat di depan pintu masuk pagoda itu. "Silahkan." Ia mempersilahkan Qiao Rong untuk masuk ke dalam pagoda itu lalu mengikutinya dari belakang.
Dengan langkah pelan, Qiao Rong masuk ke dalam. Namun ia tidak pernah menyangka bahwa ruangan utama paling bawah pagoda itu penuh dengan orang berlalu-lalang secara beraturan. Langkah mereka bagaikan memiliki mekanisme tersendiri. Qiao Rong melihat salah seorang pria mengantarkan gulungan ke sebuah meja, dan pria lain di meja itu membuka gulungan tersebut dan menyegelnya dengan cap khusus lalu mengikatnya kembali. Di samping meja itu sudah ada orang yang siap mengantarkan gulungan itu ke arah meja lain untuk di inspeksi.
Qiao Rong tidak bisa menahan keterkejutannya. Tidak pernah ia melihat suatu kedisiplinan yang sangat mirip seperti cara kerja kementrian istana. Hal seperti ini sangat sulit ditemukan di sekte bela diri manapun.
"Nona sepertinya terkejut, namun Sekte Bulan memiliki banyak urusan lain secara tersembunyi dan tersebar di manapun. Kami butuh banyak orang yang mampu untuk menjalankan berbagai urusan itu. Ruangan utama yang baru Nona lihat ini hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan tata kerja Menara Bulan." Jiang Junwei lalu menunjukkan tangannya ke atas.
__ADS_1
"Menara Bulan terdiri dari dua belas lantai yang masing-masing diatur berdasarkan hal-hal yang menjadi prioritas. Lantai pertama yang Nona lihat adalah untuk perencanaan kerja, prioritas paling rendah." Jiang Junwei lalu menunjuk papan yang bertuliskan 'Perencanaan Kerja'.
Qiao Rong melirik ke atas, "Lalu ada apa di lantai dua belas?" tanyanya dengan penasaran.
Jiang Junwei terkekeh. "Lantai dua belas adalah kediaman pribadi Yang Mulia, prioritas utama kini sudah Nona ketahui." Qiao Rong lalu menundukkan kepalanya karena malu.
Qiao Rong lalu mengikuti langkah Jiang Junwei yang mengantarnya ke arah tangga.
Lantai kedua, ketiga. keempat ... Qiao Rong terus-menerus melihat cara kerja orang-orang Menara Bulan yang luar biasa. Kebanyakan pelayan di Menara Bulan berumur empat puluh tahun ke atas, membuktikan bahwa pekerjaan mereka sudah ditekuni untuk waktu yang lumayan lama.
Lalu mereka tiba di lantai ke dua belas. Qiao Rong yang sempat melupakan rasa gugup sebelum sampai di Menara Bulan kini menjadi lebih gugup dari sebelumnya. Tidak seperti lantai-lantai sebelumnya yang mengusung konsep terbuka, lantai ini dibagi menjadi ruangan-ruangan yang tersusun sebagai satu kesatuan. Tepat seperti yang disebut Jiang Junwei sebelumnya, 'kediaman'.
Jiang Junwei mengantarnya ke dalam ruangan yang paling dalam.
Dibalik pintu yang ada di depannya itu, ada Shen Haofeng. Namun hati Qiao Rong malah berdetak lebih kencang lagi. Ia berusaha menyingkirkan pemikiran-pemikiran yang membuatnya khawatir. Namun tepat ketika Jiang Junwei membuka pintu ke ruangan itu, semua pemikiran itu sirna dengan sendirinya.
Qiao Rong memang melihat Shen Haofeng.
Namun Shen Haofeng yang ia lihat kini dalam kondisi tertidur lemas, dengan keringat mengucur dari kepalanya. Seperti orang yang sedang ditelan mimpi buruk. Qiao Rong tentu terkejut, namun ia mencoba dengan segenap kekuatan yang tersisa di tubuhnya, untuk tetap bersikap tenang.
__ADS_1
Ia menatap Jiang Junwei dan bertanya, "Apa yang terjadi?"