Abandoned Princess

Abandoned Princess
Ning He


__ADS_3

Qiao Rong turun dari kereta kuda. Aura misteriusnya agak menarik perhatian orang-orang di sekitar jalan itu karena penampilannya yang menggunakan cadar. Chu Yue mengekorinya dari belakang dengan pelan.


Dari awal ia berjalan, sepertinya orang-orang disekitar selalu melirik ke arahnya dengan penasaran.


Sekarang mereka sudah berada di distrik yang paling terkenal dengan jajaran toko berkualitasnya di Ibukota. Qiao Rong melihat ke kanan dan ke kiri, namun tidak menemukan satu toko kosmetik pun.


"Yang Mulia tentu bingung karena jarang keluar istana." Chu Yue terkekeh.


Qiao Rong hanya bisa tersipu malu. Memang pengetahuannya tentang hal-hal seperti ini memang sangat dangkal. Apalagi ia datang dari seribu tahun yang lalu, mana bisa ia membayangkan ada jajaran toko-toko yang sangat lengkap seperti ini? Qiao Rong yang asli juga jarang keluar, maka bisa dibilang mereka berdua sama saja.


"Tentu akan sulit mencari toko kosmetik, Yang Mulia." Chu Yue mendekat dan memberitahu Qiao Rong sambil berbisik. Chu Yue kelihatannya berbicara dengan hati-hati.


"Mengapa?" Qiao Rong kebingungan.


"Karena putri Perdana Menteri Huang memonopoli perdagangan kosmetik di Ibukota. Semua toko kosmetik yang sudah ada akan ditindas olehnya hingga tak bersisa. Jadi semua orang hanya akan membeli kosmetik dari tokonya, namun mereka juga tidak bisa apa-apa karena kualitas kosmetik yang dijual memang berkualitas bagus.." Chu Yue menjelaskan.


Qiao Rong mengangguk mengerti, namun baru saja ia ingin merespon dan bertanya lebih jauh, ia mendengar teriakan seorang gadis dari kejauhan.


"Saya mohon, ini satu-satunya harapan adik saya! Kyaaaa!" Di dengar dari suaranya, gadis itu sepertinya berada tidak terlalu jauh darinya.


Qiao Rong segera memutar pandangannya dan akhirnya menemukan seorang gadis yang tokonya sedang diobrak-abrik oleh kumpulan pria. Qiao Rong segera bergegas ke arah toko itu.


"Sudah berapa kali kubilang agar tidak membuka tokomu ini lagi! Masih saja berniat menyinggung putri Perdana Menteri!" Salah satu dari kumpulan pria itu mendorong meja yang berisi barang display kosmetik seperti bedak dan pewarna bibir hingga semuanya pecah dan berserakan ke tanah. Lalu, akhirnya kumpulan pria itu pergi.


Gadis itu terisak melihat dagangannya yang sudah hancur berserakan. Namun, saat ia ingin membetulkan posisi meja yang jatuh itu ke semula, dari seberang ada tangan yang membantunya.


"Apakah anda menjual kosmetik?" Qiao Rong bertanya sambil tersenyum.


"A-Ah ya.." Gadis itu sepertinya masih syok karena serangan tadi.


"Yang Mulia, sepertinya saya tahu gadis ini." Chu Yue menarik sebentar lengan Qiao Ring menjauh dari tempat itu.


"Oh?"


"Dia adalah putri tertua salah satu pejabat di pengadilan istana. Sekarang ini semua orang sedang membicarakannya karena tetap membuka toko kosmetik walaupun sudah diperingatkan beberapa kali. Sepertinya karena keluarganya memang sangat membutuhkan uang. Karena adiknya sakit." Ini kedua kalinya Chu Yue menjelaskan begitu panjang pada Qiao Rong. Qiao Rong merasa sangat iri pada Chu Yue yang dapat mendengar rumor dengan sangat cepat karena sering mendapat tugas keluar istana.

__ADS_1


Qiao Rong mengangguk dan segera kembali menghampiri gadis itu.


"Bolehkah saya mengajukan kesepakatan bisnis?" Qiao Rong menjulurkan tangannya untuk membantu gadis itu membereskan sisa-sisa kosmetik yang berserakan.


"Eh?" Gadis itu kelihatannya sangat bingung.


Tanpa berkata lagi, Qiao Rong segera mendemonstrasikan cara penggunaan masker rong pada gadis itu sendiri. Gadis itu sangat terkejut saat sesuatu yang bertekstur kental dan kenyal namun menyegarkan menyentuh wajahnya. Namun, Chu Yue disampingnya menepuk bahunya dan meyakinkannya bahwa hal itu tidak berbahaya.


Lima menit kemudian, mata gadis itu sama bersinarnya seperti mata Chu Yue pada saat selesai mencoba masker rong.


"Aku akan terima kesepakatan bisnis ini!" Gadis itu terlihat bersemangat dan jauh lebih baik daripada tadi. Sepertinya keadaan mentalnya sudah jauh lebih meningkat.


Qiao Rong mengangguk dan mengeluarkan sebuah cek yang bernilai lima ratus koin perak. Gadis itu tercengang, ia sepertinya dapat melihat bahwa Qiao Rong yang ada di depannya bukan sembarang orang.


"Ini investasiku. Dalam dua hari aku akan mengirimkan orang untuk menjaga tokomu, juga mengantarkan beberapa sampel dan produk, serta perjanjian kontrak. Gunakan sebaik mungkin." Qiao Rong menjelaskan beberapa manfaat dari kandungan masker rong pada gadis itu. Tentu ia tidak membeberkan semuanya, ia masih belum cukup mempercayai gadis itu.


"Senang berbisnis dengan anda, nama saya Ning He." Ning He membungkuk dan berterimakasih.


"Li Rong. Saya harap kita bisa menjadi teman baik." Qiao Rong sengaja tidak menggunakan marganya agar tidak mengungkap identitasnya.


Qiao Rong tersenyum dibalik cadarnya. Entah kenapa firasatnya pada gadis ini cukup bagus.


*****


Hari sudah mulai malam, anehnya, daripada meminta teh, Qiao Rong malah meminta arak pada Chu Yue.


Chu Yue tentu kebingungan, baru kali ini nonanya itu meminta hal seperti itu. Namun Li Wenhua yang dulu sering bergaul dengan para pria tentu memiliki sudah sering meminum arak.


Sejujurnya, ia agak merindukan rasa alkohol itu yang mengingatkannya pada masa-masanya dulu di Sekte Wuling. Setiap ada jamuan mereka akan makan dan minum sepuasnya.


Chu Yue hanya bisa menuruti permintaan Qiao Rong dan segera mengantarkannya.


Qiao Rong menghabiskan waktu dengan berbincang mengenai keadaan seribu tahun terakhir bersama Li Junyan.


Cangkir demi cangkir, Qiao Rong merasa dirinya sudah setengah sadar. Namun kerinduan terhadap masa-masa lampau memang sangat menghantuinya. Sudah tidak ada lagi saudara-saudara seperguruan yang bisa ia ajak berduel, apalagi Ayahnya..

__ADS_1


"Hei Xiao Li~, mengapa kau suka sekali muncul tiba-tiba? Tidak bisakah kau menemaniku mengobrol seharian?" Tanya Qiao Rong setengah mabuk.


"Kau kira aku tidak butuh istirahat?" Li Junyan menjawab dengan ketus.


"Hehe, Xiao Li~ kau tahu saat kau merajuk seperti itu kau menjadi sangat imuttt." Qiao Rong mencubit pipi bocah itu dengan gemas.


"Heiii! Hentikan! Sudah minumnya!" Li Junyan yang kesal akhirnya berhasil merenggut cangkir Qiao Rong.


"Eh? Oh ya, mengapa rasanya rumah bata itu menjadi lebih bagus dan semakin bagus lagi akhir-akhir ini?" Qiao Rong bertanya dengan mata yang agak tertutupi kantuk.


"Tentu saja, ruangan Kitab Yin Yang menyesuaikan dengan banyaknya qi yang ada di dalam tubuhmu. Jadi semakin tinggi tingkat kultivasimu tentu akan semakin bagus." Mendengar penjelasan Li Junyan, Qiao Rong hanya mengangguk-angguk. Lalu, akhirnya Li Junyan mengucapkan selamat tinggal dan kembali ke ruangan Kitab Yin Yang.


Kini dia merasa dirinya sudah benar-benar mabuk.


Qiao Rong mulai terhuyung-huyung ke arah nakas. Ia akhirnya mendapatkan tumpuan untuk berdiri. Qiao Rong menyentuh anting pemberian Shen Haofeng dengan lembut. Rasanya sangat senang karena setidaknya ada yang menghubungkan mereka berdua.


"Aku sangat merindukanmu." Qiao Rong tersenyum lembut saat kembali mengingat pria itu. Walaupun pria itu jarang tersenyum, namun senyumnya sepertinya sudah terpatri di ingatan Qiao Rong sejak pertama kali ia melihat pria itu tersenyum.


"Aku harap, aku bisa menyelesaikan masalah disini lebih cepat lagi."


Perlahan-lahan Qiao Rong mulai kehilangan kesadarannya dan tertidur di samping nakas karena tubuhnya yang memerosot.


Dari jendela samping, masuklah sesosok pria yang memandangi Qiao Rong.


"Dasar bodoh." Pria itu tersenyum hangat dan menggendong tubuh Qiao Rong dengan kedua lengannya.


Ia membaringkan tubuh Qiao Rong di atas ranjang dan menarik selimut ke atas tubuh gadis itu.


"Siapa juga yang tidak merindukanmu?" Pria itu lalu duduk di samping ranjang dan menyentuh bulu mata panjang Qiao Rong dengan pelan.


"Aku juga berharap dapat melihatmu setiap hari." Akhirnya pria itu mematikan lilin terakhir di kamar Qiao Rong dan kembali melompat keluar jendela.


*****


Keesokan paginya, Qiao Rong terbangun dengan sakit kepala yang agak parah. Chu Yue segera mengantarkan sup pereda mabuk untuknya. Qiao Rong meminum sup itu sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Namun sebelum suapan terakhir akhirnya ia tersadar akan sesuatu yang begitu aneh.


Mengapa ia bisa terbangun di atas ranjang?


__ADS_2