
Qiao Rong tidak bisa menahan keterkejutannya ketika melihat Shen Haofeng menggendong sebuah bayi hewan yang kelihatannya baru lahir.
Tiga hari setelah ia naik tingkat, akhirnya pria itu kembali ke Kerajaan Wen. Qiao Rong bisa mengerti jika pagi-pagi sekali akan mendapati Shen Haofeng yang berkunjung ke paviliunnya. Tapi tidak dengan seekor bayi hewan yang terlihat imut seperti seekor kucing.
Hanya saja ukurannya lebih besar dan lebih berbulu.
"Ini.." Qiao Rong kelihatan kebingungan menanggapi kehadiran pria itu.
"Untukmu." Tiba-tiba Shen Haofeng menyerahkan hewan itu dengan pelan ke pelukan Qiao Rong.
"Ah?" Qiao Rong tambah bingung. Tapi hewan itu terlihat sedang tertidur sangat tenang di pelukan Qiao Rong. Qiao Rong juga merupakan seekor pecinta hewan. Tapi ia lebih suka hewan liar seperti Yu Hao, si Ular Nirwana. Bagaimana dengan kucing?
Shen Haofeng tersenyum kecil.
"Itu bukan kucing." Kata pria itu seolah-olah menebak pikirannya.
"Lantas?" Tanya Qiao Rong dengan penasaran.
"Seekor bayi serigala." Mendengar perkataan itu, mata Qiao Rong membelalak. Apa tanggapan Kaisar Qiao kalau tahu bahwa ia membesarkan seekor anak serigala?
Sejujurnya Qiao Rong merasa senang mendapat hadiah dari Shen Haofeng. Apalagi hadiahnya adalah seekor bayi serigala. Ia sendiri juga penasaran dan tertarik untuk memelihara seekor serigala. Selera anehnya inilah yang kadang membuat orang tidak dapat mengerti dirinya sepenuhnya. Tapi Shen Haofeng berhasil membawakannya seekor hewan liar.
Qiao Rong mengelus-elus serigala yang terlihat seperti bayi kucing itu dengan pelan dan lembut. Warna bulu hewan itu sangat putih, bahkan sedikit kotoran juga akan terlihat dengan jelas.
Namun yang membuat Qiao Rong lebih terkejut adalah adanya bercak-bercak darah kering yang menempel pada bulu bayi serigala itu. Namun tidak ada luka atau bekas luka satupun yang terlihat. Oleh karena itu Qiao Rong tahu bahwa bayi itu baru saja dilahirkan kira-kira kemarin.
"Dia adalah yang termuda dari tiga bersaudara. Jaga dia baik-baik. Hadiah Pertunangan." Setelah berkata begitu, Shen Haofeng tersenyum dan menghilang dari pandangan Qiao Rong.
Qiao Rong tidak menghabiskan waktu lagi, ia segera masuk ke dalam kamar dan memanggil Chu Yue.
"Chu Yue! Siapkan ember kecil dengan air hangat!" Ujar Qiao Rong dengan kencang. Chu Yue pun segera tergesa-gesa untuk mengambil ember dan memasak air.
Qiao Rong melihat hewan peliharaan baru di gendongannya dengan senang.
Chu Yue datang lima menit kemudian, lengkap dengan kain tanpa diminta. Setelah itu Chu Yue menaruh ember itu di lantai.
__ADS_1
Tanpa disangka olehnya, Qiao Rong tiba-tiba berlutut dan mulai membasuh seekor hewan yang masih bayi.
"Wah Yang Mulia! Apakah itu seekor kucing?" Tanya Chu Yue dengan penasaran. Ia belum pernah melihat kucing yang memiliki bulu seputih dan sebersih itu. Chu Yue hanya bisa terpana memandangi hewan peliharaan baru nonanya.
"Ehmm.. Bisa dibilang begitu, kurasa." Jawab Qiao Rong yang bingung menjawab pertanyaan Chu Yue tadi.
Setelah selesai membasuh dan memandikan bayi serigala itu sampai bersih dari bekas darah, Qiao Rong menyusut tubuh hewan itu dengan lembut menggunakan kain yang tadi dibawa oleh Chu Yue.
Tiba-tiba, saat Chu Yue baru saja ingin membawa ember berisi air itu keluar, sebuah ketukan terdengar di luar pintu.
"Masuk." Qiao Rong memberi respon.
Pintu segera terbuka dan memperlihatkan sosok Jiang Junwei yang segera menundukkan kepalanya melihat Qiao Rong.
"Jiang Junwei?" Tanya Qiao Rong pelan. Ia sudah lama tidak bertemu pria itu, sejak melawan Ular Nirwana bersama.
"Maafkan kelancangan saya kali ini, Putri." Jiang Junwei kembali membungkukkan badan.
"Ah tidak apa-apa, ada apa kemari?" Tanya Qiao Rong dengan penasaran.
"Ah tidak, saya hanya ingin melihat keadaan hewan itu." Melihat bayi serigala yang masih tertidur pulas di pelukan Qiao Rong, Jiang Junwei menghela napas lega, sekaligus tersenyum dengan pahit.
"Tentu saja." Jawab Qiao Rong.
"Melihat bayi hewan itu sepertinya sama saja dengan melihat Yang Mulia waktu kecil." Jiang Junwei tanpa sadar keceplosan. Ia ingin merutuki mulutnya, namun disaat yang sama bingung menghadapi wajah Qiao Rong yang kebingungan. Sepertinya ia tidak punya pilihan lain, selain menceritakan semuanya.
"Ah.. Yang Mulia belum memberitahu anda ya?" Jiang Junwei makin merutuki nasibnya saat melihat Qiao Rong menggelengkan kepala. Bagaimana kalau Shen Haofeng tahu bahwa ia memberitahu Qiao Rong tentang masa lalunya yang bahkan belum diceritakannya sendiri?
"Emm.. Begini.. Sebenarnya bayi serigala ini adalah anak ketiga dari induknya. Tapi kedua kakaknya meninggal sesaat setelah dilahirkan karena tubuh induknya terlalu lemah. Begitu juga dengan induknya setelah melahirkan dia. Bisa dibilang anak ini sebatang kara." Jelas Jiang Junwei.
"Se-Se-Serigala??!" Chu Yue yang terkejut tidak dapat menahan teriakannya. Jiang Junwei dengan sigap langsung menutup mulut gadis itu dengan tangannya dan menyuruh gadis itu untuk berbisik-bisik saja.
"Ta-tapi Yang Mulia.. Serigala bukankah terlalu..?" Chu Yue menatap tidak berdaya ke arah Qiao Rong. Tapi Qiao Rong hanya tersenyum pada gadis itu yang kini memandangnya tidak percaya.
"Lalu kenapa mengingatkannya pada Raja Bulan?" Tanya Qiao Rong dengan penasaran.
__ADS_1
Jiang Junwei yang tadinya ingin kabur setelah berkata begitu merasa harapannya langsung pupus setelah mendengar pertanyaan Qiao Rong.
Ia tidak punya pilihan lain.
"Karena Yang Mulia juga begitu.. Raja Bulan sebelumnya menemukannya di hutan seorang diri waktu masih bayi. Akhirnya ia diajarkan berkultivasi dari sejak ia bisa berbicara. Dan mereka baru keluar dari hutan itu saat Yang Mulia berusia 13 tahun." Raut wajah Jiang Junwei saat ini sangat tidak bagus.
Ia bingung harus bersedih karena mengingat masa kecil pahit tuannya atau bersedih dan bersiap-siap atas hukuman yang akan segera ia dapatkan.
Sementara Qiao Rong di sisi lain hanya bisa menahan napasnya selama Jiang Junwei berbicara.
Ia tidak menyangka dan tidak pernah menduga bahwa akan ada anak yang nasibnya lebih malang daripadanya.
Ditinggalkan sejak bayi oleh keluarganya, diajarkan berkultivasi sejak bisa berbicara, baru keluar dari hutan pada usia remaja.
Semua hal itu menjelaskan mengapa Shen Haofeng begitu dingin pada awal mereka bertemu. Dengan komunikasi yang hampir tidak ada dengan manusia selain gurunya, Qiao Rong justru bingung bagaimana caranya pria itu menjalani hidupnya selama 13 tahun.
Seolah-olah keluarganya dibunuh di depan matanya, dan harus mengemis di jalanan, hal-hal itu tidak cukup dibandingkan penderitaan Shen Haofeng. Qiao Rong tidak menyangka akan bertemu orang yang berkultivasi lebih awal daripada dirinya.
"Karena itulah dia tidak pernah makan tanghulu." Qiao Rong hanya bisa tersenyum pahit.
"Eh.. Kalau begitu saya permisi." Pada saat itulah Jiang Junwei berniat melarikan diri dengan Teknik Bayangan Bulan. Dan ia berhasil.
"Yang Mulia.." Panggilan Chu Yue menyadarkan Qiao Rong dari lamunannya. "Airmata anda.." Lanjut gadis itu.
Barulah Qiao Rong sadar sedaritadi airmatanya sudah mengalir membasahi pipinya. Ia merasa begitu sedih.
Apa saja yang sudah pria itu alami hingga kemampuan berkomunikasinya sekaku itu dengan manusia lain?
Qiao Rong pernah berpikir seperti itu pada saat pertama bertemu dengan Shen Haofeng.
Tapi ia tidak menyangka bahwa yang terjadi adalah hal seperti itu.
Tiga belas tahun sama sekali bukan waktu yang singkat. Membayangkan seorang bayi diurus oleh seorang pria sendirian di tengah hutan membuat Qiao Rong bergidik.
Apa saja yang sudah pria itu alami?
__ADS_1
Qiao Rong tidak bisa menahan perasaannya. Ia menaruh bayi serigala itu di atas ranjang, dan menitipkannya pada Chu Yue yang masih kebingungan.
Dan ia berlari.