Abandoned Princess

Abandoned Princess
Dua Siluman


__ADS_3

Sudah beberapa hari semenjak Lu Mingzhi datang ke Akademi Bulan Sabit.


Walaupun begitu, Qiao Rong terus mengamati Lu Mingzhi dari bangkunya yang terletak tidak terlalu jauh dari posisi Lu Mingzhi.


Qiao Rong bisa mengerti kenapa pria itu diidamkan oleh seluruh wanita. Wajahnya tampan, statusnya yang tidak terelakkan, juga tingkat kultivasinya yang tinggi.


Namun, rasa penasaran Qiao Rong terus memenuhi kepalanya. Kenapa pria seperti itu datang ke Akademi Bulan Sabit? Padahal jelas-jelas ia tidak akur dengan Shen Haofeng.


Apa yang ia cari? Apa tujuannya? Tujuan itu haruslah lebih penting daripada tugasnya sehari-hari sebagai penerus Raja Matahari. Lu Mingzhi sampai rela meninggalkan tanggung jawabnya untuk sementara dengan datang ke Akademi Bulan Sabit.


Qiao Rong sudah bertekad untuk menanyakan kepada Shen Haofeng alasan mereka tidak akur. Namun, ia saja tidak tahu kapan pria itu akan kembali.


Qiao Rong mendesah pelan.


*****


Slash!


Shen Haofeng sekali lagi menebaskan pedangnya, semburan qi yang keluar langsung menewaskan lusinan pria di depannya.


Di sebelahnya, Jiang Junwei juga ikut bertarung dengan gagah, walaupun bajunya sudah penuh dengan noda darah musuh.


Ini adalah medan perang.


"Yang Mulia! Kita sudah dekat dengan perbatasan Sekte Awan!" Jiang Junwei berteriak sambil sibuk dengan musuhnya di depan.


Shen Haofeng mengangguk ke arah Jiang Junwei. Sudah ada puluhan dari murid Sekte Bulan yang tewas, dan ratusan rakyat jelata yang ikut perang dengan sukarela.


Shen Haofeng mendecak. Perang ini sudah berlangsung selama beberapa bulan. Walaupun Sekte Awan mengalami kerugian paling besar, dan tidak pernah bisa menembus pertahanan Sekte Bulan, namun Shen Haofeng tidak bisa lagi membiarkan banyak orang mati bertahan.


Karena itulah sekarang ia ikut campur langsung dalam peperangan ini, berniat ingin langsung menebas akar musuh. Sekte Awan. Entah apa yang membuat sekte yang begitu damai selama beratus-ratus tahun tiba-tiba melancarkan serangan ke sekte-sekte lainnya.


"Jadi ini ... Raja Bulan yang dibanggakan manusia-manusia bodoh itu? Hihihihi, sepertinya hanya seorang cecunguk yang kebetulan mendapat status dan gelar yang hebat." Seorang wanita yang memegang sebuah kipas tertawa sambil menutupi wajahnya dengan kipas itu.


"Ketua Klan Rubah Putih, bukankah kamu terlalu sombong? Lihat saja ia, begitu melewati batas kultivasi manusia sebentar lagi ia akan sampai ke tingkat setengah dewa. Saat itu, ia bisa saja membunuhmu dengan mudah." Seorang pria muncul dan berjalan ke sebelah wanita itu perlahan.

__ADS_1


"Kamu terlalu melebih-lebihkan, Ketua Klan Serigala. Bukankah karena itu kita akan membunuhnya disini? Hihihihi. Perintah Raja Iblis harus diprioritaskan." Wanita itu mengelus lembut ekornya yang berwarna putih itu.


"Yah, kurasa begitu. Sayang sekali, padahal kalau begitu ia akan menjadi manusia pertama yang kembali meneruskan kejayaan para manusia seribu tahun yang lalu." Pria berambut panjang itu mendesah pelan, membuat ekspresi kecewa, namun senyumannya sangat lebar.


Shen Haofeng sudah sejak lama melihat kedua orang itu dari seberang medan perang.


"Bahaya." Shen Haofeng berdecak pelan.


Ia tidak tahu siapa mereka, namun dari ekor si wanita ia dapat dengan mudah menebah bahwa mereka berdua adalah siluman. Siluman yang sangat kuat, terlebih lagi. Ia mungkin percaya diri kalau hanya melawan satu siluman, tapi tidak dengan dua.


Hal ini saja sudah membuktikan kecurigaannya bahwa Raja Iblis sudah kembali. Shen Haofeng harus langsung membawa berita ini ke Raja Matahari.


"Mundur!!!" Shen Haofeng berteriak sambil memberi kode ke seluruh pasukan. Perlahan pasukan Sekte Bulan mundur, namun saat Shen Haofeng menoleh kembali ke seberang, kedua orang tadi sudah lenyap.


"Yang Mulia!!!" Jiang Junwei berteriak dengan kencang saat melihat dua orang asing melesat dengan kecepatan penuh ke arah Shen Haofeng.


Shen Haofeng dengan cepat menghindar. Kedua orang itu kini berdiri berhadap-hadapan dengannya.


"Mundur katanya? Hihihihi. Raja akan bilang apa kalau dia kita biarkan lolos?" Wanita dengan ekor putih itu tersenyum sinis.


Serangan demi serangan di balas Shen Haofeng dengan teknik bertahan. Ia sama sekali tidak bisa menemukan celah untuk membalikkan serangan musuh.


Shen Haofeng kini sadar, mengapa banyak sekali kultivator yang tewas pada perang seribu tahun lalu. Fakta bahwa tubuh siluman dan manusia yang berbeda sehingga mereka bisa memiliki tingkat kultivasi yang lebih tinggi memang tidak bisa dipungkiri.


Walaupun belum kewalahan, namun Shen Haofeng hanya bisa terus bertahan dari serangan wanita itu. Tingkat kultivasi wanita itu sepertinya sudah jauh lebih tinggi di atas tingkat kultivasinya.


Jiang Junwei sangat ingin membantu Shen Haofeng, namun melihat tanda yang barusan diberikan oleh Shen Haofeng, ia hanya bisa membantu pasukan mundur satu persatu. Jiang Junwei juga tahu mengapa Shen Haofeng tidak membiarkannya membantu. Ia akan terbunuh dengan begitu mudah oleh wanita itu.


Shen Haofeng melirik pria yang ada di belakang. Pria itu sepertinya puas hanya dengan melihat pertarungan mereka berdua.


Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau pria itu ikut bertarung. Maka hari ini akan menjadi hari terakhir hidupnya.


Shen Haofeng menggelengkan kepalanya. Ia harus hidup. Ia punya tunangan yang menunggu untuk dinikahi.


Bunyi pedang yang beradu dengan cakar dan kipas si wanita dapat terdengar setiap detiknya. Shen Haofeng mulai terengah-engah. Namun wanita yang menyerangnya bertubi-tubi tanpa henti itu masih saja tertawa bengis dengan senang.

__ADS_1


Di sisi lain, seluruh pasukan kini sudah mundur dengan selamat. Pasukan Sekte Awan yang memang tinggal sedikit tidak repot-repot mengejar pasukan Sekte Bulan yang mundur. Mereka tidak ingin menggali kuburan mereka sendiri.


Slash!


"Ugh!" Shen Haofeng baru merasakan rasa sakit dari luka-luka yang diakibatkan cakar dan kipas wanita itu. Ada luka di kaki, tangan, bahkan di dekat dada.


"Ketua Klan Serigala, tunggu apalagi? Raja tidak bisa menunggu. Hihihihi." Wanita itu berpaling ke arah si pria tanpa memberikan waktu istirahat pada Shen Haofeng.


"Baiklah, baiklah. Kadang aku ragu apakah Raja yang tidak bisa menunggu atau kau yang tidak sabaran ingin segera mengunyah makan siangmu." Pria itu tertawa kecil sambil berjalan perlahan dan mempersiapkan pedangnya.


"Ahh! Mana mungkin aku begitu! Aku hanya penasaran dengan wajah di balik topeng itu, kalau ia tampan, sayang sekali kalau harus kubunuh hari ini. Hihihihi." Wanita itu membuat wajah sedih.


Shen Haofeng kembali berdecak. "Sial." Pria itu akan segera turun tangan. Namun, melihat ke sekeliling, medan perang itu sudah berubah menjadi tempat yang agak sunyi karena kedua belah pasukan sudah mundur.


Shen Haofeng terpaksa melakukan teknik itu.


Teknik yang paling tidak disarankan untuk digunakan dalam sejarah Sekte Bulan.


Teknik Membelah Bulan. Teknik yang digunakan untuk membelah dimensi yang dihubungkan dengan Menara Bulan dan hanya bisa dipakai oleh Raja Bulan.


Pria itu melesat dengan cepat, mendekat, namun ...


"HYAAAAA!" Shen Haofeng menebaskan pedangnya dari atas ke bawah. Segera sesudahnya, sebuah ruang dimensi terbuka dari tebasan itu, mengisapnya ke dalam, dan tertutup lagi dengan sempurna. Meninggalkan kedua orang itu di belakang dengan kekecewaan.


"Yah, siapa yang tahu ia punya teknik melarikan diri seperti itu? Sungguh curang. Raja tidak akan senang mendengar hal ini." Pria itu menyarungkan kembali pedangnya yang barusan hanya sempat menebas udara.


*****


Uhuk!


Di Menara Bulan, Shen Haofeng yang terbaring di lantai sudah bersimbah darah, namun masih tidak bisa menghentikan batuk darahnya yang timbul karena luka internal di tubuhnya.


Ini semua adalah konsekuensi memakai Teknik Membelah Bulan. Sebuah serangan internal yang bisa melukai akar kultivasi penggunanya.


Penglihatan Shen Haofeng makin lama semakin buram. Dan semuanya menjadi gelap.

__ADS_1


__ADS_2