Abandoned Princess

Abandoned Princess
Kegelisahan Qiao Rong


__ADS_3

Dari arah tangga, Jiang Junwei menemukan Qiao Rong yang sedang mondar-mandir di depan pintu kamar Shen Haofeng.


Ia juga sudah tidak menemukan para penjaga yang biasanya berjaga di depan kamar. Sepertinya mereka diperintahkan pergi oleh Qiao Rong. Jelas, selain Jiang Junwei dan Shen Haofeng, hanya Qiao Rong yang bisa memerintah para penjaga dengan begitu mudah.


Ini pertama kalinya Jiang Junwei melihat tunangan tuannya yang biasanya begitu tenang dan selalu berpikir rasional, berwajah begitu khawatir.


Langkah kaki Jiang Junwei membuat Qiao Rong terkejut. Saking khawatirnya, Qiao Rong bahkan tidak menyadari keberadaan Jiang Junwei dari tadi.


Melihat Qiao Rong yang terkejut karenanya, Jiang Junwei langsung menghampiri wanita itu dengan cepat. "Ah! Nona ... Bagaimana dengan keadaan Yang Mulia?" Jiang Junwei memutuskan untuk tidak memperlihatkan kepada Qiao Rong bahwa ia melihat keterkejutannya tadi.


"Tabib Luo sedang mengobatinya di dalam. Sudah berlangsung lima belas menit, tapi belum ada reaksi apa pun dari dalam kamar." Qiao Rong menjelaskan situasinya.


Jiang Junwei mengangguk pelan. Sesudah membereskan dan menyortir beberapa dokumen penting di salah satu toko di bawah pimpinan Sekte Bulan, ia langsung buru-buru kembali ke Menara Bulan.


Kini yang memiliki ekspresi khawatir bukan hanya Qiao Rong, tapi juga Jiang Junwei. Mereka berdua sama sekali tidak berbicara lagi sedikitpun, hanya menunggu di luar kamar utama dengan cemas.


"ARGGHHHHH!" Sebuah erangan yang sangat kencang lolos dari dalam kamar. Qiao Rong dan Jiang Junwei sama-sama bergidik mendengar erangan Shen Haofeng yamg sepertinya sangat kesakitan.


Kedua tangan Jiang Junwei sontak langsung memegang gagang pintu kamar, namun sebelum membuka pintu tersebut, ia melayangkan sebuah pandangan terlebih dahulu pada Qiao Rong. Ingin melihat apakah Qiao Rong juga ingin ikut masuk ke dalam.


Qiao Rong yang mengerti dengan maksud pandangan itu langsung menggelengkan kepalanya. "Aku percaya seseorang tidak akan mau orang yang ia cintai melihatnya dalam keadaan lemah ataupun titik terendahnya," jelas Qiao Rong. Ia sudah pernah mengalami perasaan itu sebelumnya.

__ADS_1


Pernah sekali waktu ia terluka parah karena serangan dari sekte lawan. 'Li Wenhua' terus-menerus berteriak kesakitan dari dalam kamar, terutama karena tetua dari sekte lawan mematahkan tangan kiri dan kaki kanannya. Ia kembali dalam keadaan yang mengenaskan, namun hal utama yang ia cemaskan bukanlah kondisi kaki dan tangannya. Melainkan ia tidak ingin ayah angkatnya, pemimpin Sekte Wuling, melihatnya dalam kondisinya saat itu.


Ketika Li Wenhua menyampaikan permintaannya itu kepada seorang kakak seperguruan, ayahnya menunggu di luar ruangan pengobatan hingga akhirnya para tabib berhasil menyembuhkan tangan dan kakinya setelah tujuh hari dan tujuh malam. Barulah ayahnya masuk untuk menemaninya memulihkan diri dengan wajah khawatir.


Jiang Junwei hanya mengangguk, menandakan bahwa ia mengerti. Jiang Junwei membuka pintu kamar, masuk ke dalam, dan langsung menutup pintu itu lagi. Meninggalkan Qiao Rong sendirian di luar pintu.


Qiao Rong menghela napas dengan berat. Kini akhirnya ia merasakan apa yang ayah angkatnya rasakan waktu itu. Hati yang berat karena rasa khawatir yang memenuhi seluruh pikirannya.


"ARGHHHHHHHHH!" Lagi-lagi suara Shen Haofeng membuat Qiao Rong terkejut dan sedih sekaligus.


Erangan Shen Haofeng membuat Qiao Rong semakin gelisah. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Erangan demi erangan memenuhi lantai kedua belas. Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya ketenangan pun kembali. Namun kegelisahan Qiao Rong tidak berakhir sampai disitu, malah ia tambah gelisah ketika erangan itu berhenti. Qiao Rong semakin khawatir jika sesuatu terjadi pada Shen Haofeng selama pengobatan itu berlangsung.


Mungkin karena penggundulan hutan yang terus-menerus terjadi untuk diubah menjadi desa maupun kota, sehingga habitat bunga api keabadian yang biasanya ditemukan di pedalaman hutan pun lenyap.


Krieetttt.


Suara pintu yang terbuka membuat Qiao Rong segera membalikkan badannya menghadap ke arah pintu. Jiang Junwei sudah berada tepat di depan Qiao Rong.


"Bagaimana?" Qiao Rong bertanya dengan nada terburu-buru.

__ADS_1


Mendengar Jiang Junwei menghela napas lega, kekhawatiran Qiao Rong sedikit berkurang, namun ia masih belum bisa melepaskan semua kekhawatiran dalam hatinya sampai ia melihat keadaan Shen Haofeng dengan matanya sendiri.


"Nona sudah bisa masuk." Jiang Junwei tahu sendiri sebagaimana khawatirnya Qiao Rong. Ia langsung menyingkir kesamping dan memberi jalan bagi Qiao Rong untuk masuk.


Qiao Rong mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Tabib Luo sudah terduduk di kursi dengan butiran keringat yang dapat terlihat jelas memenuhi area dahinya.


Jendela kamar kini terbuka, Qiao Rong menebak pasti Tabib Luo sengaja membukanya untuk membiarkan udara mengalir ke dalam kamar. Qiao Rong dapat merasakan udara sejuk itu sambil melihat tirai jendela yang bergerak mengikuti angin sore sepoi-sepoi.


Persis di bawah tirai jendela itu, Shen Haofeng terbaring dengan kedua matanya yang masih tertutup di atas ranjang. Seolah-olah menit-menit penuh erangan yang tadi Qiao Rong dengar tidak pernah terjadi.


"Sekarang hanya perlu menunggu Yang Mulia bangun, seharusnya tidak terlalu lama. Bunga api keabadian merupakan obat yang sangat ampuh," ujar Tabib Luo.


Sejujurnya, ia sangat khawatir saat mendengar kabar mengenai kondisi Raja Bulan lewat surat Jiang Junwei sehingga ia buru-buru kembali dari pengembaraannya. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa ia senang ketika mendengar bahwa Raja Bulan hanya bisa disembuhkan dengan bunga api keabadian.


Tabib Luo tidak bisa menantikan saat dimana ia bisa mencoba resep legendaris keluarganya yang menggunakan bunga api keabadian. Ketika mendiagnosis sendiri bahwa Shen Haofeng memang hanya bisa bangun dengan menggunakan bunga api keabadian, rasa antisipasinya meningkat.


Selalu ada kesenangan sendiri bagi setiap orang tabib ketika melihat sebuah tanaman langka atau mencoba resep obat legendaris. Tabib Luo bukanlah pengecualian.


Melihat Qiao Rong yang menatap Shen Haofeng dengan intens, Tabib Luo segera pamit dan keluar dari ruangan. Pintu kamar akhirnya tertutup setelah kepergian Tabib Luo, meninggalkan Qiao Rong dan Shen Haofeng yang belum sadarkan diri di dalam ruangan.


Qiao Rong berjalan perlahan dan menggeser sebuah kursi perlahan ke sebelah ranjang. Ia duduk sambil memperhatikan wajah tertidur Shen Haofeng yang terlihat sangat tenang. Qiao Rong menghela napas lega ketika akhirnya memastikan bahwa pria itu benar-benar sudah tidak berada dalam bahaya lagi.

__ADS_1


Qiao Rong akhirnya bisa merilekskan tubuh dan pikirannya setelah sekian lama disiksa oleh rasa khawatir. Karena rasa lelah, Qiao Rong mengistirahatkan kepalanya di atas ranjang, tepat di sebelah tangan Shen Haofeng.


Qiao Rong kembali memandangi wajah Shen Haofeng, hingga akhirnya kesadarannya direnggut oleh kantuk. Dan ia pun tertidur dengan lelap.


__ADS_2