Abandoned Princess

Abandoned Princess
Pria Itu Terbangun


__ADS_3

Shen Haofeng perlahan membuka matanya dan melihat atap-atap yang familiar, namun baru sekejap, ia meringis karena tubuhnya terasa remuk.


Shen Haofeng menutup matanya lagi. Ia mencoba mengambil alih kontrol tubuhnya dari rasa sakit. Shen Haofeng baru kali ini menghirup udara segar dari jendela yang ada di kamarnya. Biasanya, kamar yang ia tempati begitu pengap, tetapi ia sudah cukup terbiasa sehingga tidak merasa sesak.


Shen Haofeng mencoba untuk menggerakan tangannya perlahan-lahan. Percobaan pertama kurang sukses, ia merasa sudah menggerakan tangan kirinya namun tidak ada tanda-tanda bahwa tangannya berhasil bergerak.


Akhirnya, ia mencoba untuk menggerakan jari-jarinya. Butuh beberapa detik sebelum ia berhasil menggerakan jari telunjuknya.


Ketika ia akhirnya berhasil menggerakkan telapak tangannya, Shen Haofeng merasakan beberapa helai rambut yang menyentuh jari kelingking kirinya.


Agak terkejut, ia langsung membuka matanya kembali dan menengok ke arah kiri tubuhnya. Shen Haofeng tertegun ketika melihat wajah tertidur Qiao Rong yang ada tepat di sebelah tangan kirinya.


Pria itu tersenyum lembut.


Karena kehadiran Qiao Rong, Shen Haofeng membatalkan niatnya untuk beristirahat dan segera mensirkulasikan qi yang tersisa di seluruh tubuhnya untuk mengurangi rasa sakit yang ia rasakan.


Shen Haofeng pada akhirnya mengubah posisinya menjadi posisi duduk. Ia berusaha bergerak sepelan mungkin agar tidak membangunkan Qiao Rong.


Jemari pria itu bergerak pelan ke arah laci meja yang berada tepat di sebelah tempat tidur. Ia menarik laci paling atas sepelan mungkin dan mengambil sebuah tusuk rambut.


Tusuk rambut itu adalah tusuk rambut yang dulu pernah dibelinya sewaktu dalam perjalanan ke Kerajaan Wen. Ia sangat menyukai desain tusuk rambut itu yang memiliki bulan kecil yang menggantung di ujungnya.


Namun karena bahan utama tusuk rambut itu adalah perak, ia meminta pengrajin di Menara Bulan secara khusus untuk membuatkan tusuk rambut yang sama persis dengan menggunakan emas. Ia juga secara khusus meminta agar gantungan bulan kecil itu dibuat dengan menggunakan giok. Sementara itu, tusuk rambut yang ia beli akan dilebur untuk membuat aksesoris sarung pedang.

__ADS_1


Setelah memperhatikan tusuk rambut itu selama beberapa detik, Shen Haofeng memegang tusuk rambut itu di tangan kanannya.


"Ughh ..." Suara Qiao Rong membuat Shen Haofeng buru-buru menyembunyikan tangan kanannya yang sedang memegang tusuk rambut tadi.


Qiao Rong mengerjap-ngerjapkan matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Shen Haofeng yang sedang tersenyum lembut padanya. Qiao Rong membalas senyuman itu dengan senang.


"Syukurlah kau sudah bangun," ujar Qiao Rong sembari membetulkan posisi duduknya.


Shen Haofeng hanya mengangguk, masih mempertahankan pandangannya pada wanita di samping tempat tidurnya itu.


Qiao Rong sempat memikirkan apa saja yang akan ia katakan pada Shen Haofeng kalau ia bangun nanti. Namun ketika Shen Haofeng benar-benar bangun dan berada di hadapannya seperti saat ini, Qiao Rong merasa bahwa satu patah kata pun tidak bisa keluar dari bibirnya.


Untuk mengatasi rasa canggung setelah bertatap-tatapan selama beberapa menit, Qiao Rong menatap ke arah jendela untuk memperhatikan pemandangan bulan.


"Kau lihat itu?" Qiao Rong menunjuk ke arah jendela, tidak mengalihkan pandangannya dari arah bulan. "Sangat cantik ..." Mata Qiao Ring berbinar-binar.


Perlahan tangan Shen Haofeng meraih pipi Qiao Rong. Dengan cepat, Shen Haofeng memakaikan tusuk rambut yang sedari tadi berada di tangan kanannya ke rambut Qiao Rong. Qiao Rong segera mengalihkan perhatiannya dari jendela, kembali pada pria di sampingnya.


Qiao Rong memang tidak melihat saat pria itu memakaikan tusuk rambut tadi. Namun ia dapat merasakan beban yang bertambah di kepalanya. Sontak, ia langsung meraih tusuk rambut di kepalanya.


"Cantik." Shen Haofeng mengucapkan kata itu tepat pada wajah Qiao Rong.


Wajah Qiao Rong memerah seketika.

__ADS_1


"Kau ..." Qiao Rong kehilangan kata-katanya, namun ia tahu apapun yang ia katakan pasti Shen Haofeng hanya akan tersenyum padanya. Selalu membuat senyuman kecil yang tidak pernah diberikannya pada orang lain, senyuman yang membuat Qiao Rong jatuh cinta padanya.


Qiao Rong langsung memeluk pria itu.


"Apa yang akan kulakukan jika kau tidak bangun?" Kata-kata yang tadi tidak dapat ia keluarkan dari mulutnya sekarang keluar bertubi-tubi. "Dasar bodoh! Mengapa melakukan hal yang begitu berbahaya? Kalau aku tidak berhasil mendapatkan bunga api keabadian untuk membangunkanmu, harus bagaimana? Sekarang kau masih bisa tersenyum padahal semalaman aku khawatir setengah mati!" Qiao Rong berteriak di pelukan pria itu, mencurahkan seluruh isi hatinya dan seluruh kegelisahan yang menyiksanya.


"Maafkan aku, maafkan aku ..." Shen Haofeng berkali-kali mengucapkan kata maaf sambil memeluk Qiao Rong dengan lebih erat.


Jika harus jujur, ia tidak pernah takut akan kematian. Namun kini ia takut. Takut kalau tidak akan bisa bertemu lagi dengan wanita di pelukannya itu. Takut kalau akan meninggalkan Qiao Rong sendirian.


Tanpa Qiao Rong sadari, air matanya sudah turun membasahi pipinya. Namun setelah melawan air mata itu selama beberapa detik, kegelisahan dalam hatinya akhirnya membuatnya tidak bisa melawan keinginannya untuk menangis lagi.


Tangis Qiao Rong pecah, membuat Shen Haofeng khawatir dan langsung melepaskan pelukan itu. Shen Haofeng memegang wajah Qiao Rong dengan kedua tangannya. Ia sempat panik melihat air mata Qiao Rong yang berjatuhan. Shen Haofeng menggunakan ibu jari kanan dan kirinya untuk mengusap air mata Qiao Rong ke samping, membuat jermarinya menjadi basah.


"Maafkan aku ... Sekarang sudah tidak apa-apa, sudah tidak apa-apa ..." Shen Haofeng terus mengucapkan kata-kata itu, mengulang-ulang kata-katanya sambil memeluk Qiao Rong lagi, mengelus punggung wanita di pelukannya itu, berusaha menenangkannya.


"Jangan menangis. Dadaku sakit kalau melihatmu menangis," ujar Shen Haofeng yang sudah kebingungan sehingga mengatakan isi hatinya. Tangisan Qiao Rong menjadi berkurang setelah mendengar ucapan itu.


Walaupun masih sesenggukan, Qiao Rong dalam hati merasa senang. Pria yang sedang memeluknya itu dengan polosnya memberitahunya bahwa hatinya sakit. Qiao Rong melepaskan diri dari pelukan Shen Haofeng ketika tangisannya benar-benar reda. Namun melihat Shen Haofeng yang akhirnya tersenyum lagi setelah melihatnya berhenti menangis, membuat Qiao Rong kesal.


"Kenapa? Apakah aku jelek ketika menangis?" Qiao Rong bertanya dengan nada ketus.


"Bagaimana bisa? Kau tambah cantik kalau menangis." Shen Haofeng memperhatikan mata bengkak Qiao Rong dan pipinya yang memerah akibat menangis. Ia hanya mengatakan yang sejujurnya, menurutnya Qiao Rong kelihatan lebih imut setelah menangis.

__ADS_1


Qiao Rong memberinya sebuah tatapan tajam, lalu berjalan ke arah pintu.


__ADS_2