
"Apa?! Dia menolaknya?!" Nyonya Xu berteriak dengan sangat kencang saat mendengar berita itu dari anak sulungnya, Xu Yao. Nyonya Xu sangat kesal. Ia sudah memberikan begitu banyak hadiah lamaran, sekalian untuk pamer kepada warga desa mengenai keluarga mereka yang merupakan satu-satunya keluarga terpelajar di Desa Nanshan. Tidak terpikirkan sama sekali bahwa Qiao Rong akan menolaknya mentah-mentah.
"Benar sekali Ibu. Coba Ibu lihat baik-baik wanita itu, selain cantik, tidak ada lagi baiknya. Haruskah kita tetap memaksanya?" Xu Yao berbicara dengan hati-hati. Suasana Ibunya kini sedang tidak baik, sama saja seperti berbicara pada seekor harimau betina.
"Tidak bisa! Adikmu itu, sebentar lagi akan membawa nama baik keluarga, baru kali ini tertarik dengan wanita. Wanita itu, tidak mengertikah ia betapa beruntungnya menjadi anggota Keluarga Xu?!" Nyonya Xu membanting piring buah-buahan yang berada di atas meja.
"Tapi.. Ibu, katanya ia sudah bertunangan." Xu Yao berbicara dengan wajah khawatir. Jika benar sudah bertunangan, maka melamar pun akan menjadi hal yang memalukan.
"Haha! Bertunangan? Bagaimana mungkin aku tidak pernah mendengar acara pertunangan di desa kecil ini?" Nyonya Xu tertawa mengejek. Ia mengepalkan kedua tangannya, wanita mana yang berani menolak putranya?
"Lalu, kita harus bagaimana?" Tanya Xu Yao.
"Cari pria yang katanya adalah tunangannya. Cih! Mana ada pria di dunia ini yang akan menolak uang?"
*****
Hatchii!
Qiao Rong tiba-tiba bersin saat ia sedang duduk santai menikmati matahari terbenam. Sudah dua hari semenjak penolakan lamaran Keluarga Xu. Seluruh desa kini mengetahuinya. Bahkan kemarin Kepala Desa Zhu mengunjunginya dan menanyainya masalah lamaran itu. Kepala Desa Zhu berbicara panjang lebar mengenai Keluarga Xu yang menjadi begitu bangga karena putra kedua mereka yang akan segera mengikuti ujian provinsi.
Namun, kata-kata terakhir Kepala Desa Zhu tetap mengecewakan Qiao Rong.
"Setidaknya kalau kau menikahinya, kau akan mendapatkan kehormatan dan keuntungan walau hanya sebagai selir."
Qiao Rong merasa bahwa perkataan itu sangat lucu. Kapan ia, Qiao Rong tidak pernah hidup berkecukupan? Walau dayang-dayang istana begitu sinis dan penuh mata-mata, namun perlakuan mereka masih berada dalam batasan. Seorang cendekiawan yang begitu sombong hanya karena akan mengikuti ujian provinsi, menunjuknya tanpa tahu etika, bahkan Qiao Rong tidak tahu apa yang ia makan agar dapat seberani itu.
Chu Yue datang sambil membawa sebuah ember kecil berisi air hangat. Ia lalu membasuh kaki Qiao Rong dengan air itu seperti rutinitasnya sehari-hari.
"Yang Mulia.. bagaimana kalau Keluarga Xu datang kemari lagi? Mereka pasti akan mengetahui bahwa Shen Haofeng tidak ada disini." Chu Yue bertanya dengan khawatir.
__ADS_1
"Tentu saja itu akan terjadi." Qiao Rong menjawab dengan santai.
"Lalu.. apa yang harus kita lakukan?"
"Menunggu. Coba kau pikirkan? Bagaimana perasaan Nyonya Xu yang sombong itu kalau lamaran itu ditolak untuk kedua kalinya?" Qiao Rong tersenyum.
"Yang Mulia memang pintar. Maka mereka akan berada dalam situasi yang canggung. Mau melamar lagi, tidak akan ada muka. Memaksa untuk menikah, juga akan menyebabkan rumor." Chu Yue ikut tersenyum.
"Tentu saja. Kita tinggal menunggu mereka datang." Qiao Rong menjawab pelan sembari menikmati air hangat itu.
"Namun, Yang Mulia.. bagaimana dengan Shen Haofeng? Menurut hamba, suka ya bilang saja suka. Perasaan kan tidak ada yang bisa menebak." Mendengar Chu Yue yang berkata dengan begitu polosnya, Qiao Rong terbatuk-batuk.
"A-Ah? Mana mungkin aku menyukainya. Dan lagi, jika begitu apa yang harus kita lakukan dengan Su Xiao? Bajingan tengik itu, aku menyodorkannya ke Putri Lan saja mungkin dia sudah sangat senang hingga akan mati." Chu Yue mengangguk-angguk mendengar perkataan Qiao Rong.
Namun, dalam hatinya, Chu Yue sedikit meragukan kalimat pertama Qiao Rong. Semenjak Shen Haofeng pergi, Qiao Rong akan selalu duduk di kursi itu menunggu matahari terbenam. Karena melalui kursi itu ia bisa melihat dengan jelas keadaan di rumah Shen Haofeng, yang biasanya akan bersiap-siap membereskan rumah ketika matahari terbenam. Kalau bukan suka apa namanya? Akankah dia merindukannya sampai begitu parahnya?
Mereka tidak berbincang lagi setelah itu, dan Chu Yue pun selesai. Ia segera pergi ke dapur untuk memasak makan malam. Semenjak Shen Haofeng pergi, mereka memang sangat jarang makan daging. Qiao Rong melarang mereka membeli daging karena akan membuat warga desa curiga. Tidak ada dari mereka yang bekerja atau mempunyai ladang, sementara mereka dikenal sebagai pedagang yang bangkrut. Bila membeli daging buruan Shen Haofeng, tentu tidak akan ada masalah karena tidak ada yang melihat mereka bertransaksi.
Memikirkan tentang Shen Haofeng, Qiao Rong lama-lama menjadi frustasi. Kemana saja pria itu memangnya? Pria itu sangat misterius. Tapi Qiao Rong tidak bisa menentang fakta bahwa ia sama sekali tidak bisa merasakan aura qi dari pemuda itu. Hal itulah yang membuatnya selalu menurunkan kewaspadaannya di depan Shen Haofeng.
Qiao Rong tersenyum, lalu memejamkan matanya.
*****
"Yang Mulia! Yang Mulia!" Chu Yue lekas membangunkan Qiao Rong pagi itu.
"Ada apa?" Kata Qiao Rong lirih, ia masih saja menikmati alam mimpinya beberapa menit yang lalu. Setelah pindah ke Desa Nanshan, mimpi buruknya sudah jarang sekali muncul lagi, akhir-akhir ini kualitas tidurnya sangat meningkat.
"Mereka datang! Keluarga Xu datang seperti perkiraan anda!" Mendengar hal itu, Qiao Rong tersenyum. Ia akan memastikan para warga desa akan mendapat hiburan yang memuaskan hari ini.
__ADS_1
Qiao Rong pun bersiap-siap, berganti pakaian, memakai riasan sederhana, dan pergi keluar.
"Wanita licik! Di rumah itu tidak ada satu orang pun! Apa yang kau maksud dengan menipu kami?!" Xu Yao berteriak dengan keras di depan rumah Qiao Rong, warga desa yang penasaran pun berkumpul di sekeliling rumah Qiao Rong untuk menyaksikan.
Qiao Rong hanya tersenyum.
"Maksudku? Apa lagi yang bisa menjadi maksudku? Kakakku sudah menolak lamaran ini kemarin. Harusnya aku yang bertanya apa maksud kalian datang lagi hari ini?" Jawab Qiao Rong dengan nada santai.
"Kau.. kau.. dasar perempuan tidak tahu diuntung! Betapa malangnya anakku itu! Sekalinya ingin mengambil istri malah bertemu rubah betina!" Nyonya Xu mulai berpura-pura menangis untuk mendapat simpati warga sekitar.
Seorang nenek dari kumpulan warga tiba-tiba maju. "Anu, gadis kecil. Tidak baik menolak niat baik lamaran orang lain. Keluarga Xu juga adalah keluarga terpelajar, kau tidak akan kehilangan apa-apa kalau masuk ke dalam keluarga Xu." Kata nenek itu.
Qiao Rong hanya terkekeh.
"Niat baik? Bahkan aku belum pernah melihat atau berbincang dengan pria yang mereka maksud. Ingin melamar tapi malah membuat keributan dengan saudaraku di depan rumahku. Katakan, ini melamar atau memaksaku menjadi selir?" Qiao Rong mulai mengeluarkan jurusnya, ekspresi wajahnya saat ini sangat memelas dan matanya mulai berkaca-kaca.
Simpati warga sekarang lebih mengarah ke arahnya. Kepala Desa Zhu akhirnya maju. "Nyonya Xu, kalau ia bilang tidak mau ya sudahlah tidak mau. Anakmu itu, bisa mencari wanita lain. Siapa yang bisa menolaknya kalau ia sudah lolos ujian provinsi nanti?" Kepala Desa Zhu mencoba membujuk Nyonya Xu.
"Tapi.. tapi.. hiks... Pingluo kecilku yang malang itu, semenjak bertemu rubah ini, ia jadi mogok makan dan minum, bahkan belajar pun tak mau. Aku harus bagaimana?" Tangisan Nyonya Xu kedengarannya makin lama makin menyayat hati.
Qiao Rong lama-lama muak sendiri mendengar tangisan Nyonya Xu. Ia ingin segera mengakhiri drama ini dan kembali berkultivasi.
"Apa hubungannya denganku kalau begitu? Yang mogok makan dan minum adalah anakmu. Apa kau bisa menyalahkan Ibu dan Ayahku karena melahirkanku begitu cantik?" Mendengar Qiao Rong berkata begitu, Chu Yue bergidik. Siapa yang mau menyalahkan Kaisar?
Setelah berkata begitu, Qiao Rong langsung masuk bersama Chu Yue dan membanting pintu rumahnya. Ia tidak membiarkan Nyonya Xu berkata apapun lagi. Yang tersisa di luar kini hanyalah sekumpulan warga dan Nyonya Xu yang tercengang memandang pintu rumah Qiao Rong.
Wajah Nyonya Xu memerah. Ia beum pernah dipermalukan sampai seperti itu. Lihat saja, suatu hari pasti ia akan membalas perlakuan wanita itu nanti.
"Ibu, ayo pulang." Ajak Xu Yao yang menggenggam lengan Ibunya dan membantunya berdiri.
__ADS_1
Akan ada kabar buruk untuk adiknya hari ini.