
Putri Lan mendecak kesal. Di hari pernikahannya kemarin, ia malah disuguhi omelan ibunya.
Selir Wu menghabiskan banyak waktu untuk memarahinya karena menikah dengan putra kedua seorang jenderal.
"Putra pertama saja tidak pantas menjadi suamimu, apalagi putra kedua?! Apakah kau buta?!" Hanya itu inti dari omelan Selir Wu pada Putri Lan. Apalagi, Selir Wu juga menyuruhnya untuk menceraikan pria itu setelah menikah setahun.
Tentu ia kesal, namun ia sudah terlanjur mencintai pria itu. Jadi ia akhirnya hanya bisa menelan omelan itu dan kembali merasa gembira karena hari itu pernikahannya akan terlaksana.
Tapi siapa yang tahu?
Tidak hanya Su Xiao memandangi Qiao Rong sebelum pernikahan mereka dilaksanakan, bahkan setelah mereka sah menikah, suaminya itu tetap tidak melepaskan pandangan dari wanita itu.
Padahal, Putri Lan sudah susah payah memesan masker rong yang saat ini sedang menjadi buah bibir para wanita di Ibukota. Namun, bagaimana Qiao Rong yang dulunya sangat jelek sekarang menjadi sangat cantik?
Itu bahkan belum apa-apa, yang membuat Qiao Lan naik darah tentu adalah kejadian memalukan di malam pertamanya.
Su Xiao yang harus meladeni para pejabat dan minum banyak arak masuk ke dalam kamar pengantin mereka dalam kondisi mabuk. Dan justru karena keadaannya itulah, hal yang tidak pernah disangka oleh Putri Lan terjadi.
Bahkan saat Su Xiao melepas pakaiannya satu persatu, dan mulai menciumnya, Putri Lan masih sangat senang karena sedang diliputi perasaan gembira pengantin baru. Namun, tepat saat pelaksaan malam pertamanya itu, Su Xiao membisikkan nama Qiao Rong di telinga Qiao Lan.
Bagaimana bisa ia tidak marah? Ia langsung menampar suaminya itu. Su Xiao terlihat terkejut dan memarahinya dalam kondisi mabuk. Mungkin ibunya benar, Qiao Lan memang harus bercerai dari pria itu.
Betapa sakit hatinya ia kala Su Xiao membisikkan nama wanita lain di malam pertama mereka?
Namun ia hanya bisa menangis semalaman karena tidak bisa keluar dari kamar pengantin karena malu kepada para dayang. Apa yang akan seisi istana katakan kalau di malam pertama mereka, ia tidur terpisah?
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Su Xiao muncul dari belakang Qiao Lan dan memeluk wanita itu yang sedang menyisir rambutnya.
Su Xiao kelihatannya tidak ingat akan kejadian semalam, oleh karena itu Putri Lan hanya bisa tersenyum pahit. "Tidak apa-apa, ayo kita bersiap untuk memberi salam pada Ayahanda." Qiao Lan berdiri untuk membiarkan para dayang menyiapkan pakaiannya.
Su Xiao hanya mengangguk.
Setelah persiapan mereka selesai, mereka berdua segera berjalan ke arah aula istana. Namun mereka berdua tentunya akan segera dikejutkan dengan wajah tidak senang Kaisar, dan Jenderal Su yang sudah hadir dengan muka masam.
*****
Beberapa saat sebelumnya...
__ADS_1
Pagi itu Kaisar Qiao sudah siap duduk di atas tahta sambil membaca beberapa berkas masalah yang harus ia tangani.
Tiba-tiba ia Kaisar Qiao dikagetkan oleh kedatangan Pangeran Qin yang kelihatan terburu-buru dan langsung membungkuk hormat padanya.
"Berdirilah. Ada urusan apa kau datang kesini?" Tanya Kaisar dengan penasaran. Biasanya Pangeran Qin adalah orang yang pendiam dan tenang, jadi jarang ikut campur dalam urusan kerajaan.
"Ayahanda, apa hukuman untuk korupsi?" Mendengar perkataan Pangeran Qin, tentu Kaisar sangat terkejut.
"Eksekusi mati tujuh keturunan." Kaisar mengatakan dengan tegas. Walaupun sebenarnya Kaisar masih bingung atas maksud Pangeran Qin, tapi sepertinya putranya itu ingin menyampaikan suatu hal yang sangat penting.
Tiba-tiba, Pangeran Qin mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam lengan pakaiannya.
"Su Tianqing, penggelapan dana militer lima puluh koin emas, menjual jabatan, penggelapan senjata, jual beli tahanan perang.." Pangeran Qin lalu menyerahkan semua dokumen itu kepada Kaisar.
Kaisar tentu tidak bisa berkata-kata. Ia sangat syok dengan penemuan dokumen itu. Ia sudah sangat mempercayai Jenderal Su karena ayah pria itu dulu pernah membantunya naik tahta. Tidak disangka kepercayaannya itu dikhianati mentah-mentah.
Wajah Kaisar kini sudah berubah masam dan memerah.
"Panggil Su Tianqing kemari sekarang juga!" Teriakan Kaisar menggema di seluruh aula istana.
Pangeran Qin hanya bisa tersenyum kecil diam-diam.
"Su Tianqing!! Beraninya kau! Tidak kusangka selama ini kau begitu lancang!!" Begitu melihat dokumen-dokumen di tangan Kaisar, Jenderal Su sudah mengetahui bahwa inilah akhir dari riwayatnya.
"Mohon ampun Yang Mulia! Hamba.. Hamba hanya dibutakan oleh keuntungan sesaat! Mohon Yang Mulia mempertimbangkan kesetiaan dan jasa saya dan ayah saya!" Jenderal Su hanya bisa bersujud dan memohon-mohon pada Kaisar untuk tidak menghukumnya.
Namun, perkataannya itu malah tambah membuat Kaisar marah.
"Pertimbangkan jasa ayahmu kau bilang?! Kau bahkan hanya memenangkan satu perang berskala kecil, dan aku langsung mengangkatmu menjadi jenderal! Lalu apa ini?! Inikah balasan yang kudapatkan?!" Kaisar melempar kertas-kertas itu dengan kasar hingga banyak yang mendarat di depan wajah Jenderal Su.
Jenderal Su hanya bisa memandang Pangeran Qin dengan penuh kebencian. Ia juga sebenarnya tidak tahu kenapa Pangeran Qin akan berbuat seperti itu padanya. Padahal Putri Lan baru saja menjadi bagian dari Keluarga Su kemarin.
"Pangeran Qin, apakah kau tidak—" Namun belum sempat Jenderal Su menyelesaikan kata-katanya, Kaisar yang diliputi emosi segera berteriak.
"Kepala Kasim Qi! Su Tianqing, pejabat korup, eksekusi mati untuk seluruh keluarganya lima hari lagi!" Mendengar itu, Jenderal Su berteriak-teriak memohon ampun hingga suaranya serak dan tidak bisa berbicara lagi. Namun hati Kaisar yang sudah terisi penuh dengan amarah tidak tergerak sedikitpun, ia lebih fokus memijat-mijat kepalanya yang sakit.
Kepala Kasim Qi hanya mengangguk dan nulai menuliskan dekret Kaisar yang nantinya akan ia antar ke Kediaman Su.
__ADS_1
Kaisar merasa seperti sudah melupakan sesuatu, namun karena ia merasa sangat kesal pada Jenderal Su, ia tidak menghiraukan perasaannya itu.
Hingga akhirnya..
"Ayahanda?" Suara Putri Lan terdengar dari ujung aula istana. Kaisar pun membeku.
Dari kejauhan, derap kaki menandakan prajurit istana datang. Mereka segera memenuhi ruangan dan menyeret Jenderal Su yang masih tidak terima.
Tentu Putri Lan dan Su Xiao segera panik dan berteriak ketika para prajurit menyeret mereka berdua juga.
"Ayahanda! Ada apa ini?! Kakak!!" Qiao Lan berusaha melawan sekuat tenaga, hingga para prajurit mulai kewalahan.
Melihat itu, Kaisar segera berdiri dari tahtanya dan hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia lupa bahwa putrinya itu baru kemarin bergabung dengan Keluarga Su?
Sekarang Keluarga Su akan dijatuhi hukuman mati. Bukankah Putri Lan juga akan terlibat? Kaisar kini merasa marah dengan dirinya sendiri yang bisa-bisanya melupakan hal itu karena diliputi oleh amarah.
Sementara itu, Pangeran Qin yang melihat Putri Lan hanya bisa terdiam. Ia diam seribu kata dan hanya memperhatikan reaksi Kaisar yang tidak rela putrinya diseret prajurit kerajaan yang kini mengepung wanita itu sehingga ia tidak bisa melawan lagi.
Oh tidak. Batin Kaisar.
*****
"Bagus." Qiao Rong lalu menuangkan secangkir teh untuk Pangeran Qin yang kini sedang duduk di seberangnya.
Tentu Qiao Rong sudah sangat puas dengan kenyataan bahwa Putri Lan kini sudah mendekam di penjara dan hanya tinggal menunggu hukuman matinya.
Pangeran Qin hanya tersenyum dan meniup teh yang ada di dalam cangkir itu.
"Tidak kusangka kakak begitu hebat dapat mengumpulkan bukti yang begitu banyak." Qiao Rong memuji Pangeran Qin.
Tetapi, Pangeran Qin kembali tersenyum. "Adik terlalu memuji, sebenarnya aku tidak mengumpulkan semua itu sendiri. Ada orang misterius yang menumpukkan dokumen-dokumen bukti kejahatan itu di mejaku pagi ini. Kukira itu perbuatan adik?" Kini Pangeran Qin justru bertanya dengan kebingungan kepada Qiao Rong.
"Oh?" Qiao Rong terkejut. Siapa kira-kira orang yang mengetahui rencananya dan membantunya? Qiao Rong tidak bisa memikirkan siapapun. Bagaimanapun juga, yang mengetahui mengenai hal ini hanyalah ia dan Pangeran Qin.
Namun melihat Pangeran Qin menunggu jawabannya dengan penasaran, Qiao Rong tidak bisa membiarkan Pangeran Qin meragukan kesepakatan mereka. Qiao Rong tentu tidak bisa memberi kesan bahwa ia membocorkan rencana mereka pada pihak ketiga.
Oleh karena itu Qiao Rong hanya menjawab dengan singkat.
__ADS_1
"Ya tentu." Ucap Qiao Rong sambil menampilkan senyum khasnya itu.