
Qiao Rong memandang Shen Haofeng dari kejauhan untuk terakhir kalinya. Pagi-pagi itu, mereka sudah berangkat dalam kereta kuda yang sudah disiapkan Duan Yi. Lama-lama bayangan tubuh Shen Haofeng mulai menghilang karena bergantinya pemandangan dari dalam kereta. Qiao Rong menghela napas. Ia merasa akan sangat merindukan pemuda itu dan ekspresi datarnya.
Mereka sudah berpamitan dengan para warga desa, dan juga Kepala Desa Zhu. Hanya Keluarga Xu yang sama sekali tidak tahu mereka akan pergi. Sebenarnya Qiao Rong sangat ingin melihat ekspresi wajah Xu Fang Yin ketika tahu mereka akan pergi. Akankah dia marah, atau malah senang?
Sementara itu, di tempat Shen Haofeng berdiri, Jiang Junwei sudah datang menggunakan Bayangan Bulan seperti biasanya. Jiang Junwei membungkuk dan mengepalkan kedua tangan di depan dadanya.
"Yang Mulia." Sapa Jiang Junwei.
"Kita juga harus kembali." Shen Haofeng berbicara singkat. Jiang Junwei pun mengangguk, dan mereka berdua kembali menghilang dengan Bayangan Bulan.
*****
Begitu sampai di istana keesokan harinya, Qiao Rong langsung menuju ke Paviliun Yun untuk membereskan pakaian dan benda-benda lainnya. Begitu selesai, ia langsung mandi dan dirias oleh para dayang untuk menghadap Kaisar di aula.
Qiao Rong bersama dengan barisan dayangnya pergi ke aula dengan terburu-buru. Begitu sampai di aula, Qiao Rong langsung berlutut di hadapan Kaisar.
"Ah, kau sudah kembali rupanya. Bagus. Kau kembali tanpa terluka." Kaisar memandang Qiao Rong dan menyuruhnya berdiri.
Qiao Rong pun berdiri dan menjawab Kaisar, "Ayahanda terlalu khawatir padaku."
Mendengar jawaban Qiao Rong, Kaisar hanya tertawa. Padahal bagus kalau keretanya tidak sengaja bertemu perampok atau bandit di jalan. Setidaknya Keluarga Kerajaan tidak akan mempunyai aib yang begitu memalukan. Orang yang tidak memiliki roh pelindung biasanya adalah masyarakat biasa yang tidak memiliki kultivasi, namun untuk seseorang dari Keluarga Kerajaan, sungguh memalukan.
"Ayahanda. Hari ini Putri kesini ingin meminta ijin ayahanda.." Qiao Rong berhenti berbicara sejenak, Kaisar pun memberinya tanda untuk melanjutkan perkataannya. "Putri ingin mengikuti Kompetisi Empat Musim di Ibukota." Qiao Rong lalu membungkukkan badannya.
Mendengar hal tersebut, tentu Kaisar menjadi sangat terkejut. Qiao Rong yang tidak memiliki roh pelindung bahkan ingin mengikuti kompetisi yang biasanya juga diikuti oleh Putri Lan. Apakah ia ingin menjadikan dirinya bahan olokan yang lebih besar lagi?
Namun dipikir-pikir, Kaisar juga tidak akan rugi kalau Qiao Rong tidak sengaja terbunuh dalam kompetisi tersebut. Ia masih bisa menyatakan bahwa kematian Qiao Rong merupakan sebuah resiko dari kompetisi. Dengan begitu aib Keluarga Kerajaan akan sepenuhnya menghilang.
"Baiklah, lakukan sesukamu." Kaisar tidak perlu berpikir dua kali.
"Terimakasih atas kepercayaan Ayahanda." Setelah Qiao Rong mengucapkan terimakasih, ia segera memberi hormat pada Kaisar dan mengundurkan diri kembali ke Paviliun Yun.
__ADS_1
Yang menunggu Qiao Rong di Paviliun Yun, tentu adalah Selir Shu. Selir Shu sudah menunggu Qiao Rong dengan khawatir di halaman Paviliun Yun. Sembari meneguk tehnya, ia menanti Qiao Rong dengan tidak sabar.
Begitu melihat Qiao Rong dari kejauhan, Selir Shu segera berlari dan memeluk putrinya itu. "Oh, Ibu sangat merindukanmu!" Selir Shu mempererat pelukannya.
Qiao Rong balas memeluk Selir Shu, sudah lama ia tidak menerima pelukan seorang Ibu. Walaupun Selir Shu memang bukan Ibunya, namun dengan identitasnya sekarang ini, dia ingin sekali menerima pelukan itu.
"Aku juga merindukan Ibu." Balas Qiao Rong.
"Mari kulihat, apakah kau makan dengan lahap disana? Sepertinya kau kurusan." Selir Shu memandangi Qiao Rong dengan khawatir dan melihat gadis itu berkali-kali dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Sungguh, makanan Chu Yue bahkan lebih lezat dari Juru Masak Istana." Qiao Rong terkekeh, namun dia memang mengatakan yang sejujurnya. Selir Shu ikut tersenyum mendengar kekehan Qiao Rong.
Mereka berdua lalu lanjut berbincang di halaman seperti biasa. Qiao Rong menceritakan pengalaman-pengalamannya saat di Desa Nanshan, misalnya saat dia dan Duan Yi pergi ke Restoran Wanmei. Namun tentu saja, Qiao Rong menghilangkan Shen Haofeng dari semua bagian ceritanya. Untuk sekarang ini, Shen Haofeng akan menjadi sebuah rahasia manis baginya sampai ia menyingkirkan Su Xiao.
Selir Shu sangat senang mendengar cerita-cerita Qiao Rong. Hubungan mereka dari dulu memang sudah sangat dekat karena Selir Shu adalah satu-satunya orang selain Chu Yue yang dapat Qiao Rong andalkan.
Chu Yue juga ikut tersenyum sambil menyajikan teh dan camilan untuk mereka. Chu Yue juga tahu Qiao Rong tidak akan semudah itu menceritakan tentang Shen Haofeng karena status tunangannya yang sekarang.
Qiao Rong akhirnya bisa bersantai, makan, dan mandi air panas untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah perjalanan panjang kembali ke Istana.
Setelah selesai berelaksasi, Qiao Rong langsung membaringkan dirinya di atas ranjang. Ia merasa tubuhnya sudah cukup segar. Tiba-tiba suara Li Junyan terdengar.
"Master, apa rencanamu kali ini?" Tanya Li Junyan dengan penasaran.
Qiao Rong tersenyum.
"Apakah kau tahu kenapa Su Xiao tidak mau menikah dengan Qiao Rong?" Tanya Qiao Rong.
"Karena Qiao Rong tidak memiliki roh pelindung?" Mendengar jawaban Li Junyan, Qiao Rong menggelengkan kepalanya.
"Su Xiao adalah tipe pria yang suka pada wanita penurut. Apalagi wanita yang bisa ia dominasi. Alasan sebenarnya adalah karena salah satu dayang Qiao Rong pernah memberi bukti pada Qiao Rong bahwa Su Xiao suka bermain dengan banyak perempuan di luar sana. Bukti itu masih Qiao Rong simpan sampai sekarang." Qiao Rong menjelaskan dengan panjang lebar.
__ADS_1
Li Junyan mengernyitkan alisnya, "Tapi kenapa dia memilih Qiao Lan? Bukankah temperamennya itu sangat berkebalikan dari tipenya?" Tanya Li Junyan.
"Karena anak laki-laki pertama Jenderal Su, akan menggantikan ayahnya menjadi jenderal. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk menyaingi kakaknya adalah menjadi menantu Kaisar." Jawab Qiao Rong.
Mendengar perkataan Qiao Rong yang masuk akal, Li Junyan hanya mengangguk-angguk.
"Eh, Li Junyan, apakah ada pihak yang lebih tinggi dari Kaisar?" Qiao Rong bertanya pada Li Junyan sebagai persiapan dari rencananya.
"Ah, tentu ada. Aku sudah memberitahumu mengenai perang seribu tahun yang lalu bukan? Selama delapan ratus tahun, perang itu menghancurkan banyak pihak. Oleh karena itu, para kultivator banyak yang tidak tinggal diam. Mereka meredam perang dengan membuat tiga sekte. Sekte Langit, Sekte Matahari, dan Sekte Bulan. Ketiganya memiliki pemimpin tersendiri. Selama dua ratus tahun mereka memimpin kedamaian. Namun akhir-akhir ini ada suatu perpecahan antara para sekte. Raja Langit yang memimpin Sekte Langit mulai menyerang Sekte Matahari dan Sekte Bulan yang memang sudah bertentangan dari dulu. Hal itu menyebabkan ketidakseimbangan." Li Junyan menjelaskan tanpa henti.
Qiao Rong mengangguk mengerti. "Lalu dari antara mereka siapa yang paling kuat?" Tanya Qiao Rong dengan penasaran.
"Tidak ada informasi mendetail mengenai hal itu sayangnya. Namun Raja yang memiliki paling banyak pengaruh adalah Raja Matahari. Sementara Raja Bulan terlalu misterius. Namun bahkan para Kaisar harus memberi hormat pada mereka, bukankah hal itu sangat lucu." Li Junyan tersenyum.
Qiao Rong juga merasa begitu. Ia tidak bisa membayangkan melihat Kaisar Qiao yang biasanya begitu bangga terhadap dirinya sendiri yang duduk di atas singgasana, harus membungkuk pada orang lain. Qiao Rong tertawa kecil.
*****
"Yang Mulia, Raja Matahari sudah begitu lancang dengan meracuni anda! Kita seharusnya segera berperang!" Salah satu tetua yang duduk di meja bundar mengungkapkan ketidaksenangan hatinya.
Namun pria bertopeng yang dijuluki 'Yang Mulia' itu hanya mengetuk-ngetuk tangannya diatas meja itu.
Seorang pria di sampingnya dengan aksesoris bulan perak di dadanya angkat bicara, "Lancang! Bahkan Yang Mulia tidak memberitahu siapapun mengenai hal itu. Bagaimana kau mengetahuinya?"
Pria bertopeng yang sedang duduk itu tiba-tiba berdiri dan dengan secepat kilat, leher tetua itu sudah ia cekik ke tembok.
"A-Ampun.. Yan-ng Mu-lia.." Tetua yang berusia paruh baya itu memohon pada pria bertopeng itu untuk melepaskan cengkeraman lehernya dengan terbata-bata karena ia kesulitan bernapas.
Namun, pria bertopeng itu tetap mencekiknya. Dalam sekejap, tubuh tetua yang sudah tidak bernyawa itu jatuh ke lantai. Tetua lainnya yang berada di meja bundar menatap mayat itu dengan ekspresi datar, namun tidak bisa dipungkiri bahwa bulu kuduk mereka berdiri karena ngeri.
"Jadikan ini pelajaran." Pria bertopeng itu lalu mengambil sebuah kain basah dari seorang pria lainnya dan mengelap tangannya.
__ADS_1