Abandoned Princess

Abandoned Princess
Qiao Rong


__ADS_3

Gelap.


Sekeliling Qiao Rong menjadi gelap kembali seutuhnya.


Namun sebuah hembusan angin yang sangat kencang yang datang entah darimana di dalam ruangan gelap itu tiba-tiba muncul. Qiao Rong langsung menutupi matanya dengan lengannya dari hembusan angin yang sangat kencang itu.


Saat ia membuka mata, ia sudah bukan Qiao Rong lagi.


Ia memakai baju yang ia gunakan persis sebelum ia meloncat dari tebing, dan masuk ke dalam tubuh Qiao Rong.


Bahkan model rambut, dan rasa yang sudah lama tidak dirasakannya. Ia kini adalah Li Wenhua lagi.


Li Wenhua mengerjap-ngerjapkan matanya, namun begitu ia melihat sesosok wanita di depannya, ia menjadi kebingungan.


"Siapa kau?" Qiao Rong. Wanita di depannya itu dari wajah sampai bentuk tubuhnya persis Qiao Rong. Seluruh penampilannya meneriakkan nama Qiao Rong.


"Kau sudah tahu." Wanita itu tersenyum lembut. Qiao Rong. Wanita itu memang benar Qiao Rong.


"Tapi ... bukankah kau seharusnya sudah?" Wafat. Li Wenhua tidak tega menyebutkan kata itu di hadapan wanita di depannya ini. Sebagai seseorang yang mengetahui dengan jelas seluruh ingatan Qiao Rong, ia tidak tega membuat wanita itu mengingat kembali masa hidupnya yang dipenuhi kesedihan.


"Roh ini ... hanyalah sebuah sisa kesadaran dari lingkaran reinkarnasi yang berulang kali terjadi." Lagi-lagi Qiao Rong tersenyum.


"Apa maksudmu?" Li Wenhua menatap Qiao Rong dengan kebingungan.


"Apakah menurutmu, kau memasuki tubuhku adalah sebuah kebetulan?" Qiao Rong menatap Li Wenhua dengan serius kali ini.


"Bukankah itu sudah diatur oleh Kitab Yin Yang?" Li Wenhua membalas perkataan Qiao Rong dengan sedikit ragu.


"Kitab Yin Yang memilihkan tubuh dan jiwa yang paling sesuai." Qiao Rong tersenyum, lalu melanjutkan, "Aku, adalah sebuah jiwa malang yang terus-menerus terjebak dalam lingkaran reinkarnasi dengan karma yang sama. Oleh karena itu, Kitab Yin Yang memberikan keseimbangan pada jiwaku dengan menempatkan jiwamu dalam tubuhku." Ekspresi Qiao Rong sangat sulit untuk di baca.


Entah sedih, atau senang, atau bahkan kecewa. Li Wenhua bahkan tidak pernah melihat ekspresi semacam itu sejak saat pertama kali ia memutuskan untuk menjadi Qiao Rong.

__ADS_1


"Aku akan segera hilang sepenuhnya dari tubuh ini. Bereinkarnasi lagi-lagi-dan lagi." Qiao Rong tersenyum pahit.


Li Wenhua mengernyitkan alisnya. Ia memang percaya dengan adanya kehidupan selanjutnya sedari kecil. Namun dengan menyaksikan sebuah roh langsung seperti ini ...


"Aku sudah membalaskan dendam mu," kata Li Wenhua pada Qiao Rong.


Namun Li Wenhua tidak pernah menyangka, bahwa Qiao Rong yang selama ini ada di ingatannya adalah seorang gadis yang naif dan polos ... ternyata bisa membuat sebuah ekspresi rumit yang bahkan tidak ia mengerti.


"Kau melakukannya." Qiao Rong tersenyum. "Namun belum semuanya." Lagi-lagi, senyuman Qiao Rong berubah kembali menjadi sebuah senyuman pahit.


"Apa maksudmu?" Li Wenhua bertanya dengan kebingungan, namun sesaat, Qiao Rong diam seribu kata.


"Waktuku hanya sebentar lagi. Kemudian kau akan menyatu sepenuhnya dengan tubuh ini." Qiao Rong menatap Li Wenhua dalam-dalam. "Keinginanku yang sebenarnya bukanlah membalaskan dendam terhadap orang-orang yang tidak manusiawi itu!" Tiba-tiba suara lantang keluar dari sosok wanita yang polos itu.


Li Wenhua harus mengakui bahwa dirinya terkejut melihat Qiao Rong menjadi marah seketika.


"Dendam yang harus kau balaskan adalah kepada iblis yang sesungguhnya!" Qiao Rong mulai menangis. "Dialah yang sudah membuatku mengalami lingkaran nasib yang sama, apa kau mengerti?! Aku terjebak dalam kehidupan malang entah sudah yang ke berapa kalinya. Kau hanya harus membunuhnya." Kalimat terakhir Qiao Rong tidak lagi mengandung amarah. Ia memohon. Memohon kepada Li Wenhua.


Memohon atas permohonan yang bahkan tidak diketahui oleh Li Wenhua sendiri.


"Ingatlah baik-baik. Perang seribu tahun yang lalu." Hanya itu pesan terakhir yang di dapat Li Wenhua.


*****


"Hah ... hah ..." Qiao Rong terbangun dengan keringat dingin. Ia langsung mengecek rupa dirinya. Namun, bagaikan semuanya memang hanya mimpi, Li Wenhua kini kembali menjadi Qiao Rong.


Sementara itu, Qiao Rong baru sadar bahwa di sebelahnya, sudah ada Chu Yue yang menangis dengan kencang.


"Profesor?" Satu per satu wajah yang ada di sekitarnya berhasil dikenali oleh Qiao Rong. Namun ia kebingungan, ada apa hingga semua profesor menatapnya dengan pandangan khawatir di dalam kamarnya?!


"Kakak! Hiks!" Wajah Chu Yue yang terlihat panik tambah membuat Qiao Rong kebingungan. Untungnya wanita itu tetap ingat untuk memanggilnya 'kakak' selama berada di akademi.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Qiao Rong menatap ke sekelilingnya dengan kebingungan. Namun Chu Yue malah memeluknya dengan erat.


"Kau sudah 3 hari tidak bangun dari tidurmu. Sudah segala cara dan setiap profesor mencoba dengan tekniknya masing-masing. Tapi kau tetap tidak bangun. Syukurlah kalau kau sekarang baik-baik saja." Profesor Luo menggeleng-gelengkan kepalanya, namun wajahnya terlihat lega.


Mereka hampir saja kehilangan satu-satunya murid kelas satu di Akademi Bulan Sabit.


Kalau itu bukan hal yang menggemparkan, lalu apalagi?


3 hari ... Qiao Rong membatin. Selama itukah ia berbincang dengan roh Qiao Rong yang asli? Walaupun sangat tidak masuk di akal menghabiskan waktu 3 hari hanya demi sebuah perbincangan singkat, namun sakit kepala yang Qiao Rong rasakan sekarang menghentikannya dari rasa penasaran berlebihan.


Qiao Rong menghela napas.


"Kalau begitu, saya percaya ini saatnya kita pergi." Profesor Tang berbicara, diikuti anggukan dari profesor lainnya.


"Nona Hua, kalau ada yang anda butuhkan, bisa langsung mencari saya." Profesor Yun tersenyum lembut pada Qiao Rong.


"Tentu, profesor." Qiao Rong membalas senyumnya.


Tepat setelah seluruh profesor pergi dan pintu kamar di tutup, Chu Yue perlahan melepaskan pelukannya.


"Yang Mulia! Hiks! Saya benar-benar khawatir!" ucap Chu Yue sambil menyeka airmatanya dengan sebuah kain.


"Tenang, aku baik-baik saja." Qiao Rong tersenyum lembut kepada Chu Yue sambil mengelus kepala wanita itu.


"Tapi, anda harus ingat untuk segera meminta herba kepada Profesor Yun kalau terjadi apa-apa. Kelihatannya Profesor Yun sangat baik." Chu Yue mengingat kembali perkataan Profesor Yun sebelum keluar tadi.


"Baiklah." Walaupun masih merasa sakit kepala dan pusing, Qiao Rong hanya membiarkan perkataan Chu Yue begitu saja.


Namun, kalau pun Profesor Yun bukan orang yang berbahaya, Qiao Rong ingin tetap berjaga-jaga.


"Chu Yue ... " Qiao Rong memanggil Chu Yue dengan lirih karena suaranya masih lemas.

__ADS_1


"Ya, Yang Mulia?" Chu Yue menatap Qiao Rong.


"Hati-hati. Aku mencium bau Cacing Gu dari Profesor Yun."


__ADS_2