Abandoned Princess

Abandoned Princess
Pertemuan Darurat


__ADS_3

Qiao Rong baru saja menyentuh gagang pintu ketika sebuah tangan dari belakang dengan cepat mendarat di pintu, tepat di sebelah kanan pipinya. Qiao Rong segera membalikkan badannya, bertatapan langsung dengan wajah Shen Haofeng yang begitu dekat dengan wajahnya.


"K-kau ..." Ucapan Qiao Rong menjadi terbata-bata karena ia terkejut. Tapi ia bisa menjamin bahwa degupan jantungnya yang cepat saat ini bukan karena terkejut.


"Mengapa buru-buru keluar?" ujar Shen Haofeng, bertanya dengan lembut. Namun selembut apapun nada bicaranya, Qiao Rong merasa bahwa ucapannya seperti nada menggoda.


"K-kau sudah bangun jadi harus memberitahu— Uhm!" Bibir dingin pria itu menghentikan Qiao Rong dari melanjutkan pembicaraan. Qiao Rong merasakan bahwa udara di sekitarnya semakin panas, seolah-olah suhu di dalam ruangan itu menurun secara drastis. Ia berusaha memberontak, namun entah kenapa pria itu menciumnya dengan begitu ganas, seolah-olah ciuman mereka yang sebelum-sebelumnya hanyalah permainan anak kecil belaka.


Qiao Rong akhirnya menyerah, ia menarik kembali tenaga dari tangannya yang sedari tadi mencoba mendorong tubuh Shen Haofeng. Tubuh kekar pria itu tidak terpengaruh sama sekali sekeras apa pun ia mencoba.


*Brakkk*!


"Yang Mulia!" Suara pintu yang terbuka dengan kencang itu disertai dengan suara khawatir milik Jiang Junwei. Mata Qiao Rong membelalak, namun Shen Haofeng tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan ciuman mereka.


Jiang Junwei sebelumnya sudah mengantisipasi sosok Shen Haofeng yang sedang terbaring lemah di atas kasur, atau duduk dengan lemas dan wajah pucat, namun pemandangan yang dilihatnya saat ini sangatlah jauh berbeda dari seribu dugaannya.


Jiang Junwei terpaku seperti batu. Sebelum akhirnya beberapa detik kemudian, ia segera menutup kedua matanya dan berlari keluar secepat ia masuk sambil berteriak, "Maaf menganggu!"


Dengan sekuat tenaga, Qiao Rong menggigit bibir pria itu hingga Qiao Rong dapat ikut merasakan rasa darah di dalam mulutnya. Shen Haofeng yang terkejut sontak mundur dan menyentuh bibirnya dengan ibu jari kanannya. Melihat kesempatan terbuka dengan lebar, Qiao Rong langsung berlari keluar dengan wajah semerah tomat.

__ADS_1


Jiang Junwei yang sedari-tadi menunggu di belakang pintu akhirnya memberanikan dirinya untuk masuk ke ruangan begitu melihat Qiao Rong berlari keluar dengan terbirit-birit. Di dalam ruangan, Jiang Junwei hanya melihat Shen Haofeng yang berdiri dengan wajah tercengang sambil mengusap darah yang mengalir dari bibirnya.


"Yang Mulia! Bibirmu!" Namun begitu melontarkan kalimat itu, Jiang Junwei langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Ia mulai merutuki kebodohannya. Untuk apa ia bertanya? Jelas-jelas tunangan tuannya itu yang menyebabkan bibir tuannya terluka.


"Dia ... menggigitku?" Shen Haofeng tersenyum tidak percaya. Sepertinya kejadian hari ini harus dia tuntut balasannya di waktu yang akan mendatang.


Shen Haofeng mengalihkan pandangannya ke arah Jiang Junwei. Ia memelototi pria itu dengan tajam, seolah penuh dendam. Melihat tingkah laku tuannya itu, Jiang Junwei mulai berkeringat dingin.


"Y-Yang Mulia... Ekhem! Nona Qiao menggunakan bunga api keabadian yang ia menangkan dari perlombaan di akademi untuk menyembuhkan anda." Jiang Junwei memberanikan dirinya untuk berbicara walaupun ia tahu bahwa setelah ini dirinya akan mendapat begitu banyak hukuman.


Shen Haofeng terdiam. Secercah perasaan bersalah meliputi dirinya. Ia tidak pernah merasakan perasaan-perasaan semacam ini lagi semenjak kakeknya meninggal dunia. Qiao Rong menurutnya, adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasakan begitu banyak hal. Misalnya perasaan tidak tahu apa yang harus ia lakukan yang ia rasakan saat melihat Qiao Rong menangis tadi.


Atau perasaan ingin mencium tunangannya itu. Disaat selama ini ia berpikir bahwa keinginan duniawi hanyalah hal yang tidak berguna dan hanya memperlambat seseorang untuk mendapatkan ambisinya, Qiao Rong muncul dan membuktikan bahwa hal itu salah. Kalau tidak ada Qiao Rong, kecil kemungkinan nyawanya akan terselamatkan hari ini.


"Ekhem! Yang Mulia... Eh... Raja Matahari mengadakan pertemuan darurat di Istana Huiyi dengan seluruh perwakilan sekte. Kabar mengenai siluman itu telah beredar, kehadiran anda diperlukan segera. Mereka sudah menunggu sejak kemarin."


*****


Pemandangan di Istana Huiyi kali ini berbeda jauh dengan pemandangan yang terlihat beberapa bulan yang lalu sejak kunjungan Shen Haofeng terakhir kali. Hampir seluruh sudut Istana Huiyi dipenuhi dengan tetua-tetua yang merupakan perwakilan dari seluruh sekte yang ada di dunia. Shen Haofeng berdecak sebal. Ia selalu membenci keramaian.

__ADS_1


Dari depan Istana Huiyi bahkan sampai di depan pintu aula utama, semua orang yang ada membungkukkan tubuh mereka ke arah Shen Haofeng sebagai tanda hormat. Raja Bulan memang sangat mencolok akibat pakaian dan jubahnya, serta topeng yang menjadi ciri khasnya itu.


Bagi perwakilan seluruh sekte-sekte lainnya, Raja Matahari, Raja Bulan, dan Raja Awan merupakan tiga orang yang wajib mereka perlakukan dengan hormat sebagai tiga orang terkuat, sekaligus pemimpin tiga sekte terbesar.


Aula utama Istana Huiyi bahkan lebih ramai lagi, dengan banyak orang yang berdiskusi dengan wajah yang penuh ketakutan dan kekhawatiran. Namun bahkan disaat seperti ini, Raja Matahari dapat terlihat dengan mudah berkat pembawaannya yang tenang dan berwibawa.


Begitu melihat kehadiran dua pria berjubah hitam dari pintu aula, Raja Matahari mengambil alih keadaan dan menyuruh semua perwakilan sekte untuk duduk diam.


"Sejak satu tahun yang lalu, sudah banyak kejadian aneh yang disebabkan oleh Sekte Awan. Mereka mulai mengirim pasukan ke seluruh penjuru negeri. Bahkan punya keberanian hebat untuk mengusik perdamaian ketiga sekte besar! Dengan munculnya asap kegilaan hitam beberapa bulan yang lalu, dan serangan dari siluman yang dialami oleh Raja Bulan saat berperang dengan pasukan Sekte Awan... Kami percaya bahwa Sekte Awan sudah bekerja sama dengan Raja Iblis!"


Setelah Lu Guang berhenti berbicara, aula utama menjadi gaduh kembali.


"Raja Iblis telah kembali?!"


"Ia pasti ingin membalaskan dendam dari kekalahannya lima ratus tahun yang lalu!"


"Apakah tidak ada cara untuk menghentikannya?"


Shen Haofeng perlahan berjalan ke samping Raja Matahari.

__ADS_1


"Ada satu cara untuk menghentikannya. Perang. Sekarang." Begitu kata-kata itu terucap dari bibirnya, aula itu menjadi hening seketika.


"Raja Iblis pasti merasuki salah seorang figur hebat di Sekte Awan. Selama ia masih terjebak di tubuh fana itu, kita dapat membunuhnya dengan mudah bersamaan dengan esensi murninya. Sekarang, adalah waktu yang tepat. Namun apabila ia menyerap lebih banyak energi negatif manusia dan mendapatkan kontrol untuk menggunakan tubuh aslinya di sini, maka dunia ini akan menjadi Neraka yang kedua." Shen Haofeng menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Pertanyaannya adalah, apakah kita siap?"


__ADS_2