Abandoned Princess

Abandoned Princess
Cemburu


__ADS_3

"Shen Haofeng!" Qiao Rong memanggil pria itu dari belakang.


Shen Haofeng segera membalikkan badannya. Dibalik topeng, wajahnya sudah menampilkan raut wajah terkejut karena melihat Qiao Rong berlari ke arahnya dengan air mata bercucuran.


Gadis itu langsung memeluknya tanpa berkata-kata lagi. Sambil terisak, pelukan Qiao Rong terasa makin erat.


Shen Haofeng hanya tersenyum sambil mengelus punggung gadis itu perlahan.


"Apa yang membuatmu sedih?" Tanyanya dengan lembut.


"Kau! Hiks.." Qiao Rong kelihatan kesal.


"Eh?" Shen Haofeng kebingungan. Ia memberi gadis itu sebuah hadiah, apakah itu juga salah?


"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau baru keluar dari hutan saat berumur tiga belas tahun? Apakah kau berniat menikahiku tanpa memberitahuku apapun?" Ujar Qiao Rong dengan kesal.


Shen Haofeng bahkan tidak perlu berpikir untuk dapat mengetahui siapa yang memberitahu Qiao Rong mengenai masa lalunya.


Jiang Junwei.


Lihat saja hukuman apa yang akan didapat pria malang itu nanti karena salah bicara.


"Aku sudah berniat memberitahumu." Shen Haofeng melepaskan dirinya dari pelukan Qiao Rong dan berdiri membelakangi gadis itu. Shen Haofeng sama sekali tidak bisa berbohong. Raut wajahnya akan langsung menjual dirinya. Oleh karena itu ia hanya bisa memalingkan wajahnya.


"Benarkah?" Tanya Qiao Rong tidak percaya.


Tepat pada saat itu terdengar suara panggilan dari arah belakang mereka.


"Yang Mulia!" Sebuah suara laki-laki mendekat ke arah Qiao Rong, Shen Haofeng sangat ingin membalikkan kembali badannya untuk melihat siapa gerangan yang memanggil Qiao Rong dengan begitu gembira. Tapi harga dirinya tidak membiarkannya melakukan hal itu.


"Ah! Tuan Liu!" Qiao Rong membalikkan badannya ke belakang dan melihat Liu Liwei yang sedang berjalan dengan tersenyum ke arahnya.


"Apakah aku sedang menganggu sesuatu? Ini pasti Raja Bulan yang terhormat. Salam kepada Tuan, saya Liu Liwei dari Kerajaan Yuan." Tanya Liu Liwei sambil mendekat dengan ramah dan mengepalkan kedua tangannya di depan dada untuk menyapa Qiao Rong dan Shen Haofeng.


Qiao Rong membalas kepalan tangan itu dan melirik ke arah Shen Haofeng yang masih diam tak berkutik.


Baiklah, dia mau bermain sulit rupanya.


"Ah tentu saja tidak! Kami baru saja bertemu secara tidak sengaja barusan." Ujar Qiao Rong sambil tersenyum.


Shen Haofeng yang baru saja berniat untuk membalikkan badan tiba-tiba membeku sejenak saat Qiao Rong mengatakan 'baru saja bertemu secara tidak sengaja barusan'. Shen Haofeng tercengang. Benarkan mereka bertemu secara tidak sengaja? Lalu siapa gadis yang baru saja memeluknya barusan?


"Ah.. Begitu rupanya... Saya kemari karena ada urusan dengan Yang Mulia Kaisar mengenai ekspor beras, tapi malah tersesat kesini." Balas Liu Liwei yang juga tersenyum.


Qiao Rong tertawa kecil.


"Kalau begitu, mari saya arahkan anda ke Aula Istana, Ayahanda pasti akan sangat senang melihat anda." Qiao Rong berjalan pelan ke arah Liu Liwei.

__ADS_1


"Saya hanya bisa menuruti Putri Rong." Liu Liwei menundukkan kepalanya dan tersenyum ramah pada Qiao Rong.


Dan mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan Shen Haofeng di tempat itu.


Shen Haofeng tercengang. Ia merasa seperti patung yang baru saja kembali sadar. Setelah Shen Haofeng membalikkan badannya, kedua orang tadi sudah tidak ada dalam jangkauan pandangannya.


*****


"Ah.. Yang Mulia, saya kira kita akan langsung ke Aula Istana?" Tanya Liu Liwei bingung saat Qiao Rong malah mengajaknya ke dapur kerajaan.


"Tentu saja tidak. Sebagai tamu kau harus kuberi hadiah sambutan dulu bukan?" Qiao Rong tersenyum nakal. Ia berharap kepala Shen Haofeng sudah dipenuhi asap sekarang.


"Ha-hadiah?"


Qiao Rong mengambil salah satu manisan yang baru jadi dari toples dan langsung memberikannya pada Liu Liwei.


"Manisan yang enak untuk memulai hari. Bukan begitu Tuan Liu?" Qiao Rong tersenyum lebar. Untung saja pria di belakangnya itu muncul pada waktu yang tepat. Ini adalah hukumannya bagi Shen Haofeng.


Liu Liwei tersenyum. Ia sudah memutuskan akan mengikuti permainan mereka.


"Ah.. Kulihat Putri butuh bantuan?" Tanya Liu Liwei.


"Yah.. Bisa dibilang begitu?" Ujar Qiao Rong dengan santai. Ia dan Liu Liwei sudah bercakap-cakap cukup lama dan akrab pada waktu jamuan kemenangan itu. Mereka sudah bisa dibilang sebagai teman, walaupun tidak terlalu dekat.


Tiba-tiba Liu Liwei meraih lengan Qiao Rong dan menariknya dengan pelan hingga tubuh gadis itu berbalik sepenuhnya ke arahnya.


Liu Liwei lalu menariknya mendekat, dan mengarahkan manisan tadi langsung ke mulut Qiao Rong.


"Saya dengan senang hati akan menemani anda bermain."


Seketika seluruh dayang yang ada di dapur kerajaan tidak bisa menahan bisikan-bisikan karena terkejut melihat kejadian yang terjadi di depan mereka.


Sepertinya sebentar lagi akan ada rumor yang beredar.


*****


Shen Haofeng berdecak.


Ia tadinya akan langsung menghukum Jiang Junwei begitu selesai berbincang dengan Qiao Rong. Siapa yang tahu kalau tiba-tiba akan ada pria yang tidak ia kenal dan mengambil gadisnya begitu saja?


Shen Haofeng mondar-mandir di tempat. Ia sudah menunggu Jiang Junwei cukup lama untuk mencari kabar mengenai kedua orang itu.


Dari belakang, akhirnya Jiang Junwei tiba.


"Bagaimana?" Tanya Shen Haofeng dengan panik.


"Ehmm.." Jiang Junwei ragu. Sangat ragu. Apakah tuannya tidak akan langsung menghajar Liu Liwei di tempat?

__ADS_1


"Katakan!"


"Para dayang di dapur kerajaan bilang.. Liu Liwei menyuapi Putri Rong..?" Raut wajah Shen Haofeng menjadi gelap.


*****


"Begini Yang Mulia, saya datang kali ini untuk mengurus masalah ekspor beras yang bermasalah di daerah Xi'an." Liu Liwei mulai berbicara pada Kaisar, sementara Qiao Rong hanya ikut mendengarkan dari sisi samping.


Beberapa menit yang lalu mereka telah tiba di Aula Istana dan menghadap Kaisar.


Qiao Rong juga sebenarnya agak tertarik dengan masalah ekspor beras yang dibicarakan Liu Liwei saat mereka makan manisan tadi.


Masih tidak ada tindakan dari Shen Haofeng.


Sebenarnya Qiao Rong bingung, apakah pria itu benar-benar tidak terpengaruh sama sekali?


"Eskpor beras dari Xi'an ke Kerajaan Yuan sepertinya mengalami banyak masalah karena banyaknya beras yang di rampok di jalan. Anehnya mereka semua bilang bahwa itu adalah ulah bandit yang ada di pegunungan. Kaisar sudah mengirimkan orang untuk menyelidiki hal itu, namun sama sekali tidak ada bandit." Jelas Liu Liwei.


"Hmm.. Bagaimana pendapatmu?" Tanya Kaisar.


"Sepertinya masalah ini disebabkan oleh kemiskinan penduduk, Yang Mulia." Ujar Liu Liwei.


"Oh?" Kaisar berpura-pura terkejut.


"Menurut saya hal ini bisa saja hasil persekongkolan rakyat. Ditambah lagi Gubernur di Xi'an menaikkan pajak beras bulan lalu, tidak heran bahwa mereka akan mencuri beras yang diekspor." Ujar Liu Liwei dengan tegas dan yakin.


"Sepertinya aku tidak perlu berbicara lagi dalam masalah ini bukan? Hahaha." Ujar Kaisar senang.


"Anak Perdana Menteri Liu memang luar biasa cerdas." Lanjut Kaisar.


"Hamba tidak pantas akan pujian anda." Liu Liwei menundukkan kepalanya.


Kaisar lanjut tertawa senang.


"Kalau begitu akan kuurus hal ini dengan Gubernur Xi'an. Anda bisa memberitahu Kaisar Yuan untuk tetap tenang." Balas Kaisar.


Liu Liwei menggangguk setuju dan ikut senang. Misinya ke Kerajaan Wen sudah tuntas.


Tiba-tiba dari pintu Aula Istana, muncul Shen Haofeng yang berwajah muram.


"Ra-Raja Bulan? Eh.." Kaisar terlihat bingung.


Menurut Kaisar, kedatangan Raja Bulan pastilah bukan pertanda baik.


Tiba-tiba sosok pria di pintu itu menghilang.


Liu Liwei menghadap ke arah Qiao Rong tadi berdiri.. dan gadis itu juga hilang, tak ada di manapun yang dapat terlihat.

__ADS_1


__ADS_2