Abandoned Princess

Abandoned Princess
Bertemu para Profesor


__ADS_3

Angka satu.


Napas Gu Tianran tertahan dengan sendirinya.


Begitu juga dengan Chu Yue. Sekarang ini kepalanya sedang pusing tujuh keliling. Bahkan murid yang berada di kelas dua saja bisa dihitung jari! Tapi nonanya ternyata berhasil masuk ke kelas satu?


Gu Tianran perlahan menormalkan napasnya. Ia berusaha menahan rasa penasarannya. Monster macam apa wanita anggun yang ada di depannya ini?


Hanya ada satu orang yang yang dapat membuat kristal pengukur mengeluarkan angka satu. Dan itu adalah Raja Bulan saat ini.


Kebanyakan orang mengira bahwa kristal pengukur hanya mengukur kemampuan seseorang berdasarkan roh pelindung atau tingkat kultivasinya. Namun, sudah merupakan rahasia umum bagi para pengurus akademi bahwa kristal pengukur sebenarnya mengukur potensi seseorang.


Dan Gu Tianran baru saja diberitahukan hal itu tadi pagi ketika ia bersiap untuk memulai hari pertamanya bekerja.


"Nona Gu." Qiao Rong memanggil Gu Tianran dengan pelan.


Gu Tianran agak bergidik karena masih tidak percaya akan hasil tadi begitu mendengar suara Qiao Rong. Tapi ia berhasil meloloskan satu anggukan kecil.


"Tolong rahasiakan hal ini? Anda bisa memberitahu dewan akademi bahwa saya masuk dalam kelas satu. Namun buatlah permintaan khusus dan masukkan saya ke dalam kelas dua." Qiao Rong menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya sambil tersenyum.


"A-apa? T-tapi.." Gu Tianran masih berbicara terbata-bata. Namun mengingat rasa takut yang baru saja ia rasakan, Gu Tianran terpaksa menyetujui kata-kata Qiao Rong.


"B-baiklah.. Bagaimana dengan nama anda?" Gu Tianran mencoba menatap ke mata Qiao Rong secara langsung. Walaupun ia masih ketakutan, namun ia yakin bahwa wanita itu bukan orang jahat setelah melihat perlakuannya pada Song Linmei tadi.


"Hua Rong," jawab Qiao Rong sambil tersenyum melihat wajah kebingungan Chu Yue setelah ia melontarkan jawabannya.


Beberapa saat kemudian, Gu Tianran akhirnya selesai mendaftarkan kedua wanita itu. Tentu saja, tidak lupa biaya pendaftaran masuk yang sudah dibayarkan Qiao Rong.


"Silahkan bawa kertas ini menghadap pengurus asrama, kalian bisa langsung membaca petunjuk arah yang ada. Sementara itu, saya akan coba bicarakan mengenai permintaan anda kepada pemimpin akademi." Gu Tianran membungkuk dan mempersilahkan Chu Yue dan Qiao Rong untuk pergi ke arah kanan setelah memberikan dua lembar kertas kepada masing-masing dari mereka.


Chu Yue berjalan senang mengikuti Qiao Rong dari belakang. Lima menit kemudian, mereka sampai di bangunan yang bertuliskan asrama. Tidak disangka, walaupun Akademi Bulan Sabit begitu luas, namun pengarahan yang ada begitu jelas sehingga murid-murid tidak akan mudah tersesat.


Qiao Rong berjalan pelan ke arah ruangan pengurus asrama wanita dan menyerahkan kertas miliknya dan Chu Yue. Yan Jinghua, wanita pengurus asrama paruh baya itu langsung memberikan mereka sebuah kunci kamar.


Kamar asrama Akademi Bulan Sabit memang standar. Murid yang tidak tinggal di Kota Bulan bisa menyewa asrama sampai lulus dengan harga yang relatif murah. Bahkan rakyat biasa pun tidak akan terlalu terbebani dengan harga yang ditetapkan.


Kamar asrama terdiri dari dua kasur yang bersebelahan, dibatasi oleh sebuah laci dan ruangan latihan tersendiri serta sebuah kamar mandi. Selain itu, ada banyak furnitur lain yang sudah merupakan kebutuhan, misalnya lemari dan meja rias.


Para penyewa asrama mau tidak mau akan mendapatkan teman satu kamar. Untung saja, Qiao Rong datang bersama Chu Yue.


"Wah! Yang Mulia! Coba lihat kamar ini! Bahkan lebih luas daripada kamar para dayang di istana." Chu Yue terlihat antusias dan mulai membereskan barang bawaan mereka.


"Yah, tidak begitu buruk." Qiao Rong tersenyum.

__ADS_1


"Tapi mengapa anda mengubah nama anda, Yang Mulia?" Chu Yue bertanya kebingungan.


Qiao Rong hanya mencubit hidung gadis itu dengan pelan.


"Ini bukan Desa Nanshan, di desa sekecil itu, orang-orang tidak akan memperhatikan marga Qiao. Tapi ini bukan sembarang tempat bukan? Juga, jangan lupa panggil aku Kakak."


Chu Yue tersenyum malu dan kembali melatih dirinya untuk memanggil Qiao Rong dengan sebutan 'Kakak'.


*****


Keesokan paginya berjalan dengan lancar, sarapan di antarkan langsung ke asrama murid yang belum sepenuhnya resmi menjadi murid Akademi Bulan Sabit. Untuk murid-murid lainnya, sudah tersedia kantin di disebelah kelas Profesor Ji.


Yang sial adalah Gu Tianran.


Semenjak ia memberitahukan permintaan Qiao Rong pada para profesor di rapat kemarin malam, semua orang yang ada di ruangan rapat itu menggila.


"Ada yang masuk ke dalam kelas satu?!"


"Bagaimana ini? Kita tidak pernah menyiapkan apapun untuk kelas satu."


"Apa?! Ingin masuk kelas dua???"


"Orang gila mana yang—"


Dan sebagainya.


Gu Tianran yang terengah-engah sampai di depan pintu kamar Qiao Rong. Lalu ia membereskan penampilannya dahulu, menarik napas dalam-dalam. Dan akhirnya mengetuk pintu dengan pelan.


Begitu terdengar kata 'masuk' dari dalam kamar, Gu Tianran perlahan membuka pintu.


Qiao Rong yang sedang berada di meja rias terlihat sangat anggun walaupun dengan pakaian sederhana yang dibawanya.


"Para profesor mengundang anda ke dalam rapat darurat nanti siang." Gu Tianran berdeham. Kalau saja ia laki-laki, pasti sudah terpana duluan oleh penampilan Qiao Rong.


"Baiklah." Qiao Rong menjawab dengan singkat.


Siang itu, Gu Tianran benar-benar membawanya ke dalam ruang rapat Akademi Bulan Sabit yang seharusnya hanya boleh dimasuki oleh para pengajar. Namun Qiao Rong adalah sebuah pengecualian.


Satu-persatu Gu Tianran mengenalkan kumpulan orang itu padanya.


Profesor Ji, kelas sejarah dan budaya.


Profesor Luo, kelas teknik dan teori kultivasi.

__ADS_1


Profesor Tang, kelas roh pelindung dan spiritual.


Profesor Yun, kelas herba dan ramuan.


Dan Profesor Zi, kelas alkimia.


Hanya itu nama-nama profesor inti yang akan mengajar di kelas masing-masing. Sementara selebihnya adalah dewan akademi, sebagai perwakilan Raja Bulan.


Mereka semua memandangi Qiao Rong dengan beragam tatapan. Ada yang memandangnya dengan aneh, takjub, bahkan tatapan tidak percaya pun ia temukan diantara kerumunan orang itu.


Ada satu benda di ruangan itu yang membuat Qiao Rong agak kecewa dengan Akademi Bulan Sabit.


Kristal pengukur.


Begitu melihat benda itu, Qiao Rong langsung tahu bahwa tujuannya kesini sebenarnya bukanlah untuk membicarakan keinginannya untuk mengikuti kelas dua.


"Kukira nona Hua Rong sudah mengetahui maksud kami. Silahkan." Profesor Tang, begitu menyadari arah tatapan Qiao Rong yang menuju ke arah kristal pengukur, langsung mempersilahkan Qiao Rong maju kedepan dan membuat suasana ruangan itu hening.


Sekali lagi, Qiao Rong meletakkan tangannya di atas kristal pengukur itu lagi seperti kemarin.


Angka satu.


Hasilnya tetap sama apa adanya.


Mata Profesor Zi membelalak. Akhirnya Akademi Bulan Sabit menemukan seorang murid kelas satu setelah beratus-ratus tahun didirikan. Tentu saja, selain Raja Bulan saat ini yang tidak menjadi murid akademi sama sekali.


"Ehem!" Profesor Tang berdeham. Untungnya, dengan dehamannya itu sepertinya ia berhasil membebaskan semua orang lainnya dari lamunan mereka masing-masing.


"Bisakah sekarang kita bicarakan permintaan saya?" Qiao Rong berbicara dengan tegas.


Semua orang yang berada di ruangan itu terlihat malu. Berani-beraninya mereka meragukan kristal pengukur hanya karena mereka tidak melihat hasilnya dengan mata mereka sendiri?


"Silahkan." Begitu Profesor Tang berbicara, Qiao Rong sudah tidak menahan diri lagi.


"Saya tahu dengan jelas tentunya kalian tidak pernah menyiapkan kelas satu. Oleh karena itu, demi kenyamanan saya sendiri, saya mengajukan diri untuk bergabung dengan murid-murid kelas dua.


Saya juga meminta permohonan khusus kepada Profesor Tang. Saya akan tetap mengikuti kelas roh pelindung anda. Tapi tidak akan pernah mengeluarkan roh pelindung saya."


Begitu Qiao Rong selesai berbicara, Profesor Tang yang sedari tadi merupakan orang yang tenang, kini malah tercengang.


Ia juga tahu akan sesulit apa mengajarkan murid yang tidak memberitahu tipe roh pelindung mereka, apalagi tidak membiarkannya melihat dengan jelas.


Namun ia tidak bisa membiarkan akademi kehilangan satu-satunya calon murid kelas satu. Dengan enggan namun terpaksa, akhirnya ia mengangguk setuju.

__ADS_1


Profesor-profesor lainnya satu demi satu juga setuju dengan permintaan yang diajukan Qiao Rong.


Rapat siang itu pun selesai.


__ADS_2