
Sudah hampir empat minggu rudi berada jauh dari orang tua, rumah dan juga fasilitasnya. Kini Rudi sudah semakin menikmati alur baru kehidupannya. Perlahan Rudi mendapatkan teman-teman yang satu frekuensi dengannya Pakde Kirun dan beberapa teman kernetnya, Salsa dan beberapa tetangga kamarnya yang kini mulai akrab dengannya.
Hari itu tepat pada hari kamis pukul satu siang, Rudi mendapatkan kabar bahwa akan ada libur selama tiga hari, Pakde Kirun sudah menjadwalkan liburannya, dia akan berlibur dengan seluruh keluarganya dan pak Sopir yang saat ini dikenal Rudi sebagai Pak Darto juga hendak pulang ke kampung halamannya. Semua sudah memutuskan akan melakukan apa dan kemana sedangkan Rudi masih bingung akan melakukan apa dihari liburnya yang hanya datang sekali dalam sebulan ini.
"Lah kamu gak pulang Rud? Mumpung libur tiga hari"
"Sepertinya tidak pakde"
"Lah kenapa?"
"Males otw"
"Hahaha, yo kalo begitu ajak siapa itu, Lasa, Sasa atau siapa itu lupa saya"
"Salsa?"
"Iya Salsa! Kan tiga hari, Senin baru masuk lagi. Dia paling bisa hari sabtu minggu"
"Ahahaha, mau ajak kemana ya pakde, belom gajian"
"Lohh, nanti gajian lohh... gak tahu kamu ya?"
"Gak ngerti pakde, tapi beneran gajian?"
"Iyo, Kan sekarang sudah hampir satu bulan kita kerja kan?"
"Iya juga ya" dalam sedetik raut wajah Rudi berubah menjadi lebih ceria, dia tidak tahu jika akan gajian hari ini.
Rudi sudah mendapatkan apa yang akan dia lakukan besok saat libur. Dia ingin mengajak Salsa untuk kencan lagi. Rudi sangat tidak sabar menunggu waktu kerjanya yang kurang beberapa jam lagi sampai perjalanan terakhir bus menuju terminal asal. Rudi menjadi lebih bersemangat mencari penumpang, mondar-mandir dan menawari beberapa orang sedang lalu-lalang mencari bus arah tujuan mereka.
Hati Rudi bermekaran bunga-bunga, setelah ini adalah gajian pertamanya disini, dia tahu betul gajinya tidak akan lebih banyak dari gajinya saat dia mengurus perusahaan ayahnya tapi ini adalah sebuah keringat baru baginya, lebih berat namun lebih menyenangkan dari pada hanya duduk dan santai di depan layar komputer dan menghitung angka yang tidak ada habisnya.
Lagu-lagu yang dibawakan pengamen didalam bus menambah kesenangan didalam hati Rudi, mengikis kesenjangan gaji dan waktu yang telah dia lalui selama hampir satu bulan ini.
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepat, Rudi sudah berada di terminal. De Kirun mengajaknya ke kantor untuk mengambil gaji yang dibungkus dengan sebuah amplop putih. Nampak beberapa orang juga mendatangi kantor dengan wajah penuh senyum dan gembira. Sesekali dari mereka mengintip isi amplopnya dan melihat berapa yang mereka terima, namun tidak dengan Rudi yang tidak begitu peduli dengan gajinya. Setelah menerima amplopnya, Rudi berpamitan kepada De Run dan cepat-cepat pulang.
Setelah sampai di kamarnya, Rudi membuka isi amplopnya dan melihat beberapa uang kertas berwarna merah dan biru. Rudi menghitungnya pelan, ada Satu Juta Tujuh Ratus Ribu. Cukup banyak jika digabung dengan jatah uang jajan yang dia dapatkan setiap hari. Seperti biasa Rudi akan memisahkan uangnya dengan uangnya menjadi 50/30/20, Namun menurut Rudi kebutuhannya setiap hari bisa tercukupi dengan jatah hariannya jadi dia menyisihkan 50% untuk berjaga-jaga jika suatu hari ada sebuah hal membutuhkan uang banyak dan setengahnya lagi ia gunakan untuk mencukupi kesenangannya seperti pergi dengan Salsa. Mungkin hari ini dia akan membelikan makanan untuk Salsa.
Stelah Rudi membereskan uang dan membersihkan tubuhnya, Rudi berdiri dipagar depan pintu kamarnya menunggu Salsa yang belum juga pulang.
"Rudi.." Suara itu bukan suara Salsa, Rudi mencari-cari asal suara itu dan menemukan mbak Kos sedang melambaikan tangannya seperti menyuruh Rudi untuk menghampirinya.
Rudi langsung turun dan menghampiri Mbak Kos itu.
"Ada apa mbak?"
"Gak ada apa-apa, Ayo sini masuk dulu" dandanan daster dan rambut dijepit, Mbak Kos benar-benar mirip dengan tante-tante penjaga kosan ditelevisi.
"Rud, kamu weekend ini sibuk nggak?" Mbak Kos langsung mengajukan pertanyaan mencurigakan kepada Rudi.
"Emm, Besok saya libur tiga hari mbak, ada apa?"
"Emm," Mbak Kos sepertinya sedang bingung, nampak dari wajahnya yang sedang memikirkan sesuatu untuk diucapkan.
"Bantu apa mbak?"
"Mbak mau kamu nemenin mbak besok malam"
"Nemenin ke?"
"Ke acara teman mbak, gak lama kok dan gak aneh-aneh"
"Emmm, kali begitu saya pikir-pikir dulu ya mbak"
"Usahain loo, Malu kalo dateng sendirian"
"Emang Suami Mbak kemana?"
__ADS_1
"Mbak janda, suami mbak pergi karena mbak kurang seksi"
"Kurang seksi?" Rudi mengerutkan dahi dan menatap setiap lekuk tubuh mbak Kos.
"Ehh jangan lihat-lihat begitu, mbak jadi malu" kata Mbak Kos dengan menyilangkan kakinya dan mengurai rambutnya yang lurus dan hitam pekat
"Mbak seksi loo"
"Hehehe, jadi malu Ruudd"
"Beneran mbak"
"Dulu mbak gak gini lohh, dulu gendut banget"
"Ohhh, Kasian ya mantan suami Mbak, hahaha"
"Ahahaha, biarin biar tahu rasa. Yasudah besok kabarin ya kalo bisa. Soalnya mbak cari-cari disini, kelihatanya cuma kamu yang cocok, Si Joni Masih kecil, Si Jono duda tua, pusing Mbak mau ngajak siapa"
"Baiklah mbak, besok saya kabarin".
Rudi beranjak pergi meninggalkan mbak Kos Dan dia menaiki tangga, ternyata Salsa sudah menunggu didepan kamarnya dan membawa beberapa bungkus makanan. Rudi yang melihat itu pun geleng-geleng sepertinya dia harus mengurungkan niatnya untuk membelikan Salsa makanan.
"Makan-makan..., habis gajian aku Rud"
"Ahahaha Sama dong! Tadi sebenarnya aku sedang nunggu kamu dan mau membelikan makanan, eh tiba-tiba dipanggil Mbak Kos"
"Cieee-cieee..!!" ejek Salsa dengan mulut manyun ke depan.
Rudi menceritakan semuanya kepada Salsa, termasuk rencananya mengajak Salsa jalan-jalan. Salsa mengerti Rudi sedang bingung antara apakah dia harus mengabaikan mbak Kos dan pergi dengan Salsa atau sebaliknya.
"Kan tiga hari libur, Kamu pergi aja dulu, nanti malam minggu kita keluar"
Melihat respon Salsa, Rudi sangat senang. Salsa tidak menunjukan sikap dingin ataupun tidak nyaman dengan apa yang Rudi katakan. Rudi juga berjanji tidak akan aneh-aneh. Entah aneh-aneh seperti apa yang dimaksudkan Rudi itu. Rudi menikmati makanan yang dibelikan Salsa, Ayam goreng dan sambal lalapan memang selalu bisa memanjakan mulut apalagi dengan es teh yang dibungkus dengan wadah plastik bening tanpa sedotan. Kehangatan yang hanya didapatkan Rudi saat bersama dengan Salsa. Tidak ada kekhawatiran tentang penjualan naik atau turun, tidak ada meeting tidak ada sebuah diskusi serius, semua berjalan dengan sederhana dan penuh kehangatan.
__ADS_1
Kehidupan yang dulu dibenci Rudi saat kecil, sebuah kesederhanaan yang dulu membuat Rudi sering marah karena tidak pernah dibelikan ini itu oleh keluarganya yang masih serba kekurangan kini menjadi karma baik yang sangat ia dambakan. Uang yang dulu ia anggap bisa membeli apapun kin menjadi sebuah alat tukar asal bisa makan. Waktu lebih menguntungkan dengan kesenangan tiap detiknya.
Rudi berharap semua ini akan berjalan lebih lama, Rudi menatap Salsa yang lahap mengunyah makanan dengan cukup gemulainya. "Ahhh senangnyaaaaaaa" Begitulah yang dikatakan Rudi didalam hatinya.