
Langit mulai mendung dan udara mulai dingin. Rudi beranjak dan menaruh gitarnya, pergi ke kamar mandi dan membersihkan seluruh badannya. Sepertinya hari ini akan hujan, dan mungkin saja akan ada hujan air mata. Penantian serta perjuangannya sepertinya sudah hampir selesai, dia akan segera pulang dengan membawa sebuah berlian yang sangat berkilauan.
Rudi bersiap menuju kamar Salsa, dia siap untuk segalanya bahkan jika Salsa menolak iktikad baiknya. Tidak ada lagi keraguan bagi Rudi untuk menerima Salsa bagaimanapun keadaannya dan hal paling dikhawatirkan Salsa yakni takut tidak diterima oleh keluarganya pun bukanlah hal yang perlu ia pikirkan. Keluarga Rudi tidak mungkin sebodoh itu untuk menghinakan atau tidak menganggap Salsa sebagai menantu yang pantas untuk anaknya.
Rudi mulai berjalan menuju kamar Salsa, nampaknya Salsa juga sedang bersantai di atas kasurnya. Rudi mengetuk pintu kamarnya dan terdengar Salsa buru-buru beranjak dan cukup lama untuk membukakan pintu.
Salsa membukakan pintu dan mengangkat dagunya seolah sedang bertanya, "Ada apa?" Dia tidak mengeluarkan suara apapun dari mulutnya. Rudi tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke dalam kamar Salsa dan kemudian mengajak Salsa duduk disampingnya.
"Sa, langsung ke-intinya saja." Rudi membuka percakapannya.
Salsa hanya diam dan menunggu Rudi melanjutkan perkataannya.
"Kemarin Laura menceritakan semuanya kepadaku"
Rudi mengambil ancang-ancang untuk memulai percakapan seriusnya.
"Jadi gini Sa, aku datang kemari itu semua sudah atas persetujuan kedua orang tuaku, mereka menyerahkan semuanya kepadaku. Tentang bagaimana aku memilih dan siapa yang aku mau untuk ku jadikan pasanganku, mereka tidak akan ikut campur apalagi tidak menerima pilihanku. Orang tuaku adalah dua orang baik yang tidak pernah memiliki sifat picik dalam hidupnya. Mereka juga sangat memahami bagaimana susahnya sebuah perjuangan..."
Rudi semakin menjadi dalam menjelaskan bagaimana keluarga, lingkungan dan apapun tentang dirinya dengan keluarganya. Salsa hanya diam dan menatap Rudi. Tidak tersenyum bahkan tidak mengedipkan mata. Benar-benar seperti seorang penyimak yang baik.
Masih cukup lama Rudi bercerita. Salsa benar-benar tetap diam. Rudi mulai merasa seperti sedang dipermainkan, namun dia memilih untuk tetap melanjutkan ceritanya.
"... Dia adalah seorang penjaga warung angkringan yang berada dekat rumahku. Tempat ayahku biasa ngopi setiap pagi..."
Rudi belum selesai menceritakan semuanya, namun tiba-tiba Salsa berdiri dan...
"Gak lelah ngomong terus? Tak ambilin minum ya?"
Rudi hanya mengangguk diam dan kaget mendengar Salsa menawarkan minum. Sepertinya Salsa dari tadi memang hanya mempermainkannya dan pura-pura mendengar ceritanya.
Salsa beranjak ke dapur dan kembali membawa segelas air putih dan memberikannya kepada Rudi.
"Minum dulu, kasian tenggorokannya kering"
".... Ba... Ik... Lah!"
Salsa kembali duduk dan kemudian memegang tangan Rudi. Rudi sedikit kaget dengan tingkah Salsa yang tiba-tiba memegang tangannya.
Salsa memegang tangan Rudi dan memainkan jari-jarinya, menekuk dan menumpuk jari Rudi dan kemudian memerasnya dengan sangat keras dan tiba-tiba. Rudi kesakitan dan mengepakkan jarinya sambil sesekali meniupnya. Salsa hanya tertawa melihat tingkah konyol Rudi yang sedang kesakitan. Antara kesakitan dan senang, Rudi melihat kembali senyum manis dari bibir mungil Salsa yang merah tanpa pewarna. Rudi kemudian tersenyum dan kembali meminum segelas air yang dibawakan oleh Salsa.
"Rud, simpan ceritamu untuk waktu yang lebih baik. Aku akan sangat menyesal jika mengetahui semua ceritamu hari ini." Ucap Salsa yang menginginkan sesuatu.
"Sa... Aku butuh sebuah kepastian darimu!"
"Kepastian tentang apa?"
__ADS_1
"Apakah kau mencintaiku?" Tanya Rudi tiba-tiba.
"Apakah kau juga mencintaiku?" Tanya Salsa balik.
"Aku sangat mencintaimu"
"Apa kamu tidan takut jika aku hanya menginginkan hartamu?"
"Kau bukan wanita seperti itu"
"Baiklah peluk aku"
Rudi terbelalak mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh Salsa, Rudi tidak langsung memeluknya hingga Salsa memberi isyarat ke-dua agar Rudi memeluknya. Kemudian Rudi mendekati Salsa dan mulai memeluk Salsa dengan erat. Rudi mengelus kepala Salsa dan sedikit mengacak-acak rambutnya.
"Aku menyuruhmu untuk memelukku bukan mengacak-acak rambutku"
"Hahaha maap tuan raja, hamba kelepasan"
"Dasar hamba yang tidak pernah bersyukur!"
"Hahaha, aku ingin lebih lama memelukmu"
"Jangan lama-lama, nanti ada yang lihat"
"Yasudah kita lepas ya?"
"Hahaha baiklah"
Kemesraan yang menyatukan hati dan pikiran mereka. Semakin erat mereka mendekap satu sama lain, semakin erat pula jalinan hati yang mereka jalin.
Sudah beberapa menit dan mereka belum juga melepaskan pelukannya. Seperti ada sebuah Rindu yang mendalam diantara mereka, meskipun mereka hanya tidak bertemu dan mengobrol selama dua hari.
Rudi mulai melepaskan pelukannya dan mengajak Salsa naik dan mengobrol di depan kamar Rudi dan Salsa mengiyakan permintaan Rudi.
Rudi beranjak keluar dari kamar dan Salsa mengikutinya dari belakang. Mereka duduk dilantai depan kamar Rudi yang dingin dan tanpa beralaskan apapun. Rudi mengambil gitar untuk menemani bincang-bincang hangat mereka.
"Kau ingin ku panggil apa? Rudi atau Doni?" Tanya Salsa.
"Terserah, panggil sayang juga tidak masalah"
"Baik sayangku"
"Hahaha, sayangku ini tidak kedinginan?"
"Tidak sayangku, aku kuat kok!"
__ADS_1
"Hahaha... Seperti simulasi menjadi suami istri"
"Hahaha..."
Rudi mulai memainkan gitarnya sedangkan Salsa membenarkan posisi duduknya dab menyandarkan kepalanya dibahu Rudi. Rudi memulai petikan demi petikan dengan pelan, simponie kehangatan mulai menjalar didalam tubuh mereka berdua. Hujan mulai turun, angin mulai semakin tak teratur. Mereka mengabaikan semuanya dan hanya tetap duduk dan menikmati kebersamaan yang tercipta.
"Jangan tanyakan apapun lagi, aku akan mempercayaimu sampai mati"
"Baiklah.." Jawab Rudi singkat.
...****************...
...Bersandar dibahu mu seakan terlepas segala bebanku...
...Berduaan denganmu seakan sirna segala kelamku...
...Andai lebah-lebah itu mengerti harummu...
...Andai ikan-ikan itu mengerti segarmu...
...Tak akan ada lagi bunga yang kehabisan sari...
...Tidak akan ada lagi air laut yang asin oleh kotoranmu...
...****************...
"Sa, sudah cukup malam, kamu gak kembali ke kamar?"
"Kamu mengusirku?"
"Hahaha apakah kamu berpikir demikian?"
"Hari ini aku tidur di kamarmu lagi"
"Emm... Baiklah"
Mereka berdua masuk ke dalam kamar Rudi. Rudi mulai membersihkan kasurnya dan menyiapkan selimut untuk Salsa. Salsa langsung merebahkan badanya dan Rudi hanya melihatnya.
"Rud, peluk aku dari belakang!"
"Boleh aneh-aneh?"
"Belum boleh!"
Rudi tidur di sebelah Salsa dan menggunakan Selimutnya untuk menyelimuti dirinya dan Salsa. Rudi memeluk Salsa dari belakang dengan erat dan Salsa sudah mulai terlelap.
__ADS_1
Malam ini semuanya terselesaikan, dan bunga-bunga harapan yang dulu hanya tumbuh, kini sudah mulai bermekaran. Hubungan antara Salsa dan Rudi kini bukan hanya sekedar hubungan antar teman, namun lebih meyakinkan. Melanjutkan semuanya sebagai sebuah kisah yang sangat menjanjikan kebahagiaan. Apakah mereka akan berlanjut seperti itu sampai hari kemudian?
...****************...