ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Hal Mengerikan Terjadi Kepada Salsa


__ADS_3

Pagi itu sudah mulai cerah, burung-burung berkicauan dan mentari segar menyapa dari timur kegelisahan. Geliat Rudi bangun pagi-pagi sekali, masih pukul empat pagi. Beberapa penghuni sudah mulai bangun dan melakukan aktivitas masing-masing. Rudi menuju ke depan kamarnya dan menatap arah timur laut yang masih kuning cerah, dia menghirup dalam-dalam udara disana dan menenangkan pikirannya yang sempat kacau tadi malam.


Masih berlumuran kegelisahan yang tidak karuan, Rudi memutuskan untuk mengabari Erlang bahwa dirinya akan mengambil libur untuk dua hari ke-depan. Akan lebih baik baginya bila tidak menemui orang lain untuk saat ini.


Rudi sedikit berpikir tentang apa yang harus ia lakukan hari ini. Apakah dia akan mencari Salsa atau menunggu beberapa saat seperti apa yang dikatakan Laura kepadanya. Rudi melihat pintu rumah Laura belum terbuka, tanda dia masih terbaring di atas kasurnya.


"Rud, gak kerja?" Tanya tetangganya yang bekerja sebagai pegawai kantoran.


"Ohh, gak Mas. Saya ambil cuti dua hari."


"Ohh, baiklah saya berangkat dulu"


"Iya, iya... Hati-hati"


Orang itu pergi dengan bersemangat. Rudi memandangi orang itu dan berpikir, "Sepertinya enak banget hidupmu ya!" Tidak biasanya Rudi membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Sebuah kedangkalan pemikiran baru saja menyerang Rudi yang berwawasan dan tidak pernah berpikiran sedangkal itu.


Rudi masih bingung dengan apa yang akan dia lakukan nanti. Mencari Salsa pun hanya bisa mendatangi tempat ia bekerja dan menanyakan keberadaan Salsa kepada teman-temannya pun akan sia-sia.


Rudi masuk ke dalam kamarnya dan mengambil rokok serta koreknya. Sebatang rokok dengan segumpal asap membantu Rudi menjadi lebih tenang. Dia hendak mengambil gitar dan memainkan sedikit irama kehangatan, namun dia merasa seperti kehilangan minat bermain gitar.


Pukul 06:30-an, Laura membuka pintu rumahnya dan menyapu teras. Rudi tidak langsung menghampirinya, ia menunggu Laura menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Beberapa jam kemudian, nampaknya Laura telah selesai membereskan seisi rumahnya. Nampak dia telah membuat segelas susu hangat dan bersantai di kursi estetik yang ada didepan rumahnya.


Rudi mencoba menghampiri Laura untuk mengisi kekosongan waktunya yang sedang tidak bekerja.


Laura melihat Rudi menghampiri dirinya dan tersenyum.


"Gak kerja?"


"Mau libur dulu"

__ADS_1


"Sini-sini duduk,"


Rudi duduk dan menyalakan sebatang rokoknya lagi.


"Mau minum apa?"


"Tidak, tidak usah repot-repot Ra. Aku hanya bingung mau ngapain jika tidak sedang bekerja begini"


"Hahaha, yasudah duduk disini dulu dan ngobrol denganku"


Laura belum menyampaikan kesimpulan yang ia dapat dari kejadian Salsa kepada Rudi. Meskipun ia sudah benar-benar yakin bahwa Salsa sedang mengalami hal yang buruk.


Rudi juga belum memulai perbincangan apapun dan hanya diam menghisap rokok dan menghadap arah barat dengan tatapan tajam namun penuh dengan hal yang belum terpecahkan.


"Oh iya Rud, kamu bilang dulu bahwa kamu datang dari keluarga kaya raya, kenapa gak coba minta bantuan ayahmu untuk mencari Salsa?"


"Emm... Itu tidak seperti yang ku inginkan, aku hanya ingin pulang dengan membawa Salsa bersamaku, aku juga sudah berjanji untuk tidak berhubungan lagi dengan orang tuaku untuk saat ini"


"Tidak akan, orang tuaku sangat mempercayaiku, mereka selalu menganggap bahwa aku akan mampu mengatasi masalah sendirian"


"Hahaha, antara mempercayaimu atau memang mereka benar-benar orang tua raja tega ya!"


"Hahaha, kamu tahu sendiri bagaimana mereka mendidikku dulu"


"Katamu dulu Salsa pernah bertemu dengan ayahmu di restorannya kan?"


"Iya"


"Kamu sudah bilang ke Salsa kalau itu adalah ayahmu?"

__ADS_1


"Iya sudah, ada apa?"


"Gak ada, takut Salsa belum tahu aja"


Obrolan mereka semakin canggung. Laura mengerti bahwa kecanggungannya dengan Rudi disebabkan oleh kebenaran yang ia sadari. Semakin Laura mengobrol dengan Rudi, semakin canggung obrolan mereka. Justru semakin lama Laura menjadi sangat tertekan dengan apa yang ia sembunyikan, namun ia tetap kukuh menyembunyikannya terlebih dahulu karena akan sangat buruk bagi Rudi jika mengetahui opininya itu untuk saat ini.


"Ra, menurutmu apa yang terjadi kepada Salsa?" Tanya Rudi serius.


Laura menatap Rudi dengan raut wajah sangat kaget. Seperti Rudi mendengar apa yang dikatakan Laura didalam hatinya.


"Emmm... Entahlah aku tidak berani mengatakan apapun yang belum aku ketahui"


"Tapi menurut pandanganmu apa yang membuat Salsa hingga tidak mau menemuiku lagi?"


Laura semakin tertekan dengan pertanyaan Rudi yang terlihat seperti sudah mengetahui bahwa Laura sedang menyembunyikan sesuatu.


"Menurutmu apa yang sedang terjadi dengan Salsa?" Tanya Laura balik.


"Aku memiliki sebuah pemikiran yang sangat buruk dan aku tidak berani mengatakannya, bahkan untuk diriku sendiri"


"Kita tunggu beberapa hari lagi dan menunggu informasi dari tempat Salsa bekerja"


"Iya mungkin itulah yang terbaik untuk saat ini"


Rudi dan Laura melanjutkan obrolan dengan mengganti topik yang lebih menyenangkan. Laura mulai merasa lega dengan apa yang dikatakan Rudi tadi. Sepertinya apa yang dipikirkan Laura dan apa yang dipikirkan oleh Rudi adalah dua hal yang sama dan mereka berdua saling tidak ingin mengatakannya.


Akan lebih baik menunggu sebuah hal akan mendatangkan sebuah kepastian dari pada mengungkapkan hal-hal berdasarkan opini tidak meyakinkan yang akan memperkeruh keadaan.


Rudi dan Laura seakan dibuat lupa dengan inti dari dari obrolan mereka. Mereka berdua larut dalam cerita-cerita bahagia didalam hidup mereka yang saling mereka ceritakan. Bahkan mereka tidak segan-segan saling mengungkit aib masing-masing.

__ADS_1


Apakah esok akan ada rembulan lagi setelah badai panjang yang Rudi alami saat ini. Menghiraukan prasangka buruk atas hal buruk yang mungkin sedang terjadi adalah hal yang sangat sulit.


...----------------...


__ADS_2