ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Pengamen dan Sekutunya


__ADS_3

Bila ada yang lebih romantis untuk berduaan dengan kekasih selain duduk dipinggiran pantai dengan menatap lampu-lampu perkotaan dari kejauhan, mungkin itu adalah duduk dipinggir trotoar dengan berbagai macam cemilan.


Kali ini kencan Rudi dan Andin diadakan di sebuah angkringan yang tepat berada didepan alun-alun kota. Malam itu Andin terlihat sangat cantik. Lampu jalanan menyinari wajah cantik Andin. Rambut lurus dan dandanan yang tipis, membuat kecantikan Andin sangat natural dan menyejukkan.


Rudi memesan kopi, sedangkan Andin memesan segalas es yang diblender dengan rasa vanilla dan buah alpukat. Diantara mereka terdapat satu buah piring dengan berbagai macam cemilan. Sate bekicot, sate telur puyuh, usus, sosis dan banyak lagi cemilan yang mereka ambil dari gerobak dorong angkringan itu.


"Hari ini aku mau tidur dikamarmu. Boleh?" Tanya Andin.


"Boleh, tapi banyak nyamuknya."


"Tidak apa-apa, biar tambah ramai"


"Hahaha..."


Seakan kebahagiaan mereka terangkai dari berbagai macam kesederhanaan. Bulan malam itu tidak bulat sempurna, namun begitu indah. Sebuah bulan berbentuk sabit dengan berbagai macam bintang dan rasi-nya. Bintang-bintang itu seakan diam dan ikut menikmati malam hari Rudi dengan kekasihnya.


"Rud, kamu tidak rindu dengan orangtuamu?"


"Sebenarnya rindu, tapi aku sudah sangat terbiasa dengan keadaanku sekarang. Aku mulai menikmati hari-hariku disini."


"Bagaimana jika mereka rindu denganmu?"


"Itu yang aku takutkan"


"Hahaha, kapan-kapan kita ke rumahmu ya..."


"Hahaha, baiklah. Kita tunggu waktu yang tepat saja"


Mereka seperti bunga dan kupu-kupu. Sama-sama terlihat indah dan saling berbagi banyak hal dalam hidup mereka. Andin menceritakan banyak hal, cerita-cerita yang tidak pernah ia ceritakan sebelumnya. Demikian pula dengan Rudi. Ia mencoba lebih terbuka kepada Andin dan menceritakan berbagai sisi gelap dalal hidupnya. Termasuk kejadian yang hampir membunuh dirinya dengan Laura.


"Malam ini, angin menari... Bersama bintang, binatang malam berkeliaran..." Seorang pengamen menghampiri Rudi dan Andin.


Pengamen itu menyanyikan lagu yang asing ditelinga mereka berdua. Lagu asing yang sangat bisa diterima oleh telinga. Lagu yang menyiratkan setiap perasaan yang ada dibawah langit malam. Sangat indah bersama suara serak si pengamen yang sudah cukup lama berdiri dan bernyanyi menunggu uang dari Rudi.


Andin mengeluarkan uang dari dalam tasnya kemudian memberikannya kepada si pengamen yang mulai pelan nyanyiannya. Tidak tanggung-tanggung, uang yang diberikan oleh Andin cukup banyak dan membuat wajah si pengamen itu menjadi girang dan senang. Setelah menerima uang dari Andin dan berterima kasih, pengamen itupun pergi.


"Banyak banget uang yang kamu berikan ke pengamen itu An." Ucap Rudi.


"Hehehe, aku merasa terhibur. Jadi aku kasih banyak"

__ADS_1


"Lihat aja nanti, kamu pasti bakal nyesel memberi pengamen itu uang"


"Lah? Kok malah aku yang nyesel? Bukannya baik ngasih uang ke pengamen?"


"Hahaha, iya baik. Tapi kalau disini bakal jadi tidak baik."


"Memangnya apa yang akan terjadi?"


"Hahaha, nanti kamu bakal tahu sendiri." Ucap Rudi.


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Rudi, Andin menjadi sangat penasaran. Ia mencoba mencari jawaban dari Rudi dengan memaksanya untuk memberi tahu dirinya, namun Rudi tetap kukuh dengan jawabannya.


"Hahaha, nanti kamu bakal tahu sendiri. Jadi aku tidak perlu memberitahukannya."


Andin semakin penasaran dengan apa yang dimaksud oleh kekasihnya itu. Ia berusaha untuk tidak memikirkan maksud dari perkataan Rudi.


Waktu berjalan sangat pelan. Adzan isya' baru saja dikumandangkan dan beberapa angkringan lainnya baru memulai menata gerobak serta tikarnya.


Sebuah tempat di bagian alun-alun yang memang sudah disiapkan untuk para pedagang kaki lima. Tempat yang cukup strategis karena berada di pusat kota juga dipinggiran jalan raya.


Beberapa orang juga mulai berdatangan kesana. Ada yang bergandengan tangan dan ada juga yang sendirian. Ada yang bersama keluarga dan ada juga yang bersama teman-temannya.


Semakin malam semakin ramai dan suasana mulai berubah menjadi malam yang penuh dengan kebisingan suara manusia.


"Tidak" jawab singkat Andin.


"Sepertinya kamu sedang marah kepadaku hahaha..."


"Tidak"


Andin masih cemberut dan merespon perkataan Rudi dengan singkat. Wanita itu masih saja penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Rudi tadi.


Hingga beberapa saat kemudian datang lagi seorang pengamen yang langsung menghampiri mereka berdua. Andin yang masih cemberut itu memberi uang lagi kepada pengamen kedua itu, namun dalam nominal yang lebih kecil.


Setelah pengamen itu pergi, Rudi tertawa cengingisan dengan lenatap wajah Andin yang sedang memasukkan dompetnya ke dalam tas dengan wajah cemberut dan imut.


Setelah beberapa saat kemudian, datanglah pengamen ketiga yang juga langsung menuju tempat mereka berdua tanpa menghampiri tempat lain terlebih dahulu. Pengamen itu bernyanyi dan Andin mengeluarkan uang untuk ketiga kalinya. Uang yang ia berikan juga berkurang nominalnya, tidak lebih besar dari yang ia berikan kepada pengamen kedua.


Andin melirik ke arah Rudi setelah ia memberikan kepada pengamen itu. Terlihat jelas wajah cemberut Andin berubah. Andin mulai keheranan dan ceriga dengan pengamen yang datang ke tempatnya duduk. Rudi masih cengingisan dan tidak ingin memberitahukannya kepada Andin.

__ADS_1


"Ayo pindah" ajak Rudi.


"Kenapa pindah?"


"Sudahlah ayo pinda."


Rudi kemudian berdiri dan membayar. Andin mengikutinya dan segera menuju ke parkiran dan langsung tancap gas ke tempat selanjutnya.


Mereka berdua pindah ke sebuah kedai kopi yang terlihat sangat nyaman dengan berbagai macam lampu dengan warna dan bentuk yang berbeda.


"Mau pesan apa?" Tanya Rudi.


"Terserah!"


Rudi menatap manis Andin yang sedang marah dan kemudian pergi menuju tempat dimana dia akan memesan.


Setelah Rudi memesan, ia kembali duduk dan menggapai tangan dingin dan lembut Andin.


"Kalau kamu memberi uang kepada pengamen ditempat seperti tadi jangan banyak-banyak."


"Kenapa?"


"Nanti mereka akan lapor ke teman-temannya sesama pengamen dan mereka akan terus-menerus mengahmpiri kamu"


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Tanya tegas Andin.


"Hahaha... Kurang seru kalau aku terlalu cepat memberitahukannya kepadamu."


Andin kemudian melepaskan tangannya yang sedang digenggam dan dielus oleh Rudi. Wanita itu kemudian berdiri dan duduk disebelah Rudi. Setelah menyandingkan tempat duduknya, Andin langsung mencubit dan memukul Rudi bertubi-tubi.


Rudi hanya tertawa dan mengamankan bagian vital tubuhnya agar tidak terpukul oleh Andin.


"Kalau kamu bilang sejak awal, pasti aku gak bakal menyia-nyiakan uangku." Ucap Andin.


"Kan uang itu bisa aku berikan kepada yang lzbih membutuhkan!" Tambah Andin.


"Atau uang itu bisa buat bayar pesanan kita tadi!!" Tambah Andin lagi sambil tetap mencubit dan memukuli Rudi.


Rudi hanya tertawa dan tetap melindungi bagian vital tubuhnya. Andin tidak juga berhenti hingga penyaji minuman membawakan pesanan mereka.

__ADS_1


"Silahkan dinikmati kak." Ucap penyaji wanita itu dengan lembut dan manis.


...----------------...


__ADS_2