ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Kernet Tampan


__ADS_3

Semilir angin dari timur menyentuh kulit Rudi yang masih basah, berpakaian biasa dengan secarik kain untuk menutupi badan dan celana levis hitam favoritnya. Rudi berangkat bekerja dihari pertamanya dengan senyum lebar diwajahnya yang masih dalam keadaan mabuk kepayang dibuat Salsa. Kini setiap sore menjelang magrib Salsa datang ke kamar Rudi, meski tidak pernah disuruh masuk oleh Rudi dan hanya mengobrol di teras kamar.


Kebiasaan yang akan terulang dalam jangka waktu yang panjang. Akan ada lebih banyak waktu berduaan dengan Salsa dan menikmati keceriaannya yang akan membuat pagi Rudi menjadi lebih indah. Berangkat bersama dari depan kamar Salsa dan berpisah di persimpangan pemberhentian angkot, begitulah hari-hari Rudi akan berjalan.


"Halo pakde!" Sapa Rudi kepada bapak-bapak berjenggot agak lebat dengan topi merah bertuliskan "Pulang malu, tidak pulang rindu".


"Ohh, kamu sudah sampai, sini-sini". Pria itu menggapai tangan rudi dan menjelaskan tentang bagaimana Rudi akan bekerja. Mulai dari membantu penumpang menaikkan barang ke bagasi sampai berteriak sebagai alarm tempat pemberhentian selanjutnya. Rudi cepat paham dan mengerti perkataan orang itu. Tak lama setelah itu bus memulai keberangkatan dan sekaligus sesi pertama pekerjaan Rudi.


"Cepu, cepuuu, ceeepuuuu" Teriak Rudi dari amping-amping pintu bus.


Bus mulai berjalan dengan kecepatan penuh, tidak ada pemberhentian dalam waktu dekat. Rudi mulai menagih ongkos para penumpang, Satu per-satu penumpang membayar dan Rudi menyerahkan tiket yang sudah ia coret bagian-bagian yang merupakan tujuan penumpang tersebut.


"Lek, anak buahmu anyar maneh?" Teriak wanita tua yang sedang ia tagih ongkos penumpang.


"Iyoo, anyar tor kinyis" sahut pakde kernet.


"Le, kamu masih muda dan tampan, kok mau sih jadi kernet?" Tanya wanita itu dengan sedikit menggoda.


"Ya, namanya juga butuh uang buk!"


"Sudah berapa hari kerja jadi kernet?"


"Baru satu hari buk"


"Walah... seng telaten ya, laki-laki harus tangguh saat bekerja"


"Iya buk" tutup Rudi sambil beranjak ke penumpang lain.


Satu persatu semua penumpang mulai menyerahkan uang kepada Rudi. Rudi bertemu dengan banyak orang dari berbagai macam instansi dan berbagai macam profesi. Aparat kepolisian, Abdi negara, mahasiswa dan beberapa manusia biasa yang sepertinya hendak pulang kampung dan menemui keluarganya. Rudi menikmati pertemuannya dengan beberapa orang baru, tak jarang dia mengobrol dengan mereka, ada yang menyenangkan dan ada juga yang menyebalkan, ada yang sedikit bicara ada juga yang ceriwis dan cerewet. Rudi tidak mengambil hati jika obrolannya tidak mendapat respon yang baik, semua hal yang terjadi dia menikmatinya.


Hari pertama Rudi berjalan lancar meskipun kepalanya sedikit pusing akibat goyangan bus dengan kecepatan tinggi. Rudi turun dari bus dan menghampiri Pakde Kernet.

__ADS_1


"Dek, Ini untuk hari ini". Ucap pakde kernet itu sambil menyodorkan uang berwarna hijau.


"Terimakasih pakde"


"Iya sama-sama, ini untuk uang jajan, nanti setiap bulan kamu dapat gaji pokok juga"


"Enggeh-enggeh pakde, terimakasih"


"Nama kamu siapa"


"Saya Rudi pakde"


"Ohh Rudi, Panggil saya De Run aja ya"


"De Run?"


"Iya, Nama saya Kirun. Biasanya orang-orang manggil saya De Run"


"Aku langsung moleh ae, Istriku sudah masak, ngopi di rumah sambil momong anak"


"Oh yawes De Run, aku juga langsung pulang kalau begitu"


Mereka berdua mudah akrab karena sikap Pakde Kirun yang ramah hingga membuat Rudi nyaman dan tidak segan untuk bertanya-tanya. Rudi pun segera pulang, uang yang dia dapat hari ini dia simpan terlebih dahulu karena masih ada uang sisa kemarin. Rudi mencegat angkot dan pulang dengan senang. Dia belum mengetahui berapa gaji pokoknya selama satu bulan. Namun itu bukan masalah bagi Rudi dengan menekan sedikit rokok dan makan, uang berapapun akan cukup.


Sampai di kamarnya, Rudi tidak menjumpai Salsa saat lewat depan kamarnya. Justru dia bertemu dengan Mbak Kos yang sedang menyapu teras rumahnya. Rudi hanya menyapa dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan mengabaikan pemilik kos itu.


Sampai di kamar, Rudi membasuh wajah dan kaki kemudian duduk di teras kamarnya, bersantai dan menyalakan sebatang rokok miliknya. Menghisap dalam-dalam sendirian dan menghembus


kannya. Asap dan perasaan lega keluar dari mulut dan hidung.


Sepertinya sore ini Salsa tidak datang, mungkin hanya kemarin dia kesini. Rudi menyelesaikan hisapan terakhir dan masuk ke kamar, membuka bungkusan yang dia beli diperjalanan saat pulang tadi.

__ADS_1


"Tok, tookk! pakeett"


Suara imut Salsa yang membuat Rudi tersenyum saat mendengarnya. Suara yang menirukan tukang paket lagi, sebuah hal klasik dari seorang wanita cerita bertubuh mungil. Iapun beranjak membukakan pintu dengan tangan belepotan yang baru saja menyentuh makanan.


"Ganggu gak Rud?" Tanya Salsa.


"Ohh gak apa-apa Sa, aku baru mau mulai makan"


"Kamu masih butuh makan?"


"Ahahaha, iyalah, kernet juga manusia"


"Ahahaha, sebentar-sebentar, tunggu aku, kita makan bersama" ucap Salsa sambil berlari menuruni tangga dengan berlari pelan.


Rudi membawa makanannya keluar, tetap dengan prinsipnya yang menganggap berduaan dengan wanita didalam satu kamar itu tidak sopan. Tak lama kemudian Salsa kembali dan membawa bungkus plastik berwarna merah. Salsa mengeluarkan makanan dan mereka makan bersama di depan pintu kamar. Karena kamar Rudi berada paling pojok jadi tidak ada orang yang lalu lalang dan mengganggu sesi makan mereka. Mereka menikmati makanan masing-masing, saling bertukar lauk dan becanda ringan.


"Kapan-kapan tak masakin ya?" Ucap salsa.


"Hahaha, masak air?"


"Masak kuda guling!"


"Hahaha, baiklah ku tunggu"


...****************...


...cinta itu dari hati bukan dari mata turun ke hati...


...Kata orang yang suka tiba-tiba jatuh hati saat pertama kali bertemu dengan wanita...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2