ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Kebun Teh


__ADS_3

Hari yang indah seakan berlalu begitu saja, seperti kepergian senja yang tanpa permisi. Begitulah hari-hari Rudi selama lima hari terakhir ini. Selama lima hari itu ia tidak bertemu dengan Andin sekalipun. Rudi tidak mengetahui apa penyebab dari kesenjangan hubungannya dengan Andin.


Rudi terlihat seperti biasa. Pria itu tidak menampakkan sedikitpun keresahannya didepan temannya. Ia berusaha sebisa mungkin menutupi perasaan gundah yang semakin hari semakin membuatnya tidak bisa tidur.


Hampir sehari sepuluh kali atau bahkan lebih Rudi menelpon kekasihnya Andin, namun tidak pernah ia mendapatkan jawaban. Seakan Andin lenyap dalam waktu singkat.


Hari ke-enam juga demikian, Andin masih belum memberi kabar kepada Rudi. Rudi tidak berani menanyakan kepada Erlang yang masih memiliki hubungan darah dengan kekasihnya. Menurut Rudi hal itu akan semakin memperumit masalahnya.


Sore tepat hari ke-enam kegelisahan Rudi. Ia pergi ke suatu tempat yang tidak pernah ia datangi. Insting pria itu mengantarkannya ke sebuah tempat dimana beberapa tembok bekas reruntuhan rumah porak poranda. Tembok-tembok itu terlihat sangat tua dan berjamur. Beberapa tumbuhan liar sudah menyelimuti reruntuhan itu.


Rudi naik ke bagian paling atas, kemudian ia duduk dan menyalakan sebatang rokok. Menatap lurus ke depan tepat dimana jalan raya beserta beberapa kendaraan. Tatapannya kosong dan penuh kebingungan, ia merasakan hal buruk akan segera terjadi dan dia tidak mengetahui hal buruk apa itu.


Sesekali ia melihat telepon kecil yang ia bawa kesana-kemari. Ia berharap akan mendapatkan kabar dari kekasihnya yang sudah lama menghilang.


Matahari sore itu semakin tenggelam, malam semakin datang mendekat dan mulai gelap. Rudi turun dari atas reruntuhan itu dan berjalan pulang.


Di tengah perjalanan pulang tiba-tiba saja teleponnya berdering. Rudi langsung merogoh sakunya dan melihat layar kecil teleponnya. Benar saja itu Andin, Rudi langsung mengangkat dan bertanya.


"Ada dimana kamu sekarang? Apakah kamu baik-baik saja"


"Hehehe, aku baik-baik saja"


jawaban Andin membuat Rudi sedikit lega dan lebih tenang dari sebelumnya.


"Kamu sekarang ada dimana?" Tanya Andin.


"Ada di jalan. Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Besok aku kesana, sore. Jangan sampai membuatku menunggumu mandi ya..."


"Siap tuan putri..."


Andin menutup teleponnya tanpa mengatakan apapun lagi. Rudi yang sebelumnya murung dan bingung menjadi sangat ceria, seakan berjuta-juta bunga sedang mengelilingi dirinya.


Rudi berjalan cepat dan sedikit meloncat kesana-kemari hingga ia sampai di depan kamarnya.


...----------------...


Sore yang indah kembali terulang seperti mimpi bagi Rudi. Pria gagah dan tampan itu sudah terlihat rapih dan sudah mandi saat Andin datang.


Andin turun dari atas motor dan melepas helmnya. Wanita itu kemudian tersenyum ke arah Rudi dengan manisnya dan langsung menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Langsung berangkat?" Tanya Rudi setelah Andin tiba didepan kamar.


"Sebentar aku mau ke kamar mandi"


"Baiklah"


Rudi menunggu beberapa saat dan Andin keluar dari dalam kamar mandi.


"Ayo..." Ucap Andin.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju motor dan langsung tancap gas. Hati Rudi saat itu sangat girang, sebelumnya ia berpikiran macam-macam karena tidak dapat kabar selama beberapa hari. Mungkin itu karena ketakutan dari masa lalunya. Rudi takut hal buruk seperti apa yang terjadi pada Salsa akan terjadi lagi pada Andin.


Pria itu mengemudikan motor tanpa bertanya kepada Andin kemana mereka hendak melakukan perjalanan. Andin juga hanya diam dan tidak memberitahu Rudi kemana ia akan pergi.


Perjalanan tanpa arah itu masih belum menemukan tempat yang akan dituju hingga Andin menepuk pundak Rudi.


"Ada apa?"


"Hendak kemana kanda akan membawa dinda ini?"


Seketika Rudi melepas satu tangannya yang sedang memegang setir motor dan menepuk jidatnya.


"Iya, kita mau kemana?"


"Hmm, baiklah. Aku tahu satu tempat yang sangat indah"


Motor matic itu terus berjalan hingga beberapa jam. Tidak ada obrolan lagi setelah itu. Mereka hanya saling terdiam di atas motor. Andin tidak seperti biasa, ia hanya duduk dan menaruh tangannya di atas pahanya dan tidak memeluk Rudi Seperti apa yang dia lakukan dulu. Rudi yang tengah sibuk menyetir dengan hati berbunga-bunga itu tidak menyadari keanehan Andin saat itu.


Beberapa jam berlalu dan mereka mulai memasuki sebuah lahan perkebunan teh yang teramat luas. Di tengah perkebunan teh itu terdapat sebuah warung dengan tiga gubuk yang terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari anyaman daun-daun panjang yang menutup rapat setiap celah.


Rudi dan Andin mendekati warung itu dan memarkir motornya. Disana hanya terlihat beberapa orang, dua motor dengan empat orang, dua orang penjaga warung dan beberapa orang yang sedang memetik daun teh.


Rudi menyuruh Andin untuk duduk di salah satu gubuk dan Rudi memesankan minuman. Ada beberapa menu yang terlihat seperti sebuah menu cafe dan juga beberapa cemilan khas perkampungan.


Rudi memesan dua minuman berwarna ungu dan mengambil beberapa cemilan kemudian menghampiri Andin dan duduk disebelahnya.


"Kamu tahu darimana tempat seindah ini?" Tanya Andin.


"Hehehe, dulu aku pernah kesini bersama keluarga"


"Sangat indah dan menyegarkan pikiran"

__ADS_1


"Iya, dan warung ini sudah berdiri sejak dua puluh tahun yang lalu"


"Dua puluh tahun?"


"Iya, aku kesini sepuluh tahun yang lalu dan saat itu si penjaga warung mengatakan bahwa warungnya sudah berdiri sejak sepuluh tahun lalu"


"Cukup lama ya... Tapi kenapa mereka membuka warung ditempat seperti ini, bukannya akan sulit jika hanya mengandalkan beberapa pemanen teh saja?”


"Iya, tapi seiring berjalannya waktu semakin banyak yang mengetahui tempat ini dan saat mereka ada di daerah ini mereka tidak akan lupa untuk mampir kesini"


Andin mengangguk tanda dia memahami perkataan Rudi. Selang beberapa waktu pesanan mereka sudah jadi dan mereka mulai menikmati minuman segar serta menikmati pemandangan hijau yang ada didepan mereka.


Mereka termenung sejenak mengamati orang-orang yang sedang memetik daun teh dengan ahlinya, seakan tangan dan jari mereka sudah bisa memilih dan memilah mana daun yang pantas dipanen dan mana yang tidak. Dalam keheningan sesaat itu tangan Andin perlahan menggapai tangan Rudi. Diam mereka seakan sedang mengatakan beberapa kata mesra.


"Rud, aku mencintaimu" ucap Andin.


"Demikian pula denganku"


Mereka saling tatap muka dan tersenyum, kemudian mereka menatap ke-depan lagi.


Cukup lama mereka saling terdiam, angin yang berhembus dengan pelan seakan memberi mereka sebuah nafas keharmonisan. Angin itu seakan membawa banyak cinta dan mengisi setiap pori dengan cerita kasih.


"Oh iya, besok aku mau ke luar kota. Kamu kalau mau bisa ikut."


"Naik apa?"


"Mobil, sama beberapa teman cewek"


"Ada cowoknya?" Tanya Rudi dengan wajah cemburu.


"Ada"


Wajah Rudi semakin terlihat cemburu dan Andin menyadarinya dengan tersenyum.


"Sopirnya" tambah Andin


"Hahaha, baiklah"


"Kamu mau ikut?"


"Hmm, aku besok kerja"

__ADS_1


"Baiklah jika kamu tidak ikut"


......................


__ADS_2