ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Tidak Penting


__ADS_3

Restoran dengan model ala-ala Tionghoa, serba berwarna merah dengan motif-motif lampu liontin yang sangat identik. Lampu berwarna kuning yang menghiasi setiap jalur masuk ke dalam restoran membuat nuansa menjadi lebih tenang dan ramai.


Beberapa meja telah terisi penuh, Laura dan Erlang menuju meja yang ada dipinggir pagar.


Udara segar malam itu sangat cocok untuk menemani kencan mesra mereka.


"Emang kamu bisa nyetir bus Lang?" Tanya Laura.


"Bisa, tapi belum punya SIM B1"


"Yasudah tinggal buat aja"


"Iya"


Mereka berdua sedang makan malam bersama. Erlang mengajak Laura setelah sekian lama mereka tidak bertemu.


Erlang nampaknya sedang sangat rindu dengan kekasihnya itu setelah terakhir kali bertemu pada acara ulang tahunnya. Rudi nampak sangat rapih meski hanya memakai kaos dan celana pendek serta tas selempang hitam dan kecil. Sedangkan Laura ia terlihat sangat cantik, ia duduk menghadap ke arah utara dengan rambut hitam terurai dan makeup tipis yang memperindah tampilannya.


Saat mereka sedang asik makan malam bersama, disisi lain Rudi justru hanya tiduran dengan gitar ia taruh di atas perutnya dan memainkannya pelan-pelan. Ia menatap langit-langit kamarnya dan mendengarkan suara dari handphone yang ia taruh disamping telinga kirinya.


"Iya, jadi tadi aku beli sayuran ya kan. Pas aku lagi sedang di kontrakan. Lah aku mau beli terong buat sambel lalapan. Lah si tukang sayur malah bilang 'terong buat anuan ya kak?' Terus aku jawab dong! Maksud kamu apa ya mas? Lah si tukang sayur malah ngelunjak..."


Andin sedang asik menceritakan pengalaman buruk yang ia alami pagi ini, sedangkan Rudi mendengarkannya tanpa mengatakan apa-apa dan tetap bernyanyi dengan bergumam.


Ia mendengar suara Andin tapi suara itu hanya masuk melalui telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan.


Seakan sedang ada banyak hal hilang dan Rudi kembali mengingatnya. Ia kembali dalam keadaan bimbang yang benar-benar sudah mengambang. Melamun namun tetap bermain gitar.


"Rud... Rudi,... Sayang..." Panggil Andin dari telepon.


"Ruuuddd!!" Bentak Andin semakin keras.


"Ahh.. Apa?"


"Kamu sedang melamun?"


"Tidak, tidak! Aku mendengarkan."


"Tidak, kamu tadi melamun"


"Hahaha maaf"


"Sedang ada masalah?"


"Tidak sebenarnya, hanya memikirkan yang terjadi kemaren di terminal."


"Apa yang terjadi disana?"

__ADS_1


"Erlang, tiba-tiba ia diminta menjadi supir bus oleh pak Darto"


"Ohh, Erlang sekarang sudah jadi sopir bus"


"Iya"


"Terus apa yang jadi masalah?"


"Masalahnya aku perlu nyari teman buat jadi kernet lagi"


"Hahaha, begitu saja kamu sampai melamun?"


"Hahaha, iya. Lagi asik aja main gitar sambil menatap langit-langit kamar."


"Aku ikut jadi kernet boleh tidak?"


"Hahaha, jangan! Di terminal banyak mata keranjang. Nanti kamu dilirik sama mereka."


"Hahaha, emang kenapa kalau aku dilirik sama mereka? Kamu cemburu?"


"Iyalah, kan kamu adalah bidadari yang ku miliki, yang aku ambil dari sungai yang jernih dan wangi"


"Hahaha apaan, gak jelas"


"Besok keluar yuk!"


"Aku besok ada kerjaan banyak, apalagi masih belum beres-beres kontrakan"


"Kapan?"


"Tiga hari lagi, sambil menunggu pergantian supir."


"Erlang sama Laura sekarang sedang keluar bareng ya?"


"Iya, tadi Erlang mampir kesini dulu sebelum berangkat."


"Hahaha, sepertinya hubungan mereka semakin dekat"


"Sudah waktunya mereka menikah"


"Lah kita kapan sayang?" Ucap Andin manis.


"Hahaha, mau kapan sayang?"


"Aku sih ngikut sopir aja hahaha..."


"Santai dulu aja, buru-buru nikah malah kurang seru."

__ADS_1


"Hahaha, kenapa bisa jadi kurang seru?"


"Ketemu kamu terus setiap pagi, siang, sore malam. Hahaha..."


"Hahaha, aku juga bakal bosen sih kalau lihat wajahmu terus setiap bangun tidur"


"Hahaha, sekarang kamu tidur?"


"Entar baru juga jam sembilan"


"Besok telepon aku lagi ya, pulsa dan uangku sudah habis."


"Siap pak!"


...----------------...


"Rudi pasti sekarang sedang teleponan sama Andin." Ucap Erlang.


"Hahaha, kemarin malah aku sempat lihat dia cium jauh. Gila bener anak itu"


"Hahaha, tapi mereka terlihat cocok sih"


"Iya, tapi Rudi dulu pernah cerita kalau dia masih mengagumi Marni."


"Wajar sih itu, Marni itu cantik banget. Aku pernah melihatnya meski saat itu Marni masih memakai cadar."


"Cantik mana dengan aku?" Tanya Laura.


"Mau jawaban jujur atau..."


"Jujur" potong Laura sebelum Erlang selesai.


"Cantik Marni"


Bukannya cemburu atau marah, Laura justru malah tersenyum mendengar kekasihnya lebih memuji Marni daripada dirinya.


"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Erlang.


"Hahaha, jadi tidak salah jika Rudi terlalu memuji Marni saat bercerita denganku. Dulu aku menganggapnya terlalu berlebihan memuji Marni, tapi setelah mendengar kamu mengatakan itu juga, aku jadi sadar dengan kecantikan yang digambarkan oleh Rudi saat itu."


"Emang bagaimana Rudi menggambarkan Marni?"


"Hahaha, sulit untuk diulang. Panjang banget pokoknya."


Makanan dimeja mereka sudah habis. Empat piring yang penuh dengan sisa-sisa tulang ikan dan ayam. Mereka menghabiskan minuman yang tersisa dan kemudian beranjak untuk pulang.


"Nanti kita cari nasi bungkus dulu, Rudi nitip" ucap Erlang.

__ADS_1


Laura mengangguk dan kemudian mengemasi tas dan barang-barangnya yang ada dimeja dan langsung pulang.


...----------------...


__ADS_2