
Sudah pagi Rudi berangkat lebih pagi kali ini karena biasanya yang berada paling awal di terminal adalah De Run dan mulai hari ini dia sudah tidak lagi berada di terminal. Rudi sampai di terminal dan mulai mencari penumpang, selang beberapa menit Erlang datang dan membantunya.
Erlang adalah seorang pria yang memiliki solidaritas tinggi, dia akan sangat menghargai siapapun yang menghargainya, hal ini membuat Rudi dan Erlang menjadi sangat akrab dari awal mereka bertemu.
Menurut De Run, Erlang adalah seorang perantau karatan yang sudah sangat lama berada jauh dari rumahnya, tidak ada yang tahu apa alasan Erlang begitu betah di kota ini. Erlang memiliki sebuah tato bergambar seorang anak kecil yang ia pasang pada tangan kanannya. Tidak ada seorang pun yang menanyakan hal itu karena Erlang juga tidak pernah membahasnya.
Setelah beberapa lama bus mulai berangkat, Rudi kini menjaga pintu bagian depan sedangkan Erlang menjaga pintu belakang.
"Kirii", Teriak Erlang.
Sekelompok wanita menaiki bus, Erlang nampak senyum-senyum dan menggoda seorang wanita dengan mengajaknya berbincang. Tidak ada sikap Erlang yang kurang ajar, dia paham betul bagaimana cara menghargai wanita meskipun wajah dan penampilannya sedikit sangat dan seperti seorang yang sangar.
Bus berjalan kencang, memasuki jalan tol.
"Rud, sudah dikabari Kirun?", Tanya sopir bus.
"Ohh sudah pak"
"Gak ada Kirun jadi gak ada hiburan"
"Hahaha, itu ada Erlang pak"
"Hahaha garangan doyan godain cewe tok!"
"Hahaha"
"Telpon si Jali Rud, dia rame gak"
Jali adalah sopir bus yang dikerneti oleh Arto. Rudi menelponnya dan mengobrol sebentar.
"Lumayan katanya pak"
"Ohh ok kalo begitu"
Pekerjaan yang entah kenapa terasa bagi Rudi seperti berpetualang setiap hari, melakukan perjalanan setiap hari, bertemu orang baru setiap hari dan pengalaman baru setiap hari. Rudi mulai berpikir apakah dia akan benar-benar pergi setelah mendapatkan apa yang dia cari? Kehidupan baru yang dijalani Rudi saat ini begitu penuh dengan hal menyenangkan. Banyak hal yang tidak ia temukan saat berada di rumah dengan berbagai fasilitasnya.
Rudi melamun cukup lama hingga dia disadarkan oleh Erlang yang menepuk pundaknya.
"Rud, nanti ngopi bareng"
"Yaa, terserah"
"Bayari yaa"
"Ahahah, yang ngajak siapa yang bayar siapa"
"Hahaha, aku kan anak baruu", Banyolan Erlang seperti sedang menjadi anak kecil.
Erlang duduk disebelah Rudi yang sedang berdiri didepan pintu bus sambil menjaga pintu tetap tertutup. Erlang memandang kosong ke depan dan kemudian.
"Pak sopir, tadi malam sudah naik ya?"
"Hahaha, sudah tiga kali"
"Pantess lemes"
"Hahahaha"
Yang Erlang maksud dengan "Naik" disini adalah hubungan antar suami dan istri. Erlang tidak butuh saling mengenal untuk mengajak saling bercanda, dia selalu memulai percakapan dan candaan. Rudi melihat Erlang seperti seorang yang mencintai kedamaian tidak memiliki sebuah hati yang mudah disakiti.
Bus melaju dengan cukup kencang, jalanan yang hanya berisikan beberapa truk dan mobil itu semakin membuat bus berjalan semakin lancar. Tidak seperti hari senin yang lain, hari senin ini cukup sepi.
Selang beberapa jam kemudian, bus sampai pada terminal tujuan dan para penumpang mulai turun.
Erlang mengajak Rudi untuk ngopi sebentar dan menyuruh Rudi untuk membayar kopinya dengan bercanda.
"Mak, kopi pahit satu sama jamu anti lemes satu buat Erlang"
"Lehh nguwawur! Mak aku jamu anti miskin mak!
"Hahaha"
Emak-emak penjaga warung itu pun mulai memasak air dan membuatkan dua kopi untuk Erlang dan Rudi. Tidak butuh waktu lama kopi yang mereka pesan pun sudah jadi.
"Rud, Kirun kemana?", Tanya Emak itu.
__ADS_1
"De Kirun pensiun mak"
"Ohh, jadi sekarang kamu bareng sama luwak ini", Ejek emak kepada Erlang.
"Lohh lohhh looohhh, Ganteng gini dipanggil luwak!", Balas Erlang.
"Hahaha, ganteng seperti Pardi"
"Ahahaha, bener mak!", Tambah Rudi.
"Ngawor ae rekk, Pardi itu artis looh jangan sembarangan"
"Artis kamar mandi"
"Jahahaha"
Yang biasa ngopi di warung itu memang hanya beberapa oran seperti Erlang, Arto, Rudi, Pardi (tukang jaga kamar mandi), De Kirun dan sopir bus yang di kerneti oleh Rudi. Karena terdapat beberapa warung kopi lain dengan penjaga yang lebih muda dan bahkan ada yang lebih seksi jadi warung emak menjadi warung paling jarang dikunjungi meskipun kopi emak lebih enak dan wangi. Kopi hitam yang disajikan oleh emak adalah kopi yang ia masak dan tumbuk sendiri, tidak seperti warung lain yang menggunakan kopi bubuk saset.
"Rud, kamu sudah nikah?"
"Nikah sama kucing?"
"Hahaha, serius aku"
"Belom, emang kenapa?"
"Gak papa, cuma pengen tahu"
"Lang, umurmu aslinya berapa?"
"Aku dua sembilan Rud"
"Ohh, tuwek wesan yoo!"
"Yoo poll!"
"Hahaha, aku dua lima"
"Yo dang Nikah to"
"Hahahaha"
Erlang menyudahi percakapan itu tiba-tiba dan menyalakan batang rokok yang dari tadi ia pegangi. Rudi juga tidak terlalu memperhatikan Erlang, dia meminum kopi pahit yang ia sukai.
"Rud, kamu percaya gak, kalo aku ini orang kaya?'
Pertanyaan Erlang yang tiba-tiba saja itu membuat Rudi terkejut.
"Hah! Apa?"
"Aku aslinya orang kaya Rud"
"Serius Lang?"
"Iyo, serius"
"Terus kenapa kamu kerja disini"
"Buat cari uang"
"Lah? Jaremu kamu orang kaya?"
"Iya, kemarin aku solat 2 rokaat yang katanya lebih mahal dari dunia dan seisinya"
Rudi memandang Erlang dengan pandangan yang tajam dan sedikit tertawa kemudian menyuruh Erlang berbalik badan dan meletakkan tangan di atas kepala Erlang dan memukulnya.
"Biar gobloknya hilang"
"Muahhaha, Salah opo aku Rudd, ahahha"
"Bukan begitu konsepnya tusuk pantaatt"
"Ahahahaha, kata ustad begitu"
"Hahaha, dua rokaat gak iso buat beli rokok!"
__ADS_1
"Hahahha, ngawor ustad loo itu yang bilang"
Perbincangan mereka tidak menemukan hal buruk, semua hal mereka jadikan sebagai guyonan. Sampai hp Rudi berbunyi dan Rudi mengangkatnya. Pak sopir menyuruh mereka berdua untuk mulai mencari penumpang karena ada perubahan jadwal dan bus mereka akan berangkat lebih cepat.
Mereka berdua cepat-cepat kembali ke pangkalan bus mereka dan mulai bekerja lagi, seperti biasa pak sopir masih ngopi dan mereka sudah mulai mencari penumpang.
"Rud, rudd Cewek cantik Ruuddd", Teriak Erlang sambil menunjuk seorang wanita.
"Gak berani ngajak kenalan ae mlete!", Jawab Rudi tanpa menoleh dan melihat wanita yang ditunjuk Erlang.
"Kalo berani, nanti traktir pecel yo?"
"Yoo gass, nek wani"
"Okee siap, nanti"
Beberapa penumpang sudah duduk di kursi masing-masing dan pak Sopir juga sudah kembali dari warung. Bus sudah mulai di panasi oleh pak sopir sambil menunggu penumpang lainnya.
Setelah beberapa menit kemudian bus mulai berangkat dan si Erlang meminta Rudi agar dirinya yang menagih tiket para penumpang, Rudi mengiyakannya. Rudi mengetahui maksud Erlang yang ingin menagih ongkos penumpang itu untuk sekaligus berkenalan dengan wanita yang iya tunjuk tadi.
Rudi berada didepan dan nampaknya wanita yang diincar oleh Erlang itu berada dikursi paling belakang. Rudi mengawasi Erlang sampai pada Erlang berada didepan wanita itu. Rudi tidak bisa melihat wajah wanita itu, hanya terlihat seorang wanita yang memakai pakaian serba merah mudah dan memakai kerudung.
Rudi mengabaikan apa yang dilakukan Erlang, dia lebih memilih untuk menghadap ke depan dan menikmati perjalanan.
Bus sudah sampai di terminal asal, semua penumpang turun dan Erlang menghampiri Rudi.
"Rud, aku sudah tahu nama gadis itu, Hahahahhaa"
"Sopo?"
"Namanya Marni"
"Marni?"
"Iyo, Tapi aneh dia sepertinya kenal denganmu"
"Haahh, kok bisa?", Tanya Rudi sedikit kaget.
"Iya, dia tadi bilang katanya dia mengenalmu, dia juga mengetahui namamu"
"Terus, teruss dia bilang apa lagi?"
"Katanya, dia sudah menempati janjinya"
"Haahh, Marni? Temanku?", Rudi berpikir keras.
Rudi mencoba mengingat siapa temannya yang memiliki nama "Marni" Namun Rudi tidak menemukan seorang pun temannya yang bernama Marni.
"Dia bilang apa lagi Lang?", Tanya Rudi.
"Emmm, gak ada. dia hanya bilang dia mengenalmu dan memberitahukan siapa namanya"
"Emm, siapa ya?"
"Eh iya, dia juga bilang 'Sekarang kita berteman"
"Emmm, siapa ya?"
Rudi seperti terperangkap dalam sebuah labirin yang tidak sengaja ia masuki.
...****************...
...Anggun-anggun wanita...
...Bersama bunga mereka mekar dan menari...
...Tidak ada lagi lebah yang hinggap...
...Tanda mereka sudah tidak lagi semerbak...
...Ladang luas tidak butuh banyak bunga...
...Lautan luas butuh ikan dan karang...
...****************...
__ADS_1