ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Surat Perpisahan dari Salsa


__ADS_3

Rudi dan Laura mencari rumah Pak Amin yang bertanggung jawab atas pengobatan Salsa dan juga merupakan bos dari tempat Salsa bekerja.


Mereka berdua mencarinya di restoran dan ternyata dia tidak ada disana. Laura menanyakan alamat rumah pak Amin kepada pegawainya dan mendapatkan alamatnya. Rumah pak Amin cukup jauh dari yang mereka kira, butuh waktu sekitar tiga jam-an untuk sampai disebuah rumah besar dengan pagar berwarna hitam dan tinggi. Ada dua penjaga yang menjaga pagar itu.


"Selamat siang pak" sapa Laura yang baru saja keluar dari mobil.


"Iya selamat siang. Ada perlu apa mbak?"


"Saya hendak mencari pak Amin, apakah beliau ada di rumah?"


"Iya, beliau ada di rumah. Apakah mbak sudah ada janji dengan pak Amin?"


"Ohh... Belum pak. Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal tentang teman saya yang merupakan pegawai dari pak Amin."


"Baiklah, mohon tunggu sebentar disana." Ucap penjaga itu sambil menunjuk sebuah kursi dengan atap dan pemandangan yang indah.


Rudi memarkir mobilnya dan menunggu di tempat yang ditunjukkan oleh penjaga itu. Sebuah gubuk terbuka yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran naga, atapnya terbuat dari helai dedaunan yang tertata rapih. Berada di luar pagar dengan pemandangan taman yang juga berada diluar pagar.


Tidak seperti beberapa rumah mewah lainnya yang menaruh taman di bagian dalam pagar. Taman rumah pak Amin justru berada di luar pagar. Beberapa suguhan disiapkan untuk Rudi dan Laura, mereka sangat menikmati jamuan dari kedua penjaga pagar itu.


Setelah beberapa saat menunggu dan menikmati beberapa cemilan, salah satu dari penjaga pagar rumah pak Amin itu menghampiri mereka dan menyuruh mereka masuk.


Bukan hanya sekedar luarnya saja yang mewah, di dalam pagar rumah pak Amin juga terlihat sangat mewah dan megah. Penampakan rumah yang sangat besar dengan warna serba putih, taman didalamnya yang juga tidak kalah dengan taman yang berada di luarnya dan juga pintu yang sangat tinggi dan besar.


Dua orang wanita muda membukakan pintu dan menyuruh mereka masuk. Nampak seorang bapak-bapak sedang duduk menunggu mereka.


"Duduk! duduk silahkan duduk" ucap pak Amin.


Mereka berdua duduk bersampingan dengan pak Amin, datang dua wanita muda yang membukakan pintu tadi dan menawarkan minuman.


"Ada perlu apa?" Tanya pak Amin.


"Saya mau tanya tentang Salsa, salah satu karyawan bapak" tanya Rudi tanpa basa-basi

__ADS_1


"Ohh... Salsa. Dia sudah pulang"


"Pulang? Kemana Pak?"


"Emm... Kurang paham. Dia hanya bilang ingin pulang dan saya menjemputnya di rumah sakit. Setelah itu saya antar Salsa ke terminal." Jelas pak Amin.


"Apakah dia tidak mengatakan apapun pak?"


"Tidak, dia hanya diam saja. Sudah saya bujuk untuk tetap bekerja, namun dia menolaknya"


"Ehh... Sebentar! Tadi dia menitipkan sebuah surat untuk Rudi tapi saya tidak tahu siapa itu Rudi."


"Saya Rudi pak, maaf belum sempat mengenalkan diri. Boleh saya lihat suratnya?"


"Ohh... Jadi kamu, sebentar ya"


Pak Amin masuk ke dalam kamarnya dan tidak lama ia keluar dengan sebuah amplop putih dan memberikannya kepada Rudi.


"Jangan dibuka dulu, buka nanti ketika kamu sudah pulang."


"iya benar"


"Bisa tolong ceritakan apa yang terjadi kepada Salsa?"


"Bisa, akan saya jelaskan sedetail mungkin"


Pak Amin sangat baik dan sabar, dia menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutupi. Mulai dari kecelakaan yang terjadi kepada Salsa hingga tanggung jawabnya membawa dan membayar semua biaya rumah sakit Salsa.


Setelah pak Amin menceritakan semua, giliran Rudi menceritakan semuanya bahkan Rudi juga menceritakan bahwa dia hendak menikahi Salsa. Pak Amin mendengarkan cerita Rudi, namun dia tidak bisa memberikan bantuan lebih dia hanya mengatakan bahwa Salsa tidak ingin lagi ditemui oleh Rudi dan beberapa informasi yang sudah ada di surat yang diberikan oleh Salsa.


Setelah melanjutkan obrolan mereka, Rudi berpamitan untuk segera pulang dan melanjutkan agar bisa secepatnya mencari Salsa.


...----------------...

__ADS_1


Setelah mereka keluar dan berpamitan. Mereka memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan melanjutkan mencari Salsa esok lagi.


Setelah sampai di kos-kosan, Rudi langsung menuju kamarnya setelah berterimakasih kepada Laura karena sudah membantunya.


Hari itu cukup panas, sangat panas hingga membuat seisi kamar Rudi terasa sangat gerah. Rudi membuka bajunya dan keluar dari dalam kamarnya. Berdiri di depan kamar lantai dua dengan udara panas dan angin sejuk. Dia mengambil surat dari Salsa dari saku celananya, membuka dan membacanya.


...----------------...


Aku tau jika kau benar-benar mencintaiku


Aku juga mengerti ketulusan dan keikhlasanmu


Namun didalam hati ini seperti ada sesuatu yang menjanggal dan membuatku tidak nyaman


Rudi... Kita tidak bisa saling bersama


Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku


Ini semua keinginan dari hatiku


Lanjutkan hidupmu tanpa diriku dan aku juga akan melanjutkan hidupku


Kamu tidak perlu lagi mencari diriku karena kamu tidak akan pernah menemukan aku


Tetaplah hidup dan berbahagialah


Terimakasih atas segalanya.


...----------------...


Rudi melipat kembali surat itu dan memasukannya ke dalam saku celananya lagi. Dia mengambil sebatang rokok dan membakar ujungnya, mendongakkan kepalanya ke langit yang panas dan menghembuskan asap-asap pelepasan.


Dia terbenam dalam kepasrahan bersama angin-angin keikhlasan. Semua kenangannya dengan Salsa tersapu bersama udara dan teriknya cahaya sang surya.

__ADS_1


Kegelapan menyapakan dirinya, melambai seakan mengajak Rudi agar menghampirinya. Rudi lelap dalam lelahnya perjuangan.


...----------------...


__ADS_2