ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Pulang


__ADS_3

Kuda besi sampai di rumah Laura dengan selamat beserta enam manusia yang menungganginya. Arga pergi mengantar Elsa pulang, dia bilang ingin bermanja-manja dengan Elsa sekaligus berkenalan dengan dengan orang tuanya.


Andin dan Erlang tidak langsung pulang, mereka masih berada di rumah Laura dan bersantai sejenak. Rudi dan Erlang sangat kelelahan selama perjalanan. Perjalanan pulang mereka melalui berbagai masalah dengan para wanita yang ingin berbelanja di berbagai pasar dan pertokoan.


Mampir kesana-kemari membuat perjalanan semakin lama dan melelahkan.


Laura keluar dari dalam dapur dengan membawa empat gelas es yang terlihat sangat menyegarkan. Laura seperti menjadi seorang yang berbeda setelah ia berlibur dan berpacaran dengan Erlang. Ia lebih terlihat sebagai wanita dengan sifat ke-ibuan dibandingkan dengan seorang wanita yang riang seperti dulu.


"Lelah banget sumpah!" Keluh Rudi.


"Iya, kebanyakan berhenti sana-sini" jawab Erlang.


"Hahaha, mana ada lelah? Aku aja masih sehat dan kuat." Kata Andin.


"Iyalah, coba aja kamu yang nyetir. Patah tulangmu pasti" balas Erlang.


"Hahaha, emang dasar pria-pria lemah" Laura ikut nimbrung dan duduk.


"Hahaha, lemah di perjalanan bukan berarti lemah diranjang" kata Erlang.


"Ahhh... Yang bener?" Laura menatap Erlang seperti sedang menggodanya.


"Paling cuma kuat dua ronde" tambah Andin.


"Hahaha, setuju."


Mereka melepaskan lelah dengan saling bercanda. Hari sudah mulai gelap, Erlang sudah berpamitan untuk segera pulang. Dia menolak tawaran Laura yang menyuruh dirinya untuk bermalam.


Andin masih berada disana, dia ingin tidur di rumah Laura untuk sehari, dia berkata ingin lebih lama bersama dengan Rudi. Rudi hanya cengingisan dan menyalakan sebatang rokok.


"Bagaimana jika tidur di kamarku saja?" Tanya Rudi.


"Hahaha, pasti mau minta jatah" jawab Andin.


"Maaf ya... Aku cowok baik-baik"


"Ada tapi-nya tidak?" Tanya Andin dengan imutnya.


"Tapi kalau kamu mau, ya bagaimana lagi"


Laura dan Andin tertawa menjawab jawaban Rudi yang terus terang itu, namun Andin tetap memilih untuk tidur di rumah Laura.

__ADS_1


Mereka bertiga mengobrol cukup lama, terkadang mereka membahas hal-hal serius, seperti bisnis, pandangan hidup atau beberapa pengalaman mereka. Terkadang mereka juga membahas betapa konyolnya Arga dan Elsa, dari saat mereka tidak akur hingga saling menempel saat perjalanan pulang.


Liburan Rudi masih satu hari lagi, ia memutuskan untuk tidak kemana-mana dan bersantai di kos-kosan. Rudi menyuruh Andin untuk pulang besok sore dan Rudi juga berjanji untuk mengantarkannya pulang.


Obrolan mereka larut dan tidak terasa sudah pukul sepuluh malam. Andin sudah mulai mengantuk dan ia meminta Laura agar mengantarnya ke kamar tidur.


Hanya tinggal Laura dan Rudi yang masih berada didepan rumah. Mereka masih asik mengobrol dan sesekali mereka sama-sama diam saat kehabisan bahan obrolan.


"Rud, apakah kamu benar-benar sudah berpacaran dengan Andin?" Tanya Laura pelan.


"Iya, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan bahwa Andin bukan kamu jadikan sebagai pelampiasan."


"Kamu tahu seperti apa aku"


"Baiklah jika begitu"


Mereka diam sejenak, Rudi meminum es yang masih tersisa dan menghabiskannya. Ia menyalakan sebatang lagi rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Dia terlihat seperti sedang bersiap untuk mengatakan sesuatu yang sangat serius kepada Laura.


"Bagaiaman jika suatu hari kamu bertemu lagi dengan Salsa?" Tanya laura mendahului apa yang ingin dikatakan oleh Rudi.


"Cerita hidupmu adalah pilihanmu dan aku juga tidak apa yang harus atau lebih baik kamu lakukan."


"Ya, begitulah"


"Oh iya, bagaimana dengan Marni? Apa kamu tidak tertarik dengan wanita itu."


"Hahaha, dia memang cantik, bahkan bisa dibilang sangat cantik. Tapi aku tidak terlalu mengenalnya."


"Secantik apa sih dia itu?"


"Rudi mencoba untuk mendeskripsikan seorang Marni kepada Laura, dia menjelaskan mulai dari bagaimana bentuk bibir hingga bentuk mata Marni dengan sangat rinci. Laura hanya diam dan mendengarkan Rudi, ia sangat menikmati bagaimana Rudi menceritakan seorang wanita hanya ia temui beberapa kali dalam waktu yang tidak lama. Kemungkinan akan sangat susah bagi orang lain untuk mendeskripsikan seorang hanya dengan dua-tiga kali bertemu.


"Hahaha, kamu hafal semua tentang Marni"


"Entahlah, aku hanya beberapa kali bertemu dengannya. Rasanya seperti Marni adalah lampu merah yang mudah diingat warna dan instruksi-nya."


"Hahaha, Andin sudah tahu tentang Marni?"


"Belum, mungkin aku tidak akan menceritakan apapun"

__ADS_1


"Iya, lebih baik begitu."


"Ra, apakah kamu benar-benar ingin bersama Erlang?"


"Menurutmu?"


Rudi mengangkat bahu sebagai isyarat bahwa dirinya tidak tahu.


"Aku baru mengenal Erlang beberapa waktu lalu, tapi rasanya ada sebuah kenyamanan saat aku bersamanya. Perasaan itu sangat berbeda dengan mantan suamiku dulu"


"Hahaha, mungkin karena Erlang adalah tipe lelaki yang suka bercanda dan terkadang dia sangat dewasa."


"Emmm, sepertinya bukan karena itu. Entahlah, intinya ada kenyamanan tersendiri saat aku dekat dengan Erlang."


"Hahaha, aku gak nyangka banget jika liburan pertama kita menjadi sebuah ajang percintaan."


"Hahaha, semua ini gara-gara Arga sih, menurutku."


"Hahaha, emang gila sih anak itu."


"Oh iya Rud, aku dapat kabar kalau Zola tidak mengetahui apapun tentang Marni."


"Oh baiklah, aku juga tidak berpikir untuk menemuinya untuk saat ini"


Angin semakin dingin dan menyelimuti mereka dengan sangat halus hingga membuat bulu kuduk merinding.


Rudi beranjak dan pergi ke kamarnya, untuk mengistirahatkan tubuh yang baru saja terombang-ambing oleh laju mobil.


Rudi merebahkan badannya di atas kasur sembari menatap langit-langit kamarnya dengan tangan yang ia letakkan dibawah kepala.


Seperti ada sebuah batu yang menjanggal hatinya, dia merasakan kegelisahan yang bahkan ia sendiri tidak mengerti kegelisahannya.


Dia merasa seakan tidak nyaman menjalin hubungan dengan Andin, namun ia juga sudah memikirkan matang-matang untuk bersama Andin.


Dia masih mencoba mencari apa yang membuatnya tidak nyaman untuk tetap bersama dengan Andin, namun dia tidak menemukan jawaban apapun.


"Ahhh... Jalanin aja" gumamnya sambil menutup mata dan membalik badannya.


Rudi tertidur di atas kasur dengan memeluk bantalnya yang lembut. Ketidaknyamanan yang ia rasakan tidak bisa menghentikannya untuk tidur dan beristirahat dari rasa lelah perjalanan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2