ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Kota Bukit


__ADS_3

Sore itu Andin benar-benar datang pukul setengah enam sore. Sedangkan Rudi ia baru saja bangun tidur setelah Andin menggedor-gedor pintu kamarnya beberapa kali.


Andin mengomel setelah Rudi membukakan pintu dan Rudi hanya diam dengan senyum kecil di bibirnya.


"Yaampun, kan kemarin sudah aku bilang kalau aku kesini harus sudah siap berangkat!"


"Hehehe, maaf, maaf! Duduk dulu tuan putri. Mau minum apa?"


"Tidak usah, sudah sana mandi"


"Iya, iya..."


"Mau mandi sendiri atau aku mandiin?"


"Hahaha, tidak perlu"


Andin duduk di atas kasur fan Rudi langsung menuju kamar mandi. Rudi benar-benar lupa jika dia ada janji dengan Andin sore itu. Ia bergegas dan mandi dengan cepat. Kemudian ia keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.


Saat ia menatap Andin tiba-tiba saja Rudi mengeluarkan gas belakang dan dia memberi isyarat kepada Andin untuk meminta izin masuk kembali ke dalam kamar mandi.


"Cepetan!" Ucap Andin serius.


Rudi kembali ke dalam kamar mandi untuk buang air besar. Ia benar-benar tidak merasakan kenyamanan buang air besar seperti biasanya. Biasanya dia buang air besar dengan menghisap sebatang rokok, kali ini ia tidak bisa melakukan itu.


...----------------...


Setelah selesai bersiap mereka berdua pun berangkat dengan motor matic milik Andin. Rudi yang menyetir, kali ini mereka berdua nampak sangat akur setelah baru saja saling omel karena waktu yang mereka rencanakan dengan waktu saat mereka melakukannya sangat berbeda jauh.


Pukul setengah tujuh mereka baru saja berangkat dan memulai perjalanan ke luar kota untuk pertama kalinya.


Hal ini adalah hal baru bagi Rudi saat sedang merantau. Selama beberapa bulan ia berada di perantauan ia sama sekali belum keluar kota menggunakan motor dan berduaan dengan kekasihnya.


Setelan Rudi saat ini penuh dengan pakaian panjang, mulai dari kaos hingga celana. Sedangkan Andin ia mengenakan jaket baseball yang menutupi kaos putihnya dan celana model ala-ala cewek pada umumnya.


Motor mereka melaju menyusuri jalan-jalan aspal yang halus. Lampu-lampu disepanjang jalan menyinari mereka dari gelapnya malam. Beberapa pengemudi juka terlihat sangat antusias untuk menyaksikan kemesraan mereka.


"Kamu sudah makan?" Tanya Andin.


"Hah? Apa?


"Kamu sudah makan!!?" Ucap Andin lebih keras.


"Iya sudah!"


"Baiklah."


Udara malam itu tidak terlalu dingin. Apalagi Rudi yang sedang dipeluk oleh Andin dari belakang. Pria itu merasakan kehangatan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Kehangatan dalam rangkulan orang yang dia sayang. Entah kapan ia terakhir kali merasakannya.


Perjalanan mereka sudah sampai di tugu perbatasan kota yang sangat megah dengan lampu-lampu dan hiasan tugu yang terlihat klasik dan unik.


"Mau berhenti disini dulu?" Ucap Andin.


"Kamu mau berhenti dulu?"


"Ayo, kita beli pentol dulu"


"Baiklah"


Rudi memelankan laju motornya dan bersiap menepi. Ada seorang penjual pentol yang sedang berhenti didepan mereka. Rudi berhenti dibelakang penjual pentol itu.


Mereka berdua kemudian turun dan melepas helm yang mereka kenakan dan Andin langsung mengahmpiri penjual pentol itu.


"Mas ada sambal kacangnya?" Tanya Andin.

__ADS_1


"Ada mbak"


Andin menatap Rudi dan menanyakan apakah dia juga ingin pentol. Rudi mengangguk dan Andin memesankan dua bungkus pentol.


"Campur pentol tahu mbak?"


"Iya mas, ada pentol apa saja?"


"Ada puyuh, tahu, biasa dan jamur"


"Yasudah mas campur semua ya. Sepuluh ribuan."


"Baik mbak"


Penjual pentol itu mulai memasukkan satu-persatu pentol yang ia jual ke dalam kantong plastik setengah kiloan. Satu kantong plastik itu hampir penuh hanya dengan membeli sepuluh ribu saja.


Setelah dua bungkus pentol itu selesai, penjual pentol itu mulai memasukkan bumbu-bumbu yang membuat Andin hingga menelan ludah. Bawang goreng, sambal kacang, saos tomat dan kecap. Pentol pesanan mereka terlihat sangat nikmat dan menggugah selera.


Setelah Andin menerima pesanannya dan membayar, wanita itu menghampiri Rudi yang sedang duduk di trotoar dengan menghisap rokok dengan santai.


"Ini punya kamu" ucap Andin sembari mengulurkan sebungkus pentol.


"Pedes?"


"Iya dua-duanya"


"Kelihatannya enak banget" ucap Rudi sambil mengambil pentol yang diulurkan oleh Andin.


Andin duduk di samping Rudi, lebih tepatnya disisi kanan Rudi. Ia sedikit menjauhi Rudi yang sedang merokok dan mulai membuka ujung bungkusan pentol dan melahapnya.


Rudi menatap Andin, kekasihnya itu terlihat sangat menikmati pentolnya dan Rudi juga tidak mau tertinggal. Rudi mulai memakan satu-persatu pentol itu.


"Enak banget ya" ucap Rudi.


"Hahaha, apalagi aku yang suka kacang"


"Kamu suka kacang?"


"Iya, dulu aku sampai pernah beli kacang tanah sendiri, aku goreng kemudian aku jadikan cemilan saat sekolah"


"Hahaha, tapi kenapa kamu tidak jerawatan. Kata orang-orang terlalu banyak makan kacang apalagi kacang tanah bisa menyebabkan jerawatan"


"Hahaha, itu hanya mitos! Setahuku jerawatan itu karena wajah yang sering kotor dan otak yang terlalu banyak beban pikiran"


"Hahaha, jadi kamu tidak punya beban pikiran sama sekali?" Ucap Andin.


"Ada, aku ada beban pikiran"


"Beban apa itu?"


"Beban Rindu"


"Rindu siapa?"


"Rindu kamu"


"Pffftt... Gombalan itu sangat tidak menggemaskan"


"Benarkah?"


"Iya"


"Hmmm baiklah nanti aku carikan gombalan yang bisa membuatmu klepek-klepek. Hahaha..."

__ADS_1


"Hahaha, aku tunggu"


Mereka menghabiskan pentol mereka. Andin tampak sedang kepedesan hingga seluruh wajahnya penuh dengan keringat. Rudi pun dengan sigap mengambilkan minuman yang ada didalam jok motornya dan memberikannya kepada Andin.


"Terimakasih kasih" ucap Andin.


Andin terlihat sangat senang dengan apa yang kekasihnya itu lakukan. Rudi juga demikian, saat ia mendengar kata terimakasih dari Andin, didalam hatinya seperti sedang ada sebuah drum yang dipukul dengan keras hingga membuat hatinya berdebar.


"Langsung lanjut?" Tanya Rudi.


Andin berdiri dan memberikan botolnya kepada Rudi untuk ia minum. Setelah minum, Rudi kemudian memasangkan helm Andin dan mereka berdua melanjutkan perjalanan.


Sudah pukul setengah sembilan, Mereka berdua sudah terlalu banyak menghabiskan waktu disana tanpa terasa sudah menghabiskan cukup banyak waktu.


Tugu itu semakin jauh dibelakang mereka, mereka berdua mulai memasuki kota selanjutnya. Kota itu masih ramai, baik kendaraan yang sedang lalu-lalang maupun para pedagang kaki lima yang penuh dengan pembeli.


Rudi mulai memasuki kota dan langsung menuju alun-alun kota itu. Beberapa emak-emak penjual nasi dipinggiran alun-alun dan beberapa toko pakaian yang masih buka hingga larut membuat malam itu cukup menyenangkan.


"Ada yang mau kamu beli?" Ucap Rudi.


"Tidak, tapi aku ada tempat yang sangat menyenangkan"


"Dimana itu?"


Andin kemudian menunjukkan arah menuju ke tempat yang ia maksud. Tempat itu cukup jauh dan memasuki beberapa gang kecil. Hal itu membuat Rudi heran.


"Kamu kok bisa tahu jalanan disini?" Tanya Rudi.


"Aku dulu pernah kesini"


Perjalanan mereka akhirnya berakhir, sebuah tempat dipinggiran jurang dengan pemandangan dari ketinggian yang sangat indah.


Lampu-lampu perkotaan yang terlihat kecil dan gelapnya jurang dari atas sana sangatlah indah. Tempat duduk yang terbuat tumpukan kayu jati dengan finishing halus dan model meja yang terbuat dari akar kayu tanpa ukiran. Semua itu membuat Rudi lebih terkejut lagi.


"Indah banget tempat ini"


"Hahaha, dulu pertama kali aku kesini juga kaget dengan keindahan tempat ini"


"Kamu dulu kesini dengan siapa?"


"Mantan" ucap Andin tanpa berpikir.


Wajah Rudi kemudian berubah. Dari wajah yang sangat berseri dan bersemangat menjadi wajah yang cemberut dan penuh kerut.


"Hahaha, aku becanda! Dulu aku kesini pas masih kuliah. Aku kesini bersama beberapa temanku yang asli orang sini"


"Serius?" Tanya Rudi.


"Iya, mau ke rumah temanku dulu?"


"Tidak, tidak perlu"


Andin kemudian menyuruh Rudi untuk memesankan minuman dan menyuruhnya untuk meminjam gitar yang terpajang dibelakang kasir.


Malam itu disaksikan oleh hewan-hewan kecil seperti kunang-kunang dan kumbang-kumbang. Rudi saat sedang memegang gitar akan menjadi seorang Rudi yang lain. Keahliannya memainkan gitar semakin menjadi-jadi. Andin terlihat bahagia dengan suasana malam itu.


Di atas bukit dengan minuman segar dan pemandangan yang memanjakan mata ditambah melodi cinta dari kekasihnya yang menyelinap kedalam setiap sela pori-pori dan nadi hatinya.


Andin melepas jaketnya, ia memandang ke arah gelapnya hutan yang ada didepannya.


"Rud! Aku mencintaimu" Andin mengucapkannya tanpa menatap Rudi.


Rudi senang bukan main mendengar perkataan Andin itu. Ucapannya terlihat sangat serius dan penuh dengan kepercayaan.

__ADS_1


__ADS_2