ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Kehidupan yang Lain


__ADS_3

Memasuki bulan ke-empat perantauannya, Rudi masih tidak ingin kembali dan menemui keluarganya. Ia memutuskan untuk tetap berada disana, di daerah yang dulu ia sebut sebagai seekor hutan.


Rudi masih dalam tekanan kepergian Salsa. Ia tidak lagi mencari Salsa, namun didalam lubuk hatinya masih menyimpan sebuah kekecewaan yang teramat besar. Semakin ia mencoba melupakan Salsa, semakin ia kesulitan untuk mengontrol hati dan pikirannya.


Sebuah kebencian mulai merasuki jiwanya, Semakin Rudi mengingat Salsa, semakin Rudi membencinya. Seperti sebuah pepatah "Cara terbaik untuk melupakan seseorang adalah dengan membencinya."


Dia mulai menumbuhkan perasaan kebencian untuk Salsa dan semakin mengorek setiap kesalahan yang pernah dilakukan olehnya. Rudi tidak lagi seperti dulu, ia saat ini sangat sensitif dan mulai kehilangan akal positif-nya.


Sebuah pagi yang sangat segar, Rudi bangun dan menyalakan sebatang rokok yang sudah ia pegang. Menghampiri pagar dan menikmati hisap demi hisapan.


Ia masih harus bekerja, dia harus membiasakan diri tanpa Salsa. Setidaknya dia tidak kehilangan pekerjaan yang sudah sangat ia cintai.


Setelah beberapa hisapan terakhir, Rudi masuk ke dalam kamar mandi dan segera bersiap untuk bekerja.


...----------------...


Rudi berangkat lebih awal dari yang lainnya. Di terminal masih sangat sepi, bahkan Erlang yang biasanya berangkat lebih dulu masih belum terlihat batang hidungnya.


Rudi menepi di sebelah bus dan mengorok dengan ngebul. Entah berapa batang yang sudah ia habiskan dalam sekali bersantai.


Tidak lama setelah itu Erlang tiba di terminal, ia membawa sebuah tas selempang kecil. Tidak biasanya dia membawa tas. Hal ini membuat Rudi penasaran dan menanyakan kepada Erlang.


"Tumben bawa tas Lang?"


"Hehehe, Iya habis ini mau jalan-jalan"


"Kemana?"


"Mau ikut gak?"


"Kemana memangnya?"


"Rahasia, nanti tak kasih tahu"


"Oke"


"Bagaimana kabar Salsa? Sudah baikan?"


Rudi hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Erlang. Erlang-pun menyadari bahwa Rudi tidak ingin membahas hal itu. Erlang mengajaknya untuk mengobrolkan hal lain dan memulai pekerjaan mereka.


Satu persatu penumpang naik dan bus melanjutkan perjalanan menuju terminal tujuan. Suasana rami yang terlihat bagi Rudi. Tidak ada satupun yang yang mengajaknya bicara seakan dunia sedang membisu kepadanya.


Suara-suara bising mesin dan teriakan manusia seakan tidak diterima oleh telinganya. Rudi diam dan menatap ke depan, memandangi serta memahami bagaimana takdir tuhan dijalankan.

__ADS_1


Waktu cukup cepat menjalankan mesinnya. Suar-suar ketidaknyamanan berlabuh pada amping-amping daun telinga yang kebisingan.


Bus melaju kencang, sampai pada tujuan bersama Rudi yang sedang dalam hati penuh kekacauan.


"Rud, turun udah sampai" ucap Erlang.


Rudi terperanjat dari lamunannya, samar-samar dia melupakan sebuah perjalanan serta pekerjaannya.


Erlang mengajak Rudi untuk segera turun dan pergi ke warung kopi. Ia tidak begitu ingin meminum kopi namun juga tidak ada yang ingin dia lakukan.


Rudi menuruti ajakan Erlang yang sedang membawa tas selempang agak tebal dan sedikit misterius.


"Tas-mu isinya apa Lang?" Tanya Rudi.


"Hahaha, nanti setelah ngopi ku tunjukan isinya"


"Hahaha, ok!"


Mereka berdua memesan kopi seperti biasa, setelah kopi yang mereka pesan tiba, Erlang mengeluarkan sebuah botol kecil dengan tutup merah dari dalam tas-nya.


"Emm, botol tutup merah."


"Hahaha, mau?


"Ok bos!"


Erlang-pun menuangkan sedikit air yang ada di dalam botol itu ke dalam kopi yang mereka pesan.


Rudi membenarkan posisi duduknya dan mengeluarkan rokok miliknya. Erlang juga mengeluarkan sebuah gelas kecil dari dalam tas selempang-nya.


Mereka berdua saling menghisap rokok dan Erlang sesekali menuangkan minuman ke dalam gelas mungil itu. Mereka minum bergantian dari satu gelas yang sama.


"Lang, Salsa pergi. Kemarin dia berpamitan dengan memberikan sebuah surat"


"Tidak kamu coba cari?"


"Percuma, dia bilang tidak ingin ditemui lagi"


"Belum berjodoh"


"Bisa jadi"


Erlang memahami kenapa sifat Rudi hari ini sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Dia sangat mengerti perasaan saat ditinggalkan seorang wanita, apalagi mereka berpisah karena sebuah ketidakmauan untuk saling menyusahkan. Rasanya pasti akan lebih sakit dari sebuah perpisahan sepihak.

__ADS_1


"Nanti ikut gak? Aku sama teman-temanku mau party kecil-kecilan"


"Dimana?"


"Di rumah teman cewek"


"Widih... Asik sepertinya."


"Hahaha, udah pasti dong!"


"Emang gak masalah kalau aku ikut"


"Gak masalah, yang ikut semuanya orang asik"


"Ok, entar jam berapa?"


"Habis isya', nanti aku jemput"


"Ok"


Perbincangan mereka menjadi semakin asik dan mengalir hingga hal-hal unik seperti warna ****** ***** dan motifnya.


Rudi kehilangan segala ketidaknyamanan dan ikut mengalir bersama obrolan yang diimbangi oleh Erlang. Erlang termasuk sosok sahabat yang sangat pintar menjaga dan mengimbangi obrolan dengan orang sekitarnya. Tidak seperti orang-orang pada umumnya yang akan kewalahan menjaga omongannya saat sudah sampai pada kedekatan atau keakraban antar manusia.


Setelah cukup lama mereka berada di warung kopi itu dan menghabiskan kopi dan cairan dalam botol kecil yang dibawa oleh Erlang, mereka kembali ke pangkalan bus dan melanjutkan pekerjaan mereka.


...----------------...


...Banyak rasa yang tak mampu terucap oleh kata...


...Banyak luka yang terlihat seperti permata...


...Banyak perasaan lelah, pasrah dan ingin menyerah yang rapih terbungkus kain sutra...


...Bagaimana cara bertahan di atas ahlinya penghianatan dan keegoisan?...


...Andai aku punya Doraemon...


...Pasti sudah ku minta sedikit cahaya...


...Untuk hati yang mulai gelap akan ketidakpedulian...


...Untuk mata yang mulai buta akan segala kesenangan...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2