
Rudi terbangun dari tidurnya, dia terlihat lebih segar dari biasanya. Pelangi memanjakan mata juga pipinya. Hari itu dia akan bertemu Marni yang kini sudah menjadi kekasihnya.
Ia pergi mandi dan berganti pakaian dengan begitu riang, ia kenakan seluruh pakaian mahalnya untuk membuat Marni terkesan dalam pertemuan pertama dengannya.
Rudi memakai sepatu, celana, jas dan dasi. Ia tampak rapih dan bersih. Rambut tersisir ke kanan dengan sangat klimis. Ia memakai setiap parfum yang ia punya dan cincin batu akik yang memenuhi setiap jarinya.
Kedmudian ia berangkat dengan motor klasik peninggalan kakeknya yang sudah sangat tua namun masih sangat bagus dan kinclong. Ia berangkat dengan sangat percaya diri. Menyusuri jalanan dengan motor klasik dan helm baskom yang hanya menutupi bagian atas kepalanya.
Ia menghirup udara dalam-dalam dan mengehmbuskannya bersama udara lain. Aroma parfumnya membuat setiap pengendara dibelakangnya geleng-geleng dan tidak berdaya.
Daya tarik klasik yang ia kenakan, mengantarkan Rudi hingga pintu masuk sebuah restoran jepang dengan gaya kebarat-baratan. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam. Marni sang bidadari sudah menunggunya diujung meja dengan satu kursi tersisa.
Marni begitu cantik hari itu. Ia mengenakan pakaian tertutup dengan sangat unik. Serba merah mudaj dan penuh dengan motis bunga dan karang. Rudi menghampiri Marni dengan gaya bak bos besar yang sedang memamerkan wibawanya.
Marni menyiapkan diri untuk menyambut kekasihnya yang tampan dan gagah itu. Marni tersenyum lembut atas kedatangannya.
Rudi duduk dan memesan makanan pembuka untuk mereka berdua. Kemudian mereka menunggu dengan sabar. Rudi mengulurkan tangannya dan Marni memegang tangan Rudi. Tangan yang dingin dan lembut itu meleburkan perasaan lelah. Begitu halus dan sangat mengayomi.
Makanan pembuka yang mereka pesan telah tiba. Sang penyaji makanan menuangkan minuman untuk mereka berdua, kemudian mereka bersulang dan makan makanan pembukanya.
Setelah itu mereka mengobrol dan menceritakan kembali bagaimana mereka bertemu dulu. Di atas sebuah bus, di kursi tengah sang bidadari duduk tenang dan anggun. Membuat Rudi tersipu saat ingin mengajaknya bicara. Mereka berdua saling mengenang pertemuan mereka. Marni sangat antusias dan bahagia. Senyumnya menyatu dengan senyum Rudi.
Setelah semua cerita mereka ceritakan, Rudi mengambil tangan Marni dan menciumnya pelan. Bak remaja yang sedang dimabuk asmara, mereka saling cengar-cengir dan menatap mata.
"Rud... Rudi... Rud!!"
Suara yang ia dengar terdengar seperti suara Luara yang tidak ia ketahui darimana asalnya.
__ADS_1
"Rud! Woi..."
Suara itu semakin keras. Rudi mencari asal suara itu, tidak ia temukan seorangpun. Ia tetap mencari dan kemudian ia menatap kembali Marni. Ternyata Marni sudah hilang dari pandangannya.
Rasa kaget karena Marni yang tiba-tiba saja hilang disusul oleh rasa kaget karena ada suara keras seseorang yang sedang menggedor-gedor pintu.
Rudi terbangun dan mengucek matanya. Ternyata Marni hanya mimpi baginya. Suara Laura yang asli. Wanita itu masih menggedor-gedor pintu kamarnya dan memanggil namanya.
Rudi sangat tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Laura. Wanita itu merusak mimpi indahnya. Rudi kemudian beranjak dari tidurnya dan membukakan pintu.
"Ada apa?" Tanya Rudi dengan mata masih redup.
"Sore-sore gini malah tidur."
"Capek banget tubuhku"
"Itu ada Erlang dirumah, dia nungguin kamu"
"Aku yang menyuruh dia kesini"
"Baiklah nanti aku kesana."
"Cepetan!"
"Iya.. Iya!"
Laura pergi meninggalkan kamar Rudi. Sedangkan Rudi pergi ke kamar mandi dengan perasaan tidak terimanya.
__ADS_1
...Ia masih tidak terima mimpi indahnya dengan Marni dirusak oleh Marni hanya karena kedatangan Erlang. Geregetan dan sedikit marah, ia tidak bisa terlalu marah dengan temannya....
...----------------...
"Tumben datang ke sini Lang?" Tanya Rudi.
"Disuruh Laura! Katanya dia Rindu. Padahal kan aku sangat ngantuk." Jawab Erlang sambil menatap ke arah Laura.
"Emang dasarnya si Laura suka ganggu orang tidur!"
"Sore-sore malah tidur! Jadi bodoh baru tahu rasa kalian" bela Laura dengan nada sedikit keras.
"Masalahnya tadi aku mimpi indah! Sangat indah sebelum kamu merusaknya."
"Yasudah balik tidur sana! Gitu aja kok repot!" cetus Laura.
"Emang mimpi apa Rud?" Erlang bertanya.
"Rahasia!"
"Udah seperti cewek aja. Pake acara rahasia-rahasia" kata Laura.
"Lah mending aku. Daripada kamu kelihatan banget sedang caper ke Erlang."
"Hahaha" Erlang tertawa dengan sangat lepas.
Terlihat jelas Laura sedang malu dengan pipinya yang memerah dan tingkahnya yang seperti sedang malu dan kikuk.
__ADS_1
Erlang kemudian menuangkan minuman ke-dalam tiga gelas kecil yang ada didepan mereka. Erlang memulai pembicaraan serius dengan beberapa bahasan seperti hal-hal yang menyangkut pekerjaan. Bahkan ia juga membahas tentang mantan suami Laura si buncit berkacamata.
Obrolan mereka berlarut-larut hingga membuat Rudi menceritakan apa yang ia mimpikan tadi. Hal itu menjadi lelucon yang sangat menyenangkan bagi mereka bertiga. Apalagi saat Rudi menceritakan bagaimana ia berdandan.