
Dua hari Rudi menahan bara api yang semakin lama semakin menggerogoti hati. Laura juga nampak sangat sibuk dengan beberapa urusannya dan sebisa mungkin membantu mencari informasi tentang keberadaan Salsa.
Rudi hanya diam dan menunggu angin segar menghampiri dirinya. Dia tidak mencari atau bahkan memikirkan hal yang sedang terjadi dengan Salsa dan hari ini dia akan mencoba kembali mencari tahu tentang apa yang terjadi kepada Salsa ditempat kerjanya.
Hari itu masih sangat terang, matahari masih sangat cerah di atas kepala manusia. Rudi sedang bersantai dan bersandar di depan kamarnya. Berusaha sebisa mungkin untuk tetap menjaga pikirannya agar tetap tenang dan tidak berpikiran negatif.
Laura melihat Rudi dari kejauhan juga mulai merasakan sedang ada hati gersang yang sedang menantikan kepastian, kepastian baik tentunya. Laura menghampiri Rudi.
"Rud, apakah pikiranmu sekarang sudah mulai tenang?" Tanya Laura yang telah berdiri disampingnya.
"Iya, sudah lebih tenang dari sebelumnya."
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Entahlah, mungkin aku akan datang ke tempat kerja Salsa."
"Kamu sudah siap dengan kenyataan yang akan kamu dengar nanti?"
"Apapun yang terjadi, aku siap!"
"Baiklah, nanti aku temani ke sana"
"Terimakasih Ra"
"Pakai motor saja ya"
"Iya, terserah kamu"
"Berangkat jam satu ya, aku mau bersih-bersih badan dulu"
Rudi hanya mengangguk dan Laura pergi meninggalkannya. Perasaan tidak enak, bayang-bayang hal buruk dan wajah Salsa, semua tercampur dalam satu ruangan didalam otak Rudi.
Rudi tidak ingin terlalu larut, ia memilih untuk juga membersihkan diri dan bersiap untuk mencari kabar tentang Salsa.
...****************...
...Berita seperti apa yang kau harapkan?...
__ADS_1
...Bukankah hal itu sudah sangat nyata bagimu?...
...Sudahkah kau bersiap untuk malapetaka?...
...Ataukah kau hanya siap untuk hari-hari penuh bunga saja?...
...Itu tidak akan bisa!...
...****************...
Laura sudah menunggu didepan kamar lantai satu, Rudi tidak butuh waktu lama untuk bersiap, mengenakan pakaian seadanya dan menemui Laura yang sedang menunggu dibawah sana.
Rudi yang menyetir sedangkan Laura duduk dibelakang. Rudi mengendarai dengan cukup kencang namun tetap dalam aturan.
"Rud, masih ingat tempatnya?"
Rudi hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanannya.
Laura tidak mengatakan apapun lagi hingga mereka berdua sampai ditempat tujuan. Terlihat restoran tempat Salsa bekerja tidak terlalu ramai dan mereka mengambil tempat duduk yang berada dipojokan ruangan.
Seorang pria penyaji makanan menghampiri mereka dengan menyuguhkan sebuah list menu dan membawa sebuah buku catatan dan pena.
"Iya kak, saya sudah tiga tahun bekerja disini. Ada yang bisa saya bantu?"
Laura melihat Rudi sejenak dan Rudi memberikan isyarat agar Laura yang bertanya kepada penyaji makanan itu.
"Mas kenal dengan penyaji makanan perempuan yang bernama Salsa?"
"Salsa? Emm... Sepertinya saya pernah dengar nama itu, kalau tidak salah dia sekarang sudah tidak bekerja lagi"
"Kenapa dia tidak bekerja lagi?"
"Saya tidak begitu mengerti"
"Kemarin kenapa restoran ini tutup?" Laura mencoba mencari informasi lebih dalam.
"Saya baru pindah shift hari ini, tapi saya dengar-dengar ada yang mengalami kecelakaan kerja"
__ADS_1
Rudi kaget mendengar apa yang dikatakan oleh penyaji makanan itu, wajahnya seperti tidak percaya dan tidak terima jika yang yang mengalami kecelakaan kerja itu adalah kekasihnya.
"Lebih jelasnya kecelakaan kerja seperti apa?"
"Saya dengar-dengar dari teman katanya, ada yang terpeleset dan ketiban panci yang penuh dengan sup panas"
Bukan lagi sekedar bayang-bayang, Rudi tiba-tiba menjadi sangat kacau mendengar apa yang dikatakan penyaji makanan itu. Wajah Rudi menjadi sangat kerut dan dan kacau, dia menahan air mata yang ingin deras meratapi kenyataan. Rudi tidak bisa berkata-kata, dia hanya ling-lung dan bingung luar biasa.
"Baiklah, terimakasih"
Laura menatap Rudi seakan menanyakan apakah apakah dia akan memesan makanan. Rudi hanya diam dan menggelengkan kepala. Laura sangat tidak tega dengan bagaimana raut wajah Rudi saat itu. Sebuah kesedihan besar yang berusaha ia tahan. Air mata yang melambai di pelupuk mata seakan ingin segera terurai bersama kesedihan yang mendalam.
Laura memalingkan kepalanya dan menatap kembali penyaji makanan itu dan kemudian mengulurkan sejumlah uang.
"Apakah yang mengalami kecelakaan itu bernama Salsa?"
"Saya tidak begitu mengerti"
"Bisakah kamu cari tahu?"
"Bisa, tunggu sebentar ya"
Orang itu segera masuk kedalam dapur untuk mencari informasi terakhir yang mereka berdua perlukan.
Tidak lama setelah Rudi dan Laura menunggu, penyaji makanan itu keluar dan menghampiri mereka berdua dan kemudian mengangguk.
Laura mengerti maksud dari anggukan penyaji makanan itu, sedangkan Rudi? Dia semakin bersedih dan semakin tidak kuat menahan air matanya. Itu benar-benar Salsa, Salsa yang baru saja menjadi kekasihnya. Apa yang harus dilakukan oleh Rudi. Bagaimana Rudi akan menghadapi semua berita buruk yang terjadi? Rudi tidak karuan, dan semakin tidak terkendali. Air matanya deras mengalir dan tangannya dibuat sibuk untuk menyeka. Baju lengannya basah, air matanya tetap mengalir. Tidak ada gunanya menyeka dengan tisu yang ada didepannya, dia hanya merasa sangat lelah dan tidak percaya.
Laura mencoba menenangkan Rudi dengan mengelus pundaknya. Penyaji makanan itu buru-buru pergi meninggalkan mereka berdua yang sedang larut dalam kesedihan.
"Mas! Mas!" Panggil Laura lagi.
"Iya ada apa lagi kak?"
"Dimana rumah sakit tempat Salsa dirawat?"
Penyaji makanan itu menulis sesuatu kemudian memberikan alamat sebuah rumah sakit tempat Salsa dirawat.
__ADS_1
Mereka berdua tidak menunggu lebih lama lagi dan langsung berangkat menuju alamat yang diberikan oleh penyaji makanan itu.
...****************...