
...Tanpa berpamitan, api menjalar membakar dedaunan...
...Bunga-bunga tak bersalah ikut serta dalam kobaran api yang membara...
...Malam itu terang oleh sebuah kebakaran...
...Kelam oleh sebuah kerinduan...
...Hati manusia menjadi abu bersama luka yang terus membakar pembuluh darah...
...Darahnya mendidih, tulangnya merintih...
...Matanya sembab oleh panasnya keladi api...
...----------------...
"Rud, besok kamu libur kan?" Tanya Andin dari sebuah telepon kecil.
"Iya, ada apa?"
"Bagaimana jika keluar kota?"
"Kemana?"
"Tanpa tujuan, jalan-jalan saja?"
"Baiklah"
Jawaban singkat Rudi dibarengi dengan alunan gitar yang menyegarkan sore itu. Andin tidak mengambil hati dengan bagaimana sikap rudi menjawab pertanyaan sekaligus keinginannya untuk keluar kota. Toh setiap jawaban yang Rudi berikan adalah sebuah potongan dari lagu yang sedang ia nyanyikan.
Andin banyak bicara saat itu, Rudi mendengarkan dengan seksama dari balik telepon genggam kecil yang ia taruh di atas meja tepat di samping telinganya.
"Besok sore aku ke sana, kamu harus sudah siap saat aku sudah sampai ya."
"He'em"
"Sore jam berapa?" Tambah Rudi setelah menjawab singkat.
"Jam lima aku kesana, mungkin setengah enam sudah sampai"
"Baiklah"
Telepon mereka menyala cukup lama. Dari pukul empat hingga adzan maghrib berkumandang. Andin belum juga menutup teleponnya dan Rudi masih saja memainkan gitarnya.
Lagu demi lagu disampaikan dalam untaian perasaan yang menekan kesedihan. Rudi masih mengingat bagaimana matanya dan mata Marni saling berhadapan meski beberapa hari telah terlampau.
Ingatannya itu membawa petikan gitarnya menuju sebuah jurang kesedihan. Lagu yang ia bawa perlahan hinggap dalam sebuah sangkar kesedihan dan Andin menyadarinya.
"Kamu sedang sedih?" Tanya Andin.
"Tidak"
"Lagumu berubah, aku mendengar sebuah kesedihan didalam setiap baitnya"
"Itu hanya perasaanmu"
Rudi memulai lagi lagunya dengan bait yang berbeda dan lebih penuh keceriaan. Hal itu membuat Andin semakin yakin bahwa kekasihnya sedang dilanda sebuah dilema yang tidak ada satupun kebahagiaan diantaranya keduanya.
Setelah setengah jam setelah adzan maghrib berkumandang, Andin menutup teleponnya dan Rudi menyalakan sebatang rokok yang dari tadi ia biarkan tergeletak ditanah.
Ia menghisap dalam-dalam, asap yang keluar dari hidung dan mulutnya seakan membawa beberapa kesedihan.
Rudi menaruh gitarnya, meluruskan kakinya, menatap langit-langit dan membayangkan senyuman dan tatapan seorang wanita bernama Marni.
__ADS_1
Seakan dunia sedang menyuruhnya untuk menaruh hati pada wanita lain, selain Andin. Rudi dilanda sebuah kegelisahan didalam hatinya. Ia benar-benar mengagumi kecantikan Marni yang serba tertutup kain itu.
Pria yang sedang telanjang dada itu larut dalam dan semakin dalam hingga seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Rud! Kamu ada didalam?"
Suara Laura mengakhiri lamunan dilemanya.
"Iya sebentar Ra"
Rudi memakai baju dan membukakan pintu untuk Laura. Laura yang sedang mengenakan daster dengan wajah penuh masker itu membuat Rudi terkejut saat menatapnya.
"Ada apa Ra?"
"Tidak ada apa-apa. Kamu sedang sibuk?"
"Tidak, aku hanya bersantai sejenak"
"Mau ngobrol didepan rumahku tidak?"
"Sekarang?"
"Iya, bisa. Tapi aku belum mandi"
"Yasudah mandi dulu"
"Baiklah"
"Aku tunggu didepan rumah"
Rudi buru-buru pergi ke kamar mandi dan Laura pergi menuju rumahnya.
...----------------...
satu gelas kopi hitam, satu gelas susu hangat dan satu bungkus roti donat yang ada di atas meja itu menemani obrolan mereka.
"Rud, kamu pernah tidak mulai ragu dengan seseorang ditengah-tengah sebuah hubungan yang sudah kamu mantapkan sejak dulu?"
"Pernah, ada apa?"
"Terus apa yang kamu lakukan saat itu?"
"Menunggu"
"Apa yang kamu tunggu?"
"Sebuah hal yang akan menentukan apa yang perlu aku lakukan dan putuskan."
"Hanya itu? Kemudian apa keputusanmu saat itu?"
"Entahlah. Kamu sedang ragi dengan hubunganmu dengan Erlang?"
"Bukan! Bukan itu, aku hanya berpikir tentang masa itu. Bagaimana jika masa itu tiba."
"Ohh, ku kira"
"Erlang adalah pria yang baik. Selain itu dia adalah seorang pria yang berhasil bangkit dari sebuah keterpurukan rusaknya hubungan rumah tangga."
"Hahaha, seindah itu Erlang didalam pandanganmu."
"Memangnya bagaimana pandanganmu tentang dirinya?"
"Hahaha, gila dan suka bercanda"
__ADS_1
"Hahaha, kalau itu aku juga setuju"
Mereka tertawa beberapa saat setelah obrolan serius mereka usai. Tingkah laku Erlang memang selalu menjadi sebuah ingatan yang akan menghibur.
Rudi meminum kopi yang sudah mulai dingin. Andin mencelupkan roti ke dalam susu hangatnya. Mereka berdua menikmati malam yang sudah mulai sunyi dan hening berdua.
Ditengah keasikan yang mulai tumbuh, tiba-tiba saja Laura menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat Rudi tersedak oleh kopi yang baru saja ia minum tanpa sempat ia telan.
"Siapa wanita yang lebih cocok untukmu? Marni atau Andin?" Tanya Laura tanpa rasa bersalah.
Laura melihat bagaimana Rudi tersedak kopi dan ia hanya bersikap biasa saja seakan apa yang terjadi kepada Rudi adalah bukan karena pertanyaannya.
Rudi mengusap mulutnya, kemudian ia menaruh kopinya di atas meja kembali. Ia bersiap menjawab pertanyaan Laura yang tanpa pamrih itu.
"Aku sudah memilih"
"Emmm, yakin?"
"Yakinlah!"
Laura tersenyum kemudian memalingkan wajahnya dari hadapan Rudi dan menatap lurus ke depan. Rudi masih menatap raut wajah Laura yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Terjadi sebuah keheningan sesaat setelah Laura memalingkan wajahnya. Tidak ada satu katapun yang terucap dari mulut mereka.
"Aku kemarin bertemu dengan Marni lagi, di dalam bus." Ucap Rudi.
Laura menoleh ke arah Rudi dengan wajah serius. Ia hanya menatap dan menunggu Rudi melanjutkan ceritanya.
Rudi pun menceritakan semuanya kecuali saat dirinya dan Marni saling bertatap mata. Hal itu akan sangat bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya.
Rudi menceritakan bagaimana Marni memancing dirinya dengan beberapa pertanyaan yang seakan sudah ia siapkan. Rudi juga menceritakan pertanyaan terakhir Marni yang tidak ia jawab hingga ia meninggalkan Marni.
Laura hanya diam dan menelaah perkataan Rudi. Wanita hanya mendengarkan dan mengangguk-anggukkan kepalanya seakan mengerti sesuatu.
"Kelihatannya kamu benar-benar tidak memiliki perasaan apapun dengan Marni ini."
"Iya seperti yang aku katakan sebelumnya"
"Ahhh... Aku sebenarnya sangat penasaran dengan si Marni ini. Secantik apa wanita ini, sepintar apa wanita ini. Terkadang aku sampai tidak bisa tidur hanya gara-gara memikirkan kenapa wanita ini sangat misterius dan bisa dibilang aneh."
"Hahaha, jadi lebih terkesan menyeramkan"
"Hahaha, iya"
Entah kenapa malam itu menjadi sangat dingin hingga membuat bulu-bulu kecil yang tidak tertutup pakaian menjadi berdiri.
Rudi mengabiskan kopinya dan kemudian berpamitan dengan Laura untuk pergi ke kamarnya.
"Sudah ya, aku mau tidur" ucap Rudi.
"Iya, aku juga sudah sangat ngantuk. Apalagi udara malam ini sangat dingin."
"Aku juga merasa demikian."
Rudi berjalan melewati pagar rumah Laura dan pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar Rudi menyalakan sebatang rokok. Ia menatap langit-langit kamarnya dan mengucapkan sesuatu.
"Bukankah aku akan menjadi pria paling hina saat aku berpindah hati hanya karena sebuah ketertarikan yang bahkan aku masih ragi dengan ketertarikan itu."
Rudi mencoba menenangkan dirinya serta pikirannya. Ia berusaha untuk kembali memikirkan beberapa keindahan Andin yang sang paling mudah ia ingat.
Rudi memikirkan saat Andin selesai mandi dan hanya mengenakan handuknya. Saat itu Andin terlihat sangat cantik dan seksi.
__ADS_1
Tiba-tiba saja ia teringat dengan handuk yang pernah dipakai oleh Andin. Rudi beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi. Ia mengambil handuk itu kemudian ia rangkul hingga tertidur.