
Rudi berdiri didepan kamarnya, ia menatap selatan dengan tersenyum. Rudi teringat bagaimana ayah dan ibunya sekarang, apa yang sedang mereka lakukan dan apakah mereka sudah makan.
Rudi merasakan gejolak rindu kepada orangtuanya. Ia sudah sangat lama berada di perantauan. Rudi tidak mengira bahwa perjalanannya akan selama ini dan akan senyaman ini.
Ia menghisap asap rokok, menghembuskan-nya bersama nafas lega beserta rindunya. Ia belum terpikirkan untuk segera pulang meskipun untuk saat ini ia telah memiliki seorang kekasih yang sudah mulai ia cintai sepenuh hati.
Sore itu begitu tenang, meski terdengar suara klakson dari kejauhan jalan raya. Burung-burung hitam berterbangan kesana-kemari seakan sedang mengajak bermain Rudi.
Rudi menatap langit kemudian ia mendengar nada dering dari handphone kecilnya yang ia taruh didalam kamar. Ternyata itu pesan dari Andin, ia ingin menelepon. Rudi membalas pesan itu dan mempersilahkan Andin untuk menelepon. Tidak lama setelah itu Andin menelpon dan Rudi mengangkatnya.
"Ada apa?" Tanya Rudi dari balik telepon.
"Sudah makan?" Andin bertanya balik.
"Belum, baru pulang kerja. Kamu sedang dimana?"
"Di rumah, mau kesini?"
"Hahaha, tidak."
"Kamu sudah makan?"
"Makan angin hahaha."
"Udah lama tidak ketemu kamu, aku jadi rindu"
"Hahaha rindu saja? Tidak ngajak ketemu?"
"Besok beli motor ah! Biar bisa jemput kamu."
"Hahaha tidak perlu, aku saja yang ke-sana."
"Sekarang?" Rudi bertanya.
"Mau sekarang juga? Mumpung aku lagi tidak ada kerjaan."
"Tidak perlu, kan baru tiga hari lalu kita bertemu."
Mereka hanya mengobrol tenang ditelepon itu. Tidak ada pembahasan penting selain basa-basi antar kekasih seperti pada umumnya.
Rudi kemudian mengambil gitar, ia hendak menghibur Andin dari telepon genggam itu.
Lagu-lagu ketenangan untuk menghibur kekasih yang kelelahan. Andin mendengarkan dalam diam, dia menikmati alunan melodi yang dibuat Rudi untuknya.
"Kamu bisa buat lagu?" Tanya Andin setelah lama diam dan mendengarkan.
"Tidak tahu, aku tidak pernah"
"Oh baiklah"
Rudi tersenyum mendengar suara Andin yang sepertinya berharap dibuatkan lagu untuknya. Rudi tidak mengatakan apapun tentang sikap Andin, dia hanya terpikirkan untuk membuatkan sebuah lagu untuk kekasihnya itu suatu hari.
"An, suatu hari nanti kita akan berduaan dipinggir pantai dan aku akan menyanyikan sebuah lagu khusus untukmu." Ucap Rudi menghibur.
"Hahaha, ditunggu."
Rudi kembali bernyanyi, kali ini sebuah lagu berbahasa asing. Lagu bahasa inggris yang penuh dengan lirik-lirik cinta.
"Aku tidak bisa bahasa inggris."
__ADS_1
"Hahaha, tidak apa-apa. Aku suka lagu ini dan kamu akan menyukainya juga."
"Oo... Oo... My angel..."
Rudi menyanyikan lagu itu dengan sangat fasih. Ia memejamkan mata, menghayati setiap cerita didalamnya.
Matahari tenggelam setelah menemani mereka cukup lama. Hari itu mulai gelap, lampu-lampu perkotaan mulai menghiasi malam yang akan datang. Bintang-bintang mulai menampakkan keindahan.
"Sudah ya, aku mau mandi" Ucap Andin.
"Baiklah kita sudahi sampai disini, kurang lebihnya saya mohon maaf dan semoga perjalanan anda sekalian dilancarkan"
"Hahaha, terus bawa topi dibalik bawa muter-muter biar diisi orang"
"Hahaha, kamu pernah naik bus?"
"Belum."
"Sama sekali belum pernah?"
"Pernah, tapi bus pariwisata bukan bus antar kota."
"Hahaha kapan-kapan kita naik bus bareng."
"Mungkin aku bakal muntah hahaha..."
"Sudah-sudah aku mau mandi. Dada sayang..." Lanjut Andin yang kemudian mematikan teleponnya sebelum sempat Rudi mengucapkan sesuatu.
Setelah telepon dari Andin ditutup, Rudi bergegas untuk mandi dan menghilangkan bau keringat ditubuhnya sudah mulai tercium aroma tidak sedap, apalagi bau dari ketiaknya yang bersih dari rambut.
Setelah mandi ia keluar dari kamar. Hari sudah malam dan gelap. Tidak terasa ia sudah beberapa jam mengobrol dengan Andin melalui telepon.
Ia tidak melihat Laura, biasanya wanita akan keluar dari dalam rumah dan bersantai di depan rumahnya setelah adzan berkumandang.
Pria itu tampak seperti sedang tidak memiliki aktivitas yang menyenangkan dan mulai merasa bosan. Ia berharap Laura akan keluar rumah dan ia akan menghampirinya untuk meminta secangkir kopi dan secarik cerita.
Rudipun lelah menunggu dan memutuskan untuk masuk lagi ke dalam kamar. Namun saat ia baru saja hendak masuk ke dalam kamarnya, Rudi melihat Laura keluar dari dalam rumah. Rudi tersenyum.
"Pucuk dicinta Laura-pun tiba" gumam Rudi.
Ia kemudian bergegas menghampiri Laura yang sudah duduk santai didepan rumahnya dengan susu hangat dan beberapa lembar koran. Wanita itu membaca koran dengan tenang seakan ia tidak peduli jika dunia akan berakhir. Sangat tenang.
"Ra" Panggil Rudi setelah berada di depan gerbang rumah Laura.
Laura kemudian menurunkan korang yang ia pegang dan melihat siapa yang memanggil dirinya sekaligus mengganggu ketenangannya.
"Ada apa Rud?"
Rudi mengambil ancang-ancang untuk duduk.
"Mau ngopi" ucap Rudi setelah duduk.
"Buat sendiri ya, aku sudah terlanjur dalam posisi bagus untuk bersantai."
"Baiklah"
Rudi kemudian beranjak dan masuk ke dalam rumah Laura, sedangkan Laura kembali melanjutkan membaca koran.
Setelah beberapa saat, Rudi keluar dengan segelas kopi hitam yang tidak ia tambahkan gula sedikitpun didalamnya.
__ADS_1
"Ada berita apa?" Tanya Rudi memulai pembicaraan.
"Bentar, bentar..."
Laura tidak menjawab pertanyaan Rudi, ia melanjutkan membaca koran dengan raut wajah serius dengan alis kanannya yang terangkat.
Rudi menyeduh kopi yang baru saja ia buat, ia menunggu Laura selesai membaca dan memilih untuk tidak menggangu janda itu.
"Kenapa Indonesia bisa punya hutang sebanyak ini ya?" Gumam Laura dengan tetap fokus pada korannya.
Rudi masih belum memberi respon untuk perkataan Laura tadi.
"Misalkan kamu jadi presiden Rud. Apa yang akan kamu lakukan untuk Indonesia?"
Laura melipat korannya, meminum susu hangat miliknya dan menatap Rudi.
"Mungkin akan memaksa setiap orang untuk bekerja."
"Hahaha, aku pengen jawaban serius."
"Iya itu udah serius. Maksudnya itu gini, jadi setiap warga Indonesia yang sudah siap umur untuk bekerja maka mereka wajib bekerja."
"Terus bagaimana dengan ibu rumah tangga?"
"Itu juga termasuk pekerjaan. Jadi kalau aku jadi presiden, aku akan buat sebuah regulasi yang akan mengatur sekaligus membagi pekerjaan dalam beberapa jenis. Misal untuk seorang wanita yang sudah menikah, mereka akan masuk dalam kategori pekerja rumah tangga, terus nanti suaminya pekerja pabrik atau apa jadi seperti mengikat sebatang padi dengan padi yang lainnya."
"Tapi bukannya yang seperti itu sudah umum, yang laki-laki bekerja yang perempuan jadi ibu rumah tangga."
"Nah itu, kan selama ini algoritma itu hanya sebuah kebiasaan. Dengan memastikan apakah mereka termasuk dalam bidang pekerja apa, ini akan menumbuhkan disiplin secara halus."
"Lanjutkan..." Laura nampak tertarik.
"Jadi seperti menjadwalkan waktu makan, jika tidak ada jadwal makan, maka orang-orang akan makan saat mereka lapar atau ingin. Sedangkan saat kita menetapkan kapan mereka harus makan maka mereka akan makan seperti apa yang kita jadwalkan. Begitu pula dengan pekerjaan. Saat kita sudah menjadwalkan kapan mereka harus bekerja, maka mereka wajib untuk bekerja. nah nanti pekerjaannya akan dibagi, semisal jadi ibu rumah tangga, buruh pabrik, bidang ini, bidang itu."
"Kan kita tidak bisa mengawasi mereka satu persatu."
"Sistem seperti itu bisa diibaratkan seperti sebuah virus. Jika sudah ada satu yang paham dan melaksanakan maka yang lain akan ketularan."
"Berarti yang bertani juga sudah dianggap bekerja?"
"Iya, yang sekolah melanjutkan kuliah akan mengajukan surat permohonan untuk kuliah."
"Tapi nyari kerja itu susah."
"Itu urusan saya saat saya telah menjadi presiden. Jika saya mewajibkan setiap warga untuk memiliki pekerjaan maka saya juga harus menyediakan tempat dan akan mempermudahkannya"
"Hahaha, cape juga ya bahas negara."
"Hahaha, mending ngopi sambil bersantai kek gini"
"Hahaha, pada dasarnya yang tidak mau bekerja akan tetap demikian, mereka akan mencari alasan untuk membenarkan tindakan mereka. Bahkan untuk diri mereka sendiri."
"Iya betul, kurangnya disiplin menjadi momok paling menonjol di negeri ini."
Entah mereka ketiban darimana ide untuk membahas negara itu. Mereka berdua larut dalam obrolan kenegaraan yang bahkan hanya melintas di-imajinasi tanpa tahu keadaan lapangan.
Mereka terus membahas konteks yang sama dalam waktu yang lama.
Seakan sedang mencoba memberi saran kepada wakil rakyat yang ketiduran saat rapat. Tidak akan didengar.
__ADS_1
Meski begitu, mereka terlanjur asik dan enggan untuk mengganti topik.