ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Satu Keindahan Lainnya


__ADS_3

"Emmm, enak banget masakanmu Sa", puji Rudi.


"Hahahaha iya dong, guwe gitu lohhh",


"Kamu kerja dimana?", Tanya Laura kepada Salsa.


"Saya kerja di restoran mbak"


"Ohh, pantesan"


"Ra, kamu kerja apa?", Tanya Rudi.


"Aku kerja juru makan-makan",


"Hahahaha"


"Hahahaha"


Nuansa makan pagi itu menjadi lebih harmonis. Keberadaan Laura tidak mengubah apapun justru membuat suasana menjadi lebih menyenangkan.


Acara makan-makan itu berjalan dengan lancar, semua masakan Salsa habis kecuali beberapa potong ayam yang lemang disisihkan untuk makan nanti sore. Setelah mereka makan dan minum, mereka mulai membereskan semuanya dan keluar dari kamar Salsa. Duduk didepan teras kamar dan sedikit berbincang bincang. Salsa dan Laura pun berkenalan meski mereka berdua sudah saling mengetahui nama masing-masing.


"Ehh gimana kalo kita nanti sore jalan-jalan?", Tanya Laura.


"Kemana?", Jawab Rudi dan Salsa serempak.


"Kemana gitu, ke kafe atau ke mana"


"Aku ngikut aja sih", Kata Rudi.


"Ihh laki-laki kok jadi buntut", Ejek Salsa.


"Laki-laki juga manusia"


"Hahaha, gimana? Kalian yang nentuin tempatnya"


"Emmm, baiklah", Tegas Salsa.


Laura pun berpamitan, mereka bertiga janji jam empat sore dan tempatnya Rudi dan Salsa masih belum menentukan.


Setelah Laura meninggalkan mereka berdua. Rudi juga pamit ke Salsa untuk pergi ke suatu tempat dan tidak memberitahukannya kepada Salsa. Salsa tidak menanyakan kemana Rudi akan pergi. Rudi kembali ke kamarnya menyiapkan diri untuk berang ke tempat yang tidak pernah Rudi kunjungi sebelumnya. Ia mandi dan berdandan kemudian berangkat.


Arah yang Rudi tuju tidak jauh dari terminal, sekitar Lima Puluh kilo ke arah barat dari terminal. Sebuah warung kopi yang berada didepan sebuah bangunan berbentuk persegi yang tidak Rudi ketahui. Rudi menghampiri warung itu dan disana sudah ada Erlang, Arto dan De kirun yang sudah menunggu Rudi.


"Buk, kopi satu lagi", Kata de kirun setelah melihat Rudi sudah sampai.


"Wahh, To, Lang disini juga", Sapa Rudi kepada dua orang lainnya.


"Iya, diajak De Run"

__ADS_1


Erlang dan Arto adalah dua kernet bus sebelah yang memang akhir-akhir ini sudah kenal dekat dengan Rudi. Rudi mengambil tempat duduk disebelah De Kirun dan menyalakan rokoknya.


De kirun masih diam dan dan tidak mengatakan apapun Erlang dan Arto juga nampak diam seperti sedang menunggu De Kirun untuk memulai percakapan.


Kopi yang dipesan De Kirun untuk Rudi sudah jadi, Rudi meminumnya dan tiba-tiba.


"Huwweeekkk!!"


Rudi memuntahkan kopi yang baru saja tersaji itu.


"Lohh lohh ada apa Rud!"


"Kopine kecuutt polll"


"Hahahaha iku jenenge kopi kelek (ketiak)"


"Gendengg yang buat ini", Ujar Rudi yang sedikit kesal.


Erlang dan Arto nampak cengingisan, hal ini membuat Rudi merasa dikerjai oleh mereka bertiga. De Kirun juga mulai terbahak-bahak dan sesekali memukul meja.


"Hahahaha, Enak gak? Enak gak?"


"Kopi opoan iki pakde! Polll kecute!!” Ujar Rudi sambil meminum air dari kendil kecil didepannya.


"Hahaha, Itu kopi campur jeruk nipis dan jamu"


"Gak ada fungsinya, itu cuma buat ngisengin kamu"


"Bangkee, bangkeee" keluh Rudi.


Semua orang disana tertawa lepas tidak terkecuali Rudi yang menjadi sasaran KOPI KELEK itu, De kirun menjelaskan alasannya memanggil Rudi, Erlang dan Arto. De Kirun hendaklah pensiun dan berhenti menjadi kernet bus. De Kirun berinisiatif untuk merantau bersama keluarganya dan mulai berjualan di tanah rantau. Rudi sedikit terkejut mendengar berita mendadak itu, bagaimana tidak, De Kirun adalah satu-satunya yang memberikannya bantuan untuk bekerja di terminal. Nampak seperti De Kirun tidak ingin pergi dan meninggalkan terminal.


Rudi akan ditemani oleh Erlang yang sudah hampir setahun menjadi kernet bus dan Arto yang hampir sama lamanya dengan De Kirun akan mencari kernet lain sebagai temannya.


"Mau jualan apa De disana?"


"Lalapan sama seafood Rud!"


"Nyebrang pulau itu ya De?", Tanya Erlang.


"Iya Lang, Nanti kamu sama Rudi gak papa ya?"


"Gak papa De, Aku sama Rudi juga udah temenan akrab"


"Iya bagus kalo gitu, Aku juga sudah pamitan sama Pak Darto"


"Terus Mau berangkat merantau kapan De?" Tanya Rudi.


"Paling satu minggu lagi Rud"

__ADS_1


"Berarti ini aku nyari kernet satu lagi ya?" Sela Arto.


"Hahaha iya to", Jawab De Kirun.


"Hemm, Rud temanmu gak ada? Biar gak nyari jauh-jauh"


"Wahh... gak ada To, Temen kos juga sudah pada kerja semua"


"Temenku ada To, tapi perlu tak kabari sek", Sela Erlang.


"Yowes langsung kabari aja, biar besok bisa langsung"


"Ya gak bisa kalo langsung besok kerja, kan rumahku diujung pulau"


"Hahahaha, iya juga ya"


Diskusi itu berjalan dengan hikmat, sesekali Rudi menyeruput kopi barunya yang tidak pake gula. Mereka berempat saling bertukar pikiran dan saran. Baik untuk devisi per-kernetan maupun saran untuk De Kirun. Rudi yang yang mengerti beberapa ilmu bisnis juga memberi saran kepada De Kirun.


...****************...


...Maju seorang petualang tidak akan terhenti sampai mereka mati...


...Terus menggali dan mencari...


...Harapan untuk kehidupan yang lebih baik...


...****************...


Setelah beberapa jam berjalan Rudi berpamitan untuk segera pulang. Sudah jam dua siang Rudi sudah berada di depan kosan. Nampak Salsa dan Laura sedang duduk berdua.


"Rud! Sini!"


"Ada apa Ra"


"Nanti gak jadi Rud! Maaf ya, aku nanti jam 5 ada acara sama Zola dan Ira"


"Ohhh, Yaudah kalo gitu"


"Nanti kita main gitar aja di depan kamarmu Rud", Kata Salsa.


"Hahaha, Rudi sekarang jadi gitaris. Nanti kita buat Band", Ujar Laura.


"Hahaha Salsa jadi yang megang mic"


"Pfftttt.. ngejek aku yang imut dan lucu"


"Hahahaha"


Mereka ngobrol cukup lama dan akhirnya bubar. Salsa kembali ke kamar dan Rudi juga kembali ke kamarnya untuk tidur siang.

__ADS_1


__ADS_2