
"Terus kamu mau tetap disini atau pindah ke tempat Marni?"
"Sepertinya akan lebih baik menetap disini."
Laura dan Rudi sedang berada di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari rumah mereka. Pagi itu Rudi masih belum mulai bekerja, dia sudah menghubungi Erlang dan menceritakan semuanya. Laura juga sudah mendengar semua ceritanya.
"Sebenarnya aku juga sudah mengetahui jika kamu mengkonsumsi barang itu"
"Serius!!?"
"Iya, saat itu aku pernah mengintip dirimu yang sedang mencampur ganja dan rokok."
"Hahaha, maaf ya aku tidak bisa menceritakan hal itu lebih awal."
"Iya tidak masalah, tapi apa kamu masih mau lanjut menggunakan barang itu?"
"Entahlah"
"Itu sangat tidak baik untuk kesehatan Rud, aku yakin kamu mengerti akan hal itu"
Rudi tidak menjawab Laura, dia melanjutkan untuk melahap nasi dengan kuah soto yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Pagi itu masih terlalu dini untuk segera pulang. Setelah makan dan membayar tagihan. Mereka berdua memutuskan untuk jalan-jalan terlebih dahulu.
Laura mengajak Rudi ke sebuah tempat rekreasi alam yang sangat hijau dan penuh dengan perumahan dan rumah makan yang terbangun dari susunan bambu. Mereka mencari tempat yang paling nyaman untuk menenangkan pikiran.
Sebuah tempat yang berdiri disamping sungai kecil dengan air yang jernih, sebuah tempat pilihan Laura yang sangat cocok untuk bersantai.
Dibawah rindangnya pepohonan dan suara air yang mengalir membuat suasana saat itu menjadi sangat segar.
"Pesan apa?" Tanya Laura.
"Es aja, yang segar-segar"
"Terserah kamu Ra"
"Baiklah"
Laura menuju tempat yang dikhususkan untuk orang-orang memesan. Tidak seperti beberapa tempat lain yang menyatukan tempat pesanan fan kasir, tempat itu justru berada cukup jauh dari tempat Rudi dan Erlang duduk. Setiap pesanan tidak diantarkan oleh penyaji makanan, melainkan di hanyutkan melalui dengan sebuah sebuah nampan yang mengambang di atas air yang mengalir.
Saat Laura sedang memesan, Rudi dihampiri oleh seseorang. Orang itu datang menghampiri Rudi dan menanyakan sesuatu. Mereka nampak akrab dan saling cengingisan. Laura melihatnya dengan penuh rasa penasaran, hingga orang itu memberikan sesuatu kepada Rudi dan ia langsung memasukkannya ke dalam saku celananya. Setelah cukup lama mereka mengobrol, orang itu langsung pergi meninggalkan Rudi. Laura masih curiga dengan apa yang mereka lakukan.
"Mbak mau pesan apa?"
__ADS_1
"Mbaaakk...!!"
"Eh iya, maaf" ucap Laura.
"Mau pesan apa?"
Laura mengatakan pesanannya, dua es dan dua cemilan. Setelah itu dia kembali ke tempat duduknya.
"Sudah pesan Ra?" Tanya Rudi.
"Iya sudah"
Mereka kemudian duduk berhadapan, Laura tidak menanyakan siapa pria yang baru saja menemui Rudi. Dia pura-pura tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi.
......................
Setelah mereka berdua sampai di kos-kosan, Rudi langsung kembali menuju kamarnya. Dia menolak tawaran Laura untuk bersantai terlebih dahulu didepan rumahnya.
Rudi membuka kamar, mengambil sebatang rokok dan mengeluarkan apa yang ada didalam saku celananya. Dia mulai mencampur ganja yang baru saja diberikan oleh salah satu temannya. Helaan asap tebal mengepul didalam kamar Rudi. Dia masih kesulitan untuk mengakhiri kebiasaannya meski dia bisa mengontrol kapan dia harus mengkonsumsi barang jahat itu.
Dia mulai menikmati barang yang bisa membuat pikirannya melayang itu. Ruangan tertutup adalah tempat terbaik untuk melakukan ritual seperti itu. Asap yang mengepul dan terus berputar didalam ruangan membuat efek dari barang jahat itu semakin kuat.
__ADS_1