ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Melodi dan Makanan


__ADS_3

Hari libur yang jarang dirasakan Rudi, sebuah ketenangan hati bersama sejuknya udara pagi dan penantian masakan Salsa yang membuat Rudi semakin sadar bahwa hari itu sangat indah.


Rudi yang masih bersandar dipagar dengan mata riup itu teringat bahwa dia sudah memiliki sebuah gitar. Dia mengambil gitar dan memainkan beberapa melodi, diiringi dengan denguman bibir seolah sedang bernyanyi. Melodi yang jelas mengisyaratkan sebuah ungkapan terimakasih untuk hari ini.


"Rud! gak kerja?", Sapa seorang pria dengan penampilan rapih berdasi.


"Ohh, lagi libur om"


"Ohh, ok saya berangkat kerja dulu"


"Baik om, hati-hati"


Pria itu pergi setelah menghentikan melodi Rudi. Rudi memulai kembali melodinya dengan lebih mantap dan indah, sesekali dia menghisap rokok dan berhenti. Salsa masih belum juga kembali dan Rudi melanjutkan.


"Kau indah, seperti suryaaa. Kau gurihhh, seperti masakan padaanggg" lagu yang indah dari Rudi.


Sudah satu jam Rudi bermain gitar dia berhenti dan mengintip ke bawah, siapa tahu Salsa sudah berada dikalarnya. Nampaknya masih belum masih belum tercium suara Salsa yang sering membuat telinga Rudi mendengung.


"Rudd, nunggu siapa?" Tegur Laura yang jauh berada didepan rumah.


"Nunggu meteor!!"


"Ahahaha, yasudah tunggu aja sampai kiamat"


"Hahahaha"


Sepertinya Laura dari tadi mendengarkan petikan gitarnya. Rudi kembali duduk dan bermain gitar sembari menunggu Salsa, namun tidak disangka oleh Rudi, Laura datang ke kamarnya.


"Widih sudah pinter main gitar yaa"


"Hahaha, baru juga ting ting tingg"


"Aku yang nyanyi kamu yang gitar"


"Oke!"


Mereka berdua bermain dan bernyanyi, lagu-lagu yang diminta Laura membuat suasana pagi menjadi suasana nostalgia. Sebuah lirik-lirik untuk mengenang seseorang terlantun dari bibir tante-tante agak tua itu. Mereka berdua menikmatinya. Tidak ada sanggahan untuk Laura, Rudi hanya mengikuti alur melodi yang tercipta dari masa lalu Laura.


Mereka berdua larut dalam dalang irama itu hingga mereka tak menyadari matahari sudah jauh dari bumi dan Salsa sudah berada di kamarnya.


"Sudah ya Ra, aku mau ke kamar Salsa"

__ADS_1


"Salsa?"


"Iya, kamu kenal?"


"Gak sih, tapi aku tahu. Dia baru 3 atau bulan ngekos disini"


"Iya, dia teman baikku"


"Ehemm! Teman baikk"


"Ahahaha apasih"


"Mau ngapain?"


"Mau masak-masak, ikut?"


"Boleh"


Rudi merasa tidak enak dengan Laura jika dia tidak mengajaknya tapi Rudi juga takut jika nanti Salsa akan marah jika dia mengajak Laura.


Mereka berdua mendatangi kamar Salsa. Salsa melihat mereka berdua ternyata biasa saja. Rudi masih belum menemukan raut wajah Salsa mengatakan sebuah ketidaknyamanan.


"Sa beli apa?"


"Emmm, aku gunanya apa ya?", Tanya Laura.


"Mbak bisa masak", Tanya Salsa.


"Bisa"


"Masak air", Ejek Rudi.


"Ahahaha, Rud jangan ngawur", Bela Salsa.


"Ahahaha kalian lucu ya", Laura.


"Hahaha bukan aku yang lucu, tapi Rudi", Kata Salsa.


Salsa mengambil kertas yang sudah berisikan beberapa daftar apa yang harus di beli oleh Rudi. Sedangkan Laura mulai membantu Salsa dengan menyiapkan beberapa bumbu yang sudah ada. Salsa tidak menunjukan tingkah yang membuat Laura merasa tidak nyaman, justru Salsa menjadi sebuah sosok yang menyenangkan bagi Laura.


Rudi tersenyum melihat mereka seakan sudah menjadi teman. Dia kemudian berangkat menuju pasar dan membeli semua yang dibutuhkan.

__ADS_1


"Mbak bisa bumbui ayam?", Tanya Salsa.


"Emmm, bisa sih tapi mungkin beda sama resepmu"


"Ahahaha, gak mungkinlah. Palingan kan cuma pake kunyit, laos sama lada"


"Hahaha, yasudah nanti bilang kalo ada yang salah"


Laura mulai mengupas dan menumbuk halus beberapa bumbu. Sedangkan Salsa menyiapkan beberapa air, garam dan alat-alat.


Meraka berdua sudah seperti satu kelompok yang sangat kompak, meskipun Salsa sesekali menyuruh Laura namun Laura tidak merasa menjadi pembantu. Mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing sampai Rudi datang.


Dua kantong plastik berukuran sedang berisi ayam sayur dan beberapa bumbu yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.


Mereka bertiga mulai memasak. Rudi sebagai seorang pria tidak mendapatkan jatah dalam hal membumbui dan memasak mengambil inisiatif untuk mengambil gitar dan bernyanyi dan mereka bertiga pun menjadi sebuah kelompok band yang yang penuh dengan keceriaan.


Bersama gelenting petikan sinar Rudi, tabuhan panci Salsa dan tabuhan genderang baskom Laura.


Tidak ada jeda, pagi itu penuh dengan nada-nada kebahagiaan.


"Mbak, ada panci buat ngukus?"


"Ada, mau aku ambilin?", Jawab Laura.


"Iya boleh mbak"


Laura mengambil apa yang diminta Salsa tanpa banyak tanya.


"Sa, gak papa kan aku ngajak Laura?"


"Gak papa, biar lebih rame hahaha"


Rudi mencoba memastikan bagaimana pendapat Salsa atas keputusannya mengajak Laura dan sepertinya semua baik-baik saja. Laura kembali dan membawa sebuah panci besar yang membuat Rudi dan Salsa saling bertatapan muka dan kemudian tertawa.


"Gueedee bangeetttt!!" Ujar Salsa yang sedang terbahak-bahak.


"Hahahaha, kebesaran ya? Maap cuma ada ini"


"Hahahaha, Bisa buat mengukus Salsa ini mah" ejek Rudi yang kepada Salsa yang memiliki badan paling mungil diantara mereka bertiga.


Acara memasak itu berjalan lancar, dua jam mereka berada didalam dapur dan saatnya mereka menikmati apa yang sudah mereka masak atas arahan Salsa sang pemilik resep.

__ADS_1


Salsa dan Laura menyiapkan masakan dan menaruhnya di atas piring-piring sedangkan Rudi menyiapkan sebuah tikar dan menggulung kasur Salsa. Kamar Salsa terlalu sempit jika digunakan untuk makan bertiga.


Sebuah hidangan mulai tertata di atas tikar dengan sebuah baskom besar berisi nasi yang masih berasap dan menguap.


__ADS_2