
"Sa... Bangun! Sudah pagi." Ucap Rudi pelan.
Salsa masih terlelap di samping Rudi yang sudah bangun. Rudi melihat Salsa yang masih terpejam begitu anggun. Terlihat sangat manis dan menenangkan.
"Apakah ini yang akan ku rasakan setiap pagi bila kamu menjadi istriku?" Ucapnya pelan sambil memandangi Salsa.
Sudah jam empat pagi, Salsa belum bangun dan Rudi meninggalkannya ke kamar mandi. Rudi membasuh mukanya dan menghadap ke cermin kecil yang ada didalam kamar mandinya.
"Apakah Salsa sudah tidak marah lagi denganku?"
Rudi masih penasaran dengan sikap Salsa yang masih dingin dan belum kembali seperti sedia kala.
Dia menyelesaikan urusannya didalam kamar mandi dan keluar untuk membangunkan Salsa kembali. Ternyata Salsa sudah tidak ada di kamarnya. Rudi hanya diam dan tersenyum mengetahui Salsa pergi tanpa berpamitan dengannya.
Rudi tidak terlalu memikirkannya dan memilih duduk dan bermain gitar. Dia memainkan gitar dengan pelan, petikan gitar yang halus dan merdu memutar suasana syahdu didalam kamarnya. Kali ini melodi mulai berubah perlahan. Kekosongan kemarin sudah berubah menjadi sebuah kebangkitan bahagia, bahkan lebih bahagia dari biasanya.
Satu batang rokok dan satu gelas air putih menambah sejuknya pagi hari Rudi. Dia sudah siap untuk berangkat bekerja hari ini. Tidak seperti kemarin, hari ini Rudi berangkat sendirian namun dengan suasana hati yang lebih tenang dan senang. Langkah kakinya seperti dipenuhi oleh sebuah kekuatan yang mengalir dari ujung ubun-ubun sampai ujung kaki.
"Rud..!!" Panggil Erlang.
"Ada apa Lang?"
"Bagaimana? Sudah sehat lagi?"
"Hahaha... Sudah"
Mereka berdua mulai bekerja. Rudi cukup bersemangat untuk mencari penumpang, menaikkan barang bawaan mereka dan sesekali menelpon kernet dan sopir lain.
Pak Darto mulai menyalakan busnya dan para penumpang perlahan mulai memenuhi setiap kursi. Rudi dan Erlang menaiki bus setelah terminal terlihat sepi dan kursi penumpang hanya tersisa satu, dua saja kursi yang kosong.
__ADS_1
"Rud... Telpon Kamto kita akan langsung berangkat"
Kamto adalah supir bus sebelah yang memiliki antrian setelah bus yang disupiri oleh Pak Darto. Hal ini dilakukan agar supir selanjutnya segera mengisi pangkalan yang kosong dan mulai menarik penumpang lainnya. Bus mulai melaju dan Erlang menagih ongkos penumpang seperti biasa.
Pekerjaan Rudi hari ini terasa berlalu dengan cepat. Rudi tidak merasa kelelahan atau merasakan letih lainnya. Yang ada didalam pikirannya hanyalah sebuah kebahagiaan yang bahkan Rudi sendiri tidak mengerti dari mana datangnya kebahagiaan itu.
Semua pekerjaan Rudi hari ini telah usai dan ia langsung kembali ke kos. Saat dia berjalan melewati kamar Salsa, dia melihat Salsa sedang duduk dengan Laura. Rudi hendak menghampiri mereka berdua, namun Laura seperti sedang memberi isyarat kepada Rudi agar tidak menghampiri mereka berdua. Rudi pun mengerti dengan maksud Laura yang hendak memperbaiki hubungannya dengan Salsa. Seperti seorang teman yang ingin menjembatani dan menghubungkan dua hati yang sedang saling ingin menjauh.
Laura memang tipe wanita yang ceria dan terkadang sering bersikap kekanak-kanakan, namun ada beberapa momen yang membuat sikap Laura tiba-tiba menjadi sangat dewasa dan ke ibu-ibuan.
Rudi tidak lagi ingin menghampiri mereka berdua dan memutuskan untuk kembali ke kamar dan bermain gitar. Lagu-lagu kebahagiaan mulai memenuhi seisi ruangan. Jalan buntu mulai menunjukan sedikit lubang jalan keluar. Rudi semakin tenang dan semakin tenang lagi.
"Rudi... Ini Laura" ucap Laura dari luar kamarnya.
"Iya Ra, sebentar"
Rudi membukakan pintu dan menyuruh Laura untuk masuk.
"Kamu tadi malam tidur bareng sama Salsa ya?"
"Iya, dia yang minta"
"Gimana-gimana? Enak gak punya Salsa?"
"Hah? Apa yang kamu bicarakan Ra? Aku gak ngapa-ngapain loo"
"Hahaha... Becanda"
"Hahaha, tadi ngobrol apa sama Salsa?"
__ADS_1
"Dia bilang, dia takut jika kamu benar-benar dari kalangan orang kaya. Dia takut tidak diterima oleh keluargamu"
"Beneran dia bilang begitu Ra?"
"Iya, apalagi kamu tahu sendiri kan masa lalu Salsa?"
"Hemm, jadi gara-gara itu dia seperti kebingungan dan tidak mau bicara denganku."
"Iya, kasian dia Rud! Nanti ajak dia bicara dan beritahu bagaimana keluargamu dan semua hal tentang masa lalu-mu, jangan ada lagi yang disembunyikan." Ucap Laura dengan kedewasaan yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
"Baiklah Ra, nanti aku bicara dengan Salsa"
"Baiklah, jadi urusanku sudah selesai ya..."
"Iya Ra, sekali lagi terima kasih"
"Iya sama-sama"
Laura beranjak pergi meninggalkan Rudi. Rudi tidak langsung menghampiri Salsa, dia menunggu siang pergi dan akan menghampirinya nanti malam.
Rudi bermain musik pelan-pelan, sangat pelan dengan sebuah melodi kelegaan dan harapan yang mulai terang. Laura memang sangat membantu dalam masalahnya kali ini. Rudi sangat berterimakasih kepada wanita itu meskipun dia sudah tidak lagi berada di kamarnya.
...****************...
...Kehangatan menyelimuti dingin malam...
...Merubah kekosongan menjadi harapan...
...Terang seperti lentera mercusuar...
__ADS_1
...Menenangkan seperti bait pujian tuhan...
...****************...