ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Seorang Teman Wanita


__ADS_3

Tidak terasa Rudi sudah berada di penjara selama tiga hari dua malam. Rudi masih mengenakan pakaian yang sama, tidak ada yang memberinya pakaian ganti. Rudi mendapatkan makan dua kali dalam sehari dan dia tidak mendapatkan jatah rokok sebatangpun.


Selama dua hari dia mengalami sakit kepala dan itu selalu terjadi saat menjelang malam. Setiap sore ia merasakan sakit kepala yang membuatnya ingin sekali memukul-mukulkan kepala ke dinding. Tidak hanya sakit kepala, Rudi juga di dera oleh dingin yang membuat sekujur tubuhnya menggigil.


Hari ketiga Rudi didalam penjara. Dia sudah sangat bersiap untuk menghadapi sakit kepala dan kedinginan seperti biasa. Jam dua siang dan sebentar lagi dia akan merasakannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan, Rudi hanya menyiapkan mental agar rasa sakit yang akan datang tidak membuatnya gila.


Selama dua jam dia hanya duduk diam dan tidak melakukan apapun. Saat dia mulai merasakan sakit di kepalanya, tiba-tiba ada dua orang polisi membuka pintu penjara dan membawanya ke depan atau tempat dimana para polisi berkumpul.


Disalah satu meja didalam ruangan itu ada seorang wanita yang memakai cadar sedang duduk dan bercengkrama dengan polisi yang sama dengan polisi yang menginterogasinya tiga hari lalu.


Polisi itu nampaknya sangat akrab dengan wanita bercadar itu. Dalam benak Rudi ia memikirkan siapa wanita itu, Rudi mengasumsikan bahwa wanita itu adalah Marni.


Rudi diborgol dan disuruh untuk duduk agak jauh dengan Marni. Sementara itu Marni tetap berbincang asik dengan polisi berkumis tebal dan perut buncit. Marni tidak menoleh sedikitpun ke arah Rudi.


"Baiklah-baiklah, semua bisa diatur. Namun ada satu hal yang harus dia lakukan" ucap polisi itu.


"Apa itu?" Tanya Marni.


"Dia harus menjalani rehabilitasi selama dua minggu dalam pengawasan salah satu anggota kami"


"Hanya itu?"


"Iya hanya itu. Bagaimana bisa dilakukan?"


"Bisa, saya akan menjamin pria itu"


Setelah mengucapkan itu, Marni menoleh ke arah Rudi dan membuka cadarnya. Kemudian polisi yang duduk di hadapannya menoleh ke arah Rudi juga dan menganggukkan kepalanya.


Dua polisi yang membawa Rudi itu kemudian melepas borgol yang ada ditangan Rudi.


"Kamu sudah boleh pulang, namun ada beberapa hal yang harus kamu ketahui nanti dan Nona ini akan menjelaskan kepadamu"


"Siap pak!" Jawab Rudi.

__ADS_1


Setelah itu dua polisi yang berdiri disamping Rudi pergi meninggalkannya. Rudi menatap ke arah Marni yang masih menatap dirinya. Rudi nampak kebingungan dan Marni hanya tersenyum sebelum kembali mengobrol dengan polisi itu.


Selang beberapa menit mereka mengobrol, Marni mengambil sebuah amplop coklat dari dalam tasnya. Amplop itu cukup tebal dan ia serahkan kepada polisi yang ada dihadapannya. Polisi itu langsung menerimanya tanpa mengintip apa yang ada didalamnya.


Setelah itu Marni berdiri dan disusul oleh polisi itu, mereka berdua bersalaman. Rudi masih menatap Marni dengan raut wajah yang penuh dengan tanda tanya. Dia tidak tahu apapun tentang apa yang sedang Marni lakukan.


"Ayo kita pulang Rud" ajak Marni.


Tanpa bertanya apapun, Rudi langsung berdiri dan berjalan dibelakang wanita yang baru saja menjamin dirinya itu.


Rudi mengikuti wanita itu. Mereka berdua kemudian mencegat satu angkot dan Rudi juga ikut masuk kedalamnya.


Rudi masih duduk terdiam disampingnya tanpa menanyakan apapun tentang apa yang baru saja Marni lakukan. Marni juga demikian, dia tidak mengatakan apapun bahkan dia juga tidak memberitahu Rudi kemana mereka akan pergi.


Angkot itu kemudian berhenti di suatu tempat dan Marni juga turun disana.


Mereka kemudian berjalan beberapa meter hingga sampai didepan sebuah rumah dengan pagar putih. Rumah itu terlihat sangat berantakan, Marni membuka pagarnya dan membuka pintu rumah itu.


Marni masuk ke dalam rumah itu dan Rudi mulai melangkahkan kakinya ke dalam Rumah. Sebuah hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Rumah yang bagian depannya penuh dengan tumbuhan liar dan beberapa jemuran baju ternyata memiliki pemandangan yang memukau didalamnya.


Satu meja dan beberapa sofa yang mengitarinya membuat ruangan itu terlihat sangat elegan. Rudi tidak bisa berpaling dari pemandangan indah itu.


Cukup lama ia mengamati seisi ruangan hingga ia merasakan sesuatu yang aneh, ia merasakan bahwa ada beberapa hal didalam ruangan itu yang mengingatkannya pada ruangan yang ada didalam rumahnya sendiri. Meskipun tidak mirip, namun nuansa yang Rudi rasakan adalah suasana yang biasa ia rasakan saat berada di rumahnya dulu.


"Duduk Rud" ucap Marni.


Rudi duduk di salah satu sofa dan Marni masuk ke dalam salah satu kamar. Rudi menunggu cukup lama hingga Marni keluar dari dalam kamarnya.


Sebuah pemandangan indah yang membuat Rudi terpaku diam tanpa mengatakan apapun, bahkan dua kelopak matanya tidak bisa berhenti terbuka.


Wanita yang ada didepan Rudi itu seperti bukan Marni yang biasa ia lihat. Marni melepas kerudungnya, ia hanya mengenakan celana panjang dan kaos yang cukup besar.


Rambut semi keriting berwarna hitam dan coklat tua yang di kuncir belakang. Sebuah kecantikan yang membuat Rudi terkagum-kagum.

__ADS_1


"Mau minum apa?"


"Air putih saja"


Marni mengambil gelas dan mengisinya dengan air dari dispenser yang ada di ruangan itu. Kemudian dia memberikannya kepada Rudi dan duduk di sebelahnya.


Rudi meminum air putih yang diberikan oleh Marni. Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit lagi, badannya mulai terasa dingin. Rudi berusaha untuk menahannya.


"Kamu baik-baik saja Rud?"


"I... Iya... Aku baik-baik saja."


"Tingkahmu terlihat aneh"


Rudi masih mencoba menahan rasa sakitnya. Semakin lama ia menahannya semakin parah rasa sakitnya. Rudi tidak kuat menahannya lagi dan dia mulai menggigil dan memukuli kepalanya.


Marni tidak terlihat panik, wanita itu masuk ke dalam kamarnya dan kemudian ia keluar dengan membawa sesuatu yang ada didalam sebuah wadah kotak berwarna hitam.


Marni mengeluarkan satu batang rokok dari dalam kotak hitam itu. Ia kemudian duduk mendekati Rudi dan memberikan rokok itu kepadanya. Setelah Rudi menerimanya, Marni mengeluarkan korek api dan membantu Rudi menyalakan rokoknya.


Rudi mulai menghisap perlahan satu batang rokok yang diberikan oleh Marni. Perlahan-lahan sakit kepala dan tubuhnya yang menggigil mulai mereda. Marni kembali mengambilkan satu gelas air putih untuk Rudi minum.


"Bagaimana sudah mendingan?" Marni mencoba bertanya.


Rudi mengangguk dan dia menanyakan darimana ia mendapatkan rokok itu. Marni menjawabnya dan Rudi melanjutkan menghisap rokok yang baru saja ia hisap beberapa kali itu.


Setelah cukup lama, Rudi mulai merasa dirinya sudah cukup pulih. Iapun langsung menatap kearah Marni seakan hendak meminta penjelasan darinya.


"Kenapa kamu menjamin diriku?" Rudi bertanya.


"Bukankah kita berteman?"


"Darimana kamu tahu bahwa aku sedang berada di penjara?"

__ADS_1


"Ada kerabatku yang sedang berjaga di kantor polisi itu"


"Sudah cukup pertanyaan, kamu pasti lapar kan? Ini uang dan belilah makanan di depan sana" lanjut Marni.


__ADS_2