ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Rahasia Yang Terbongkar


__ADS_3

Dari kejauhan terlihat Dimas sedang tersenyum saat melihat Rudi datang kepadanya. Pria penjual ganja itu sepertinya sedang memikirkan hal lain yang bisa ia lakukan kepada Rudi selain hanya menjadikannya pembeli setia.


"Lagi Rud?" Tanya Dimas


"Iya, seperti biasa"


"Baru tiga hari kemarin kamu beli kan? Sudah habis?"


"Sudah, ada kan?"


"Iya ada"


Dimas mengambil barangnya yang ia taruh didalam jok motornya. Setelah itu ia masukkan ke dalam kantong jaket dan ia bawa ke Rudi.


Setelah Rudi menerima barangnya ia langsung membayarnya dan beranjak hendak pergi meninggalkan Dimas, namun Dimas menghentikannya dan menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu.


"Ada apa Dim?" Rudi bertanya


"Kamu mau bantu aku tidak?"


"Bantu apa?"


"Bantu jualin barang"


"Apa yang aku dapat?"


"Besok aku berikan barangnya. Setiap barang yang aku berikan bisa kamu ambil sebanyak yang kamu beli dariku seperti biasanya."


"Harganya?"


"Seperti biasa"


"Baiklah. Mulai kapan?"

__ADS_1


"Terserah kamu"


"Ok dua hari lagi aku kesini lagi"


"Baiklah"


Rudi tidak berpikir panjang untuk menerima tawaran Dimas itu. Ia langsung menerimanya, toh ia bisa tetap menikmati barangnya dengan cuma-cuma.


Setelah kesepakatan itu selesai, Rudi langsung pulang untuk melakukan kebiasaannya. Rudi benar-benar tidak bisa mengontrol pemakaian ganja yang semakin lama semakin membuatnya kecanduan.


Saat tiba di kamarnya, Rudi mulai mencampur ganja dengan satu batang rokoknya. Kemudian ia mengeluarkan sebotol minuman alkohol dan menuangkannya ke dalam satu gelas air mineral gelas.


"Hahaha, kenapa aku jadi seperti ini..." Ucap Rudi saat menuangkan minumannya.


Ia mengucapkan itu dengan tersenyum, seakan apa yang ia lakukan saat itu adalah sebuah hal yang lucu. Apa yang dipikirkan Rudi kali ini memanglah hal yang lucu, pelampiasan yang ia lakukan saat ini adalah sebuah hal yang akan dilakukan oleh orang bodoh saat dirinya jatuh, namun Rudi tidak merasa dirinya adalah orang bodoh. Justru ia berpikir bahwa dirinya butuh untuk masuk kedalam dunia seperti itu.


Menghisap cimeng sepulang kerja, tidur hingga dini hari, mandi dan mulai begadang lagi hingga esok hari adalah kebiasaan baru Rudi. Tidak ada yang mengetahui kebiasaannya itu hingga detik ini. Sikap dan tingkah laku Rudi justru membuat teman-temannya berpikiran bahwa dirinya sudah kembali seperti semula.


......................


Dimas sudah menyiapkan barang yang akan ia serahkan kepada Rudi. Ia memberikannya kepada Rudi seperti seorang yang sedang menyerahkan barang biasa. Seserahan itu mereka lakukan secara terang-terangan hingga tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa mereka sedang membawa ganja yang masih termasuk dalam barang ilegal dan dilarang untuk diperjual-belikan.


Setelah Rudi menerima barangnya ia langsung pergi meninggalkan Dimas, tidak ada obrolan diantara mereka. Mereka berdua hanya melakukan seserahan dan langsung pergi ke tempat masing-masing.


Rudi yang sudah membawa barang yang terbungkus dengan kardus kecil itu langsung menuju kos dan masuk ke dalam kamar.


Setelah ia berada didalam kamar, ia membuka bungkusnya dan mengambil bagiannya yang sudah dibungkus terpisah oleh Dimas.


Rudi berniat untuk menjualnya esok hari, ia sudah menemukan beberapa orang yang akan membeli barangnya. Satu diantara mereka adalah seorang mahasiswa.


Cukup mudah bagi Rudi untuk menjual barang semacam itu dengan koneksi yang ia miliki. Rudi tidak terlalu memikirkan kemana ia akan menjualnya, ia langsung memulai ritualnya seperti biasa.


......................

__ADS_1


Dihari yang sama, malam hari sekitar pukul sepuluh malam. Laura mengetuk pintu Rudi saat dirinya masih tertidur lelap didalam kamar yang masih penuh dengan aroma asap dari cimeng yang sudah empat jam berputar-putar di dalam kamar.


Rudi terbangun dan menyadari Laura yang sedang berada di luar kamarnya. Ia langsung menyalakan kipas dan membuka jendela.


"Ada apa Ra?" Tanya Rudi dari balik jendela


"Aku bawakan makanan"


"Hahaha, sebentar"


Laura merasakan keanehan tingkah Rudi yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Rudi membuka pintu kamarnya, ia keluar dan menutup pintunya lagi. Hal itu membuat Laura semakin curiga.


"Ini, makanlah" ucap Laura


"Terimakasih. Ayo makan bareng"


"Tidak, aku sudah makan"


"Baiklah"


Laura langsung turun dan menuju rumahnya. Ia menyimpan rasa curiganya yang membuatnya semakin ingin tahu ada apa dengan Rudi saat itu.


Disamping itu Rudi justru merasa lega dengan keputusan Laura yang langsung meninggalkan dirinya tanpa meminta untuk masuk ke dalam kamar.


Rudi menyalakan lampu kamarnya dan membuka bungkusan yang diberikan oleh Laura. Kebetulan sekali saat itu perut Rudi terasa sangat lapar.


Pria itu langsung melahap habis makanan yang diberikan oleh Laura. Setelah ia selesai dengan makanannya, ia langsung mengambil kembali satu batang rokok dan mengambil beberapa ganja.


Rudi menghisap cimeng-nya tanpa sadar ia belum menutup jendela. Dari balik jendela yang masih terbuka dan kipas yang masih menyala itu, seseorang sedang mengawasi dirinya.


Laura sepertinya memang benar-benar tidak bisa menahan rasa curiganya. Dari balik jendela itu Laura mengintip apa yang sedang Rudi lakukan.

__ADS_1


Laura melihat bagaimana rudi mencampurkan ganja ke dalam rokoknya. Melihat bagaimana Rudi menghisapnya dengan sangat meresapi, bahkan Laura juga melihat Rudi membuka seluruh pakaiannya.


Mulai saat itu juga Laura mengerti seperti apa keadaan yang dialami oleh sahabatnya itu. Sebuah rasa sakit yang berusaha dipendam oleh Rudi. Laura mulai mengerti bahwa selama ini Rudi berusaha menutupi segala rasa sakitnya dan pura-pura terlihat baik-baik saja dihadapan temannya.


__ADS_2