
Setiap manusia menginginkan setiap hal baik untuk diri mereka sendiri, namun ada beberapa manusia yang memiliki sebuah kebaikan hati melebihi apapun. Manusia yang lebih menyukai untuk mendahulukan kebaikan atas manusia lain. Begitulah Marni, yang saat sudah ada didalam kamar Rudi untuk memberikannya sebungkus ganja lagi.
"Ani, aku bisa membeli ini sendiri dan kamu tidak perlu mengeluarkan uangmu untuk hal seburuk ini."
"Tidak apa-apa, aku menyukai apa yang sedang aku lakukan."
"Ini yang terakhir ya, mulai besok aku akan membelinya sendiri."
"Baiklah-baiklah..."
"Bagaimana kalau aku panggilkan Laura"
"Tidak perlu, aku akan langsung balik dan bekerja. Bukankah kamu juga akan bekerja?"
"Iya, baiklah jika begitu aku akan mengantarmu sampai jalan raya"
Rudi bersiap, ia mengenakan celana dan jaketnya. Marni selalu mengenakan hijabnya yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya. Hanya mata indahnya yang masih menyilaukan setiap yang memandang.
Kemudian mereka berjalan beriringan keluar dari dalam kamar menuruni beberapa anak tangga. Hingga mereka sampai di lantai satu, Laura berdiri di depan pagar rumahnya dengan memandangi Rudi dan Marni yang sedang berjalan beriringan.
Rudi menyadari bahwa Laura sedang menatapnya, iapun menoleh ke arahnya dan tersenyum. Laura juga ikut tersenyum, wanita itu mencoba memberi isyarat kepada Rudi untuk memeluk Marni dan lebih berdekatan.
__ADS_1
Rudi melambaikan tangannya, lambaian tangan yang terlihat seperti sebuah pamitan dan penolakan. Laura tidak memikirkannya ia hanya terus melihat ke arah mereka berdua sebelum berpaling dan mulai menyapu halaman rumahnya.
Mungkin baru kali ini Rudi tidak berniat untuk memiliki seorang wanita cantik yang sudah sangat baik padanya, dia lebih merasakan sebuah perasaan antar sahabat dibandingkan dengan sebuah perasaan ingin memiliki seutuhnya atau kata yang mungkin lebih tepat untuk mengatakannya adalah 'mencintai'.
Mereka sampai didepan jalan raya. Suasana yang masih cukup dingin dan sejuk itu seakan membawa mereka dalam ketenangan yang begitu sempurna.
Marni sudah mendapatkan angkot yang menuju ke arah tempat ia bekerja, sedangkan Rudi masih berdiri di sana dengan menatap Marni yang mulai hilang dari pandangannya.
Tidak lama kemudian sebuah angkot berwana hijau berhenti dihadapannya dan dia langsung masuk ke dalamnya. Didalamnya ada dua orang pemuda yang sedang membicarakan hal yang sepertinya seru.
"Emang itu sudah selesai dibangun?" Ucap salah satunya.
"Iya sudah, kemarin aku lewat daerah itu dan sudah ada beberapa orang masuk ke dalamnya."
"Bagaimana kalau kita kesana?"
"Aku tidak ada uang."
"Alah... gampang uang mah. Yang penting kita pesta dulu.." Ucap salah satunya dengan berlagak seakan sedang berpesta.
"Maaf, tempat apa yang sedang kalian katakan?"
__ADS_1
"Tempat dugem mas, tapi agak mahal. Tempatnya cukup terkenal."
"Oh jadi begitu... Boleh saya tahu tempatnya dimana?"
Salah satu dari mereka memberitahu Rudi lokasi dari tempat yang sedang mereka katakan. Rupanya Rudi cukup ahli mengulik informasi, mereka berdua menceritakan semuanya seperti sedang bercerita kepada teman akrabnya.
Rudi mendapatkan sebuah ide dari mereka, dia berniat untuk mengajak Erlang dan beberapa temannya kesana. Sebagian untuk berpesta dan sebagian lain dari idenya adalah untuk mencari barang yang dia inginkan.
Rudi sampai di terminal, iapun langsung masuk ke dalamnya dan mulai bekerja dan menceritakan apa yang baru saja ia dengar kepada sahabatnya Erlang.
Erlang merespon perkataan Rudi dan mengiyakan ajakan sahabatnya itu.
"Tapi nunggu gajian ya" kata Erlang.
"Baiklah, nanti kita ajak yang lainnya"
"Jangan banyak-banyak, satu dua aja biar gak terlalu rusuh."
"Apa kata besok. Oh iya udah cek mesin belum?"
"Sudah"
__ADS_1
Mereka berdua melanjutkan pekerjaannya, hari itu cukup ramai. Dua bus yang sedang mangkal disebelah bus Erlang sudah melaju keluar dari terminal.
Setelah dirasa cukup, Erlang menyalakan mesin bus dan mulai bersiap melakukan perjalanan pertama dihari yang cerah itu.